
" ini yang mulia" Fleur meletakkan baskom berisi air panas sesuai dengan perintah Raja.
" ambilkan pisau itu" tunjuk Gyan pada pisau buah yang ada di atas meja. Aden segera mengambil dan memberikan kepada Gyan.
Semua mata menatap Gyan, karena lelaki itu meletakkan baskom di samping tubuh Valmira. Lalu mengambil tangan Valmira. Dibukanya telapak tangan wanita itu di atas baskom air panas.
" yang mulia.." cicit Fleur yang langsung di hentikan oleh Aden dengan usapan di lengan wanita itu. Dia tidak mau Fleur menganggu Rajanya.
Gyan sedang berkonsentrasi pada kondisi Valmira.
Tak lama Fleur memalingkan wajahnya, saat Gyan dengan pelan mengiris telapak tangan Valmira, darah pekat sedikit kehitaman keluar dari sana dan menetes bercampur dengan air panas di baskom.
" cari binatang apapun, cepat" perintah Gyan pada Aden. Lelaki itu mengangguk dan berlari menuju dapur istana Harem.
Dikamar tersisa Fleur seorang yang menyaksikan semua aktifitas Gyan pada tubuh Valmira. Air baskom yang awalnya jernih, kini mulai berubah merah gelap. Darah Valmira keluar tidak ada habisnya, bahkan sampai membuat Fleur meringis ngeri.
Tak berselang lama Aden kembali membawakan seekor ayam jantan hidup yang sudah diikat.
" ini yang mulia" ucap Aden sambil mengatur nafas.
" taruh di sana" sambil menunjuk meja yang berada di sudut ruangan. Aden dengan sigap segera meletakkan ayam itu dan menjauh dari sana.
Gyan membalut luka di tangan Valmira menggunakan selendang miliknya. Lelaki itu lalu membawa baskom itu di dekat ayam tadi. Gyan mulai berkonsentrasi, lelaki itu merapalkan mantra di atas baskom. Air yang berwarna merah pekat kini berangsur berubah menjadi merah segar, Lalu kemudian keluar gumpalan asap hitam dari baskom itu. sayangnya Fleur tidak bisa melihatnya, dia hanya tau jika warna air sudah berubah. Asap hitam itu di pindahkan Gyan ke dalam tubuh ayam jantan. Suara rintihan ayam mulai terdengar nyaring. Fleur tidak bisa berkata apapun, kejadian ini sangatlah aneh baginya.
" segera bunuh ayam ini" ucap Gyan, Aden maju. Dia mengerti maksud ucapan Raja. Lelaki itu membawa ayam jantan yang kesakitan itu keluar, menjauh dari istana.
Raja Gyan mulai bisa bernafas lega, untung saja dia bisa datang tepat waktu.
" biar aku yang menjaganya malam ini" ucap Gyan seolah menyuruh Fleur untuk meninggalkan kamar secara halus.
" baik yang mulia" Fleur tak mau banyak berfikir, wanita itu langsung pergi begitu saja.
Sepeninggalnya Fleur, kamar hanya terisi 2 orang. Gyan menatap Valmira lama, lelaki itu menjadi ingat kejadian saat dia membuka pintu kamar kamar tadi. Itu bukalah ilusi semata, Dia melihat selir nya seakan mendapat kekuatan sihir. Seharusnya itu tidak mungkin terjadi. Cincin miliknya tidak mungkin bisa mengeluarkan kekuatan seperti itu.
" siapa kau sebenarnya?" gumam Gyan sambil menatap dalam sosok Valmira yang terlihat tenang dalam ketidaksadarannya.
__ADS_1
Di lain sisi Shana baru saja membereskan sisa ritualnya. Wanita itu sedikit senang, tak sia-sia dia menyiapkan 2 persembahan. Meski sihirnya tidak seluruhnya berhasil, tapi dia cukup puas saat ritual nya tidak gagal. Ada sisa-sisa sihir jahat yang masuk ke tubuh Valmira.
Sayangnya wanita itu tidak tau, jika Gyan sudah mengeluarkan sihir kutukan yang mengenai Valmira.
" yang mulia Ratu, satu persembahan terlihat tidak wajar" lapor pelayan yang baru saja selesai membuang mayat persembahan yang mati. Dia baru akan mengamankan yang satunya, tapi terhalang karena sesuatu yang buruk telah menimpa wanita itu lebih dulu.
" tidak wajar bagaimana?" tanya Shana cepat. Kenapa perasaannya mendadak tidak enak.
" dia terlihat kesakitan dan teru meronta-ronta" jawab pelayan itu yang terlihat cemas.
" aku lihat dulu"
Shana keluar kamar menuju ruangan khusus tadi.
" koaakkk... koakk" gadis itu mengeluarkan suara yang aneh. Membuat Shana terdiam terpaku.
" apa yang terjadi padanya ?" tanya Shana mulai panik.
" dia bertingkah aneh, saat saya masuk sudah seperti ini" jawab pelayan itu.
" ini yang mulia" pelayan memberikan pisau itu dengan tangan gemetar.
srekkk.
Shana langsung menyayat leher gadis itu tepat pada pembuluh darahnya. Tanpa perlu waktu lama gadis itu langsung mati lemas, cairan merah keluar mengotori lantai.
" sial, sial sia!" teriak Shana marah. Ada saja gangguan yang menghalangi sihirnya.
" tenang yang mulia" ucap pelayannya menenangkan nyonyanya.
" dasar tidak becus!" jawab Shana lalu pergi dari sana. Wanita itu dengan langkah lebar berjalan menuju kamarnya. Amarah langsung melingkupi hatinya. meski sihirnya sempat berhasil, tapi dengan cepat langsung bisa di tangani.
" Alora, Alora!" teriak Shana,
prang prang. Semua barang dimeja nya terlempar berserakan di kamar. Shana tidak terima dengan kekalahannya.
__ADS_1
" kenapa sulit sekali mengatasinya? hah" Nafas Shana memburu karena marah.
"Tapi aku tidak boleh menyerah. Jika sihir ku tidak mempan, maka bisa aku pastikan tindakanku setelahnya pasti bisa membunuhnya" janji Shana pada dirinya. Kebencian wanita itu pada Valmira sudah sampai di ubun-ubun. tidak bisa lagi lebih lama menyimpannya.
di kamar Valmira, Aden baru saja kembali. Lelaki itu melihat Fleur yang terdiam di depan kamar Valmira. Wanita itu duduk sambil terus menatap pintu masuk kamar dengan pandangan kosong.
" kau kenapa?" tanya Aden yang tidak bisa masuk untuk melaporkan tugasnya yang selesai.
" hah?" tanya Fleur yang tidak fokus mendengar pertanyaan Aden.
" kau kenapa diam disini? bukankah sudah ada yang mulia di sana" ucap Aden yang juga ikut duduk di kursi.
" berjaga-jaga saja jika yang mulia membutuhkan bantuan" ucap Fleur lemah.
" tidak akan, ada aku disini. Kau pergilah. Kau terlihat sedikit syok tadi" balas Aden yang melihat wajah pucat Fleur.
" begitu? baiklah, aku pergi" Fleur berjalan dengan lemah menuju ruangan khusus pelayan kediaman selir.
Wanita itu masih terbayang-bayang kejadian barusan. Mulai dari Valmira yang pingsan dalam pelukan Raja, lalu lilin yang menyala dengan sendirinya, Darah yang kehitaman dan ayam yang mendadak kesakitan. Fleur tidak pernah dalam hidupnya menyaksikan hal semacam ini. Jadi wajar saja dia harus mengalami syok sesaat.
Malam semakin larut, Aden melaksanakan tugasnya dengan baik. Menjaga di depan kamar, meskipun beberapa kali lelaki harus memasang alarm diri saat tertidur.
Berbeda hal nya dengan Gyan di dalam. Lelaki itu masih terjaga dengan penuh konsentrasi, dia sedang melakukan pengecekan sihir pada cincin Gayde miliknya. Dengan begini dia akan tau sihir siapa saja yang sudah mengenai tubuh Valmira.
Gyan meletakkan cincin itu di atas meja, kemudian membacakan Mantra. Perlahan seolah seperti layar, cincin itu mengeluarkan gambaran asal muasal sihir hitam. Meski hanya bisa memberikan tabir pelindung, tapi cincin ini juga bisa mendeteksi sumber sihir.
Gyan yang awalnya terpejam dan berkonsentrasi, kini matanya terbuka dengan wajah menahan marah.
" kau lagi" ucap Gyan pelan saat mengetahui dalang penyerangan pada selir nya. Namun kemudian cincin Gayde menunjukkan sihir lain. Gyan kembali menutup matanya, dia masuk ke dalam dimensi yang cincin tunjukkan.
" milik siapa?" gumam Gyan, lalu secara spontan tubuhnya seakan di tarik keluar dengan keras.
bugh
Gyan terdorong ke belakang, meskipun tidak sampai jatuh. Lelaki itu membola, bagaimana bisa ada sihir kuat yang membantu Alora melawan sihir hitam itu. Sayangnya cincin itu tidak bisa mendeteksi sihir kuat itu secara menyeluruh. Karena memang tidak bisa mendeteksi di dalam tabir perisai. Namun temuan ini tentu membuat Gyan keheranan. lelaki itu kembali menatap Valmira dalam. Dia mulai penasaran darimana wanita ini berasal.
__ADS_1