Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Mulai Lagi


__ADS_3

Beberapa hari setelah insiden tenggelamnya Valmira di kolam taman, keadaan istana selalu di ramaikan dengan gosip para pelayan. Mereka banyak yang berspekulasi jika sang Ratu yang sengaja merencanakan semua itu. Tapi tidak banyak juga yang berfikir jika Valmira hanya berpura-pura karena ada yang mulia disana. Semua omong kosong itu tentu saja sampai di telinga Fleur. Wanita itu bahkan sering menjadi sumber bertanya para pelayan istana Harem.


" mereka itu tau apa? selalu saja membicarakan hal yang tidak benar" gerutu Fleur saat menata makan siang Valmira.


" memangnya apa yang mereka bicarakan Fleur? Belakangan ini kau sering sekali mengomel tidak jelas, aturlah emosimu" ungkap Valmira sambil mulai mengunyah makanan.


" mereka bilang jika kau wanita penggoda. Sejak menjadi budak sudah berani merayu yang mulia. Dan kau tau, mereka mengatakan jika kau tenggelam itu juga hanya sandiwara" Fleur mengatakan dengan nada memburu.


" siapa yang berani mengatakan hal itu?!" bukan Valmira yang bertaanya, melainkan Gyan yang baru saja masuk ke kamar. Lelaki itu sengaja menyuruh penjaga untuk tidak mengabarkan kedatangannya.


" ampun yang mulia, saya hanya mendengar kabar burung saja" Fleur langsung bersimpuh dengan mata melebar ketakutan. Dia tidak mau membuat masalah ini membesar, entah apa lagi yang akan pelayan istana katakan mengenai Selirnya. Begitupun dengan Valmira, dia ikut kaget dengan kehadiran Raja di kamarnya.


" jika aku mendengar kabar ini lagi aku akan menindak tegas siapapun orangnya, mengerti!" ucap Gyan tajam.


" mengerti yang mulia" jawab Fleur sedikit bernafas lega.


" pergilah" lanjut Gyan, yang ingin berduaan dengan Valmira.


" saya pamit" Fleur beranjak dan berjalan sopan menuju pintu.


" yang mulia" Valmira memberikan salam,


" tidak usah" larang Gyan saat Valmira berniat berdiri.


" yang mulia sudah makan?" tanya Valmira yang memang kedatangan Gyan bertepatan dengan jam makan siang.


" aku sengaja kemari karena ingin makan siang denganmu" jawab Gyan lalu duduk di kursi sebelah Valmira.


" kalau begitu saya akan meminta pelayan untuk menambah menunya"


" tidak usah, lagi pula menu di meja sudah cukup" jawab Gyan santai, sedangkan Valmira terdiam. Semua ini adalah menu biasa yang dia makan. Jika ada yang mulia pasti akan kurang.


" tidak yang mulia, ini tidak cukup" jawab Valmira kekeh memanggil pelayan dan meminta tambahan menu untuk yang mulia. Gyan menurut saja.


" mari makan yang mulia" Valmira memberikan peralatan makan kepada Gyan.


lalu setelahnya keduanya makan dengan tenang. Bahkan Valmira tidak perlu malu dengan nafsu makannya yang tinggi belakangan ini.


" yang mulia, selir, ini menu tambahan" pelayan masuk dan menata menu menggantikan piring-piring yang kosong.


" atur disana" ucap Valmira dengan mulut masih ada makanan.


Gyan tampak diam saja, dia baru pertama melihat ada wanita yang kuat makan sebanyak ini. sampai para pelayan keluar Gyan masih menatap Valmira yang terus makan dengan lahabnya.


" kau terlihat begitu lapar, apa kemarin tidak makan?" tanya Gyan heran.

__ADS_1


" tidak, saya sudah makan sebanyak ini tadi pagi" jawab Valmira yang belum tau tatapan heran dari Gyan. Wanita itu tetap fokus mengambil makanan.


" apa perutmu tidak sakit, kau makan banyak sekali"


" tidak, beberapa minggu ini nafsu makan saya memang sangat baik" jawab Valmira yang kini melihat wajah Gyan.


" apa yang mulia terganggu?" tanya Valmira sambil meletakkan peralatan makannya. Dia tidak enak dengan tatapan heran milik Gyan.


" bu..bukan itu maksudku, tidak masalah kau makan sebanyak itu asalkan kau tidak sakit. Ayo makan lagi." Gyan mengambil peralatan makan milik Valmira dan menaruhnya di tangan wanita itu.


" yang mulia tidak terganggu?" Valmira memastikan.


" tidak, ayo makan" Gyan terkekeh sejenak, Valmira tampak menggemaskan dengan mulut penuh makanan.


Valmira akhirnya senang, wanita itu kembali makan. Dan kali ini Gyan juga malah ikut bersemangat untuk makan. semua menu di meja habis tak bersisa.


" ini pertama kalinya aku makan sebanyak itu" ucap Gyan yang sudah kembali ke istana. lelaki itu mengelus perutnya pelan.


" yang mulia di paksa makan?" tanya Aden. Karena tumben sekali Raja makan sampai kekenyangan.


" tidak, melihat Alora yang begitu lahab membuat nafsu makan ku naik"


" oh begitu" timpal Aden.


" pantas saja dia terlihat lebih gemuk sekarang" ungkap Gyan yang sadar jika tubuh Valmira sedikit berisi belakang ini.


" lalu buku yang hilang itu?"


" ternyata memang Alora yang mengambilnya. Dia pinjam buku lainnya padaku. Antarkan nanti"


" baik yang mulia" Aden mengambil tumpukan buku itu dan pergi ke kamar selir Alora.


Di sisi lain Ratu Shana saat ini sedang uring-uringan di kamarnya. Semua itu jelas karena kabar Raja yang sering berkunjung ke kamar selir paska tenggelam di kolam waktu itu. Padahal saat dirinya tertimpa balok, lelaki itu hanya sekali mengunjunginya. itupun saat insiden di kolam.


" aaakkkk, Alora, Alora, Alora. selalu saja wanita itu yang ada di fikiran Raja. Aku tidak bisa membiarkan hal ini. Malam ini aku akan mengirimkan sihir hitam padanya" ucap Shana dengan raut menyeramkan.


" pelayan!" teriak Shana


" iya yang mulia Ratu" jawab pelayan itu tergesa-gesa mendekat.


" siapkan 2 perawan malam ini" ucap Shana yakin.


" ba.. baik yang mulia" jawab pelayan itu ketakutan. Dia pasti tau alasan kenapa Ratu meminta hal ini. Dengan tubuh gemetar pelayan itu pergi melaksanakan perintah Shana.


Sepeninggalnya pelayan, Shana tersenyum jahat. Dia tertawa puas. Malam ini Valmira harus menerima akibat karena sudah mengambil miliknya. Wanita itu harus menderita seumur hidupnya.

__ADS_1


Menjelang sore, Valmira masih setia bersantai sambil membaca buku yang dibawakan oleh Aden tadi siang. Wanita itu tidak ada bosannya terus membuka lembar demi lembar buku.


" Alora, apa kau tidak ingin membersihkan tubuhmu?" tanya Fleur yang memang sudah menyiapkan pemandian.


" kau siapkan dulu pemandiannya"


" kau sudah mengatakan itu sejak tadi, ayo pemandian sudah siap"


" baiklah, baklah. jangan mengomel terus" ucap Valmira mulai masuk berjalan menuju pemandian.


Sesaat setelahnya, Valmira sedang berada di depan cermin sambil pelayan lain mulai mendadaninya.


" jangan terlalu banyak perhiasan, malam ini aku ingin langsung tidur" ucap Valmira melarang pelayan memakaikan berbagai ornamen di rambutnya.


" baik selir"


" dan aku ingin memakai gaun yang sederhana saja" pinta Valmira lagi.


" baik selir"


Semua sudah selesai, pelayan juga baru saja meninggalkan kamar.


" Fleur, tolong ambilkan buku ku di ruang tengah" ucap Valmira yang berada di kamar tidur.


" buku yang tadi?"


" iya, di atas sofa" ulang Valmira.


klontang..


suara barang jatuh.


" apa itu Fleur?" tanya Valmira penasaran.


" ini, kotak cincin yang di berikan pengawal yang mulia" jawab Fleur sambil berjalan masuk ke kamar. Di kedua tangannya sudah ada buku dan kotak kayu.


" ah ya aku lupa. Mana aku pakai saja cincinnya. jika yang mulia sadar, aku nanti kena marah" Valmira meminta kotak tersebut. Dia segera membuka dan mengambil cincinnya.


" indah sekali, sepertinya aku tidak pernah melihatnya" ungkap Fleur yang tidak pernah melihat cincin ini sebelumnya.


" yang mulia memberikan ini saat aku ketakutan dulu, setelah berkunjung beberapa hari yang lalu aku sudah tidak pernah memakainya lagi" jelas Valmira.


" ah begitu, ini bukumu"


" terimakasih Fleur"

__ADS_1


Valmira kembali meneruskan bacaannya, hari mulai gelap. Malam ini langit terlihat mendung dengan angin kencang. Seraya mengetahui adanya hal buruk yang akan terjadi.


__ADS_2