Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Rasa Rindu


__ADS_3

beberapa hari jauh dari Gyan terkadang membuat Valmira bisa beristirahat dengan tenang malam harinya. Wanita itu tidak perlu di ganggu dengan berbagai rayuan ataupun pujian yang membuat wanita itu harus tepar pagi harinya.


Seperti saat ini Valmira batu selesai membaca laporan terbaru terkait persiapan lahan baru untuk para pendatang. Dengan masih menyusui G, Valmira mulai mengantuk-ngantuk mengelus kelapa putranya. Ini sudah menjadi hal yang wajib dia lakukan, karena G begitu menyukai elusan nya. Dan jika berhenti bayi itu terkadang menangis, dan tidak mau menyusui lagi.


" kenapa kini jadi kau yang manja? dulu ibu tak sadar tidur kamu bahkan tidak menangis, kenapa G? kau rindu dengan ayah?" lirih Valmira mengajak anaknya berbicara.


" aaabnss...." suara G berceloteh seakan membalas ucapan Valmira.


" iya..ya.. ayo minum lagi, ibu sudah sangat mengantuk" Valmira mengelus kembali kepala bayi G.


Berbeda dengan Gyan, lelaki itu justru tidak bisa tidur saat malam hari, bukan hanya karena tugas dan tanggung jawabnya saja. Tapi dia juga tidak bisa menyalurkan rasa rindu yang terpendam. Pertemuan dengan Valmira masih terbilang singkat. Apalagi mereka bertemu masih memerlukan waktu agar ingatan Valmira pulih. membuat Gyan sempat uring-uringan tidak jelas.


" Aden, kemari. kenapa semua menu makan malam terasa hambar? pergi suruh pelayan untuk mengirim makanan lagi" Gyan jarang sekali.mengomentari masalah sepele seperti ini. Tapi entah bagaimana beberapa hari terakhir ada saja hal yang membuat lelaki itu emosi.


" tapi, ini sudah ke dua kali nya anda meminta ganti makanan yang mulia "


" dan kenapa sudah 2 kali, tapi makanan tidak ada yang benar, sudah cepat bawa makanan ini dan suruh bagian dapur mengirimkannya lagi"

__ADS_1


" baik yang mulia" jawab Aden tak ingin membuat tuannya semakin marah. Aden menyuruh agar pelayan dengan cepat membereskan semua makanan dan membawanya ke pelayan bagian dapur. Sekalian dirinya juga mengekor kepergian mereka dengan hati menggerutu.


Entah bagaimana tuannya bisa berubah menjadi se cerewet dan se rumit ini. Dia juga kini kena getahnya, alhasil dia juga ikut memarahi pelayan dapur dengan hal yang sama, yang dia dapatkan dari Gyan.


" maafkan kami tuan, kami sudah melakukannya sebaik mungkin. Bahkan ini adalah menu yang biasa yang mulia makan. Dan baru pertama ini yang mulia menolaknya. maafkan kami yang kurang teliti tuan" ucap kepala pelayan dengan wajah penuh penyesalan.


" kalau begitu coba kau siapkan makanan yang biasa di makan selir agung dahulu, em maksud ku itu Ratu Valmira."


" tuan yakin? bagaimana jika.."


Tak beberapa lama, Aden dan pelayan makanan terlihat sampai di ambang pintu Istana Raja. Gyan masih membaca beberapa laporan di meja kerjanya. Sembari menata makanan di meja makan, Aden pergi ke riang kerja Gyan untuk memberikan laporan.


" yang mulia makanan sudah siap"


" emm" gumam Gyan tanpa minat. moodnya untuk makan sudah mulai terkikis.


Aden pergi ke tempat dia biasa berjaga. pelayan dapur menunggu di area khusus, takut jika tiba-tiba Sang Raja komplain lagi.

__ADS_1


waktu berjalan Gyan masih fokus di ruang kerjanya, mendadak mencium aroma makanan yang menggiurkan. lelaki itu perlahan menuju ruang makan. Dan mulai menyantap makanan. Semua orang menunggu dengan perasaan ketar-ketar. meskipun tidak melihat dengan seksama tapi mereka bisa tau dari suara peralatan makan yang beradu. hampir semua pelayan meremas tangannya khawatir.


1 detik


2 detik


1 menit.


Tak ada panggilan ataupun amukan. ini pertanda yang baik. Mereka semua akhirnya bisa bernafas dengan lega. ide Aden cukup efektif juga.


Sedangkan di sisi lainnya, tepat nya dia kamar putri Farfalla bukan kelegaan yang tengah wanita itu rasakan. Dia malah tegang dengan temuan yang dia dapatkan dari kamar sang ibunda.


Putri Farfalla memang beberapa hari ini menghabiskan waktu di kamar mendiang ibunya. selain untuk meredakan rasa rindu nya. Dia juga membereskan beberapa barang ibu suri yang mungkin akan dia jadikan kenangan untuk di bawa saat dia sudah menikah nanti.


Sayangnya barang yang dia temukan adalah barang kenang-kenangan waktu dia kecil dulu. tak di sangka barang ini akan dia temukan lagi. kini saat dia beranjak dewasa barang di tangannya bukan hanya sebagai kenangan namun juga sebagai petunjuk akan jati dirinya.


" apa ini yang membuat kakak tak mau menceritakan asal usul ku yang sebenarnya." lirih Farfalla sambil menetap benda itu.

__ADS_1


__ADS_2