Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Mengenang


__ADS_3

Setelah berhasil menidurkan G yang masih terkena demam, Valmira berjalan keluar dari kamar. Saat ini dia tinggal di istana Raja. Gyan memaksanya pindah karena lelaki ini tidak bisa membiarkan Valmira menjaga G sendirian. Gyan juga tidak bisa mondar mandir mengecek karena kondisinya juga tidak dalam keadaan sehat.


" dimana Gyan?" tanya Valmira pada Aden yang berjaga di luar.


" yang mulia berada di ruangan sebelah, saat ini jadwal tabib memeriksa dan minum ramuan" jawab Aden dengan menunjukkan ruangan yang di maksud.


Karena penasaran Shana akhirnya berjalan pelan agar langkahnya tidak terdengar. Wanita itu cukup penasaran sebenarnya Gyan sakit apa. Sedangkan di belakang Aden memang sengaja memberitahukan agar Valmira tau kondisi Gyan yang sebenarnya.


" yang mulia tidak bisa hanya menahan energi gelap ini menggunakan ramuan. Saya kira mungkin yang mulia akan melakukan pemulihan diri agar energi tubuh anda semakin membaik" jelas tabib.


" memang benar yang kau katakan. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk memulihkan diri"


" yang mulia, mau kapan lagi. Apa mungkin, sebenarnya yang mulia yang tidak mau meninggalkan G dan Selir yang baru saja datang?"


" aku sudah merasa jika waktuku mungkin tidak banyak, aku hanya tidak mau menyia-nyiakan waktu dengan menjauh dari mereka. Setidaknya dengan begitu aku bisa pergi dengan tenang"


" yang mulia jangan berkata seperti itu, saya yakin yang mulia pasti akan kembali pulih"


" energi ini sudah mulai menggerogoti inti jiwaku. Kutukan yang Shana berikan memang tidak sepenuhnya aku terima. Tapi semakin kuat dan bertambahnya energi hitam dalam tubuhnya, kutukan ini juga bertumbuh semakin kuat"


" berarti jalan satu-satunya adalah membunuh Shana, agar yang mulia bisa terhindar dari kutukan itu"


" jika dilihat dari kondisiku saat ini tentu aku tidak mampu membunuhnya"


" bagaimana dengan selir Alora. maksud saya Ratu Valmira. Banyak desas desus yang mengatakan jika Ratu adalah putri kandung Marilla. Kekuatannya saat menghadapi Shana kemarin juga sangat besar"


" aku tidak mau Valmira dalam bahaya. Sebaiknya dia kembali ke Mystick, masuk ke tabir pelindung Marilla"


" tapi bagaimana dengan anda dan kerajaan Garamantian?"


" ini bukan tanggung jawabnya. Aku ingin istri dan anakku selamat" ucap Gyan dengan raut sedih. Sangat berat meninggalkan Valmira dan G. tapi mau bagaimana lagi, tempat teraman memanglah kerajaan Mystick untuk saat ini.


Valmira mendengarkan semuanya dengan perasaan kacau. Sebenarnya dia tidak terlalu menganggap serius perasaan Gyan, tapi ucapan itu terasa mencubit hati nuraninya. Dia tidak tega meninggalkan Gyan, mungkin inilah alasannya Gyan beberapa kali memintanya kembali ke Mystick. Lelaki itu hanya ingin melindunginya.


Valmira duduk di tepi ranjang sambil menatap kosong G yang sedang tertidur. Bayi kecilnya ini hanya bisa tidur nyenyak jika berada di ruangan yang memiliki aroma ayahnya. Mungkin anaknya bisa merasakan jika ayahnya tidak bisa bertahan lebih lama.


" apa yang kau lamunkan?" tanya Gyan yang baru saja masuk.


" eum.. tidak ada"


" apa G masih tertidur?"


" iya, dia tidur dengan nyenyak disini"


" baguslah"

__ADS_1


Gyan duduk di sofa yang jauh dari ranjang.


" kau tau penyihir Arghi terkenal dengan sihir penyembuhnya?"


" kenapa? kau ingin menyembuhkan luka ku?" tanya Gyan yang hanya berbasa basi saja.


" mungkin aku bisa memeriksanya dulu"


Valmira berdiri dan mendekati Gyan. Lelaki itu sedikit kaget dengan respon yang Valmira berikan. Tumben sekali wanita ini tidak ketus atau menolak berdekatan dengannya.


" tidak usah aku hanya bercanda" Gyan menolak halus sambil mencoba menyingkir.


" duduklah jangan meremehkan kekuatanku" cegah Valmira dan menahan bahu Gyan. Lelaki itu mendongak menatap Valmira dalam. Apa yang salah dengan wanita ini. Biasanya berdekatan saja tak mau, kini malah dengan berani menyentuh tubuhnya.


" kau mulai perhatian dengan ku" lirih Gyan menggoda Valmira agar wanita itu risih dan mengurungkan niatnya untuk memeriksa tubuhnya.


" anggap saja seperti itu" balas Valmira enteng. Gyan semakin merasa aneh dan gusar sendiri.


" tidak usah" tolak Gyan. dia tidak mau Valmira mengetahui keadaan tubuhnya yang memburuk.


" sudah jangan menolak" Valmira semakin tegas.


hap


Valmira tak terganggu sama sekali, wanita itu malah menempelkan tangannya di dahi Gyan. Tampaknya usaha Gyan sia-sia.


" lepaskan tidak usah" Gyan menepis pelan tangan Valmira dan langsung berdiri.


" kenapa? aku sudah tau semuanya. Jangan menutupinya lagi"


Gyan terdiam dan Valmira berada tepat di hadapannya. istrinya kini adalah Ratu kerajaan, dia bukan lagi wanita lemah yang bisa di bohongi.


" kalau begitu periksalah dengan cara ini"


Gyan memegang kepala Valmira, membuatnya mendongak ke arahnya dan dengan cepat menempelkan bibirnya pada benda kenyal yang sama.


Valmira tidak menyangka lelaki ini begitu berani, dia berusaha menarik kepalanya, mendorong dada Gyan tapi semuanya tidak berhasil.


mendadak ingatan Valmira mengenai Gyan kembali beberapa. Khususnya yang berkaitan dengan sentuhan fisik seperti yang sedang terjadi.


Tak sadar ciuman itu berlangsung cukup lama, bahkan Gyan sudah berpindah menciumi leher dan wajah Valmira. Karena Valmira juga sedang tidak fokus dengan Gyan melainkan karena pikirannya yang sibuk dengan beberapa ingatan yang baru kembali, Valmira hanya diam saja. Valmira tidak bisa membedakan mana yang kenangan dan mana yang bukan.


Sampai tidak terasa Gyan sudah membaringkannya di atas ranjang. lelaki itu semakin ganas menciumi wajah serta leher Valmira. kini mulutnya semakin turun berbarengan dengan remasan kecil di gundukan dadanya.


kini Valmira sadar, tepat sebelum Gyan meloloskan gaunnya.

__ADS_1


" hentikan" lirih Valmira dengan suara yang serak.


Gyan masih dipenuhi gairah jadi dia terus menciumi leher dan bahu Valmira.


" sudah..." Valmira mendorong pelan dada Gyan, agar lelaki itu menghentikan aksinya. Namun sulit sekali menyadarkan Gyan dari nafsunya.


" emmm" Gyan membungkam bibir Valmira, wanita itu tidak bisa mengatakan penolakannya. Hanya menunjukkan lewat dorongan tangan dan tubuh yang memberontak.


" sudah hentikan" ucap Valmira sedikit keras tak kala ciuman itu terhenti sejenak. tatapan mereka bertemu, dan hal ini dengan cepat menyadarkan Gyan jika dia sudah terlalu melewati batas.


" maafkan aku, apa aku membuatmu takut?" Gyan mengelus rambut Valmira dengan posisi masih menindih wanita itu.


" ini terlalu cepat" jawab Valmira sambil sedikit memalingkan wajah agar tatapan mereka terputus.


Gyan menyadari rasa tidak nyaman Valmira, lelaki itu beranjak dari tubuh Valmira.


" maafkan aku" ucapnya pelan di samping ranjang. Dan berlalu pergi. Valmira ingin menahannya dan mengatakan jika beberapa ingatan miliknya sudah kembali, tapi bibirnya kelu. Dia hanya menatap kepergian Gyan dalam diam dengan perasaan bersalah.


.....................................


Di sisi lain Shana baru saja selesai dengan aktivitas panasnya dengan Raja Glorantha. Semenjak bersama dengan Douglas dia menjadi wanita yang cukup menyukai aktivitas seperti ini. Dan kini terbawa dan menjadi kesenangan barunya. Berhubung Raja Glorantha masih muda dan tampan, Shana akan memanfaatkannya dengan baik.


" kau lumayan juga, aku suka " ucap Shana sambil mengambil gaunnya. Sedangkan Raja Glorantha masih polosan di atas ranjang. Energi murninya terserap ke tubuh Shana lewat hubungan badan itu. Jadi tak heran dia menjadi lemas sekarang.


setelahnya Shana kembali ke Prysona, dia hampir saja melupakan pusaka terlarang itu. Semenjak melihat gambar giok tersebut Shana jadi yakin jika selama ini Douglas hanya memanfaatkannya. Rasa kehilangan atas tewasnya Douglas sudah menghilang berganti dengan rasa kesal dan benci karena baru bisa menyadarinya sekarang.


" yang mulia" ucap pelayan kamar mendapati Shana yang keluar dari kamar.


Shana sama sekali tidak menggubris, dia terus berjalan menuju ruangan khusus harta kerajaan Prysona. Dia ingat jika dulu ada benda yang sepertinya terlihat sama dalam sebuah buku kerajaannya dengan gambar di lembaran milik Douglas.


Shana mencari lukisan serta berbagai foto dan buku yang terpanjang di sana. Shana tak perlu kesusahan karena di dalam sana jumlah buku ataupun lukisan sangat sedikit. wanita itu menelusuri dan akhirnya ketemu.


" sudah aku duga, aku tidak pernah salah. pusaka ini memang berada di kerajaan Prysona" lirihnya senang.


" pantas saja Douglas begitu tertarik membantuku, nyatanya dia sudah memanfaatkan ku. Dia memang pantas untukbmati " ucap Shana setengah kesal jika mwngingat Douglas.


Shana membawa buku itu keluar sambil bersenandung pelan. Sebentar lagi dia akan menjadi penyihir terhebat yang pernah ada di Azerbaza.


Begitu sampai di kamar, Shana duduk sambil membuka lembar demi lembar halaman. Sampai menemukan detail mengenai Giok kekekalan serta kemungkinan di mana benda itu di tanam.


" ketemu" ucap Shana senang.


Berdasarkan hasil perang besar yang terjadi beberapa waktu silam, memang lokasi pusaka itu sangat rahasia. Namun kerajaan Prysona memiliki informasinya karena dalam perang itu pihak yang paling licik adalah pendiri kerajaan Prysona. Ada beberapa ciri yang nampak jika area tanah menunjukkan beberapa karakteristik.


" aku akan mencoba mencarinya" Shana sudah memikirkan beberapa tempat yang mungkin masuk dalam kriteria umum tanah yang menyimpan pusaka terlarang ini. Shana akan memulai penggalian besok hari. Tak perlu menunda lagi. Begitu mendapatkan giok tersebut. Dia akan langsung menantang Valmira dan membunuh Gyan. mereka berdua harus mati di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2