
Hari semakin malam Gyan baru sampai di istana Kerajaan Mystick. Jika bukan karena pertolongan orang pantai mungkin Gyan akan sampai di kerajaan selama 2 hari. Lelaki itu sama sekali tidak mengenal arah, apalagi dia sedikit mabuk laut.
" terimakasih atas bantuan kalian" ucap Gyan pada para penduduk yang membantu.
" iya. tuan sama-sama"
mereka langsung pergi. Gyan berada di depan gerbang istana. lelaki itu menatap sekeliling bangunan kerajaan yang sangat unik.
" kau siapa?" tanya penjaga istana.
" saya Raja Gyan, suami Ratu Valmira" jawab Gyan lugas. Kedua penjaga itu saling berpandangan. Dia tidak tau jika Ratu mereka menikah dengan lelaki yang ada di harapan mereka.
" jangan membual, pergi sana" mereka tidak percaya begitu saja. Apalagi belakangan ini banyak sekali lelaki yang ingin bertemu dengan Ratu mereka.
" aku berkata benar, aku ini suami Ratu Valmira" ucap Gyan dengan sungguh-sungguh.
" sudahlah banyak sekali lelaki yang ingin bertemu Ratu dengan berbagai alasan. pergilah"
Gyan berjalan masuk saja, tapi mereka dengan cepat menghalanginya. Tapi Gyan tidak mudah di kalahkan. Dia dengan mudah membuat kedua penjaga itu kalah. Dia berjalan maju.
" berhenti..!" teriak penjaga.
Gyan berlari langsung masuk dengan lihai. masuk melalui celah. akhirnya terjadi keributan, semuanya penjaga istana memburu Gyan yang menerobos masuk.
" ada apa ini.?" tanya Kangta.
" dia mengaku sebagai suami Ratu dan menerobos masuk tuan"
lelaki itu menatap Gyan lama, di salah satu menteri Valmira.
" siapa namamu?" tanya menteri itu.
" Aku Raja Gyan dari Garamantian. kau baru saja sampai" jawab Gyan lugas.
" kalian pergilah " ucapnya pada semua penjaga.
Gyan merapikan bajunya yang tak beraturan karena berkelahi sebelumnya.
" silahkan ikut saya tuan" ucap menteri itu.Fm Dia tidak tau pasti jika di hadapannya adalah suami Ratu Valmira. Tapi dari identitas yang di sebutkan kemungkinannya benar.
Gyan berjalan mengikuti dari belakang dengan wajah kesal. Dia tidak mengira akan di perlakukan seperti ini.
" da... mbsstt..da.." suara celotehan anak kecil langsung membuat Gyan mencari sekeliling. Dia bisa mengenali jika itu suara G putranya.
" itu G .. " ucap Gyan saat di ujung sana G sedang di gendong oleh pelayan tua.
" G.." Gyan langsung menghampiri dengan cepat.
" aakkk... yah.."
G bisa mengenali Gyan dan langsung merentangkan tangannya.
" anak ayah yang pintar" Gyan langsung menggendong tubuh kecil itu. G tampak riang gembira.
" maaf, tuan ini siapa?" tanya Derya.
" aku ayah dari anak ini, suami Ratu Valmira " jawab Gyan dengan penuh percaya diri.
" benar?"
" iya,, kau tidak lihat bagaimana G langsung menempel padaku"
" kenapa tuan baru datang, Ratu selama ini kesusahan dengan kehamilannya. Dia selalu sedih dan marah secara bersamaan karena Mengkhawatirkan anda, tuan" omel Derya.
" maafkan aku.. aku sudah melakukan yang terbaik"
" kalau begitu mari saya antar ke kamar Ratu"
" iya, daritadi aku memang mencarinya"
Derya memimpin jalan, menteri tadi sudah lebih dulu pergi. mereka kembali melewati lorong.
" apa kamar G dan Valmira berjarak cukup jauh?"
" tidak, ini entah kenapa G malam ini tidak mau tidur. jadi saya mengajaknya berkeliling"
" apa kau tau jika ayah akan pulang?" ucapnya sambil menggoda G.
" ini tuan, kamar Ratu Valmira. Ratu tadi kembali dengan wajah kesal dan menangis,.mungkin anda bisa meredakannya kesedihannya" pasti karena dia tadi.
" iya terimakasih"
Gyan mendorong pintu itu dan di sana kamar Valmira begitu luas. Dia belum melihat istrinya berada di sana.
" Valmira..." panggil Gyan pelan. tapi tak ada sautan.
Tak berselang lama terdengar suara isak tangis. Gyan berjalan menuju asal suara. Dan benar saja ada satu pintu lagi yang terbuka sedikit. Gyan masuk dan langsung melihat ada ranjang besar di sana. Valmira terduduk di tepi sambil menutupi wajahnya. Jika di lihat dari bahunya yang bergetar, istrinya mencoba menyembunyikan tangisan nya.
" Valmira... "
" m.da.. da.." celoteh G.
Gyan duduk di sebelah istrinya sedangkan G sudah turun, merangkak di ranjang dan berdiri sambil menggapai ibunya.
" aku minta maaf sudah melakukan banyak sekali kesalahan. Dan baru bisa sampai di Mystick sekarang. aku memikirkan nasib penduduk Garamantian jika aku langsung pergi masuk ke portal begitu saja. aku sudah mengatur semuanya, kini kerajaan ku sudah terkubur pasir. Tak ada tempat ku kembali selain di sisimu Valmira.
Kau jangan berfikir berlebihan apalagi mengenai duyung itu. aku hanya penasaran tidak tau jika mereka seakan menghipnotis ku untuk masuk ke lautan. Maafkan aku, ya. jangan marah dan menangis lagi. kalau kau mau,.kau bisa menamparku berkali-kali, atau menyihir ku jadi binatang atau apapun itu, terserah saja.."
" benar?" jawab Valmira yang sudah menghapus air matanya.
__ADS_1
" benar .. malam ini juga tak apa.."
" kau ini..." Valmira tersenyum tipis. Gyan akhirnya bisa meluluhkan hari Valmira. Wanita itu menatapnya lama.
" maafkan aku juga, aku tidak menyangka kau harus mengubur kerajaan"
" ini sudah menjadi pilihanku. Biarkan itu menjadi kenangan. Siapa tau akan ada orang di masa depan yang akan menemukan nya" jawab Gyan.
" kau baru sampai?"
" iya.. bersama penduduk pesisir"
" Kangta tak membawamu kemari?"
" Tidak"
" kasihan sekali"
" tak apa, aku bisa mengetahui bagaimana ketatnya penjagaan istana"
" baguslah kalau begitu" jawab Valmira tak mengerti kejadian sebenar nya.
......................................
Pagi menjelang di tanah Uthaman. Emrick dan Falla masih terlelap di kamar itu. gorden yang tertutup membuat kamar masih gelap tak bisa menganggu mereka yang lelap.
" emm " Emrick bangun terlebih dahulu karena merasa dadanya tertimpa beban berat. Lelaki itu membuka matanya dan mendapati Falla berada di atasnya setengah badan. Tubuh kecil itu dengan nyaman bertengger di dadanya.
Emrick menatap dengan senyum senang, andai saja setiap hari mereka seperti ini pasti akan sangat menyenangkan. lelaki itu mengelus wajah Falla yang cantik. Matanya tertutup sempurna dengan bulu mata lentik.
" ehggh" Falla terganggu. mata itu mulai terbuka. Emrick seketika menutup matanya. pura-pura masih tidur.
" emm, pukul berapa ini?".. Valmira menatap sekeliling. Dia baru sadar jika ranjangnya begitu hangat dan bergerak.
" astaga" pekiknya pelan. Dia tidur di atas dada Emrick. memalukan sekali. wanita itu langsung bangkit dalam hitungan detik.
Dan turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Emrick tersenyum senang mengetahui tingkah lucu Falla.
" ini, terimakasih atas pelayanan kalian" ucap Emrick saat mereka sudah pergi. Dengan di antar banyak orang Falla dan Emrick pergi dari sana. Meraka menggunakan kendaraan yang sama. satu kuda berdua. Falla sangat malu apalagi harus sudah siang banyak orang berlalu lalang melihat mereka. apalagi mengingat kejadian pagi ini Falla tidak punya muka lagi jika sampai Emrick mengetahuinya.
" apa semalam tidur mu nyenyak?" tanya Emrick membuka perbincangan.
" em. iya... " jawab Falla jujur setengah gugup.
" baguslah, aku juga tapi saat bangun pagi ini dadaku terasa sedikit nyeri. kenapa ya?" Emrick menggoda Falla.
" apa nyeri? mungkin karena berenang kemarin sore"
" aku terbiasa berenang tapi tak pernah seperti ini sebelumnya"
" oh ya.. apa karena ruangan penginapan yang sedikit berdebu?"
" mungkin Adipati kelelahan menggendong saya kemarin, jadi tubuh merasa sakit"
" ya bisa jadi" Emrick senang sekali bisa menggoda istrinya ini.
Perjalanan terasa jauh lebih menyenangkan sekali.
Tak lama mereka sampai di depan gerbang kediaman. Emrick membantu Falla turun lalu menyuruh pelayan membawa kudanya. Mereka berdua masuk ke dalam.
" yang mulia, nyonya.." sanjung selir Thalasa yang sejak semalam risau karena Emrick dan Falla tidak kembali. Dia takut hubungan kedua orang itu akan semakin erat. dia bisa kalah saing.
" selir" ucap Emrick.
" saya pamit dulu" Falla lebih dulu masuk dan menuju ke kamar.
" yang mulia darimana saja, kami khawatir karena anda dan nyonya tak kunjung kembali" Thalasa menahan Emrick agar tidak menyusul Falla.
" kami menginap di penginapan kota, kalian jangan khawatir" ucap Emrick lalu meninggalkan Thalasa.
wanita itu menggenggam tangannya erat. jelas hubungan keduanya malah membaik. apalagi sampai pergi ke penginapan kota. Dia kalah telak, Thalasa akan berusaha agar Emrick berpaling dari Falla.
Emrick masuk ke kamarnya, di sana sudah menunggu pengawalnya di depan pintu masuk.
" yang mulia" sanjung pengawalnya dengan raut tegang.
" ada apa?"
" ada masalah di perbatasan, ini menyangkut penduduk Garamantian"
" kita ke sana sekarang"
tanpa berlama- lama kedua lelaki itu memacu kuda menuju perbatasan. jangan sampai masalah ini sampai di pemerintah pusat atau istrinya yang akan mendapatkan masalah.
" banyak bandit yang menyusup di antara penduduk Garamantian. Mereka pintar sekali bersandiwara dan mulai mengumpulkan harta penduduk yang pindah"
" ini tidak bisa di biarkan, jangan sampai mereka masuk ke Uthaman"
mereka langsung mempercepat laju kuda. pemerintah serta penjaga perbatasan Uthaman sudah bisa secara kasat mata bisa membedakan antara bandit dan warga biasa. selama ini mereka memang berurusan dengan mereka karena mereka selalu mencari cara untuk masuk dan mengacaukan banyak permukiman.
" yang mulia" ucap penjaga perbatasan saat Emrick datang.
" kalian berhasil menangkapnya?"
" sudah,namun mereka terlalu pandai memanfaatkan keadaan. membuat beberapa warga Garamantian ikut membela mereka"
" apa ada penduduk Garamantian yang terluka?"
__ADS_1
" tidak ada yang mulia, hanya beberapa luka pada bandit itu"
" baguslah, bawa aku ke mereka"
penjaga itu membawa Emrick menuju ke sel tahanan perbatasan. Di sana ada 4 orang bandit yang memakai pakaian Garamantian. jika bukan karena kelihaian penjaga perbatasan mungkin tak akan ada yang menyadari jika mereka hanyalah para kriminal yang suka mencuri dan membunuh.
Sayangnya kabar yang berbeda sampai di telinga Kantata.
" kalian yakin?"
" yakin tuan, penjaga perbatasan membawa mereka dan menuduh mereka bandit. Ini sudah sering terjadi di setiap pemberangkatan. Ini sudah pemberangkatan terakhir jadi mungkin kita bisa meminta mereka melepaskan warga Garamantian yang di tahan"
mendengar penuturan itu Kantata jelas tidak habis pikir. bukankah semuanya sudah di urus oleh Adipati Emrick. kenapa bisa timbul masalah seperti ini.
" kita harus mengatakan hal ini Putri, beliau pasti bisa mengatasi hal ini"
" kapan tuan kita menemui putri?"
" sekarang juga. kau ikut aku"
Kantata dan lelaki itu menaiki kuda dan melaju ke kediaman Falla.
" putri ada tamu yang ingin bertemu dengan anda" ucap pelayan kediaman.
" siapa?"
".mereka hanya mengatakan berasal dari Greojen"
mendengar nama itu Falla langsung menghentikan aktivitasnya dan pergi menemui mereka.
" Kantata ada masalah apa kemari?" tanya Falla cemas.
" putri maafkan kami, kami ingin menanyakan mengenai berita yang kami dapatkan mengenai penjaga perbatasan"
" berita apa?"
kantata menatap lelaki yang datang bersama nya, memberikan kode untuk menceritakan semua yang dia ketahui pada putri.
" kami mendengar jika beberapa warga Garamantian di tangkap penjaga perbatasan. mereka di larang masuk bahkan menerima hukuman"
" di larang masuk? memang nya apa alasannya."
" kami tidak tau putri, kami berusaha membantu agar mereka di lepaskan tapi malah terjadi keributan. penjaga itu tidak mau mengalah sama sekali dan mengatakan jika yang mereka tangkap adalah bandit. "
" lalu dimana mereka membawanya?"
" penjaga mungkin masih menahan mereka di perbatasan.
" kita ke sana sekarang juga"
mereka melaju dengan kecepatan tinggi, menuju ke perbatasan. hingga saat sore menjelang malam rombongan mereka sampai di perbatasan.
" Adipati di sini?" tanya Falla saat .melihat pengawal pribadi Emrick ada di sana juga.
" nyonya, kenapa anda juga kemari?" tanya pengawalnya itu. Dia juga melihat rombongan nyonya nya yang ternyata ada Kantata di sana. Dia mencium bau - bau pertengkaran besar akan terjadi.
" di mana Adipati? " sentak Falla sekali lagi.
". eh.. di dalam nyonya"
Falla segera masuk dengan langkah lebar. Emrick masih membaca beberapa lembar laporan di ruangannya saat tiba-tiba penjaga mengatakan jika Falla datang.
" Falla ada apa kemari?" tanya Emrick dengan raut khawatir, takutnya ada masalah besar di kediaman atau sedang di hadapi sang istri.
" aku dengar ada warga Garamantian yang di tahan di sini.. "
" bukan, mereka bukan orang Garamantian"
" bagaimana kau bisa tau? aku mendapatkan laporan jika tiap ada pemberangkatan selalu saja ada yang di tahan. Apa kesalahan mereka?" tanya Falla dengan lugas karena terbawa emosi. Dia juga kurang memperhatikan etika sekarang.
" kau salah paham, tidak ada satupun warga Garamantian di sini, aku sudah memeriksa nya..."
" jangan menutupi hal ini lagi dariku. Apa upeti dari kami masih belum cukup? segera bebaskan mereka.."
" Falla hentikan. kau saat ini sedang salah paham. mereka adalah bandit yang biasa menerobos perbatasan agar bisa masuk dan mengganggu pemukiman. Jangan salah sangka"
" tapi Kantata mengatakan jika.."
" apa kau lebih percaya lelaki itu daripada suamimu? kenapa harus ada Kantata di antara kita?"
" Adipati jangan kaitkan dia dalam masalah ini, Kantata hanya melaksanakan tugasnya"
" tentu saja dia terlibat, lelaki itu sudah terlibat sejak awal. Aku katakan jika tidak ada warga Garamantian di tahanan, apa itu masih belum cukup? kau lebih percaya lelaki itu bukan?!" masalah ini semakin melebar. Mendengar nama Kantata dari mulut istri nya benar-benar membuat kesabaran Emrick menghilang.
" jika Memang begitu, kenapa kau menutupi masalah ini dariku? "
" aku hanya tak ingin kau khawatir dan banyak pikiran"
" sejak kapan kau begitu perhatian padaku? bukankah yang kau pikirkan hanya gadis kuil itu. jangan mencoba mengarang cerita" Falla tak mau kalah. Dia sudah tidak bisa mempercayai Emrick lagi.
" gadis kuil siapa? aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengannya"
" apa ini menjelaskan jika sebelumnya kalian memang memiliki hubungan"
" hentikan Falla. Masalah kita adalah soal kepercayaan. sekarang kau pilih percaya padaku atau lelaki itu?"tanya Emrick tak mau bertele-tele.
Falla diam dengan nafas masih menderu marah. Dia paham lelaki yang Emrick maksud adalah Kantata. selama ini Kantata tidak pernah berbuat salah padanya.
" bebaskan penduduk Garamantian" jawab Falla. Ini menegaskan bahwa Falla lebih percaya pada Kantata. jawaban ini sangat melukai hati Emrick, baru saja mereka berbaikan, kini bertengkar hebat.
__ADS_1
Emrick tertawa singkat, bahkan terdengar sumbang.
" baik lah aku akan menyuruh penjaga melepaskan tahanan" jawab Emrick terluka. lelaki itu pergi dari ruangan dengan rasa kecewa.