Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Rahasia Terbongkar


__ADS_3

Valmira kembali ke kamar dengan raut menahan amarah. Bahkan nafasnya masih menderu saat dia duduk di samping putranya yang sudah tidur. Hatinya merasa kacau, meskipun ingatannya belum semuanya sepenuhnya. Tapi Valmira yakin mengenai gelang itu.


" apa yang membuat Kangta begitu kekeh menutup mulutnya. bukankah hanya soal gelang dan celah, apa beratnya mengatakan hal ini padaku.." gumam Valmira dengan perasaan kesal.


Di sisi lain Gyan dan Emrick sudah berkeliling dan kini tinggal menentukan lokasinya.


" aku pikir sepertinya lokasi bagian Utara cukup mendukung. Selain lumayan jauh dari ibu kota di sana tanahnya lebih subuh. mereka bisa bertahan hidup dengan bertani terlebih dahulu" jelas Gyan saat mereka berada di pinggir kota. Hari sudah menjelang pagi dan sudah waktunya Emrick kembali.


" pilihan anda sangat bagus, Raja. Saya akan mencoba berdiskusi kembali dengan pemerintah Uthaman. Meskipun saya sudah yakin mereka pasti setuju"


" baguslah aku serahkan masalah persetujuan ini padamu"


" iya Raja, tenang saja"


" baiklah waktunya kita kembali"


Di istana kediaman, Falla memilih untuk menunggu sampai tertidur di sofa depan ruang tidur. wanita itu tidak enak hati jika masuk ke kamar dan tidur. Masalah kakaknya belum juga selesai, dia malah bersantai.


crruusshh


Emrick dan Gyan kembali. mereka menatap Falla.


" Falla sepertinya kelelahan, aku tak ingin menganggu nya. aku langsung pergi saja"


" baik Raja"


ccrruusshhh


Emrick menatap sang istri dengan rasa kasihan. Pasti sangat tidak nyaman tidur dengan posisi setengah duduk seperti itu.


Perlahan dia mendekati Falla, menggendong nya dan memindahkan ke Ranjang. Merapikan anak rambut wanita itu sambil menatap wajah tenang sang istri. Semakin hari sesekali dia merasa bersalah pada wanita yang tertidur lelap ini. Apa dia terlalu kejam, namun Emrick juga tak mau hidup dengan memiliki hutang budi. Satu-satunya yang dia inginkan adalah kebebasan saat ini.


Fajar mulai terlihat, saat Emrick keluar dari kamar Falla dan menuju kamarnya sendiri. Beberapa pelayan melihat dan mereka tersenyum sendiri. Mengingat jika tuan mereka baru keluar dari kamar seorang wanita. Memang kabar pernikahan mereka sudah terdengar. Namun karena acara resminya baru di laksanakan beberapa hari lagi. Mereka masih belum berani menyebut Falla dengan panggilan Nyonya.


Gyan masih terduduk sambil menatap peta. Memastikan lagi wilayah pilihannya adalah memang pilihan yang terbaik.


" yang mulia, para penyihir mulai resah karena tak kunjung ada berita kepindahan. Mereka ingin menanyakan kepastian nya" lapor Aden saat hari masih pagi. Bukan maksud lelaki itu membuat rusak pagi sang Raja dengan membawa kabar menjengkelkan ini. Namun sejak semalam memang sudah terjadi kericuhan. Karena saat itu Gyan tidak ada di tempat, Aden berusaha menahan agar mereka tidak membuat ulah lebih parah lagi.


" sampaikan pada mereka jika mereka tidak sabar, mereka bisa pergi sendiri dan keluar dari Garamantian" ucap Gyan tak kalah dingin. Dia sudah berusaha dan bersabar dalam menghadapi mereka selama ini. Namun sikap mereka semakin semena-mena dan menekan istrinya.


" baik yang mulia " jawab Aden mantap. Ini baru akan membuat penyihir itu diam.


Di sisi lain, di kerajaan Mystick Valmira di buat kesal dengan Kangta. Lelaki itu sejak semalam membuatnya kesal dan sampai sekarang tidak terlihat batang hidungnya. Padahal Valmira benar-benar tidak memiliki banyak waktu. Dia harus segera membuka portal atau semua akan terlambat.


" dimana dia sekarang?" tanya Valmira pada pelayan di sekitaran kamar Kangta.

__ADS_1


" tuan Kangta sejak semalam tidak kembali ke kamar yang mulia"


" ke mana dia pergi?" Valmira semakin kesal.


" maaf yang mulia, kami sendiri tidak tau kemana tuan Kangta pergi"


" apa kalian tidak tau tempat yang biasa di kunjungi nya?"


" tidak yang mulia,.tuan Kangta tidak pernah menyebutkan kemana dia akan pergi"


" keterlaluan" celetuk Valmira dan langsung pergi meninggalkan kamaer.


Dalam perjalanan menuju kamarnya Valmira menangkap seekor burung dan memberikan sihir pada burung tersebut.


" cari Kangta sampai dapat" gumam nya dengan raut kesal.


Kangta sedikit aneh memang, biasanya dia akan selalu tanggap jika mengetahui masalah menimpa orang terdekatnya, kenapa kali ini berbeda. Apa benar-benar ada sesuatu yang berat untuk di ungkapkan oleh lelaki itu.


" akhirnya..." lirih Valmira saat burung sihirnya menemukan keberadaan Kangta.


" kenapa di sana..." lanjutnya saat menyadari dimana saat ini Kangta berada.


" lebih baik aku segera ke sana "


Valmira menitipkan G pada Derya sedangkan dirinya pergi menggunakan kuda menuju tempat dimana Kangta berada.


kuda itu melaju cukup kencang, jangan sampai Kangta lebih dulu pergi dari sana.


" apa yang kau lakukan di sini?" tanya Valmira, namun tidak mengagetkannya. Kangta hanya menatap sekilas sambil memberikan sanjungan.


" aku tidak mengagetkan mu?" Valmira turun dari kuda dan segera mendekati Kangta.


" jawab pertanyaan ku?" ucap Valmira sedikit mendesak. Lelaki itu diam saja seakan dirinya tidak menyadari keberadaanya.


" yang mulia pasti sedang mencari saya, jadi saya dengan mengajak yang mulia kemari"


" emm bukankah aku sudah mengatakan jika hanya berdua kita tidak perlu bicara se formal itu" sindir Valmira.


" ah ya, aku lupa. Baiklah aku tidak akan sungkan lagi" lanjut Kangta.


" apa yang kau lakukan di sini? seharusnya kau tidak memiliki alasan untuk datang kemari" Valmira tak ingin berbasa-basi lebih lama.


" ini.. bukankah gelang ini yang ada di ingatanmu? " Kangta mengeluarkan sebuah gelang. Ternyata selama ini lelaki itulah yang mengambil dan menyimpannya.


" he'em" Valmira mengangguk.

__ADS_1


" apa kau tidak ingat siapa pemilik sebenarnya?"


" sepertinya itu gelang milik ibuku, entahlah aku mengingat jika kau atau Gyan yang memberikannya padaku" jawab Valmira. setengah mengingat ingat.


" tidak kau salah. Gelang ini adalah milikku"


Valmira mengerutkan keningnya, bagaimana bisa lelaki ini memiliki gelang ini. Bukankah di dalamnya menyimpan kekuatan jiwa ibunya.


" kau pasti tidak akan percaya, gelang ini memang milikku dan khusus di buatkan oleh Marilla"


penurutan selanjutnya semakin membuat Valmira tercengang. bagaimana bisa nama ibunya di sebut begitu saja.


" apa yang sebenarnya ingin kau katakan ? apa hubungannya celah yang aku cari dengan kepemilikan mu pada gelang ini"


" kau mengatakan jika pernah ada orang luar yang masuk ke Mystick tanpa perlu sihir Marilla, bukan?, orang itu adalah aku, dulu aku dengan mudah bisa datang kemari. hanya menggunakan gelang ini"


" jadi kau menggunakan gelang untuk memasuki celah?"


" tentu saja, sampai keadaan tidak memungkinkan. Dan gelang ini sudah tidak bisa lagi di gunakan. Dan akhirnya aku mengetahui jika Marilla sudah meninggal"


" apa hubunganmu dengan ibuku? " Valmira baru menyadari nya jika sejak tadi saat Kangta menyebut nama ibunya, lelaki ini terlihat begitu terbiasa dan menampilkan emosi sedih. Apalagi saat ini mereka berada di makam leluhur Mystick, di samping makam sang ibu, Ratu Marilla.


Kangta menarik sudut bibirnya, pertanyaan ini lah yang tidak ingin dia dengar. Karena jawabannya tidak mau dia katakan sejak datang kemari.


" apa kalian begitu dekat sampai ibuku membuatkan mu sebuah gelang?"


" aku sangat mengenal baik ibumu, Marilla adalah seseorang yang tidak akan bisa aku lupakan begitu saja. Dia wanita yang sangat baik" jelas Kangta, dari sorot matanya bisa terlihat bayang-bayang kerinduan yang begitu dalam. Dari sini Valmira mulai menyimpulkan sesuatu.


" celah yang kau ingin cari telah lama sudah tidak bisa di gunakan. Karena suatu keadaan, gelang tak bisa di gunakan dan celah itu entah hilang atau mungkin di ganti. Aku tak bisa menemukan belakangan ini"


" apa kau bisa mencobanya lagi? siapa tau saat kau berada di dalam tabir akan lebih mudah mencarinya" Valmira tidak begitu peka dengan arti perkataan Kangta yang sebenarnya. Valmira kembali pada tujuannya datang kemari.


" tidak bisa, namun mungkin bisa di lakukan jika kekuatan tabir yang kau miliki bisa menenangkan tabir ini. lalu biarkan gelang ini menunjukkan jalannya"


" menenangkan?"


" iya, mungkin saat gelang ini bertabrakan dengan tabir bisa jadi terjadi hal buruk atau bahkan bisa sangat berbahaya dan malah menghancurkan perlindungan"


" kenapa efeknya begitu besar?"


" karena di dalam gelang ini ada sedikit energi inti jiwa milikku, sudah ku katakan jika saat itu keadaaan membuatku tidak bisa menggunakan gelang ini"


" jadi maksudmu celah ini sudah tidak bisa di harapkan lagi? kalau begitu bagaimana caranya membuka portal dari sini dan menyelamatkan Gyan" Valmira mulai putus asa. dia harus melakukan apa lagi.


" menghilangkan tabir lalu membangunnya kembali" singkat Kangta membuat Valmira tak tau harus bagaimana bereaksi. Dia mengerti dengan maksud Kangta, namun dia tidak mungkin melakukannya sejauh ini.

__ADS_1


" ini jauh lebih beresiko" lirih Valmira dilema.


" keduanya sama-sama memiliki resiko. hanya terserah padamu, mau memilih yang mana" balas Kangta membuat Valmira menarik nafas panjang.


__ADS_2