
tap tap tap
suara langkah kaki semakin dekat, membuat Falla semakin senang.
" tuan ingin menginap?" ucap seorang wanita yang sudah lumayan berumur. Mungkin sama dengan usia ibu suri.
" em. Iya, apakah ada kamar kosong?" balas Falla ramah.
" ada banyak kamar kosong, tuan ingin kamar yang bagaimana?"
" kamar yang memiliki jendela dan bisa melihat sekitar. Ah ya kalau bisa di lantai 2" jelas Falla yang tau jika kedai ini memiliki 2 lantai dari bagian depannya.
" baik tuan, akan kami siapkan. selagi menunggu apa tuan tidak ingin memesan makan malam sekalian?" tawar pemilik kedai.
" oh iya, ide bagus. Berikan aku 2 menu makanan" pesan Falla. Dia tidak begitu nafsu karena kepalanya masih pusing, tapi biar tubuhnya tidak lemas dia harus memaksa makan.
Falla masuk dan memilih tempat yang paling pojok berdampingan dengan jendela besar. Falla menatap sekitar. Tempat ini terlihat kuno. Semua peralatan masih menggunakan kayu tua, dan jika dilihat juga tidak sering mendapatkan renovasi.
Alasan yang paling logis, ya karena tidak banyak orang yang sering mampir begitu yang Falla pikirkan. Sambil menunggu Falla mengamati sekitar, bukan lagi masalah arsitektur. Melainkan pada lingkungan luar dari jendela yang terbuka. Di sini benar-benar tidak terlihat bangunan sama sekali, benar-benar kosong. Perasaan Falla mulai khawatir, bagaimana dia menemukan jawaban dari semua rasa penasarannya.
" tua Ini " ucap salah seorang lelaki setengah tua.
" ah ya terimakasih" jawab Falla.
" anda suami dari ibu tadi?" tanya Falla agar lebih dekat. setidaknya dia ingin berbincang ringan dengan seseorang yang baru di temui.
" iya, anda benar" jawab lelaki itu lalu pergi begitu saja. Padahal Falla ingin bertanya sedikit mengenai daerah Uthaman.
Setelah makan malam, Falla di bimbing oleh wanita penjaga menuju ke salah satu kamar yang berada di lantai 2.
" ini Tuan kamar anda" ucap wanita itu sambil membuka pintu kamar.
" iya., em bibi apa di sini ada tamu lain?"
" tidak ada tuan, Sangat jarang sekali ada orang yang kemari"
" oh begitu.."
" iya tuan, silahkan masuk jika ada yang anda butuhkan bisa langsung ke bawah" wanita itu langsung pergi begitu saja. Falla kembali merasa kecewa. Mau tidak mau dia masuk dan segera mengistirahatkan tubuhnya.
__ADS_1
Tak terasa pagi menjelang, Falla yang sudah menunggu sejak awal kini terlihat baru saja kembali dari aktivitas jalan-jalan. Saat fajar terlihat Falla sudah lebih dulu keluar kamar dan melihat keadaan sekitar. Dia penasaran dengan Uthaman ini. Daerah tanpa pos jaga dan sangat sepi. Apa hanya karena bekas tanah peperangan membuat semua orang menjauhinya. Terdengar seperti tidak mungkin.
" Tuan dari mana?" tanya Bibi yang menyapa Falla saat baru saja duduk di kedai.
" melihat sekitar"
" ini pertama kali anda kemari?"
" em, iya. Bibi sudah berapa lama berjualan di sini?" tanya Falla berharap perbincangan kali ini bisa sedikit lebih lama.
" lumayan tuan. mungkin beberapa tahun yang lalu"
" bibi mengelola bersama dengan suami apa tidak kesusahan? Di sini sangat sepi"
" ya begitulah tuan"
" bibi asli orang Uthaman?"
" iya, Dari semua keluarga hanya sisa kami seorang. kami hanya ingin dekat dengan mereka yang sudah meninggal akibat perang dahulu" jelas Bibi itu membuat Falla tersentuh. Wanita itu menatap dengan sendu bibi penginapan, membuatnya ingat jika dia juga kemari untuk mencari keluarganya.
" bibi kasihan sekali, maafkan saya"
" iya bibi,"
Falla menatap kepergian bibi menuju dapur dan menunggu di meja.
" Paman di mana bibi? sejak tadi tidak terlihat" tanya Falla saat makanan datang, sayangnya kali ini bukan lelaki tua, melainkan bibu. Falla hanya basa basi, sekaligus heran kenapa suami bibi jarang terlihat.
" dia mengurusi bagian dalam, tidak suka bertemu dengan orang asing" jawab Bibi seperti enggan menjelaskan sesuatu.
" silahkan tua" bibi langsung pergi begitu saja.
beberapa waktu setelahnya Falla selesai sarapan kemudian beranjak ke kamar.
" kenapa ini?" gumam Falla, saat mendapati kamarnya sedikit berantakan. Wanita itu segera mengecek berang berharganya, dan seketika tubuhnya lemas. Semuanya telah habis tak berbisa.
" ini pasti ulah mereka" Falla berniat bangkit dan melabrak pasangan suami istri itu. Tapi mendadak kepalanya pusing.
" kepalaku, isshhh" Falla memegangi kepalanya dan berjalan terseok menuju keluar. Dan tak perlu waktu lama penglihatannya tiba-tiba menggelap.
__ADS_1
......................................
Aden baru saja sampai di pos perbatasan dan segera menemui Raja Gyan yang sejak kemarin mencarinya.
" yang mulia" sanjung Aden saat sampai di depan Raja Gyan.
" bagaimana hasil penelusuran?"
" saya tidak bisa menemukan keberadaan putri Farfalla. Semua petunjuk menghilang begitu saja. Tapi kemungkinan putri memang sudah jauh dari kerajaan"
" kau yakin Falla memang sudah Keluar? "
" saya yakin yang mulia, putri Farfalla pasti menuju suatu tempat di luar sana" jawab Aden yakin.
" segera perluas penyebaran"
" yang mulia ada hal lain lagi yang harus saya laporkan pada anda"
" masalah apa?"
" masalah keberadaan penyihir di sekitar kerajaan"
" katakan"
" saat saya sedang berpatroli mencari keberadaan putri, saya melewati beberapa kota, dan secara kebetulan menolong seseorang menggunakan kemampuan sihir. Namun bukannya senang, orang-orang di sana terlihat tak suka. bahkan nyaris satu kota memusuhi saya"
" mungkin ini dampak dari sihir hitam yang hampir merusak semesta alam"
" sepertinya kekhawatiran anda benar, semakin berkurangnya penyihir maka rasa benci manusia semakin terlihat. Keamanan penyihir semakin terancam"
" ini masih permulaan, kita harus segera bersiap-siap menghadapi kebencian mereka"
" yang mulia, jadi apa patroli ini di lanjutkan?"
" emm. kalau begitu tidak perlu. Aku akan mencari cara lain. Sepertinya aku mulai memahami alasan Falla pergi" gumam Gyan.
" baik yang mulia" Aden pamit pergi, dia akan berkordinasi kembali dengan pasukannya.
Di sisi lain Gyan mau tidak mau mencari cara lain dengan menggunakan sihir. Jika benar kekhawatirannya terjadi, maka mengirim pasukan tidak akan membantu.
__ADS_1
Gyan mengumpulkan energinya, perlahan beberapa burung mulai mendekat. Gyan memberikan energi sihir pada beberapa burung. Dia akan meminjam indra burung tersebut, memberikan perintah untuk pergi ke barat untuk mencari adik tersayangnya.