
Suasana kamar selir Agung masih sama, para pelayan mulai menarik diri dari sana. Mereka takut mengalami kesialan jika terlalu lama berada disana. Rumor yang beredar semakin heboh saja. Bahkan ada yang mengaitkan Valmira dengan hilangnya beberapa pelayan, yang sebenarnya semua itu adalah korban persembahan Shana sebelumnya.
Hal ini tentu saja menganggu keadaan dan ketenangan istana Garamantian. Semua merasa khawatir dan was-was jika sampai terjadi hal buruk pada mereka.
Tak terkecuali dengan Putri Farfalla juga Ibu suri Raveena. Meskipun keduanya bukan keturunan penyihir, kedua wanita itu cukup tau bagaimana buruknya sebutan penyihir hitam.
" ibu, apa ibu juga merasa jika kabar mengenai Selir Alora itu benar?" tanya Farfalla, mereka berdua sedang bersantai di taman istana Harem, sambil menikmati suasana pagi yang cerah.
" entahlah, ibu juga merasa sedikit aneh dengan perubahan sikap Raja kepada wanita itu. Dia terlalu cepat membuat Raja luluh padanya" jelas Ibu Suri sambil menatap kolam.
" iya aku juga setuju. Belum lagi paras Selir itu yang terlalu menawan. Sangat tidak masuk akal. Saat sebelumnya begitu buruk rupa dan bau, itu seperti sebuah keajaiban" imbuh putri Farfalla menyetujui penilaian ibundanya. Mendengar kalimat persetujuan itu Raveena juga tidak langsung senang, dia menatap anak angkatnya sesaat.
" kau ingat jangan tunjukkan sikapmu ini di depan raja. Saat ini Raja terlalu sensitif jika mendengar ada orang yang menghina selirnya" pesan ibundanya.
" iyya, ibu"
" ibu suri, putri" sanjungan itu membuat keduanya terhenyak sesaat dan segera mencari sumber suara.
" oh, Yang mulia Ratu" ucap Farfalla sambil berdiri cepat memberikan penghormagan. Sedangkan Ibu Suri hanya diam saja.
__ADS_1
" boleh saya bergabung?" tanya Shana dengan penuh kelembutan.
" tentu saja Ratu" jawab Ibu Suri cepat.
Jadi kini dalam meja itu telah terisi 3 wanita petinggi kerajaan.
" bagaimana kabar ibu suri?" tanya Shana dengan tersenyum tipis penuh dengan siasat.
" saya baik-baik saja"
" saya senang mendengarnya. saya takut kabar mengenai selir Agung membuat kesehatan ibu suri terganggu" balas Shana dengan wajah sedihnya.
" Ratu tenang saja. saya masih bisa mengatur emosi dan berfikir jernih" jawab Ibu Suri mengandung banyak arti.
" Ratu benar, kerajaan serasa memiliki aura yang berbeda. saya rasa kita harus segera membicarakan masalah ini dengan Raja" saut putri Farfalla polos.
" sebenarnya besok aku berniat bertemu dengan Raja dan membicarakan kabar ini. Apa mungkin kau mau menemani?" tanya Ratu Shana.
" besok putri memiliki jadwal pembelajaran yang ketat, harap Ratu jangan membuat putri ketinggalan pelajaran" jawab Ibu Suri sebelum putri membuka mulutnya. Raveena sangat tau maksud Shana membawa serta putrinya dalam masalah ini dan dia tidak akan membiarkannya.
__ADS_1
" iya Ratu, maafkan saya" timpal Putri yang menangkap kode meras dari ibunya.
" ah begitu rupanya, tentu tidak masalah. Aku akan menemui Raja sendirian" balas Shana normatif. Meskipun dia sedikit kecewa mendengar penolakan itu.
" itu bagus, Ratu dan Raja harus sering menghabis waktu untuk mendiskusikan masalah kerajaan" ungkap Ibu Suri yang sedikit menyindir jika selama ini Ratu dan Raja selalu terlihat berselisih paham.
" iya. ibu Suri" jawab Shana lembut.
Suasana pagi mulai terasa panas, para wanita itu akhirnya memilih untuk mengakhiri perbincangan. Ratu Shana kembali ke istana begitupun dengan Raveena dan Farfalla dan berjalan menuju Istana Harem.
" ibu terlihat kurang menyukai Ratu" ungkap Farfalla dalam perjalanan.
" bukanya tak suka, hanya saja wanita itu terlalu banyak permintaan dan terlihat semaunya sendiri. Kau harus menjaga jarak darinya" jelas ibu Suri Raveena.
" padahal dulu ibu yang terlihat sangat mendukung hubungan ini"
" iya sebelum ibu tau bagaimana watak aslinya"
" saya rasa tidak ada yang salah dengan Ratu, dia.."
__ADS_1
" kau masih kecil, mana tau hal dewasa seperti ini. Sudah turuti saja pesan ibu" final, Raveena tidak mau ada pembicaraan lagi.
" iya, iya" Farfalla tidak mau membantah lagi.