
Kini Alun-alun kota sedang ramai dengan penjagaan ketat. Para prajurit kerajaan mulai memadati tempat untuk mengatur setiap orang yang datang. Semua penduduk Mystick sangat antusias untuk datang memenuhi alun-alun, mereka tidak mau ketinggalan melihat tontonan eksekusi penjahat Violet dan Alvaro, keduanya lah yang membuat hidup mereka sengsara selama ini.
Di istana sudah siap kereta tahanan serta semua peralatan ekseskusi. tinggal Kangta dan Deon yang sedang memantau penjaga tahanan menyeret kedua penjahat itu menuju kereta. Kangta harus bisa memastikan kedua penjahat itu harus aman sampai di alun-alun kota.
" lepaskan aku!! lepas!!!" teriak Violet tidak terima. Wanita itu terus saja memberontak dan mencaci maki para penjaga.
" aku mohon jangan hukum aku. Aku mengaku bersalah. maafkan aku" berbeda dengan Alvaro yang terus mengiba meminta rasa kasihan. Mereka tampak sangat berbeda satu sama lainnya, namun sangat kompak jika digabungkan.
" masuk!" teriak penjaga mendorong meraka berdua masuk ke kereta tahanan.
Kereta itu berbentuk sel dari besi khusus yang di pasang roda. semua orang bisa melihat dengan jelas penampakan Violet serta Alvaro yang sangat berbeda saat dia dulu menjadi Anggota kerajaan. tampang mereka kotor, penuh luka borok dengan pakaian yang lusuh. Semua menatap jijik pada keduanya penjahat itu.
" rasakan itu"
" kau pantas mati!"
" dasar penyihir jelek"
" wanita murahan, picik. Cuih"
segala ujaran kebencian mengiringi perjalanan kedua penjahat. Tidak ada satu orangpun yang bersimpati, khususnya para anggota keluarga korban persembahan yang selama ini percaya betul jika keluarganya bekerja di Istana.
Violet hanya membalas dengan tatapan tajam, Tak ada rasa malu ataupun menyesal dalam diri Violet. wanita itu malah merasa jika semua orang yang jahat padanya.
dung dung
suara tabuhan menjadi pertanda jika penjahat yang mereka tunggu telah memasuki Alun-alun. Semua orang semakin tidak sabar. prajurit kerajaan sudah mengatur dengan baik, semua orang akan mendapatkan jatah untuk menyayat daging Violet sebagai hukuman yang dia terima.
" aku sudah Tak sabar ingin mengiris wajah wanita itu"
" aku juga, dia sudah membunuh istri dan anakku"
Kebanyakan yang hadir adalah para lelaki. Karena memang selama ini wanita yang menjadi korban.
" yang mulia Putri Valmira datang" teriak prajurit kerajaan. Situasi yang awalnya bergemuruh penuh makian, kini langsung sunyi. Semua menatap hormat pada putri Valmira yang berjalan menuju mimbar kecil yang sudah di sediakan.
" selamat pagi semua, ini pertama kalinya aku putri Valmira kembali menyapa kalian semua setelah lama menghilang. Aku ingin meminta maaf karena sudah membuat kalian sengsara. Aku benar-benar menyesal dan sedih mengetahui apa yang terjadi di kerajaan. Dan semua akar penderitaan kita semua adalah karena ulah penjahat Violet serta Alvaro. Pagi ini aku sebagai anggota tertinggi kerajaan memberikan kesempatan pada kalian semua untuk melampiaskan rasa benci dan marah kalian kepada penjahat Violet serta Alvaro. Dengan harapan setelah ini kerajaan Mystick akan kembali tenang dan aman seperti sedia kala" pidato Valmira membuat para penduduk menjadi sangat bersimpati dan hormat.
padahal semua ini bukanlah salahnya, tapi wanita itu tetap meminta maaf dengan penuh kerendahan hati. suara gemuruh pujian langsung menyambut akhir pidato Valmira.
dung dung
kembali suara tabuhan menandakan jika waktu eksekusi segara di mulai. prajurit membuka kereta sel dan menyeret keduanya keluar menuju tiang yang sudah di sediakan.
" brengsek kalian. lepaskan aku tidak terima di perlakukan seperti ini" Violet terus memberontak. sampai prajurit kesusahan mengingat tubuhnya di tiang. tangan dan kaki di ikat di masing-masing tiang untuk memudahkan proses ekseskusi.
" tidak! aku mohon ampuni aku" Alvaro menangis ketakutan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya dirinya menjalani hukuman ini.
sayangnya amukan serta rasa bersalah keduanya sudah terlambat. Mereka tidak akan mungkin bisa memperbaiki kejahatan yang sudah mereka lakukan.
dung dung dung
prajurit mengeluarkan pisau- pisau tajam yang di susun di sebuah baki. untuk giliran pertama tentu di mulai dari pihak kerajaan.
" berani kau menggoreskan pisau itu, tunggu pembalasanku" desis Violet belum menyerah.
Tapi ancaman itu sama sekali tidak berguna, tidak ada yang takut posisi violet benar-benar rendah.
sreekk
sreekk
__ADS_1
" akkk" teriak Alvaro saat goresan pisau kecil menyayat kakinya. Sedangkan Violet tidak bersuara tapi tatapannya tajam mengarah pada pemegang pisau.
Valmira. Kangta dan Deon hanya mengamati dengan seksama. Setelah pihak kerajaan selesai kini ada perwakilan bangsawan serta anggota jauh kerajaan. Semua berjalan dengan lancar, darah mulai mengucur menggenang di tanah. Sampai sebuah angin kencang di barengi dengan langit yang terlihat gelap melanda alun-alun.
" aura apa ini?" lirih Kangta saat inderanya menangkap sesuatu yang aneh.
begitupun dengan Valmira, wanita itu membuat perlindungan diri sehingga angin kencang itu tidak menganggu penglihatannya.
" apa itu?" ucap Valmira saat dia melihat ada sesuatu yang terbang menuju ke arah Violet dan Alvaro.
Crasshh
Valmira langsung memberikan serangan seketika melihat sesuatu yang dia takutkan berdiri di depannya dan mencoba melepaskan tali pengikat para penjahat.
wusshh
Valmira mendapatkan serangan balik. Dan langsung bisa menghindar. Bersamaan dengan itu angin kencang itu menghilang. Semua orang menatap kesana kemari suasana pagi yang cerah mulai berganti dengan cuaca redup menakutkan.
" tuan, bukankah itu.."
" mereka sudah terbangun. ini akan menjadi bencana" lirih Kangta yang bisa di dengar jelas oleh Deon.
Begitupun dengan Valmira, wanita itu menatap tak percaya pada boneka sihir yang sudah berdiri di masing-masing sisi Violet dan Alvaro yang sudah lemas.
" bagaimana bisa.." gumam Valmira.
wusshh
serangan sihir hitam mengenai para penduduk yang sudah berbaris menunggu giliran.
Crasshh
Valmira berupaya secepat mungkin memberikan perlindungan. namun tetap saja dia sedikit terlambat. beberapa sudah terluka.
semua orang berlarian meninggalkan alun-alun, beberapa prajurit ikut membantu mereka dan beberapa melindungi putri Valmira.
" kami akan membawa dua tuan kami" ucap boneka itu memberikan peringatan.
" siapa kalian berani menentang keputusanku?!" teriak Valmira tegas.
" kami adalah pelayan nyonya Violet dan tuan Alvaro" jawab mereka dengan enteng.
Sebagai boneka sihir mereka akan kehilangan ingatannya selama menjadi manusia. Mereka hanya bisa patuh dan tunduk pada orang yang menjadikan mereka seperti ini.
" mereka adalah pengkhianat kerajaan, berani membawa mereka maka kalian sama statusnya sebagai pengkhianat kerajaan"
" kami tidak peduli!"
wuusshh
crasssh
Kangta maju dan melindungi Valmira.
" anda tidak apa- apa putri?" tanya Kangta, Valmira menggeleng pelan.
" boneka sihir itu aktif, peluang kita semakin kecil" balas Valmira sambil menatap 2 boneka sihir.
" kita lawan bersama" jawab Kangta yakin.
Setelahnya Kangta lalu terbang dan menyerang salah satu boneka.
__ADS_1
Crussshh
" kalian tidak mengerti juga ya" ucap boneka itu yang sedang menolong Alvaro.
" pergi darisini atau kalian akan musnah!" ancam Kangta sebagai gertakan.
" kami akan pergi setelah membawa tuan kami"
" baiklah lawan aku kalau begitu"
Crussh
Wusshh
perkelahian terjadi, ditengah kepadatan orang-orang yang sedang berlarian menyelamatkan diri. Alun-alun mulai sedikit lenggang membuat perkelahian sedikit leluasa.
Valmira dan Kangta melawan masing-masing satu. prajurit dan Deon membantu sebisanya.
Wusshh
" aakk" Serangan mengenai tubuh Valmira. wanita itu melemah sebentar. Kesempatan ini di gunakan prajurit memberikan perlawanan.
" kalian tidak akan bisa melawan ku " remeh boneka
" hiyaa"
Deon ikut maju, dia memiliki pengalaman melawan boneka sihir sebelumnya jadi pergerakan sedikit lebih lincah.
" kalian benar-benar menganggu!"
wuusshh
salah satu boneka mengeluarkan api dan membakar beberapa bangunan kedai yang padat dengan orang bersembunyi.
Valmira dan semuanya langsung melotot bagaimana nasib orang- orang itu.
" hahahah" melihat kebingungan Valmira serta yang lainnya boneka itu senang.
wuussshh
Serangan kembali dilancarkan. Kini tidak hanya membakar boneka itu juga mengambil beberapa orang dan mengangkatnya tinggi dengan memberikan tali sihir di leher mereka.
Crussshh
satu orang terlepas, masih ada belasan lainnya.
Valmira mengakui jika boneka ini pandai memanfaatkan situasi. membuat yang lain sibuk jadi mereka bisa pergi menyelamatkan tuannya.
" tolong...! tolong " teriakan orang meminta tolong terdengar dari beberapa arah. api kebakaran semakin besar berkobar, tak ada waktu mengurus boneka sihir sialan itu.
" keselamatan penduduk lebih utama" ucap Valmira, dengan berat hati membiarkan boneka sihir itu membawa Violet dan Alvaro pergi. sedang dirinya langsung menolong penduduk yang terluka dan terjerat tali.
Crasshh
Crash
Valmira dan Kangta langsung memberikan pertolongan. Beberapa orang akhirnya bisa selamat. para prajurit membawa para penduduk yang selamat ke tempat yang lebih aman dan menjauhi bangunan yang terbakar.
Valmira menghembuskan nafas kasar, sedikit lagi padahal semuanya akan berakhir. tapi kini masalah semakin rumit. untuk melumpuhkan satu boneka sihir saja sangatlah butuh energi, kini mereka ada 2 dan merupakan penyihir hebat. Mereka akan kewalahan.
Valmira menatap para penduduk mereka terluka sekali lagi. Dia merasa gagal melindungi mereka.
__ADS_1
" maafkan aku" lirih Valmira sedih.