
" sungguh?" tanya Valmira yang langsung khawatir pada dia wanita disana.
" iya, nona. Banyak dari mereka yang mengungsi. lebih baik kalian jangan kesana" ucap pemilik kereta kuda.
" tidak, tidak. kita tetap kesana" jawab Valmira mantap.
Setelah menyepakati harga, akhirnya kedua wanita itu menaiki kereta. tidak lupa tudung kepala yang berguna menyembunyikan wajah mereka lepas saat di dalam kereta.
" kau pasti sangat khawatir dengan mereka" ucap Fleur yang melihat wajah Valmira sedih. Valmira sudah menceritakan mengenai masa lalunya dan dimana dia tinggal sebelum masuk ke kerajaan.
" mereka sangat baik padaku, apa kau mau menemani ku mencari mereka?" tanya Valmira tidak enak.
" tentu saja, " jawab Fleur yakin.
" terimakasih, Fleur" ucap Valmira senang.
__ADS_1
Kereta terus berjalan menjauhi kerajaan Garamantian. Hingga sampai hari ini, Gyan masih belum mengetahui kabar hilangnya selir kesayangannya. Lelaki itu masih sibuk mengatur rencana bersama dengan Kangta.
Seperti saat ini mereka sedang pergi meninggalkan istana, mereka menemui Rachi. Wanita dari penyihir Arghi.
" kenapa kau ingin sekali bertemu dengan mereka?" tanya Rachi saat Gyan meminta kesediaannya untuk membawa mereka menemui klan Ralba.
" mereka tidak mungkin membuka pintu jika mengetahui kita dari penyihir yang berbeda" jawab Deon yang sudah tau penjelasan semuanya.
" apa ini berkaitan dengan masalah semalam?" Rachi masih juga belum memahami, memang bukan salahnya. Gyan sengaja tidak mengatakan apapun. Ini semacam rencana rahasia antara dia dan Kangta.
" baiklah, tapi aku tidak bisa menjamin jika mereka mau bertemu dengan kalian" jawab Rachi, dia juga tidak mau di salahkan.
" tentu saja, kau hanya perlu meyakinkan mereka saja" ungkap Gyan paham.
Sore telah datang, kereta terus melaju tanpa istirahat. Kereta baru akan berhenti saat malam hari sesuai dengan persetujuan.
__ADS_1
" Fleur, makanlah" ucap Valmira yang sedang menikmati bekal mereka.
" kau ini ya, dimana-mana selalu saja makan. jika di lihat-lihat semakin lama perutmu semakin besar, sama seperti ibu hamil" jelas Fleur lagi, dia sudah sempat menyinggung hal ini. Tapi kali ini wanita itu mengatakan dengan serius.
" tidak mungkin aku hamil, sudah jangan mengada-ngada jika mau menghina ku" balas Valmira santai.
" siapa tau, kau kan selalu bersama dengan raja "
" tapi Raja dan aku tidak mungkin bisa. Kami berbeda" ungkap Valmira yang mengetahui dari buku jika hanya sesama penyihir baru bisa menghasilkan keturunan.
" siapa yang tau" jawab Fleur yang sedikit yakin jika temannya ini sedang hamil. Dia bisa mengamati dari kebiasaan, serta pola makan yang berubah. Apalagi Alora yang biasa suka beraktifitas mendadak begitu suka baca buku sambil bersantai di atas sofa atau ranjang.
" lupakan saja fikiran itu, ayo makan. Ini sangat enak" Valmira memberikan bekal mereka.
Hari semakin gelap, para wanita itu tidak sadar jika sejak mereka berangkat keduanya sudah diikuti oleh 2 rombongan yang berbeda.
__ADS_1
satu ingin mencelakai dan yang satu ingin melindungi. Jika bukan karena Ratu Shana yang ikut campur, mereka tidak akan tau jika selir kerajaan ini melarikan diri. Sayangnya mereka tidak bisa mengambil keputusan apakah menghadang atau bagaimana. Mereka masih mencoba melaporkan hal ini pada yang mulia. Namun belum mendapatkan kesempatan.