Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Akhirnya Perang


__ADS_3

Saat bulan berada di ujung barat dan langit terlihat masih penuh dengan bintang-bintang Shana turun dari ranjang. wanita itu menuju cermin perak yang berdiri di bagian tengah kamarnya. Sambil merapalkan mantra khusus dengan pelan cermin itu menampilkan gambar situasi di medan perang. Saat ini pasukan Prysona sedang bersiap berbaris, tak lupa dengan perlengkapan persenjataan sudah mereka bawa.


" aku tidak sabar untuk merapal mantra untuk mereka" lirih Shana menatap cermin dengan wajah antusias.


Sedangkan di medan perang situasi seakan tegang, inilah hari yang mereka tunggu.


" pagi ini segala pengorbanan serta penderitaan kita akan tergantikan dengan sorak kemenangan untuk Prysona. Kita teguhkan diri kita, kita tumpas musuh didepan mata. kita balas kematian rekan serta keluarga kita. Hidup Prysona, hidup Prysona hidup Prysona" pidato singkat panglima pasukan membakar semangat menggelora. Suara bergemuruh, teriakan kemenangan serta suara senjata dengan sayup terdengar di gerbang perbatasan Garamantian.


Pasukan Garamantian sudah tidak sabar menunggu, mereka berjalan keluar dengan gagah. Tak kalah dengan kerajaan Prysona, mereka membawa serta senjata serta perlengkapan lainnya. Tidak ada sedikitpun rasa sedih atau takut dengan kekalahan. Mereka yakin sekali untuk keberapakalinya mereka akan tetap memang.


dug dug dug


suara genderang perang terdengar menggelegar membuat fajar menjadi lebih ramai daripada biasanya. di tambah dengan langkah kaki yang menggertak binatang gurun untuk segera menjauh. Mereka tidak mau ikut tewas dalam peperangan ini, Hanya ada burung pemakan bangkai yang sudah bertengger menanti kematian entah dari pihak manapun.


Setelah saling terlihat, tak perlu waktu lama kedua kerajaan itu segera melayangkan serangan.


" hiyaaa"


sreng


prang


srreekk


suara pedang menjadi icon pada pagi itu, gurun yang kering mulai basah terkena cipratan darah. sayatan, tusukan serta sobekan membuat jalan air merah itu keluar menggenangi tanah gurun yang tandus. semuanya saling membalas demi mengejar kemenangan. Tak ada yang tau jika ada salah satu rombongan pasukan yang sedang sibuk menunggangi kudanya.


" cah cah" suaranya membuat kudanya semakin melaju kencang.


" yang mulia kita bisa menggunakan jalur barat. ini lebih aman dan cepat" ucap prajurit pembawa pesan pada raja Prysona.


" kau pimpin jalannya" perintah Raja tegas.

__ADS_1


Lelaki itu sedang dalam perjalanan kembali ke kerajaan Prysona. Dia sudah memikirkan semuanya dengan matang, jangan sampai dia mati sia-sia di medan perang. Tak bisa pungkiri sejak awal dia memang sudah mengira jika pasukannya pasti akan kalah. Hanya demi menuruti ego dan keinginan putrinya Raja berpura-pura memimpin pasukan. Padahal dia memiliki rencana lain agar tetap di anggap Raja yang berani tapi tidak ikut bertarung di medan perang.


Dan hal ini tentu tidak lepas dari pengawasan Seorang Gyan. Lelaki itu dengan mata tajam nya mengekori kemanapun Raja Prysona melaju. Dia tidak akan membiarkan lelaki itu pergi begitu saja, Gyan sedang menunggu waktu yang tepat untuk membuat lelaki itu merasa putus asa karena pelariannya tidak berhasil.


" Dasar licik" desis Gyan sambil menarik sudut bibirnya melihat kelakuan Raja Prysona yang lebih seperti pecundang.


Rona fajar mulai terlihat dalam gelapnya penghujung malam. Dengan cepat Gyan melesat dan berdiri di depan kuda Raja Prysona yang melaju pesat.


" yang mulia" ucap prajurit yang sudah ketakutan bagaimana bisa Raja Gyan berdiri di depannya.


" jangan berhenti, lajukan kuda" ucap Raja.


Gyan semakin tertarik membuat lelaki itu tumbang, dengan tenang Gyan tetap berdiri, saat kudanya semakin dekat, Gyan mengangkat tangannya pelan dan dengan tiba-tiba kuda itu berhenti dan mengangkat kaki depannya.


" aaakkk" kedua lelaki itu terjatuh dengan keras di tanah. selanjutnya kuda-kuda tanpa penunggang itu langsung berlari menjauh.


prajurit berusaha berdiri dan dengan cepat ikut berlari menjauh, dia meninggalkan Rajanya. Baginya keselamatannya lebih penting, dia tidak peduli dengan raja kejam Prysona.


" dia tidak akan kembali, kau dengan ku saja" ucap Gyan tenang dan berjalan lambat mendekati Raja Prysona yang berusaha untuk berdiri.


" kau datang untuk membunuhku?" tanya Raja dengan jantung berdegup kencang karena ketakutan.


" mungkin iya, mungkin tidak. Tapi jika di fikir kembali, kaulah yang datang padaku. bukan begitu?"


" ap..apa yang kau inginkan. Jangan kira karena kau penyihir hebat aku akan takut dan diam saja saat kau perlakukan kerajaanku dengan seenaknya"


" memangnya apa yang sudah aku lakukan? aku tidak menganggu kerajaanmu, sama sekali!"


" kau sudah memfitnah putriku dan kau membunuh istriku! jangan lupakan hal ini"


" ternyata kau lebih bodoh dari perkiraanku, tanyakan pada dirimu sendiri. Apa aku akan melakukan hal sepicik itu? ku beritahu kau, istrimu terbunuh karena putri mu sendiri. Dia tewas ditangan anaknya malam itu"

__ADS_1


" jangan mengarang! Shana adalah gadis penurut, dia tidak akan menyakiti bahkan berani membunuh ibunya sendiri. kau tau!"


" hahaha, kau yang tidak tau siapa putri sebenarnya. Dia adalah penyihir hitam. Aku tidak akan menutupi lagi, Shana adalah murid Douglas. kau ingat lelaki itu, "


mata Raja membelalak lebar, nama itu terdengar tidak asing di telinganya.


" sudah ku bilang kau memang bodoh!" Gyan tidak puas menghina Raja Prysona.


" tidak, kau pasti berbohong. Lelaki iblis itu sudah tewas!"


" coba kau fikirkan lagi, istrimu tewas karena sihir hitam bukan? Satu-satunya orang yang sanggup melakukannya adalah putrimu sendiri, dia mempelajarinya dari Douglas"


"tidak!, darimana kau mengetahuinya!"


" tidak ada yang terlewat dari pengawasanku. Meskipun Douglas memiliki rupa yang berbeda dengan sebelumnya, tapi saat pertemuan penyihir aku dengan mudah bisa merasakan auranya"


" tidak, aku yakin sekali pada putriku. Dia tidak akan melakukan hal yang sudah kau tuduhkan"


" begini saja, aku bisa membuatmu percaya asal... kau sendiri yang harus mengambil kekuatan tenaga dalam milik Shana"


Raja Prysona menjadi ragu sendiri, tawaran ini sedikit menggoyahkan hatinya. tapi memiliki konsekuensi yang berat.


" tidak, aku percaya pada putriku"


" apa kau tidak ingin tau bagaimana istrimu tewas malam itu? kau akan melupakannya begitu saja?"


Kembali lagi kebimbangan melingkupi hari Raja Prysona.


" kau akan tau semuanya, apa yang terjadi pada putrimu. jika aku terbukti keliru aku akan melepaskanmu" jelas Gyan tenang.


" baik, aku terima" jawab Raja dengan yakin.

__ADS_1


__ADS_2