Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Dilema


__ADS_3

Valmira dengan sedikit kesusahan menyingkirkan para prajurit yang mengejarnya dengan menggunakan kekuatan sihir. Tidak ada perlawanan yang berarti.


Berbeda dengan Kangta dan Deon, meskipun serangannya berhasil mengenai tubuh prajurit itu. Nyatanya lelaki itu bisa bangkit kembali seakan tidak pernah merasakan kesakitan.


" Astaga, dia boneka sihir" ucap Kangta saat melihat bagaimana luka di tubuh lawannya dengan cepat menghilang.


" dia tidak akan mudah di kalahkan" saut Doen yang tau mengenai boneka sihir.


crussh


sebuah ledakan, Kangta dan Deon menyingkir namun tetap masih terkena sedikit. Mereka terlalu asyik berbicara sampai tidak fokus dengan lawan.


" siapa yang menyuruh kalian?" tanya prajurit.


" buka urusanmu" balas Kangta dengan ketus.


Kangta dan Deon lalu berpindah tempat, bukan lagi di atap tetapi di sebuah taman kerajaan yang cukup luas. tidak ada orang lain disana selain mereka.


prajurit dengan cepat langsung menyusul. Kangta Deon segera membuat formasi untuk bisa melawannya dengan 2 serangan.


" kalian tidak menyerah rupanya" ejek prajurit itu.


" hyaa"


pertarungan 2 lawan satu terjadi dengan sengit. mereka saling melemparkan serangan,.menggunakan berbagai macam jurus dan mantra. Namun tetap saja melawan boneka sihir itu seperti melawan angin tidak ada habisnya. Hanya membuang waktu dan energi. Tapi mereka juga tidak akan bisa lolos sebelum membuatnya tumbang.


" tuan, dia tidak mungkin mengalami cidera. lukanya selalu sembuh dengan cepat" ucapnya dengan nafas tersengal-sengal.


" kita harus membuat formasi untuk menjebaknya dan masuk dalam mantra pengunci" balas Kangta. Deon segera mengangguk mengerti maksud ucapan Kangta.


" baiklah, kita harus memancingnya ke sebuah lingkaran"


Deon bertugas mengalihkan boneka sihir itu, sedangkan Kangta menggambar pola untuk tempat penguncian boneka.


Setelah selesai Kangta memberikan kode lalu ikut bertarung. Deon sudah terlihat lemas, beberapa kali dia mendapatkan serangan dan luka tubuhnya sangat banyak.


Kangta dan Deon berusaha keras sampai boneka itu benar-benar masuk di tengah lingkaran.


crusshh


" uhuk uhuk" Kangta terkena serangan, lelaki itu muntah darah dalam jumlah banyak.


" tuan anda tidak apa-apa?" Doen menghampiri dengan cemas. Kangta menggeleng pelan agar Deon tidak panik.


" katakan siapa yang menyuruh kalian?" tanya boneka itu lagi.


Deon membantu Kangta berdiri, mereka dengan jelas melihat bahwa lingkaran itu berada tepat di depan prajurit tinggal satu langkah lagi, penguncian akan bisa di lakukan.


perlahan Deon dan Kangta mundur, untuk memancing prajurit itu agar maju selangkah.


" memangnya kenapa? kami tidak akan pernah mengatakannya!" jawab Kangta dengan penuh keberanian.


" baiklah terimalah serangan terakhir ku" boneka itu mengeluarkan energi sihirnya bersamaan dengan kakinya maju selangkah.


" tidak, kau yang harus menerima serangan kami" lirih Kangta lalu dengan dengan cepat meramalkan mantra dan Deon terbang ke sisi belakangnya. Mereka berdua langsung mengunci boneka itu dengan energi yang tersisa.


" tidak! tidak!" boneka itu berteriak tak kala tubuh nya tidak bisa digerakkan lengkap dengan energinya yang melemah. Dia tidak mengira situasinya akan berbalik secepat ini.


Setelah mantra penguncian aman, Kangta segera membakar boneka sihir itu dengan jurus yang hanya di kuasai oleh penyihir Osmond.


" tidak! tidak! akkkk " boneka sihir itu langsung merasakan panas di sekujur tubuhnya.


Sayangnya karena terlalu fokus dengan boneka sihir, mereka tidak sadar jika Alvaro sudah ada di sana.


Crasshh


bertepatan saat bonekanya di hancurkan, Alvaro mengirimkan serangan dan langsung mengenai punggung Kangta.


" akkk" Kangta langsung terpental dan menubruk pohon dengan keras.

__ADS_1


" tuan"


Deon langsung mendekat.


" uhuk"


Kangta batuk darah sangat banyak, lelaki itu menerima serangan yang sangat parah.


" pergi dari sini" lirih Kangta tubuhnya tidak bisa berdiri lagi. Deon harus selamat atau rencana mereka akan sia-sia.


" tidak " Deon menangis ketakutan sambil menggelengkan kepalanya.


Alvaro mendekat ke boneka miliknya yang sudah berubah menjadi abu hitam. Dia mengepalkan tangan dengan kuat dan mantap nyalang ke arah Deon dan Kangta.


" lancang sekali kalian menghancurkan boneka milikku." desis Alvaro dengan nada penuh kebencian.


" terimalah balasan dariku" Alvaro bersiap untuk mengeluarkan serangan sihirnya.


" pergi, dari sini" Kangta dengan tegas mengatakannya, harus ada salah satu dari mereka yang selamat. Deon menggeleng, tidak mau.


" pergi" Kangta mendorong tubuh Deon.


" ingin melarikan diri? jangan harap" Alvaro bisa mendengar perintah Kangta. Serangannya kini berganti ke arah Deon. Membuat Kangta panik.


" Deon,! pergi"


Deon terpaksa berdiri dan meloncat keatap, Alvaro tidak akan membiarkan. Kangta perlahan bangkit dan segera membuat pembatas di taman itu.


crushhh


serangan Alvaro tidak bisa menembus pembatas yang Kangta ciptakan. Deon selamat dan segera melarikan diri. ini adalah sisa energi Kangta. karena setelahnya lelaki itu langsung terjatuh dengan tubuh lemas tak berdaya.


" sialll!!!" teriak Alvaro saat rencana gagal.


Dalam perjalanan melarikan dirinya, Deon tidak hentinya menangis. Dia tidak bisa terima Kangta yang sudah dia dianggap sebagai gurunya harus dia tinggalkan dalam keadaan lemah tak berdaya.


Agar pengorbanan Kangta tidak sia-sia, Deon tetap pergi dan menyelamatkan diri. Dia menuju ke hutan sesuai dengan kesempatannya dengan Valmira.


Di hutan Valmira terus menunggu kedatangan Kangta dan Deon dengan gelisah. Langit sudah mulai terang, tapi kedua lelaki itu tidak kunjung datang.


" apa Mereka tertangkap?" lirih Valmira.


wanita ini sangat cemas. Dia berjalan mondar mandir sama tadi. jangan sampai kangta dan Deon terluka. itu yang Valmira ucapkan dalam hatinya terus menerus.


tap tap


akhirnya terdengar suara kaki mendekat, Valmira langsung tersenyum lega tak kala melihat Deon berjalan di depannya.


" Deon"


Valmira berlari mendekat, tapi keningnya langsung mengkerut tak kala melihat Deon yang tertunduk sedih dengan sisa air mata membasahi pipinya.


" Deon, apa yang terjadi?" lirih Valmira. Dia tidak mau mendengarkan hatinya yang sudah bisa menebak bahwa Kangta pasti mengalami masalah.


" Deon, di mana Kangta?" lanjut Valmira, dia ingin mendengarkan jawaban itu langsung dari mulut Deon.


" tuan.. tuan.."


bruk.


Belum juga selesai menjawab, Deon langsung pingsan dan Valmira menangkap tubuhnya sebelum terjatuh di tanah.


" Deon, Deon. apa yang terjadi?" Valmira dengan panik terus bertanya. Dia sudah tidak sabar, dan tidak terima dengan ketidaksadaran Deon. Bagaimana dengan Kangta.


......................


Pasukan Prysona beberapa hari terus berjalan tanpa memiliki persediaan air yang cukup. Sepanjang jalur yang mereka lalui tidak ada sedikitpun mata air yang ditemukan, danau maupun sungai semuanya kering kerontang. belum lagi panas matahari yang terik membuat kepala mereka berat dan mata berkunang-kunang. Mereka semakin memasuki wilayah gurun yang saat ini sedang mengalami musim panas. siangnya begitu panas dan malamnya begitu dingin. cuaca yang tak menentu ini tidak bisa dilewati dengan mudah oleh para prajurit.


" istirahat disini!" ucap Raja Prysona. Lelaki itu semenjak keluar dari perbatasan Prysona memilih untuk menaiki kereta kuda dengan berbagai macam buah-buahan. Lelaki itu juga bisa merasakan hawa panas yang menyengat selama perjalanan.

__ADS_1


" baik yang mulia" panglima segera menyuruh yang lain untuk memasang tenda.


langit sore segera menghilang saat semua tenda sudah terpasang rapi. Raja dengan cepat langsung memasuki tendanya langsung beristirahat.


Malam harinya tenda rapat penuh dengan para jenderal serta panglima perang. Raja masih tertidur nyenyak, jadi mereka dengan sesukanya bisa melakukan pertemuan.


" panglima, keadaan semakin tidak aman. para pasukan sudah tidak bisa di paksa untuk menahan dahaganya. Mereka benar-benar akan tumbang" ucap salah satu jenderal.


" iya panglima, kita harus mengubah strategi sebelum semuanya berakhir buruk. Dengan hanya mengandalkan air dari tumbuhan tentu di mencukupi. Apalagi beberapa prajurit mati sia-sia karena keracunan. situasinya semakin tidak terkendali" saut yang lainnya.


" kita harus mengingat Raja, agar bisa menahan rasa laparnya. persediaan makanan bisa -bisa juga ikut menipis, panglima"


Hampir semua jenderal memberikan keluhannya. panglima hanya terdiam, semua itu memang sudah dia ketahui, tapi untuk mengatakan kepada Raja rasanya sangat menakutkan. Dia tidak berani, Raja selalu saja marah saat dia datang dan meminta pengaturan dari berbagai masalah yang terjadi.


" panglima mohon katakan sesuatu?"


" aku akan mencoba mengatakan semua keluhan itu kepada Raja nanti" hanya kalimat normatif yang bisa panglima itu katakan. Dia merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apapun.


" panglima" lirih yang lain dengan nada sedikit kesal.


" aku tidak bisa banyak menjelaskan, panglima yang dahulu saja tidak bisa memenangkan perang. Kita semua sudah tau bagaimana kondisinya sampai akhirnya bisa membentuk pasukan perang ini. Aku hanya bisa berusaha untuk menyampaikan semua itu kepada Raja. kalian tunggu saja keputusannya" jelas panglima yang sedikit menenangkan para jenderal yang mulai panik.


" baiklah kalau begitu" para jenderal akhirnya mengerti posisi panglima. Mereka keluar dari tenda dengan wajah yang sedikit tenang.


Sedangkan di dalam kini hanya tinggal panglima dan penasehat militer. Itupun mereka bukan orang yang handal dalam strategi. Semua yang berangkat ini bisa dibilang adalah orang-orang sisa yang tidak memiliki kemampuan.


" panglima, apa kita harus meneruskan perjalanan. Jumlah pasukan yang meninggal sampai saat ini tidaklah sedikit. keadaan ini tidak jauh berbeda dengan kondisi pasukan sebelumnya"


" aku tidak bisa memberikan keputusan, semua itu harus berasal dari yang mulia. aku akan mencoba mengajukan permintaan bantuan. Mungkin dengan begitu kondisi pasukan bisa lebih baik" usul panglima. Jika pasukan sebelumnya gagal dalam meminta bantuan karena Raja yang sedang marah waktu itu. untuk kali ini mungkin bisa berhasil, di kerajaan hanya ada Putri Shana. panglima yakin putri Shana pasti akan bersedia mengirimkan apapun yang ayahnya minta.


" itu ide yang bagus" sakit penasehat militer dengan wajah senang. Akhirnya mereka bisa menemukan satu jalan keluar.


Menjelang fajar Raja Prysona terbangun dan meminta disiapkan makanan. Sejak berhenti untuk istirahat dia belum makan apapun.


" penjaga siapkan makanan untukku" perintah Raja Prysona.


" baik yang Mulia" penjaga segera mengirimkan pesan tersebut pada bagian logistik.


panglima yang baru saja berpatroli menjadi tau jika yang mulia sudah terbangun. lelaki itu menyempatkan diri untuk meminta bertemu.


" masuklah" jawab Raja mempersilahkannya bertemu.


" maaf yang mulia, pagi-pagi begini menganggu waktu anda"


" tidak masalah, lagi pula aku juga tidak bisa tidur karena lapar. jadi apa yang ingin kau laporkan?" tanya Raja tanpa perlu basa-basi.


" yang mulia dengan kondisi kebutuhan pasukan yang serba terbatas bagaimana jika kita mengirim surat permintaan pada putri Shana untuk mengirimkan beberapa kebutuhan?" tanya panglima dengan penuh ke hati-hatian.


Raja tampak diam memikirkan saran yang panglimanya yang dirasa tidak terlalu buruk.


" ya, kau lakukan saja hal itu" jawab Raja menyetujuinya. Shana putrinya pasti akan memenuhi permintaanya. Bukankah dia juga sempat mengajukan diri untuk ikut berperang, tentu masalah pengiriman barang tidak mungkin di tolak anaknya.


" terimakasih yang mulai, saya akan membuat suratnya dan nanti yang mulia bisa mengesahkannya"


" ya, bagus." singkat Raja. Tak kala makanan yang dia pesan sudah sampai.


" saya mohon pamit undur diri yang mulia"


panglima tidak ingin mengganggu waktu Raja. Dia langsung menuju tendanya dan memulai menuliskan surat permintaan. Karena menurutnya semakin cepat surat ini sampai di kerajaan maka pasukannya akan semakin cepat mendapatkan bantuan.


Matahari menyingsing, panglima keluar dari tenda Raja sambil membawa pesan.


" kau segera antarkan surat ini kepada putri Shana, secepat mungkin. jelaskan pada putri agar segera melaksanakan apapun yang ada di dalam surat ini"


" baik panglima" jawab prajurit itu mantap.


Akhirnya pagi ini prajurit pembawa pesan langsung berjalan dan memacu kudanya. Para jenderal yang mengetahui hal ini semuanya tampak setuju dan mulai memiliki harapan. semangat mereka mulai kembali tumbuh, semoga saja bantuan akan segera sampai.


" aku yakin putri Shana pasti akan mengirimkan bantuan dengan segera" ucap salah satu jenderal kepada yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2