
Belum juga keluar dari istananya, Sore itu Raja Gyan kembali mendapatkan seorang tamu. Kali ini bukan dari kalangan bangsawan ataupun penyihir hebat. Tamu Gyan adalah seorang tabib yang selama ini merawat Selir Alora di saat sakitnya.
" suruh dia menemuiku besok" ucap Gyan pada pelayan yang mengabarkan kedatangan tabib itu.
" tapi dia mengatakan jika ada hal sangat penting yang harus dia sampaikan dan ini berkaitan dengan selir Alora, yang mulia" jelas pelayan itu sesuai dengan pesan sang tabib. Dia sudah mengira jika Raja Gyan pasti akan menolak kedatangannya.
Gyan mengerutkan keningnya, ada masalah apa yang membuat tabib itu bersikeras menemuinya.
" baiklah" jawab Gyan karena penasaran.
Aden juga tertarik dengan pembahasannya sehingga ikut berjalan di belakang Gyan menuju ruang depan istananya.
Baru satu langkah masuk, Gyan kembali melihat pemandangan Kangta yang sudah menjamu tamunya. Lelaki itu berbincang santai dengan tabib kerajaannya. Kangta semakin lama sedikit lancang di istananya.
" yang mulia" ucap tabib sambil berdiri, seketika melihat Gyan berjalan mendekat.
" ada urusan apa kau datang kemari?" tanya Gyan sambil mengambil duduk di sofa.
" maafkan saya yang mengganggu waktu yang mulia, saya ingin memberitahukan sesuatu mengenai selir Alora yang sudah saya periksa beberapa waktu yang lalu" jelas tabib itu agar Raja Gyan mengerti tujuan kedatangannya. Gyan memberikan tanda agar lelaki itu duduk.
__ADS_1
" katakan padaku" balas Gyan dengan wajah biasa.
Tabib itu terlihat gugup, dia mengambil nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
" saya mengatakan ini tidak ada maksud apapun. Saya hanya menjalankan tugas"
Gyan mengangguk pelan, tabib ini begitu bertele tele saking gugupnya dan Gyan mengerti hal ini.
" beberapa waktu lalu saya menemukan jika selir Alora memiliki 2 denyut nadi yang berbeda. Sepertinya selir saat itu sudah mengandung seorang anak" jelas tabib setelah mengumpulkan keberaniannya. dia tampak sedikit lega karena akhirnya mengatakan rahasia yang selama ini dia pendam sendiri.
brak.
" kenapa menjadi tidak mungkin?" balas Kangta membuat suasana menjadi semakin panas.
" Ampun yang mulia, saya tau ini pasti sulit di terima, tapi saya sudah memeriksanya berkali- kali. Nadi itu sangatlah kuat. saya yakin jika selir Alora sedang mengandung" cicit tabib tidak mau di anggap salah memeriksa.
bahkan Aden yang berdiri di belakang juga ikut tidak percaya. Hal semacam ini mungkin terjadi jika Selir Alora, berselingkuh.
" kau pasti mengada-ngada. Apa ada seseorang yang menyuruhmu?" selidik Gyan.
__ADS_1
" tidak yang mulia, saya bahkan awalnya berniat menyembunyikannya. Tapi malah membuat saya tidak tenang. Saya memberanikan diri datang kemari agar yang mulia tau yang sebenarnya" jelas tabib itu sambil bersimpuh di sebelah kursi yang Gyan duduki.
" itu pasti anakmu, dia selirmu bukan?" saut Kangta, membuat Gyan menarik nafas panjang.
" kau pergi dari sini. dan jika sampai kabar ini diketahui orang lain. kau akan segera di hukum" ucap Gyan. dia masih belum bisa menerima hal ini, tabib yang datang kepadanya bukanlah kalangan atas yang sengaja mengadu domba demi keuntungan tertentu. Dia tidak akan diuntungkan dengan mengatakan hal ini, justru malah terancam mendapatkan hukuman.
" baik yang mulia" jawan tabib itu lalu pergi dengan segera. Benar apa yang istrinya katakan, Raja tidak akan mempercayai ucapannya. Meski ini kebenarannya jelas tidak akan bisa semudah itu diterima.
" sebenarnya dimana letak permasalahannya? dia selir mu dan saat ini sedang hamil. apanya yang salah?" tanya Kangta masih belum mengerti juga.
" dia bukan penyihir" jawab Gyan ketus.
Kangta terdiam, bahkan Aden perlahan berjalan mundur menjauhi ruang depan agar tidak mendapatkan amukan Gyan.
" kau sudah memastikannya?" pertanyaan Kangta malah membuat Gyan gemas. Memangnya apanya yang di pastikan.
" kau tidak perlu ikut campur" balas Gyan emosi.
" kau ternyata bodoh juga, jika kau yakin wanita itu tidak tidur dengan lelaki lain. maka sudah pasti itu bayi mu. Dan dia seorang penyihir. " omel Kangta atas pemikiran Gyan yang sejak kehilangan Alora menjadi berkurang konsentrasi dan kelogisannya.
__ADS_1
Gyan menatap Kangta datar, dia tidak bisa menampik jika perkataan Kangta ada benarnya juga.