
Setelah menyelesaikan makan pagi, Raja Gyan masih tidak pergi dari kamar selir. Raja Gyan kini duduk di samping ranjang dengan membersihkan tubuh Valmira menggunakan kain dan air hangat. Hanya bagian luar saja, Valmira menolak melepaskan pakaian. Wanita itu awalnya menolak, tapi Gyan kekeh ingin membantu Valmira membersihkan diri.
" yang mulia sudah seperti seorang pelayan" ucap Valmira berniat menggoda Gyan, agar lelaki itu berhenti memperhatikannya.
" jika itu pelayan pribadimu, aku tidak keberatan" jawab Gyan santai. Mendengar jawaban Gyan, Valmira malah mengerutkan keningnya. kenapa Gyan begitu berbeda. Apa sudah terjadi sesuatu pada kepalanya, hingga sikapnya berubah drastis.
" yang mulia habis terbentur?" tanya Valmira penasaran.
" terbentur? tidak"
" terjatuh mungkin?"
" tidak"
" apa yang mulia salah makan?"
" tidak juga, memangnya ada apa? ada yang aneh?"
" ada" jawab Valmira cepat.
" apa ?"
" kenapa yang mulia begitu perhatian, tidak biasanya yang mulia bersikap hangat seperti ini" jelas Valmira tanpa rasa takut menyinggung perasaan Gyan.
" entahlah, aku hanya ingin saja" jawab Gyan datar. dia tidak merasa jika sikapnya seperti yang Valmira katakan.
" yang mulia tidak kembali ke istana?" tanya Valmira seakan mengusir Gyan secara halus.
" tidak nanti saja" sayangnya Gyan tidak merasa. Dia masih ingin bersama dengan Valmira.
" bagaimana dengan tugas yang mulia?" Valmira tidak putus asa mencoba membuat Gyan pergi dari kamar nya.
" tak perlu kau khawatirkan" jawab Gyan datar.
Valmira terdiam, dia tidak berusaha lagi. Sepertinya Gyan memang kekeh ingin tetap disini.
" sudah yang mulia" ucap Valmira saat tangan dan kakinya sudah bersih.
Gyan mengangguk dan menyuruh Fleur membawanya pergi. Lelaki itu duduk kembali di samping ranjang.
" yang mulia tidak sarapan?"
" ah ya, aku lupa"
" bagaimana jika yang mulia sarapan di istana sekalian membersihkan diri" usul Valmira dengan niat lain. Gyan menatap Valmira lama.
__ADS_1
" kenapa kau ingin sekali aku pergi dari sini?" tanya Gyan yang ternyata sejak tadi memang menangkap maksud hati Valmira.
" em, saya tidak enak saja. Yang mulia sejak kemarin sudah berada di sini. takutnya ada pekerjaan yang tertunda" jelas Valmira normatif. Padahal dirinya saja tidak biasa dengan perlakuan Gyan.
" baiklah aku akan kembali tapi nanti malam aku akan kesini lagi" ucap Gyan final. Valmira pasrah dengan mengangguk pelan. Setidaknya ada jeda baginya untuk bernafas lega.
" jaga dirimu, kalau terjadi sesuatu langsung saja suruh seseorang ke istana" pesan Gyan, lelaki itu mencium kening Valmira singkat. Setelahnya pergi dari kamar.
Valmira akhirnya bernafas lega, sejak ada Gyan wanita itu tidak bisa apa-apa. Selalu saja Gyan yang mengatur dan menatakan kebutuhannya.
" yang mulia dimana?" tanya Fleur yang baru kembali setelah membawa baskom tadi.
" sudah pergi" jawab Valmira pelan.
" yang mulia sangat perhatian padamu. Sejak kemarin selalu menjagamu, kau beruntung Alora" ucap Fleur lalu duduk di sebelah ranjang.
" sebenarnya apa yang terjadi padaku?" tanya Valmira yang melupakan detail kejadian kemarin.
" aku juga kurang tau, saat aku datang yang mulia sudah ada di kamar memelukmu yang tak sadarkan diri. Lalu semakin lama tubuhnya melemah dan sangat dingin. Dan kalau tidak salah dengar, yang melakukan ini padamu adalah Ratu Shana. Yang mulia memanggilnya kemari dengan marah. Aku hanya mendengar tangisan dan permintaan maaf Ratu Shana, wanita itu keluar dengan wajah sedih. Aku yakin jika semua yang terjadi padamu adalah karena wanita itu" jelas Fleur panjang lebar.
" jadi semua ini ulah Ratu Shana?" tanya Valmira tak percaya.
" aku yakin iya"
" Ratu Shana memang sejak awal tidak menyukaiku. tidak heran dia melakukan hal ini padaku" jawab Valmira pelan.
" iya, Fleur" jawab Valmira tak ingin menambah emosi temanya.
" ah ya bantu aku ke kamar mandi, rasanya tubuhku masih lengket" inilah salah satu alasan kenapa dia menyuruh yang mulia pergi.
" bukankah yang mulia tadi..."
" hanya tangan dan kaki saja," potong Valmira tak ingin di tanyai lebih lanjut.
" kenapa tidak sekalian tadi"
" tidak , aku malu Fleur!"
" kalian kan sudah..."
" kau ingin membantuku apa tidak?" tanya Valmira kesal. Meski sudah melakukannya berkali-kali. Valmira masih tidak biasa jika tubuhnya di lihat Gyan.
" baiklah, baiklah. kau jangan marah. tubuhmu baru saja pulih " pesan Fleur, Valmira hanya menghembuskan nafas kasar.
Di istana Raja, Gyan baru saja selesai sarapan. saat ini sedang duduk di ruang kerja. Seperti yang di katakan Valmira, pekerjaan karena dia fokus pada Valmira.
__ADS_1
" yang mulia, ini laporan kemarin" Aden memberikan laporan kelompok bayangan yang sejak kemarin dia simpan.
Gyan membukanya, dia baru ingat jika memberikan tugas pada Aden.
" apa ada perkembangan lain?" tanya Gyan sambil membuka laporan tersebut.
" kelompok bayangan sudah mengirimkan surat Deon sejak kemarin malam"
" lalu bagaimana dengan mata-mata Shana?"
" mereka tidak memberikan laporan terbaru karena tidak ada pergerakan sama sekali di kamar Ratu" jelas Aden. Gyan mengangguk, lelaki itu diam sebentar untuk membaca laporan.
" mereka kehilangan jejak. tidak ada harapan sama sekali" ucap Gyan pelan. Penyihir Osmond yang dia cari entah menghilang kemana. kelompoknya tidak bisa melacaknya setelah kepergiannya ke pulau kerajaan Mystick.
" lalu bagaimana selanjutnya yang mulia, pertemuan itu akan berlangsung dalam beberapa hari lagi" tanya Aden cemas. lelaki itu sangat tau, jika penyihir Osmond itu sangatlah penting.
" kita lihat saja, dia Deon kembali tepat waktu mungkin kita tetap bisa melanjutkan pembahasan. Jika tidak masalah ini akan kita hadapi sendiri" jelas Gyan sambil menerawang jauh. Lelaki itu menarik nafas panjang. Dia akan mempersiapkan diri untuk menghadapi hal besar yang dia prediksikan. Cepat atau lambat masalah ini pasti menjadi musuh bersama keluarga penyihir.
Malam harinya seperti yang sudah Gyan katakan, lelaki itu kembali lagi ke kamar Valmira. Nampaknya Gyan terlalu betah berada di kamar ini. Entah suasana atau pemiliknya yang dia senangi dari kamar ini.
" yang mulia" ucap Fleur sebelum dia pergi dari kamar memberikan waktu berdua pada Raja dan selirnya.
" yang mulia" ucap Valmira pelan.
" bagaimana keadaamu?"
" sudah lebih baik"
" malam ini aku akan menginap, siapa tau kau butuh sesuatu jadi aku bisa cepat membantu" mata Valmira membola, kenapa yang mulia memiliki keinginan seperti itu.
" apa tidak menganggu yang mulia, bagaimana..."
" tidak, sudah jangan protes" potong Gyan langsung tak ingin mendengar bantahan.
" kau sudah makan malam?" tanya Gyan mengalihkan topik.
" sudah baru saja, tabib juga sudah memberikan ramuan" jawab Valmira yang memang sengaja mempercepat semua kegiatan itu, agar tidak di recoki oleh Gyan.
" kalau begitu mari kita istirahat " ucap Gyan sambil melepaskan baju luarnya.
" yang mulia.." Valmira merasa keberatan dengan tingkah Gyan yang tanpa babibu.
" kenapa? ada yang kamu butuhkan?"
" tidak" jawab Valmira singkat tak ingin berterus terang.
__ADS_1
Gyan melanjutkan aksinya, lelaki itu berjalan mendekati ranjang. Langsung berbaring di samping Valmira. Dan menarik selimut.