Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Peringatan 2


__ADS_3

Situasi Garamantian sedikit lebih rumit. Hari perizinan yang di berikan Gyan semakin menipis. Para manusia itu sudah menangkap beberapa orang dan menahannya agar tidak kabur. Sebagai orang awam mereka mengira jika semua penyihir memiliki kemampuan untuk menghilang ataupun ilmu sangar lainnya. Padahal meski penyihir mereka juga perlu mengasah kemampuan. Dan hanya yang.memiliki kemampuan yang tinggi yang bisa melakukan semua itu.


" yang mulia, para orang-orang itu hendak membawa para tahanan ke penjara istana. Mereka mengatakan akan menginterogasi mereka agar penyihir yang lainnya bisa di tangkap"


Gyan mulai kehabisan kesabaran. manusia itu berlaku seakan-akan penyihir adalah ancaman yang besar dan harus segera di musnahkan.


" dimana mereka sekarang?"


" di halaman samping istana utara yang mulia, mereka sedang mengarahkan tahanan untuk masuk ke penjara"


" kita ke sana"


tanpa menunggu waktu, Gyan perlu memberi mereka peringatan. Sudah banyak sekali tingkah mereka yang mencederai kesepakatan yang sudah mereka buat.


tap tap tap


Gyan berjalan menuju kawanan orang-orang yang memperlakukan rakyatnya seperti budak.


" apa yang terjadi di sini?" suara Gyan mengangetkan mereka. Ada sekitar 7 orang yang masing-masing membawa senjata tajam yang berbeda.


" yang mulia," sanjung mereka.


" Raja Gyan!, tolong kami.."


" yang mulia..bebaskan kami" suara para tahanan meminta bantuan dari Raja mereka.


" jelaskan padaku apa yang terjadi di sini?" penuh aura dingin.


" kami sudah menangkap orang-orang ini yang ternyata adalah penyihir. Dan akan kami periksa satu persatu untuk membuka mulut agar penyihir lain bisa di tangkap"


" apa kesalahan mereka?"


semuanya terdiam tidak menjawab.


" Garamantian adalah kerajaannya hukum, apa yang sudah mereka lakukan sampai perlu di penjara?" lanjut Gyan.


" yang mulia apa anda lupa maksud kedatangan kami?"


" apa kalian lupa dengan kesepakatan awal?" balas Gyan.


" kami memang akan menangkap semua penyihir dan menghukum mereka"


" mereka tidak melakukan kejahatan apapun. Jadi mereka tidak seharusnya mendapatkan hukuman"


" tapi yang mulia, beberapa bulan yang lalu. kelompok penyihir membuat kerusakan dan membunuh banyak orang. kita harus mengantisipasi agar hal serupa tidak terjadi lagi. Kita tidak mau menjadi korban selanjutnya"


" apa kau pikir semua para penyihir akan berlaku seperti itu? apa kau pikir mereka tidak ada yang menghukum. penyihir pasti memiliki aturan juga. Kau tidak perlu melampiaskan kekesalan mu dan menganggap semua penyihir sama. sekarang bebaskan mereka"


semua orang itu tercengang, sedangkan tahanan mereka bisa sedikit lega. penolong mereka baru saja datang.


" yang mulai mohon maaf, kami tetap pada tujuan kami datang kemari"


" jika kau bisa mengatakan kejahatan apa yang sudah mereka lakukan maka aku akan membiarkan mereka masuk ke penjara istana"

__ADS_1


" yang mulia, apa yang mulia membela penyihir ini?"


" tak perlu bertele tele. katakan kejahatan mereka atau bebaskan" lugas Gyan. Percuma menjawab semua pertanyaan mereka. Rakyatnya harus bisa dia lindungi.


" yang mulia kami tidak bisa memilih dari keduanya" jawab anggota lain yang mulai tidak bisa menahan amarah.


" itu artinya kalian telah melanggar persyaratan yang sudah aku ajukan "


" kami datang untuk membasmi penyihir..."


" memangnya mereka binatang? apa kau berfikir jika kalian makhluk paling suci? ck ck ck menjijikkan sekali" balas Gyan tak kalah kasar.


" yang mulia, jika anda terus menghalangi kami itu artinya anda ikut membela penyihir. Kami tentu akan...."


" akan apa.? menghukum ku juga?" Gyan maju mendekati anggota yang mengatakan hal barusan. Dia memiliki rencana yang bagus.


" tahan emosimu.." pesan kawannya. Gyan tersenyum tipis, melihat tingkah bocah yang sama sekali bukan lawan nya.


" sudah jelas mereka tidak melakukan kejahatan. jadi bebaskan mereka"


beberapa prajurit segera membuka borgol yang melilit tangan para tahanan.


sreggg


salah satu manusia menarik pedang dan melukai prajurit di sana.


situasi langsung tegang, tanpa menunggu perintah, prajurit yang lain langsung mengepung orang-orang tersebut.


" melukai prajurit kerajaan sama hal menjadi pemberontak. kalian melakukan kejahatan besar. Tahan mereka" ucap Gyan dengan jelas di mengerti yang lain. Tanpa perlu kesusahan ke 7 orang langsung di ringkus, meski memberikan perlawanan dengan kemampuan mereka yang awam melawan prajurit medan perang tentu tidak berpengaruh sama sekali.


Setelah memastikan semua sudah di amankan, Gyan langsung berbalik badan dan kembali ke istananya. Sebentar lagi pasti akan ada yang mendesak ingin bertemu dengannya.


......................


Di dalam kamarnya Falla masih memandangi cermin, dia meneliti ruam merah keunguan yang mendadak timbul di sepanjang leher dan bahunya.


" aku yakin tidak makan macam-macam di pesta semalam. tapi kenapa ada rona kemerahan ini?" ucap Falla pada dirinya sendiri. baru saja dia akan mengolesi lukanya, tapi malah harus melihat hal ini.


Falla menggosoknya berkali-kali, tidak ada rasa gatal, yang biasa muncul jika dia alergi pada sesuatu.


" Nyonya, kenapa belum mengolesi luka-luka anda. apa perlu saya bantu?" ucap pelayan pribadinya yang berdiri di belakang Falla.


" tidak ini lihatlah. saat aku bangun tidur aku baru menyadari jika leher dan bahuku timbul merah-merah" Falla mendekatkan tubuhnya ke arah pelayan.


" mana nyonya?" Pelayan itu belum mengerti karena jaraknya masih sedikit jauh.


" ini lihat lah. banyak sekali ini' ucap Falla setengah panik.


pelayan itu melihat dengan seksama. dan sedikit menyentuh rona tersebut.


" nyonya merasa gatal tidak sebelumnya. tidak mungkin ruam ini muncul langsung dengan jumlah banyak dan dalam waktu semalam"


" kau salah. sebelumnya tidak ada ruam ini. aku tidak merasa gatal. dan semua ini muncul dalam semalam. Setelah aku selesai dari pesta, eh tunggu aku tidak ingat bagaimana aku bisa kembali" Falla baru menyadari, dia terlalu cemas sehingga tidak memikirkan hal ini sebelumnya.

__ADS_1


" oh ya.semalam anda ada pesta dengan yang mulia benar..?" pelayan juga baru ingat.


" iya benar, entah bagaimana aku bisa pulang. mungkin Adipati menggendongku, karena mabuk berat..."


" jadi semalam yang mulia membawa anda ke kamar?"


" kemungkinan iya.."


pelayan itu baru bisa menghubungkan kejadian semalam dengan ruam merah itu.


" sepertinya ruam ini bukan karena makanan nyonya, tapi karena.." pelayan itu menghentikan kalimatnya. Dia tidak berani mengatakan hal seperti ini pada nyonya nya.


" karena apa katakan? apa karena ramuan, atau kebersihan ? apa katakan dengan jelas.." desak Falla.


" itu.. mungkin ini karena yang mulia.."


" yang mulia? kenapa bisa? "


" itu nyonya, saya bingung bagaimana mengatakannya"


" katakan saja ... bagaimana bisa yang mulia yang menyebabkan ruam ini"


" itu.. itu..."


tok tok tok


suara pintu terdengar, pelayan dan Falla langsung menoleh.


" kau buka saja, aku akan merapikan pakaianku"


" baik nyonya. "


semuanya berpencar, Falla masuk ke kamar dan Pelayan itu membukakan pintu.


" nyonya tabib sudah datang" ucap pelayan dari arah luar kamar. Falla lupa jika hari ini adalah terakhir kalinya Falla di periksa, dan tabib itu baru bisa kembali ke istana.


" baiklah" Falla yakin dengan penampilannya lalu keluar dari kamar.


" nyonya.." sanjung tabib itu.


" aku lupa jika kalian akan kemari"


" maafkan kami, karena menganggu anda"


" tidak..kita mulai saja"


tabib itu memeriksa tubuh Falla dari bagian luar saja.


" em maaf" pelayan mengambil sebuah kain tipis dan menutupi bagian leher Falla.


" kenapa?" tanya Falla bingung.


" itu mengganggu konsentrasi tabib" jawab pelayan itu sekenanya. Sedangkan tabib tersenyum tipis. Hal ini akan menjadi bahan perbincangannya nanti. Biasa wanita memang harus saling berbagi berita.

__ADS_1


__ADS_2