
" apa? Selir Agung? bagaimana bisa?" tanya Shana dengan nada tidak percaya. Dia sudah kecewa dengan penyelenggaraan acara yang terbilang sederhana. Kini kabar ketidakhadiran Yang mulia Raja membuat semangat Shana menghilang. Bagaimana bisa acara penobatan ratu sama seperti seremonial pemberian status selir Agung. Ini sangat merendahkan dirinya secara tidak langsung.
" iya putri, Selir Alora saat ini memegang status tertinggi dalam Harem Raja" jelas Ibu Suri dengan wajah senang.
" ayo kita mulai" Raveena mengajak semua tamu undangan untuk berdiri, Acara segera di mulai. Meski dengan perasaan dongkol Shana tetap mengikuti semua alur dengan tenang.
Sampai akhirnya prosesi penobatan sudah selesai. Valmira selaku tamu undangan khusus berdiri berdampingan dengan Ibu Suri setelah memakaikan mahkota khusus untuk Shana. Par Selir melihat dengan wajah datar. Saingan mereka cukup berat, Ada selir Alora dengan kecantikan hakiki dan Ratu Shana dengan kemampuan yang tinggi. Sama sekali tidak ada celah untuk menerobos perhatian Raja.
" selamat Ratu Shana" ucap Valmira setelah acara selesai. Valmira menemui Ratu Shana secara pribadi dengan datang ke tempat duduknya.
" terimakasih selir, setelah ini kita bisa saling membantu" jawab Shana penuh niat jahat.
" tentu saja, saya perlu belajar banyak dari anda" sanjung Valmira. Dia tau jika Ratu Shana berasal dari keluarga yang terhormat. pasti banyak hal yang di kuasi wanita itu.
" itu sudah pasti" jawab Shana sombong. Dia tidak akan membantu apapun yang berkaitan dengan selir ini.
" baikan, saya tidak ingin mengganggu lebih lama. Saya pamit undur diri" ucap Valmira lalu melangkah pergi.
" selir" panggil Farfalla menghentikan langkah Valmira.
" iya putri" jawab Valmira pelan. Kali ini Valmira tidak memberikan salam, dia sudah tau peran dan kedudukan dari statusnya.
" em, kau cantik sekali" ucap Farfalla yang mulai menerima Valmira. Meksi awalnya dia ke makan hasutan Shana, kini Farfalla bisa menilainya sendiri. Wanita yang pernah jadi pelayan itu tidak pernah melakukan hal buruk yang membuatnya pantas di rendahkan.
" terimakasih putri, anda juga cantik" balas Valmira ramah.
" apa semua ini adalah pemberian Raja?" tanya Farfalla memastikan.
" anda benar, semua ini pemberian Raja. Saya sangat berterimakasih dan berencana menemui yang mulia setelah ini" jelas Valmira mengutarakan niatnya.
" begitu, jika aku sekalian ikut bagaimana?"
" boleh saja putri, saya malah senang jika ada yang mau menemani. mari" balas Valmira tanpa keberatan.
" ayo" jawab Farfalla.
Keduanya berjalan bersama, mereka tidak tau saja jika percakapan mereka juga di dengar oleh orang lain, yang saat ini bertambah panas hatinya. Tak lain adalah Shana. Mendengar barang pemberian yang mulia Raja, sontak membuat emosinya meluap. Gyan sama sekali mengabaikannya selama ini namun bisa- bisanya Selir Alora mendapat perhatian Gyan dengan mudah.
" kau lihat saja nanti, Alora" gumam Shana penuh niat busuk.
__ADS_1
Dua wanita cantik berjalan menuju istana Raja, Gyan beruntung dirinya sudah berada di istana tak kala penjaga mengumumkan kedatangan tamu.
" Suruh Selir Alora menjauhi istana sementara waktu" perintah Gyan, Hal ini tak lain karena cincin Gayde yang dia berikan.
" anda yakin yang mulia, selir datang mengenakan gaun dari anda" balas Aden yang merasa jika Gyan akan rugi jika tidak melihat penampilan mengesankan dari selirnya.
" kalau begitu ambil amankan cincin itu semetara waktu" pesan Gyan yang tergugah akibat ucapan Aden.
" baik yang mulia" Aden segera melaksanakan tugas.
" yang mulia" ucap Valmira dan Farfalla bersamaan.
Sesuai bayangannya, Valmira terlihat begitu menawan di mata Gyan. Lelaki itu dengan tanpa sadar menatap Valmira dengan tatapan kagum. Sayangnya aksi ini dengan jelas di saksikan oleh adiknya, Farfalla.
" kakak" panggil Farfalla menyadarkan Gyan. Valmira masih menunduk sebelum Gyan memberikan balasan.
" ah ya, kalian bisa duduk" jawab Gyan dengan sedikit kebingungan. Valmira dan Farfalla duduk di sofa ruang depan.
" maaf mengganggu waktu yang mulia, saya kemari ingin menyampaikan rasa terimakasih sudah memberikan banyak hadiah kepada saya" jelas Valmira dengan wajah tenang.
" tidak masalah" jawab Gyan datar, dia menyembunyikan rasa tertariknya pada Valmira. Disisi lain Farfalla dengan intens mengamati sikap kakaknya yang sedikit janggal. Lelaki itu tampak tidak mengalihkan pandangannya dari wajah ayu selir nya.
" kau kan bisa langsung minta ke ibu suri" jawab Gyan datar, tidak mudah membuat Gyan terjepit dalam sebuah pernyataan.
" kaka selalu saja begitu, tapi sama Alora begitu perhatian" rajuk Farfalla, membuat Gyan sedikit malu mendengar pengakuan adiknya.
" Selira Agung, Farfalla" koreksi Gyan pada penyebutan nama Alora. Lelaki itu tidak mau terlihat konyol jadi langsung memberikan nasihat.
" jika tidak ada hal lain selain merajuk kau bisa pergi dari sini" lanjut Gyan dengan nada datar, tapi memaksa. Farfalla semakin yakin jika ada yang tidak beres dengan sikap kakanya.
" baiklah. baiklah" Farfalla mengalah dengan kesal.
" saya juga..."
" kau tetap disini" potong Gyan cepat.
" aku pergi" saut Farfalla beranjak pergi.
Gyan menatap adiknya sampai wanita itu pergi dari istananya.
__ADS_1
" bagaimana pendapatmu dengan naiknya Shana menjadi Ratu?" tanya Gyan ingin menguji Valmira.
" saya tidak berani menilai, yang mulia. Semua ini adalah perintah anda" jawab Valmira menghindar.
" aku juga penyuruhmu menilai, jadi bagaimana menurutmu?" tanya Gyan sekali lagi.
" em, mungkin Ratu Shana wanita yang cocok menduduki status Ratu" jawab Valmira mencari aman.
" apa kau tidak khawatir?" Gyan terus mengejar jawaban Valmira, setidaknya sampai jawaban yang diinginkan dia dengar.
" apa yang harus saya khawatirkan, selama yang mulia bisa bersikap adil tentu tidak akan terjadi masalah" jawab Valmira tenang, sedangkan Gyan tersenyum singkat. Selirnya semakin pandai berbicara, semua jawaban itu sama sekali tidak menyudutkan ataupun menyalahkan.
" kau sangat pintar Alora" puji Gyan senang. Selalu saja Valmira bisa membuat suasana hatinya membaik.
" terimakasih yang mulia, ini hanya kebetulan saja" Valmira tetap merendah.
" makan siang lah disini, sebentar lagi pelayan akan datang" ajak Gyan tak ingin berpisah dengan Alora.
" em. saya.."
" aku memaksa, Alora" Gyan tak ingin ada penolakan. lelaki itu menatap Valmira dengan penuh penekanan. membuat Valmira tak bisa berkutik dan akhirnya mengangguk ringan sebagai jawaban jika dia menyerah.
Dan benar saja, beberapa saat setelahnya pelayan istana datang. Mereka menyiapkan makanan di ruang kamar. Raja Gyan sendiri yang meminta, jadi mereka hanya menuruti.
" kemari lah" ajak Gyan kepada Valmira untuk masuk ke kamar. Disana hidangan sudah menanti.
" kita makan dulu" Raja Gyan menarik tangan Valmira dan memeluk pinggang wanita itu. Menggiringnya menuju tempat duduk. Valmira duduk dengan tenang, Gyan terdiam sejenak menatap Valmira. Wanita ini seakan membuatnya kesusahan mengatur nafasnya.
" Alora" panggil Gyan yang masih berdiri di samping tempat duduk Valmira. membuat Valmira yang mendengar panggilan itu, otomatis mendongakkan wajahnya.
" iya yang mulia" jawab Valmira lembut.
Gyan menangkup wajah cantik Valmira, mengelus pelan pipi putih itu. Valmira menyadari sesuatu, Raja Gyan semakin mendekat. membuat wanita itu mulai manarik diri, tapi sayangnya Gyan tak ingin melepaskannya. Raja Gyan menarik wajah itu dan mempertemukan bibir mereka. Tak hanya itu, Gyan menarik tubuh Valmira agar berdiri lagi, tangannya menahan pinggang dan membuat tubuh mereka bertubrukan.
Valmira tak bisa menolak, Gyan menahan tengkuknya membuat ciuman itu berlangsung sangat lama. Valmira memukul lengan Gyan, dia kehabisan nafas.
" yang..mu..lia" tolak Valmira sambil menolehkan wajahnya. Raja Gyan tak ingin menyiakan leher mulus itu. Selagi Valmira memalingkan wajah untuk mengambil nafas. Lelaki itu menciumi leher Valmira yang terbuka.
Valmira merasakan benda kenyal itu membasahi sepanjang lehernya. Valmira menyesal mengiyakan ajakan makan siang Gyan. Dia tidak tau jika lelaki ini akan melakukannya hal ini lagi. Seharusnya dia bisa mengira saat Gyan meminta pelayan menata makan siang di dalam kamar. Dasar bodoh kau. rutuk wanita itu.
__ADS_1