
Raja Gyan merasakan hal yang tidak wajar. Aura kerajaannya mendadak terasa kotor. Lelaki itu menuju ke jendela ruang baca, langit semakin gelap membuat firasat Gyan semakin cemas.
" yang mulia, selir Alora meminta izin tidak bisa datang malam ini. Pelayan Harem mengatakan jika selir sedang tidak enak badan" ucap Aden, lelaki itu belum mengetahui jika tuannya sedang khawatir.
" apa yang terjadi padanya?" tanya Gyan menyelidik tanpa melepaskan pandangan dari jendela.
" menurut informasi, tubuh selir terasa dingin dan terus bergetar ketakutan" jawab Aden sesuai dengan laporan dari pelayan.
Gyan terdiam sambil memikirkan, apa mungkin ini ada hubungannya dengan hal yang menimpa Selir nya.
" baiklah" jawab Gyan tak ingin memperpanjang. Dia berniat memastikannya nanti.
" ah ya kirim seseorang untuk mengawasi Shana" lanjut Gyan, yang curiga.
" baik yang mulia, saya pamit"
Aden segera undur diri, Gyan masih menatap jendela dengan wajah dingin. Jika sampai dia menemukan suatu keanehan, tentu saja Dia tidak akan tinggal diam.
Sesuai dengan perkataan Aden, Valmira sedang berada di atas ranjang, tubuhnya tertutup selimut tebal dan rapat. Hawa dingin terasa begitu menyengat Valmira, tubuhnya terus menggigil karena rasa takut setelah melihat asap hitam itu membuatnya tidak berani meninggalkan ranjang.
" Selir, kami sudah menyiapkan sup hangat untuk anda" ucap pelayan Fleur, dan meletakkannya di meja dekat ranjang.
" tidak, aku tidak mau. kalian pergi dari sini" usir Valmira, dia ingin sendiri. Dia takut melihat hal aneh jika membuka selimut.
Fleur menatap khawatir, belum pernah dia melihat Valmira seperti ini sebelumnya. Bahkan hal ini terjadi secara mendadak. Dia ingat betul, sore tadi Selir nya tidak apa-apa. Lalu sedetik kemudian seakan melihat sesuatu dan kemudian seperti ini. sangat tidak wajar bagi Fleur.
__ADS_1
Di kamar lainnya, Shana baru selesai membersihkan kamar akibat ritual yang gagal. Jangan sampai bercak darah atau barang apapun tertinggal disana. Dia tidak mau ada seorangpun selain pelayannya yang mengetahui hal ini. sedikit kecerobohan bisa membuat dirinya dalam bahaya. Apalagi Gyan yang sejak awal tak pernah memihaknya.
" putri, selir Alora dikabarkan sakit" ucap pelayan yang baru saja kembali.
" sakit? kau yakin?" tanya Shana tidak percaya, baru saja sihirnya gagal, tapi kenapa efeknya berhasil.
" iya putri, bahkan selir Alora tidak bisa pergi ke istana Raja" balas pelayan itu dengan wajah serius.
" kenapa bisa seperti ini? tapi tak apa, bagus dia sakit" guman Shana senang. Dia tetap merasa puas dengan berita yang dia dengar. Wanita itu menyeringai puas.
Di kamar selir Agung, Fleur terus mengawasi Valmira dari ambang pintu. Malam semakin larut tapi Valmira masih belum tenang, wanita itu seakan merasakan hal aneh. Wanita itu tidak berhenti menggigil sejak tadi, membuat Fleur terus Mengkhawatirkan dan tidak berani meninggalkannya sendirian.
" Minggir"
ucap Aden pada Fleur yang terlalu fokus menatap ke dalam kamar. Wanita itu tidak menyadari jika Raja dan pengawalnya datang berkunjung. Raja Gyan sengaja datang dengan diam-diam, dia tak ingin membuat keributan.
Fleur langsung menoleh dan mendapati Raja sudah berada tak jauh darinya. Fleur segera menunduk sambil memberikan jalan.
Gyan tidak terlalu peduli, lelaki itu dengan datar berjalan melewati Fleur. Dia masuk ke kamar dan langsung menutup pintu.
Dari sini saja Gyan bisa melihat seseorang meringkuk di atas ranjang dengan selimut tebal membungkus tubuhnya. Valmira terus merasakan dingin di tubuhnya. Gyan segera mendekat dan menaiki ranjang.
" Alora" panggil Gyan lembut. Valmira tidak menyahut.
Gyan menarik selimut pelan.
__ADS_1
" alora, apa yang terjadi?" tanya Gyan sekali lagi. Kali ini Valmira baru menyadari kedatangan seseorang. Wanita itu berbalik duduk.
" apa yang terjadi, hemm?" Gyan merapikan anak rambut Valmira. Sayangnya Valmira tidak menghiraukan, wanita itu menarik kembali selimutnya dan menutup diri. tubuhnya tidak diam, terus bergetar.
Valmira bukanya tidak sadar kehadiran Raja, hanya saja Valmira tidak tau bagaimana mengatakannya. Dia juga tidak begitu percaya dengan kebaikan hati Gyan. Baginya Gyan hanyalah orang lain.
Gyan tak suka di abaikan, lelaki itu menarik nafas panjang kemudian tak lama semua lilin di kamar mati. Ruangan menjadi gelap seketika.
" tidak, jangan matikan lilinnya" teriak Valmira dalam selimut nya.
Gyan tidak peduli, dia ingin membuat Valmira menanggapi pertanyaannya. Valmira yang merasa semakin takut segera membalikkan badan dan memeluk Gyan.
" jangan matikan, nanti dia kembali" ucap Valmira ketakutan. Gyan bisa merasakan tubuh Valmira yang menggigil.
" dia siapa?" tanya Gyan, sambil membalas pelukan Valmira.
" hitam, melayang" eja Valmira.
jawaban Valmira membuat keningnya berkerut. Hal aneh seperti pasti berkaitan dengan sihir. Tapi bagaimana bisa Selir nya bisa melihat sihir, dia adalah manusia biasa.
" dia tidak akan datang, tenanglah ada aku" ucap Gyan mengelus pelan punggung Valmira.
" tidak, dia pasti kembali. Rasanya begitu dingin, Ini pasti karena itu. Dia berusaha mendekat, aku. aku. aku .."
" tenanglah, tidak ada yang berani bertindak seperti itu saat aku disini" Gyan langsung memotong, dia tidak suka selir nya menjadi seperti ini.
__ADS_1
Gyan membawa Valmira dalam dekapannya erat, dia ikut berbaring dengan tetap memeluk selir nya. Telapak tangan Gyan terus mengelus punggung Valmira pelan, lelaki itu menyalurkan energi panas lewat usapan itu. Perlahan tubuh Valmira tidak keinginan lagi. Wanita itu berangsur tenang dan tubuhnya mulai menghangat. Gyan sangat peduli pada Valmira, wanita ini sejak awal memiliki hal istimewa dalam dirinya. Dan Gyan bisa merasakannya.
Gyan bertahan disana sampai menjelang pagi, beberapa hari tidurnya di temani, membuat lelaki itu bisa dengan mudah ikut terlelap bersama Valmira. kini hari mulai terang dan Gyan beranjak dari ranjang. Lelaki itu tanpa menimbulkan keributan segera kembali ke istananya.