Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Akhir dari penyesalan


__ADS_3

Surat permintaan dari medan perang sudah diterima oleh Shana. Wanita itu sedang duduk di singgasana sambil membaca surat dari ayahnya. dia tidak mengeluarkan ekspresi apapun. datar tanpa ada emosi.


" jadi ayah sudah hampir sampai di wilayah perbatasan Garamantian cepat sekali. aku harus segera memulai ritual sihir kutukan"


bukannya mengkhawatirkan ayahnya, wanita itu malah cemas dengan rencananya sendiri.


" pelayan suruh Douglas datang menemui ku!" perintahnya pada pelayan pribadinya.


" putri lalu bagaimana dengan permintaan Raja?" tanya prajurit pembawa pesan. Karena sampai sekarang Shana belum memberikan keputusan.


" em, aku akan menyiapkan nya. Suruh mereka menunggu" jawab Shana singkat penuh tipu daya.


" baiklah putri, saya akan memberitahukan kabar baik ini" ucap prajurit itu dan segera pergi.


" dasar bodoh" lirih Shana dengan senyum licik. Dia hanya akan mengulur waktu sampai rencananya sendiri selesai. Shana tidak akan mengirimkan apapun. Dia sudah berniat ingin menguasai Prysona untuk dirinya sendiri.


tap tap tap


langkah kaki terdengar. Lelaki yang dia tunggu akhirnya datang.


" yang mulia, ada urusan apa memanggil saya kemari?" tanya Douglas penuh kesopanan. Dia hanya ingin menarik hati Shana. agar tidak membatalkan perjanjian mereka sebelumnya.


" aku mendapatkan pesan jika pasukan Prysona sudah hampir sampai di wilayah perbatasan Garamantian, kapan sihir hitam itu bisa dilakukan?"


" menjawab yang mulia, 2 hari lagi adalah malam bulan mati, sepertinya saat itu sihir kutukan bisa di mulai"


Shana tersenyum senang. pengaturan waktu yang pas. pasukannya akan menunggu sedangkan dia akan menggunakannya untuk membuat sihir kutukan.


" bagus, bagus. lalu kapan kau bisa mengirimkannya pada Gyan?"


" bisa kapan saja saat lelaki itu lemah. Tapi sihir kutukan ini akan berkerja lebih besar jika mengirimkan secara langsung dengan jarak dekat" jelas Douglas.


Shana memikirkan dengan baik.


" kita bisa membuka portal, dan biarkan aku sendiri yang mengirimkannya pada Gyan" putus Shana dengan penuh bangga.


" tentu yang mulia, semuanya bisa dilakukan. Asalkan bayarannya bisa saya terima lebih dulu" ucap Douglas mengingatkan terkait perjanjian mereka.


" kau tenang saja!" ketus Shana. Douglas selalu saja mengingatkan tentang hal menjijikkan yang harus dia lakukan.


" baguslah jika yang mulia mengingatnya" sindir Douglas dengan sudut bibirnya tertarik.


......................


Di sisi lain Garamantian terlihat tidak ada yang mengkhawatirkan, berita mengenai pasukan Prysona yang sudah berjalan dan kini sudah hampir sampai di perbatasan tidak membuat para rakyatnya cemas. Pasalnya kemenangan sebelumnya membuat mereka yakin jika raja mereka pasti bisa melindungi dan pasti bisa mengalahkan mereka kembali.


kegiatan sehari-hari juga tidak ada bendanya,malah terjadi penurunan harga makanan karena para pemasok dari luar berebutan menjalin kerjasama dengan Garamantian.


Mereka jelas semakin percaya jika kerajaan Garamantian tidak ada tandingan dan selalu menjaga integritas mereka.


sayangnya ketenangan itu tidak kunjung di rasakan oleh Raja mereka. Gyan masih saja merasakan keanehan dalam tubuhnya. alhasil lelaki itu memanggil ketua penyihir agar datang menemuinya malam ini.


" yang mulia" ketua itu memberikan sanjungan. Mereka berada di bagian depan istana Raja.


" akhir-akhir ini aku merasakan keanehan bercampur dengan kecemasan yang menganggu fikiran serta tubuhku. Ada hal yang sepertinya terjadi dan itu berhubungan denganku. Apa kau bisa menjelaskan kenapa alasannya?" tanya Gyan yang sangat sulit di pahami.


ketua itu mencoba menelaah apa yang rajanya inginkan. Karena jika sampai salah raja Gyan pasti tidak akan memanggilnya lagi.


" perasaan seperti apa yang Raja rasakan? Dan seberapa sering?"


" seperti ada bagian dariku yang hidup di tempat lain. inti jiwaku merasakan keterkaitan dengan energi lain. Dan Itu terjadi hampir setiap malam" jelas Gyan.


ketua itu mendengarkan dengan baik. Dan memikirkan solusi apa yang mungkin cocok.


" apa yang mulia sedang mengkhawatirkan atau memikirkan sesuatu?"


" em tidak ada" Gyan berbohong. Padahal setiap hari dia selalu memikirkan Valmira. rasa kecewa dan kerinduan pada wanita itu kini sudah menggantikan peran bayangan dirinya. dimanapun selalu saja hadir dan sangat dekat.


ketua penyihir itu semakin bingung.


" saya akan membawakan cermin energi, mungkin energi dalam diri yang mulia sedang tidak stabil dan memicu terjadinya kecemasan" saran sang ketua.


" ya, bawakan kemari"


" baik yang mulia"


setelah menunggu beberapa saat, ketua penyihir dengan 2 orang lainnya masuk kembali dengan membawa sebuah cermin bundar yang terbuat dari emas.


" yang mulia, ini adalah cermin energi yang saya maksud"


Gyan mengangguk saja, dia sebenarnya juga sudah mengetahuinya. dia beranjak berdiri dan bejalan mendekati cermin. Setelah di pasang di sebuah penyangga, Raja Gyan berdiri di depannya.

__ADS_1


para penyihir mulai mengucapkan mantra khusus. cermin itu mendadak bersinar, meski Gyan ada di depannya namun bayangan dirinya tidak terpantul disana. Cermin itu akan melihat energi seseorang yang ada di depannya dan mencari sesuatu yang berkaitan atau memiliki energi yang sama.


Gyan mengamati dengan serius apa yang akan cermin itu tampilkan disana.


" apa itu?" cermin itu seakan menampilkan siluet di dalam sana. Gyan mengamati dengan serius, di matanya siluet itu berbentuk seperti bayi. Tapi tidak terlihat jelas.


" kenapa bisa ada gambar itu.? " lirih Gyan bingung. Apa mungkin karena penyesalan kepada Valmira serta bayinya yang belum lahir saat itu membuat cermin menampilkan bayi.


" sudahlah aku kini mengerti" ucap Gyan yang langsung mempercayai penilaiannya tadi.


" baik yang mulia"


penyihir tadi menghentikan mantra dan mereka berdiri di depan Gyan.


" kalian pergilah, penasaranku sudah hilang" usir Gyan.


" kami pamit undur diri yang mulia" semua penyihir dengan cepat pergi. Mereka bisa merasakan perubahan emosi saat mereka datang dan saat cermin itu bekerja. jadi memilih pergi sebelum terjadi sesuatu yang buruk.


ruangan langsung sepi, tinggal dirinya. Gyan masih memikirkan siluet bayi yang ada di dalam kaca. Memang penyesalan terbesarnya adalah tidak bisa menyelamatkan anaknya. Gyan merasa berhutang pada anaknya karena tidak bisa melindunginya.


" apa mungkin karena itu?" lirih Gyan sekali lagi.


tak ingin terus tenggelam dalam kecemasan Gyan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya.


......................


Kangta membawa tubuh Deon ke salah satu tempat yang sama dimana Deon menyembunyikan lampionnya. Kangta akan menyusul Valmira membantu wanita itu mengalahkan 2 orang pemimpin kerajaan yang kejam itu.


" kau tidak percaya aku bisa kemari?" Valmira masih belum selesai dengan Alvaro. wanita itu menatap Alvaro yang sedang memegangi tubuh Violet.


" seharusnya kau sudah mati Valmira, " lirih Alvaro dengan nada lemah. Lelaki itu awalnya sangat mencintai Valmira. hanya saja karena hasutan Violet dia jadi melupakan cintanya dan mengejar tahta.


" aku tidak akan mati sebelum kalian mati" jawab Valmira singkat.


" baiklah kita sudahi perselisihan ini" saut Violet dan dia bersiap menyerang.


" hiya" Violet langsung memberikan serangan, Valmira melawan 2 orang.


namun tak berselang lama Kangta datang. Dia langsung berdiri di depan Alvaro menghadang nya yang berniat memberikan pukulan pada Valmira.


" kau dengan ku" ucap Kangta dan kini perkelahian satu lawan satu.


" haahhaahaa kalian pikir bisa mengalahkan kami, hanya dengan sihir lemah seperti ini? itu tidak mungkin, kalian hanya sekumpulan pecundang" ucap Viloet.


Tak lama violet mengumpulkan energinya untuk membuat sihir penyiksa, dia mengarahkan pada Valmira.


wushh


" akk" teriak Valmira.


" Alora!" Kangta segera mendekat.


"alora? jadi dia berganti nama menjadi Alora? siapa yang menyangka jika wanita ini memilih menyembunyikan identitas" ucap Violet yang membuat Kangta tidak mengerti.


" aakkk"


" hentikan!" teriak Kangta.


Alvaro dan Violet kini bisa senang mereka tertawa puas, mereka yakin bisa mengalahkan lawannya.


" katakan padaku dimana kalian membawa lampion itu?" tanya Violet pada Kangta. lelaki itu diam.


" katakan"


" akk" siksaan itu kini menjerat leher Valmira. wanita itu terkapar di lantai dengan memegangi lehernya.


" katakan atau aku akan membunuhnya" ancam Violet.


" bunuh saja aku. lepaskan dia!" balas Kangta dengan penuh kepasrahan.


" kau pilih dia atau lampion. berikan lampion itu padaku!"


" aakkkkk" Valmira mulai kesulitan bernafas, lehernya seperti terlilit tali kencang dan panas.


" baiklah, baiklah aku akan mengatakannya" akhirnya Kangta tidak memiliki pilihan.


" berikan padaku!" perintah Violet tegas.


" aku akan membawanya kemari"


Violet menyuruh Alvaro untuk mengikuti Kangta mengambil lampion itu. lelaki itu mengangguk sambil tersenyum licik.

__ADS_1


" cepat" Alvaro mendorong tubuh lemah Kangta yang bahkan hampir saja membuat lelaki itu tersungkur.


kangta sebenarnya berat harus memberikan lampion itu kembali. Dia bisa menilai jika lampion ini pastilah sangat penting bagi mereka berdua.


" disana" ucap Kangta, lalu Alvaro mengambilnya.


setelahnya mereka kembali ke dalam dan menunjukkan lampion itu kepada Violet.


" bagus,"


wanita itu memberikan tatapan penuh kode pada Alvaro. yang mengartikan untuk segera membunuh.


Alvaro segera menyingkir dan membawa lampion itu kepada Violet. Kangta hanya bisa diam dan duduk bersimpuh di samping Valmira yang terus merintih kesakitan.


" ada yang hilang?" tanya Violet pada Alvaro. lelaki itu segera memeriksa dan menggeleng pelan.


Violet memalingkan wajahnya sejenak dari Valmira untuk memastikan bahwa lampionnya terjaga.


Melihat lawannya lengah Kangta memiliki kesempatan untuk mengumpulkan energinya dan dengan cepat mengarahkannya ke tangan Alvaro.


cruushhh.


" ahh"


pyarrr


lampion itu terlepas dari tangan Alvaro dan jatuh ke tanah. detik itu juga rasanya jantung Violet dan Alvaro berhenti sejenak. Usaha keras mereka terbuang sia-sia. lampion itu pecah menjadi beberapa bagian. darah yang ada di dalamnya berceceran mengotori lantai.


Suasana menjadi hening sejenak, bahkan sihir Violet langsung terputus. Semua orang memandang lampion yang mulai mengeluarkan cahaya biru.


" tidak, tidak. jangan pergi" lirih Violet mencoba menggapai cahaya itu.


Kangta melihat dengan seksama. Dia mulai menyadari jika cahaya itu merupakan inti jiwa seseorang. Melayang ke atas dan dengan cepat masuk ke tubuh Valmira.


semua terjadi begitu cepat. Alvaro dan Violet seakan tak percaya. wajah mereka langsung berubah menjadi pucat pasi. Valmira akan memiliki kekuatannya kembali. Mereka akan mati.


Dan selanjutnya tubuh Valmira yang terkapar menjadi terselimuti cahaya biru, tubuhnya perlahan melayang, di barengi dengan rambutnya yang langsung berubah menjadi putih keperakan. Kangta benar-benar terhipnotis dengan kejadian yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.


Valmira mulai tersadar, matang membuka dan dia sudah berdiri dengan kokoh di depan Violet dan Alvaro. Wanita itu menatap nyalang dua orang yang ada di depannya. kilasan kematian Ratu amanis menjadi ingatan pertama yang pulih.


" Violet, Alvaro. aku sudah bersumpah untuk membunuh kalian bukan?"


" Val..valmira" ucap Violet dan Alvaro terbata-bata.


Kangta kini mengerti, Alora adalah Putri Valmira yang hilang. Jadi inilah alasannya kenapa Alora tidak memiliki inti jiwa. Karena selama ini inti jiwanya di ambil dan dimanfaatkan oleh pihak jahat.


crusshhh


" aakkk.ampun Valmira!" Violet terkena serangan dan langsung terlempar ke dinding.


Sedangkan Alvaro yang mencoba melarikan diri kini menjadi target selanjutnya.


Crusshhh


brakkk


lelaki itu terbang lalu jatuh menimpa meja dan kursi.


" kalian sudah membunuh bibiku, mengambil inti jiwaku serta kerajaan ku, terimalah semua pembalasan ku!"


Valmira mengeluarkan sihir yang menyerupai tali, mengangkat kedua tubuh itu ke atas.


" aku ingin kalian membayar batas apa yang sudah kalian perbuat" Valmira memulai untuk menyiksa mereka. Dia akan melakukan hal yang sama dengan apa yang mereka lakukan.


" aaakkk... tidak!! jangan ambil kemampuan sihirku. tidak ak.maafkan aku" teriak Violet.


" aakkk Valmira, aku adalah suamimu. aku hanya terkena hasutan violet, aku sangat mencintai mu Valmira. tolong jangan siksa aku. jangan lumpuhkan tenaga dalam ku"


" tidak ada maaf untuk kalian! terimalah hukuman atas kejahatan kalian!"


crussshhhh


" aakkk tidak!" teriak Violet dan Alvaro bersamaan. tenaga dalam mereka akan di lumpuhkan, mereka akan menjadi manusia biasa bukan penyihir lagi.


kejadian itu berlangsung sangat cepat. Dan seketika Violet dan Alvaro terjatuh ke lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Valmira terengah-engah, tubuhnya masih lemah karena perpindahan energi inti jiwa. wanita itu lalu merasakan kehadiran Kangta dibelakangnya, dan menoleh.


" siapa kamu.? " tanya Valmira dengan kening mengkerut. Kangta tidak bisa menjawab, Alora menjadi sosok yang berbeda di matanya.


Sayangnya setelah bertanya tubuh Valmira limbung dan tidak sadarkan diri. Kangta segera menangkap tubuh wanita itu agar tidak terbentur lantai.

__ADS_1


__ADS_2