Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Menghilangkan 2


__ADS_3

Flashback


ucapan Valmira sebelum menutup mata adalah mantra yang membuat mereka bertiga, Kangta Deon dan Valmira sampai di perairan kerajaan Mystick. Sama saat dia sampai di tanah kerajaan Garamantian. Kali ini meski tanpa sengaja hal itu membuat mereka dengan cepat bisa dengan mudah masuk ke kerajaan.


hari itu Valmira ikut terdampar disana. Wanita itu cukup mengalami luka di sekujur tubuhnya. Apalagi dengan kehamilannya membuat tubuhnya sangat lemah.


Begitu membuka matanya, Valmira menatap sekitar. Lokasi Valmira terdampar sangat jauh dari Kangta dan Deon. Dia terdampar tepat di bawah tebing tempat dia melompat waktu itu.


" dimana aku?" lirih Valmira sambil berjalan tertatih dengan memegang perutnya yang sakit.


Wanita itu menatap kesana kemari, dan alhasil dia melihat ada kudanya yang juga ada di sana. Valmira segera mendekat. Kondisinya lebih parah darinya. banyak sekali luka sobek di bagian kaki dan ekornya. sangat malang.


Valmira seakan teringat sesuatu, air laut yang menerpa tubuh kuda itu membuat Valmira secara tiba-tiba melakukan sihir penyembuhan. Sebagai penyihir Arghi tentu akan sangat mudah bagi mereka mengobati luka menggunakan air.


Cahaya biru mulai muncul di telapak tangan Valmira, dia mengusap luka-luka itu dan perlahan luka tersebut menutup.


Valmira mengangkat tubuh kuda dan membawanya menuju ke air menggunakan sihirnya. Kuda miliknya adalah hewan air, terlalu lama di daratan tentu akan membuatnya lemas.


Valmira memegangi kepala kuda tersebut, dan kesadaran nya mulai kembali. Meski pelan kuda itu mulai berenang dan berdiri.


" terimakasih sudah menjagaku, istirahatlah kondisimu masih lemah" lirih Valmira. Luka di tubuh kuda terlihat sudah hampir pulih dan kuda tersebut berenang menjauh. Seakan mengerti apa yang Valmira ucapkan.


setelah selesai dengan kudanya, Valmira berjalan. Menatap pemandangan yang tidak asing untuknya.


tap tap tap.


terdengar suara langkah kaki berat dengan jumlah yang banyak mendekatinya. Valmira segera bersembunyi di balik bebatuan.


" Ratu Violet benar-benar kejam, bisa-bisanya di kerajaan ini sudah tidak ada wanita. Semuanya di jadikan timbal ritual aneh. Aku bahkan merinding saat melihat mayat-mayat tumbal itu"


" aku juga, kerajaan Mystick kini jauh berbeda dari sebelumnya. Semoga Putri Valmira bisa kembali kemari"


percakapan para prajurit kerajaan dapat di dengar jelas oleh Valmira. Wanita itu akhirnya tau jika dia sudah sampai di kerajaan Mystick. Dia mencoba mencuri pandang, dan melihat para prajurit itu membawa gerobak yang berisi tumpukan mayat dengan kondisi tubuh kering kerontang. Mereka membawa masuk ke dalam sebuah gua yang berada di jauh dari sana.


Valmira menutup mulutnya saking tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Sangat kejam dan tidak punya hati.


Wanita itu menunggu disana sampai para prajurit keluar dengan gerobak yang sudah kosong. Saat mereka sudah jauh, Valmira berjalan mendekati gua tersebut. Dia ingin tau seberapa banyak wanita yang sudah menjadi korban.


" astaga, ini benar-benar sulit di percaya" lirih Valmira saat melihat tumpukan mayat dengan jumlah yang banyak di bawah gua. Mayat-mayat itu memiliki kondisi yang sama. Kurus kering seakan darah mereka habis tak bersisa. Inilah alasan mayat itu tidak menimbulkan bau. selain karena darah mereka yang habis, mereka juga di buang di dasar gua.


Tak ingin berlama-lama melihat pemandangan mengerikan itu, Valmira segera keluar dari sana.


" huek Huek" Valmira langsung muntah, bagaimana ada manusia yang tega melakukan ini semua.


Valmira berjalan menjauh dari pantai itu. sampai berakhir di sebuah hutan tak jauh dari pantai. Dia memang ingin bersembunyi, karena Valmira melihat bangunan kerajaan tak jauh dari tempat dia terdampar. Dan jelas penjagaan disana semakin ketat, Valmira harus memulihkan diri dan menghindari kawasan kerajaan.


wanita itu terus berjalan sampai di tengah hutan, tak lama menemukan sebuah bangunan kayu seperti sebuah pondok. Dari luar tempat ini terlihat cukup terawat, Valmira memberanikan diri untuk masuk dan mengetuk pintu.


tok tok tok


" ada orang?"


Valmira menatap kesana kemari, dari belakang terlihat asap menggumpal. Ini menandakan ada orang yang menghuni pondok ini.


tok tok tok


Valmira mengetuk sekali lagi. sampai terdengar ada suara kaki yang mendekat.


ceklek


" akk" Valmira kaget karena dia melihat senjata tajam hampir mengenainya. membuat Valmira bahkan mundur beberapa langkah sambil menutupi tubuhnya sebagai perlindungan diri.


" apa maumu?" suara wanita tua ketus langsung menyambut Valmira.


perlahan Valmira menaikkan pandangannya, ingin tau siapa yang dia temui.


" sa..saya tersesat di hutan" jawab Valmira lemah.


prang


pedang itu langsung terjatuh begitu Valmira memperlihatkan wajahnya.


" putri! astaga putri, akhirnya putri kembali. Saya menunggu disini, saya yakin suatu hari putri akan kembali" nenek tua itu dengan cepat memeluk Valmira erat. Valmira yang belum mendapatkan ingatannya hanya bisa pasrah, dia mengira jika mungkin nenek tua ini salah orang, karena tak ingin membuat kecewa, Valmira memilih untuk diam sementara.


" mari masuk putri keadaan diluar sangat berbahaya" nenek tua itu langsung menarik tangan Valmira masuk ke rumahnya. Dan mempersilahkan duduk di kursi kayu.


" bagaimana kabar putri ? kerajaan sudah jauh berbeda. Violet mengembangkan sihir hitam dan membuat penduduk menderita. Kita harus bisa membunuh Violet agar penderitaan ini hilang dari kerajaan" jelas nenek tua itu. Valmira mengerti maksud dari membuat rakyat menderita, dia baru saja melihat tumpukan mayat yang mengerikan. Itu sudah menandakan jika pemimpin kerajaan jelas melakukan praktik sihir hitam.

__ADS_1


" putri kenapa rambut anda menghitam? apa kekuatan putri menghilang?"


nenek itu seakan tidak memberi kesempatan Valmira untuk berbicara. Dia terus bercerita dan melemparkan pertanyaan tiada habisnya.


" nenek tenang dulu. aku akan menjelaskannya"


" putri, anda tidak mengenali saya?. saya Pelayan pribadi bibi anda, Ratu Amanis" belum juga Valmira menjelaskan, nenek tua ini sudah menyadari jika Valmira memang tidak ingat, putri Valmira tidak mungkin memanggilnya dengan sebutan nenek.


" saya buka putri yang anda maksud, saya Alora. Saya terdampar disini dan kini mencari pertolongan" jelas Valmira.


nenek tadi terdiam lama sambil mengamati wajah dan tubuh Valmira.


" tidak, anda adalah Putri Valmira. Violet pasti sudah melakukan sesuatu pada anda sehingga anda kehilangan ingatan" jelas nenek, membuat Valmira semakin tidak nyaman.


" tidak saya Alora, bukan Valmira"


" putri jangan khawatir saya akan berusaha membuat anda mengingat jati diri anda. rakyat Mystick sudah menantikan kehadiran anda sudah lama" nenek tua itu sangat yakin dengan penilaiannya. Dia tidak mungkin salah, wajah Valmira tercetak jelas dalam ingatannya. Dia tidak sedang salah mengenali orang.


" saya khawatir nenek akan kecewa"


" tida putri, saya yakin sekali jika adalah putri Valmira kami"


akhirnya sejak hari itu, Valmira tinggal bersama nenek tua itu di dalam hutan. segala kebutuhan di penuhi termasuk penjagaan kehamilannya. Karena serangkaian kejadian berbahaya yang telah Valmira lalui, kehamilannya menjadi lebih cepat bertumbuh. energi sihir di tubuh Valmira berputar lebih cepat dari normal. Perutnya selalu merasakan sakit.


Hingga suatu pagi, di kehamilannya yang berusia 7 bulan, perut Valmira mengalami kontraksi yang parah.


" nenek..ahh.. perutku.. nenek!" Valmira menahan sakit tak kala saat sedang mengangkat bahan makanan perutnya terasa kencang dan sakit.


" iya putri" meski dengan tubuh yang terlihat tua, nenek tersebut masih begitu lincah melakukan aktifitasnya.


" nenek perutku sakit sekali" jawab Valmira, dengan bahan makanan yang sudah tercecer di tanah.


" astaga, air ketuban anda sudah pecah. Mari saya bantu ke kamar"


Valmira berusaha mengumpulkan tenaga untuk berjalan ke kamar yang letaknya tidak jauh dari dapur.


" nenek! sakit sekali" Valmira tidak kuasa menahannya. Meskipun seorang penyihir namun saat melahirkan tidak ada bedanya dengan manusia biasa. rasa sakit dan perjuangannya tetap akan sama.


" sebentar putri saya akan mengambil kain serta air hangat. putri tahan terlebih dahulu" nenek itu terlihat sangat panik dan cemas. Dia belum pernah membantu persalinan sebelumnya, meskipun dalam pelajaran pelayan dia sempat mengetahui beberapa teknik serta cara mengurus bayi yang baru lahir.


" akkkk.. sakit" Valmira terus berteriak merasakan perutnya yang seakan ingin di sobek. nenek belum juga kembali. tapi Valmira sudah tidak bisa menahan.


" akkk"


" akkk"


Valmira terus mengejan bakhan tubuh bagian atasnya sampai melekung ke atas.


" aakk"


ooooeeekkk oooeekk


suara nyaring meleking saat nenek tua masuk ke kamar. Valmira masih tersengal-sengal lelah dengan nafas tidak beraturan.


" putri, bayi anda sudah lahir" nenek itu segera mengambil dan menyelimutinya dengan selimut.


tenaga Valmira benar-benar habis, hanya bisa menatap dengan tatapan sayu.


" dia laki-laki yang tampan" nenek itu meletakkan bayi tersebut di atas dada Valmira. Dan dengan cepat bisa menemukan sumber makanannya.


" putri sangat beruntung, bayi anda sangat sehat tidak kurang apapun" nenek itu bahkan menangis karena masih di berikan kesempatan bisa membantu putri Valmira melahirkan.


" iya," lirih Valmira sambil mengelus bayi yang masih merah itu. Dia langsung teringat dengan Gyan, ayah dari bayinya. lelaki itu pasti sangat senang jika mengetahui jika anaknya sudah lahir dengan selamat.


Sayangnya kesadaran Valmira tidak berlangsung lama. Wanita itu menutup matanya akibat kelelahan setelah melahirkan.


" putri" panggil nenek itu, dan dia bernafas lega setelah mengecek jika Valmira hanya pingsan. Nenek itu kemudian mengambil bayi Valmira untuk di bersihkan menggunakan air hangat.


Saat tengah malam Valmira baru saja tersadar. tubuhnya sudah di bersihkan dan di ganti baju. tak lupa dengan bayinya yang menangis di sampingnya.


" emm, kau lapar?" ucap Valmira mencoba menggendong bayinya.


Nenek di luar terdengar suara Valmira segera masuk ke kamar.


" putri anda sudah sadar, mari saya bantu" nenek mengambil bayi Valmira yang memberikannya untuk di susui.


Valmira menatap bayinya dengan haru, seakan tidak percaya dalam waktu singkat dia bisa sudah memiliki bayi.

__ADS_1


" putri sudah memilih nama untuk bayi anda?"


" belum, aku belum memikirkannya"


Valmira mengelus bayinya sekali lagi, dilihat bayinya begitu rakus. Membuat Valmira menarik sudut bibirnya. sangat senang.


" saya akan mengambilkan makanan untuk putri" nenek keluar dari kamar. Valmira terus melihat anaknya senang. Dia sama sekali tidak bisa mengungkap bagaimana menjelaskan rasa senangnya.


" ibu tidak tau nama yang bagus untukmu. apa kau bisa menunggu sampai ibu bisa menemukan nama yang bagus?"


genggaman bayinya semakin kuat, membuat Valmira seakan mengetahui jika bayinya menyetujunya.


......................


Sepekan berlalu setelah pertemuan Ratu Prysona dengan para penyihir. Mereka kini bertemu kembali di tempat yang sama.


" yang mulia kami sudah berupaya semaksimal mungkin. Penyihir Garamantian tidak terang-terangan menolak tapi mereka juga tidak membuka jalan. Jika kali ini tidak bisa membuka portal, kami sangat menyesal" ucap ketua penyihir penuh penyesalan.


" tak apa, Aku yakin kita akan berhasil" ucap Ratu.


tak lama ketiga penyihir itu membuat formasi. Sang Ratu lalu berdiri di salah satu lokasi yang sudah di siapkan.


mereka segera merapalkan mantra, cahaya mulai terlihat dan Ratu Prysona segera mempersiapkan diri.


" kami akan mengatur agar Yang mulia bisa sampai di depan istana kerajaan "


" bagus"


energi sihir mulai terkumpul, mendadak lubang dimensi mulai tercipta.


Sedangkan di halaman istana Garamantian, Gyan sudah bisa merasakan adanya aura sihir di istananya. Dia segera mendekat pada sumber sihir tersebut.


" apa yang kalian lakukan?" tanya Gyan saat lubang dimensi Prysona terbuka.


" yang mulia," sanjung Ratu Prysona, dia kaget saat kehadirannya sudah di ketahui oleh Raja Gyan.


" ada urusan apa? ingin menyerangku?" tanya Gyan sentimentil. Dia mendadak berubah dingin dari terkahir kali mereka bertemu. membuat Ratu Prysona langsung segan dan takut.


Ratu Prysona masuk kedalam potal agar bisa lebih leluasa berbincang dengan Gyan.


" maafkan kedatangan kami yang begitu lancang, saya secara pribadi meminta agar yang mulia memaafkan kerajaan Prysona. Saya mohon jangan hancurkan kami" Ratu Prysona benar-benar menurunkan harga dirinya. wanita itu bahkan nekat bersimpuh di depan Gyan. Bahkan para penyihir sampai kaget dengan keputusan yang Ratu ambil.


" seharusnya kau bersimpuh di depan suamimu dan memintanya agar meminta maaf padaku, bukan malah mengancam dan memulai perang" jelas Gyan


" ampun Raja Gyan. Raja Prysona saat ini sedang lupa diri. Saya sudah meminta berkali-kali. Saya hanya ingin suami saya selamat"


" suamimu yang mencari mati, kenapa malah memintaku untuk menyelamatkannya? bertemu denganku seperti ini tidak akan mengubah apapun. Selama Prysona mengirimkan pasukan, Garamantian akan melawannya dengan senang hati"


Seketika Ratu Prysona langsung pupus harapan. Ucapan Raja Gyan sama sekali tidak salah. Pihak yang memulai semuanya adalah Prysona.


Ditengah percakapan itu, seseorang yang sudah mengintai dari awal kini mulai beraksi. Dia keluar dari persembunyian dan bersiap memberikan serangan.


crushh


sebuah sihir melayang masuk ke portal dan menuju ke Gyan. Dengan cepat Gyan melihatnya dan menarik Ratu Prysona.


serangan itu mengenai tanah dan langsung terbakar menyisakan bekas hitam yang panas diatas tanah.


" kalian sangat menjijikkan, menggunakan taktik kotor untuk melawanku, cih"


Ratu Prysona terkejut tidak menyangka, jika pertemuannya di ketahui oleh Shana.


" kau tidak akan mengira bukan, raja Gyan. Aku sudah sangat ingin membunuhmu" ucap Shana. semakin maju mendekati lubang.


" putri!" Ratu Prysona segera menghalangi jalan putrinya.


" kau jangan semakin membuat keadaan semakin kacau!" lanjut Ratu lalu masuk ke portal Prysona agar para penyihir bisa menutupnya.


Gyan tanpa merasa khawatir hanya dia melihat interaksi ibu dan anak yang tidak sehat.


" tidak ibu, Raja Gyan sudah memfitnah ku melakukan sihir hitam"


" tidak kau kembali" Ratu Prysona mulai mengeluarkan sihirnya untuk menakuti anaknya.


" segera tutup!" perintah Ratu pada para penyihir.


tak ingin kehilangan kesempatan, Shana segera mengirimkan serangan sihir hitam untuk Gyan, sayangnya Ratu Prysona mengetahuinya dan dengan terpaksa menghalanginya.

__ADS_1


" akkk" sihir hitam mengenainya. Shana langsung ketakutan. Di saat bersamaan portal dimensi itu tertutup.


" ratu!" teriak para penyihir bersamaan.


__ADS_2