Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Kembali Lagi


__ADS_3

Dan benar saja setelah memastikan semua pekerjaan selesai, Sore harinya Gyan berjalan menuju kamar selir Agung, wanita kesayangannya dulu. Lelaki itu nampak tenang padahal hatinya bergemuruh penuh kesedihan yang tertahan. Langkahnya semakin dekat mendadak semakin berat. Apakah dia mampu menahan air matanya agar tidak meleleh lagi.


Gyan berdiri sejenak di depan pintu masuk kamar. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana Valmira berdiri di sana tersenyum memberikan sanjungan. Dan Bagaimana Valmira selalu menolak berdekatan dengannya, serta wajah tegang wanita itu jika mereka hanya berdua saja. Gyan tidak akan lupa, Valmira adalah wanita pertama baginya. wanita yang membuatnya sejenak melupakan traumanya akan masa lalu. memberikan warna pada hidupnya meskipun hanya sesaat.


Gyan menarik nafas seolah mempersiapkan diri untuk hal yang lebih berat lagi. Aden terdiam mengikuti langkah Gyan. Pengawalnya tau betul jika sang tuan sedang tidak baik-baik saja. Tuannya pasti mengingat kenangan manis yang kini menjadi kenangan terberatnya.


" tetaplah disini" lirih Gyan melarang Aden mengikutinya kedalam.


Aden hanya bisa mengangguk pasrah. Lelaki itu tidak bisa menolak meskipun sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan Raja Gyan sendirian.


Langit mulai gelap saat Gyan memasuki ruangan depan kamar. Hanya beberapa lilin saja yang terlihat menyala, ruangan kamar menjadi sedikit remang-remang. Para pelayan istana begitu malas membersihkan kamar selir, mereka masih takut dengan sesuatu yang berhubungan seli Agung.


Gyan masuk ke kamar tidur, di sana terlihat lebih rapi. Valmira memang sudah menata ruangan ini sebelum kepergiannya. Gyan menarik sudut bibirnya saat melihat buku yang dia cari sudah rapi di depan meja ranjang. Tak lupa ada secarik kertas yang tertinggal di atasnya. Gyan mengambil dan membukanya.


' saya sudah menyelesaikannya, tapi maaf belum saya kembali kepada yang mulia'


Gyan semakin tidak kuasa, lelehan hangat diam-diam membasahi pipinya. Ternyata rasa sedihnya masih belum berkurang, malah bertambah setelah membaca pesan Valmira. Dadanya terasa begitu sesak, Gyan langsung bisa membayangkan bagaimana suara wanita itu saat berbicara dengannya. Dia tau betul bagaimana gaya bicara Valmira.


" bagaimana bisa aku melupakanmu, Alora" lirih Gyan yang mulai sesenggukan, kilasan ingatan bersama dengan Valmira mendadak muncul bersamaan dengan rasa rindu yang tak tertahan. Lelaki itu kembali rapuh hanya dengan mengingat selir kesayangannya.


......................


Hari terus berganti kapal Kangta terus melaju mengikuti arus Samudra Aegir.


" kita sudah berhari-hari mengapung dan menunggu, tapi tidak ada sedikitpun jejak ataupun aura sihir Marilla" ucap Aislinn kepada Kangta. Wanita itu dan suaminya tidak merasakan sedikit tanda-tanda tabir pelindung milik Marilla. Padahal seharusnya jika mereka memilih arah yang benar, mereka sudah sampai di lautan badai.


" kau benar, tidak ada satupun pulau yang terlihat atau bahkan badai petir yang pernah aku lihat " mereka menatap lautan yang tiada ada batasnya. sedikitpun tidak ada petunjuk. Mereka mulai merasa jika perjuangan mereka akan sia-sia. Menemukan pulau Marilla bagai sebuah dongeng. Bahkan Kangta yang merupakan orang luar satu-satunya yang pernah kesana juga tidak mengenali jalan masuknya.


tap tapa tap


suara langkah kaki dengan cepat mendekati mereka.


" kalian harus melihat Alora, wanita itu sepertinya berubah menjadi tua" ucap Zephyr sedikit panik.

__ADS_1


Melihat raut suaminya, Aislinn segera berjalan cepat menuju kamar Alora dengan diikuti Kangta dan Zephyr di belakang.


langkah mereka mulai pelan saat sampai di depan pintu kamar Valmira yang sudah terbuka.


" Alora" panggil Aislinn pelan.


Berbeda dengan Kangta, lelaki itu langsung saja menerobos dan berjalan melewati Aislinn.


" apa yang terjadi?" tanya Kangta melihat Alora yang berdiri membelakangi mereka.


ketiga orang itu dengan jelas bisa melihat rambut Valmira yang beberapa bagian berubah menjadi putih.


" rambutku kembali memutih, kalian jangan khawatir" lirih Valmira yang langsung memutar badannya menghadap mereka.


" apa ini terjadi sebelumnya?" tanya Kangta curiga.


" iya, itu..." Valmira tidak meneruskan kalimatnya karena ini berkaitan dengan kehidupannya saat di istana.


mengetahui Valmira yang menatapnya penuh arti, Kangta mengerti dia tidak akan bertanya lebih lanjut.


" tidak ada, tubuhku tidak merasa sakit sedikitpun. kalian jangan khawatir, sebentar lagi juga rambutku akan kembali seperti semula" hibur Valmira.


" apa yang terjadi denganmu?" ganti Aislinn yang bertanya. Hal ini sangatlah jarang terjadi membuat wanita itu begitu penasaran.


" sepertinya bayinya mengambil energinya terlalu banyak" jawab Kangta berbohong.


" begitu?" Zephyr


" Kurasa karena Alora yang masih lemah membuat tubuhnya bereaksi berlebihan" lanjut Kangta berusaha membuat kedua orang itu percaya dan berhenti bertanya lebih lanjut.


" iya, hal ini sering terjadi. Sebentar lagi juga menghitam " timpal Valmira mulai membuat keduanya percaya.


" ku kira kau kenapa, kami begitu takut jika terjadi hal buruk padamu"

__ADS_1


" sudah biarkan Alora beristirahat agar tubuhnya pulih" Kangta menyuruh mereka semua pergi agar tidak semakin curiga.


" ya, tuan benar, jika ada sesuatu jangan sungkan meminta tolong. kasihan perutmu juga semakin besar jangan terlalu banyak pikiran" pesan Aislinn lalu mengajak suaminya keluar. Kangta terdiam sejenak memandangi Valmira lalu berjalan keluar.


Di dalam Valmira kembali membelakangi pintu yang tertutup. Dia depannya adalah kaca. Valmira kembali menatap dirinya. Dia baru saja terbangun dari mimpi yang sepertinya sering dia alami. Sayangnya dia akan lupa gambaran mimpinya saat matanya terbuka.


Valmira memandangi tubuhnya, jika dipikir-pikir kembali perubahan dalam tubuhnya terjadi saat dia memakai gelang ini. sebelumnya juga begitu, tubuhnya seakan merasakan energi dari gelang tersebut. Valmira tidak menyadarinya dulu, kini wanita itu bisa merasakannya. Aliran hangat yang memancar dari gelang ini membuat tubuhnya terasa lebih baik.


Sore harinya Valmira memilih keluar dari kamar, Wanita itu berdiri di dek kapal melihat pemandangan laut yang indah. langit jingga serta angin laut membuat suasana hatinya membaik.


" bagaimana tubuhmu ? apakah ada perubahan lainnya?" Kangta berdiri di sampingnya.


" rasanya aliran energi ini membuat tubuhmu lebih baik"


" sudah berapa usia kandunganmu?"


" mungkin sebentar lagi bulan ke 4"


" katakan padaku jika sudah melewati bulan ke 4" ucap Kangta yang sudah mempersiapkan sesuatu.


" kurasa tinggal seminggu lagi mungkin, entahlah aku juga kurang bisa menghitungnya"


" apa aku boleh menyentuhnya?" sambil melihat perut buncit Valmira.


" tentu saja" Valmira berdiri menghadap Kangta.


Lelaki tua itu mulai menempelkan tangannya dan merasakan bagaimana energi di dalam perut Valmira.


" kau memberikan energi padaku?" setelah beberapa saat Valmira merasakan aliran hangat dari tangan Kangta.


" bayi mu kelaparan. Biasanya mereka membutuhkan energi dari ayah dan ibunya. sedangkan kau dan Gyan, memiliki kasus yang berbeda"


Valmira mengangguk sesaat, membenarkan ucapan Kangta.

__ADS_1


" terimakasih sudah perhatian pada ku dan bayi ku" Valmira tersenyum senang. Hubungannya dengan Kangta mulai kembali membaik. wanita itu menatap Kangta, penyihir hebat yang dia kenal setelah Gyan.


__ADS_2