
Pagi menjelang saat Valmira terlihat berkeliling di istana Garamantian. wanita itu sedang memeriksa beberapa bagian istana yang mungkin saja terdapat aura hitam yang bersembunyi atau tertinggal.
Sepanjang perjalanan semua orang melihatnya dengan pandangan kagum. Tak jarang beberapa lainnya berterimakasih pada Valmira dengan sangat mendalam. Seakan jika tidak ada Valmira hidup mereka akan tamat.
" kami tidak bisa melupakan hutang budi ini, Maafkan kami selir jika selama ini kami menganggap anda sebagai penyihir hitam. Tapi ternyata Ratu Shana lah yang mengembangkan sihir hitam" ucap salah satu anggota kerajaan yang selama ini begitu anti dengan selir Agung.
" sudahlah. kalian jangan terlalu berlebihan. Permisi saya akan melanjutkan patroli" jawab Valmira tanpa basa basi. Semuanya semakin heran, Selir agung yang mereka kenal adalah wanita yang selalu ramah dan lemah. Tapi di depan mereka adalah wanita yang kuat dan mandiri. Tapi wajah mereka begitu mirip, bahkan sama. Mereka yakin sekali jika wanita itu adalah Alora. Mereka menatap kepergian Valmira sampai wanita itu tidak terlihat lagi.
ooaaakkk oooaaakk
elang Kangta baru saja sampai. Valmira segera menuju ke sana. Sudah waktunya G makan, sejak semalam bayinya pasti kelaparan. elang itu berhenti di balkon istana Raja, tempat biasa elang itu menemani Gyan.
" yang mulia" ucap Deon saat Valmira menghampiri dan mengambil alih G.
" apa dia merepotkanmu?" tanya Valmira.
" tidak, G sangat pintar dan mengerti situasi dengan baik" jawab Deon.
Valmira langsung menggendong bayinya, G tersenyum senang sambil meraih pipi Valmira. bayi itu sangat merindukan ibunya.
" kau lapar heum, Ayo kita makan" ucap Valmira lalu membalikkan badan. Dan langkahnya langsung terhenti tak kala melihat Gyan sudah berdiri di depannya.
" Alora... itu kau.. " lirih Gyan berjalan sempoyongan mendekati Valmira.
" Alora, aku sangat merindukanmu. Alora" ucap Gyan dengan mata basah penuh air mata. Lelaki itu berusaha memeluk Valmira.
" lepaskan aku, kau siapa?" Valmira jelas langsung memberontak. Lancang sekali seseorang ini memeluknya.
" Alora,.." Gyan terus memanggil nama itu. Valmira semakin tidak suka, dia masih sabar kala Gyan memeluknya pelan, dia masih ingat jika lelaki di depannya masih sangat lemah. Tapi lelaki ini kini berusaha mengambil G.
" siapa kau?!" tanya Valmira tegas sambil mendorong kuat tubuh Gyan. Aden dan Deon dengan cepat langsung menahan tubuh Raja Gyan agar tidak terjatuh.
" Yang mulia " ucap Aden menatap Gyan khawatir. sedangkan Valmira sedikit merasa bersalah saat melihat dorongan terlalu keras pada Gyan.
" aku tau mungkin saja kau pernah melihat ku sebelumnya. tapi maaf aku tidak mengenalmu" ucap Valmira langsung pergi mencari tempat untuk menyusui G.
Gyan berusaha mengejar tapi Deon langsung menahannya. Dia tau semuanya, dari reaksi Gyan Deon bisa melihat jika Kangta sepertinya belum mengatakan kebenarannya pada Raja Gyan. Dia juga tidak mau gegabah, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya.
" yang mulia, jaga kondisi tubuh anda. Lebih baik anda memulihkan dirinya terlebih dahulu" ucap Deon menyuruh Aden membantunya membawa Raja Gyan masuk kembali ke kamar.
Valmira berjalan menuju istana Harem, dia memilih kamar yang nyaman dan menyusui G disana. Wanita itu mengikuti intuisinya hingga membawanya disalah satu kamar, yang itu adalah kamarnya dahulu.
bayi G tampak senang, Valmira juga mulai mengistirahatkan tubuhnya. Baru selesai perjalanan dari Mystick dan langsung berkelahi melawan Shana. meskipun tidak banyak energi yang terkuras tapi mata ngantuknya tidak bisa berbohong.
Matahari semakin beranjak, Kangta baru selesai mengurusi pemakaman para penyihir yang tewas semalam. Lelaki itu juga memberikan pengamanan agar mayat-mayat itu tidak bisa gunakan sebagai boneka sihir seperti yang pernah terjadi di Mystick. Dia baru melangkah menuju istana raja saat Deon keluar dan langsung mengajaknya berbicara.
" tuan, apa anda belum menjelaskan siapa Ratu Valmira sebenarnya pada Raja Gyan?"
__ADS_1
" belum, aku juga belum menjelaskan pada Valmira jika Gyan adalah ayah dari anaknya. situasi di istana masih sangat rumit saat ini"
" lalu kapan anda akan mengatakan kebenarannya pada Raja Gyan, kakak terlihat sangat berharap sekali. Tapi Ratu Valmira menolaknya mentah-mentah. Kasihan sekali tuan" ucap Deon yang tidak tega melihat Gyan yang seperti orang putus asa.
" nanti saja, aku akan menjelaskan pada Ratu Valmira terlebih dahulu"
" iya tuan"
Kangta tidak jadi menemui Gyan, dia berbelok dan mencari keberadaan Ratu Valmira. Menurut pelayan yang bertugas, Valmira berjalan menuju ke istana Harem. Kangta berfikir mungkin saja wanita itu berada di kamarnya dahulu. Tubuhnya pasti mengingat jalan menuju ke sana.
Dan benar saja, begitu sampai di ambang pintu di mendengar suara gelak tawa bayi G. Lelaki itu langsung masuk saja.
" yang mulia " panggil Kangta.
" masuklah, apa kau sudah selesai dengan para mayat itu?" balas Valmira sambil berjalan ke ruang depan.
" sudah, saya juga memberikan mantra agar mayat itu tidak di pergunakan untuk hal yang buruk"
" baguslah, setelah ini kita pergi memburu wanita yang kabur itu. Apa kau tau kemungkinan kemana wanita itu pergi?"
" yang mulia sebelum kita mengejar wanita itu, apa yang mulia tidak ingin tau siapa ayah dari bayi G. Kita sudah berada di Garamantian tempat ayahnya G tinggal" jelas Kangta mencoba menarik Valmira agar mau menemui Gyan.
" ayah G? kurasa tak perlu. Aku bisa membesarkannya sendirian"
" bagaimana jika nanti G bertanya siapa ayahnya"
" memberinya jawaban yang sama yang ibu berikan padaku saat masih kecil dulu"
" sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan?"
" yang mulia, mungkin anda lupa saat anda pertama kali menginjakkan kaki di sini, serta bagaimana kehidupan anda sebelumnya. Tapi bagi semua orang disini anda masih sama. Selir Agung Alora. mohon yang mulia berbaik hati dan menemui ayah G."
" Kangta, kau seakan memaksaku. Aku tidak peduli mau bagaimana dia dan kehidupanku dulu. Sekarang aku memiliki G itu sudah cukup" Valmira menjadi enggan menuruti perkataan Kangta. Dia tak mau mengingat kejadian dulu.
" yang mulia, saya tau jika anda tidak suka di paksa. Tapi yang mulai harus tau, ayah bayi G bahkan berniat mengorbankan dirinya hanya untuk menyelamatkan anda dan calon anaknya yang masih dalam kandungan. Jika bukan karena saya yang mengacaukannya mungkin anda tidak akan menjadi seperti ini" Kangta menjelaskan secara singkat, apa yang sudah Gyan lakukan pada Alora dulu. Dia juga ingin mengakui kesalahannya yang memaksa Valmira meminum racun Casimir agar dia meninggal di depan Gyan. Kangta masih memiliki hutang penjelasan ini pada Valmira dan Gyan.
Valmira menatap Kangta, mendengar penuturan lelaki ini. dia jadi mengingat jasa Kangta yang membawanya ke kerajaan Mystick. hatinya sedikit melunak.
" jadi kau mengaku jika sengaja memisahkan ku dari ayah G? "
" saya membawa anda menuju pulau Marilla, entah kebetulan atau apa. Tapi saya bersalah karena pernah menyuruh anda meminum Racun dan memisahkan kalian"
Valmira kembali menimbang, semua kejadian memiliki hikmah masing-masing untuknya dan Kangta. Toh hanya menemui ayah G, tidak ada salahnya. Dia juga ingin tau siapa lelaki yang sudah berhasil menghamilinya dulu.
" hanya menemui saja kan?"
" iya yang mulia"
__ADS_1
" siapa lelaki ini?"
" yang mulia ikuti saya"
Kangta tidak langsung menyebutkan namanya, takutnya Valmira yang sudah bertemu dengan Gyan malah enggan karena perilaku Gyan sebelumnya.
" kenapa kemari? bukankah kau mengatakan jika ayah G adalah seorang Raja?" tanya Valmira saat menuju ke area yang dia tinggalkan tadi.
" iya, yang mulia. Raja itu adalah Raja Gyan. Lelaki yang sedang terbaring lemah di dalam"
Valmira ingat lelaki itu, dia yang memeluknya dengan lancang.
" yang mulia mohon masuk sebentar saja. Biarkan G bertemu dan di gendong ayahnya" bujuk Kangta. Valmira yang sekarang jauh berbeda dari sebelumnya. Dulu sebagai Alora dia cukup penurut dan ramah. dan kini menjadi Valmira Ratu Mystick, menjadi lebih dingin dan selalu berfikir menyeluruh.
Valmira akhirnya melangkah masuk ke istana Raja, di sana sudah ada Aden dan Deon yang menjaga di luar kamar. Tabib masih memeriksa di dalam, Valmira menatap Aden dan Deon bergantian.
tak lama tabib keluar berganti dengan Kangta yang mengajak Valmira masuk.
" mari yang mulia" ucap Kangta.
dibelakang sana Aden menyenggol bahu Deon, dia ingin penjelasan dari semua ini.
Gyan baru selesai menutup pakaiannya tak kala celoteh G mengusik konsentrasinya. Gyan langsung menengok ke arah pintu dan langsung terkejut dengan kedatangan Valmira dan bayi G. Kangta perlahan mundur memberikan kesempatan pada Gyan dan Valmira.
" Alora, benar ini kau? lalu ini apa ini anak kita?" Gyan berdiri dan langsung memeluk Valmira. kali ini Valmira menahan diri untuk tidak mendorong Gyan.
" dia tampan sekali. apa aku boleh menggendongnya?" tanya Gyan, Valmira mengangguk pelan.
Bayi G dengan tiba-tiba langsung merentangkan tangannya menyambut gendongan Gyan.
" kau mengenali ayah?" tanya Gyan pelan. Dia tampak berbeda, Gyan menjadi begitu hangat dan bersemangat. Membuat hati Valmira meleleh sesaat.
" yang mulia" ucap Kangta, Gyan dan Valmira langsung menengok bersamaan.
" sebenarnya wanita di depan anda adalah Ratu Valmira, Ratu kerajaan Mystick" ucap Kangta menggantung. Gyan bahkan sudah mundur saat tau karena tau di depannya bukan Aloranya. sampai Kangta melanjutkan kalimatnya.
" Ratu Valmira kehilangan ingatannya dan terbuang dari kerajaan Mystick karena inti jiwanya di ambil paksa. Saat itu namanya adalah Alora Selir Agung anda. Dan kini saat saat inti jiwanya sudah kembali, Ratu Valmira tidak mengingat beberapa kejadian saat dia berada di Garamantian " Gyan semakin tidak mengerti, Valmira dan Alora adalah satu orang?. Gyan menatap Valmira lama. dia memang tidak salah mengenali. Entah Valmira atau Alora, yang jelas seseorang di depannya adalah wanita yang selama ini dia rindukan.
" Alora.. maafkan aku, aku tidak bisa melindungi kalian" Gyan mendekat kembali dan ingin memeluk Valmira.
" jangan tiba-tiba memelukku, bagiku kita hanya orang siang sekarang" jawab Valmira ketus sambil menepis tangan Gyan. Bukannya marah, Gyan malah tersenyum.
" dari penolakanmu saja itu sudah membuktikan jika kau adalah Alora ku" Valmira entah kenapa malah tersipu malu, pipinya memerah dan untuk menutupinya wanita itu pergi dari sana. Meninggalkan G pada ayahnya. Baru setelahnya Kangta mulai menceritakan semuanya, dia juga membuat pengakuan kenapa bisa Alora masih hidup. Kangta sama sekali tidak menutupi perbuatannya.
Gyan sesekali menyahuti dengan kesal dan marah, lalu kemudian tenang dan memaklumi semuanya.
" apapun yang sudah terjadi, aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan istri dan anakku lagi" ucap Gyan setelah mendengar semua penjelasan Kangta.
__ADS_1
" aku tak pernah menyangka jika akan menjadi seperti ini"
" tak apa Kangta, aku juga sangat berterimakasih kau bisa kembali dengan selamat"