Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Kepulangan


__ADS_3

Emrick kembali ke kamarnya, dia akan melanjutkan pekerjaan terutama mengenai masalah perbatasan yang mulai kacau.


tok tok tok


pintu ruangannya di ketok.


" masuklah" teriak Emrick, dia yakin jika seseorang itu adalah pengawalnya.


" yang mulia" Dan benar pengawalnya masuk.


" ada informasi apa?"


" seseorang yang mencari tau mengenai Kantata sudah kembali"


" suruh dia menghadap?"


" baik yang mulia"


tap tap tap


tak lama suara langkah kaki masuk.


" yang mulia"


" apa yang kau dapatkan"


" saya sempat pergi ke Garamantian namun di cegah masuk oleh para penjaga, saya memanfaatkan hal ini untuk bertanya pada mereka. Ternyata penjaga sangat mengenal tuan Kantata, dia adalah bangsawan terkenal dengan kedalaman ilmu pengetahuan nya. Beberapa mengatakan jika Tuan Kantata sangat mahir menyelesaikan masalah dan dekat dengan keluarga kerajaan. Bahkan sempat akan menjadi calon suami dari putri Farfalla. keberhasilan tuan..."


" tunggu? apa calon suami? maksudnya bagaimana?"


" iya yang mulia, tuan Kantata di pilih ibu suri dan Raja Gyan untuk menjadi suami putri Farfalla. Tapi kemudian putri pergi ke Uthaman "


" jadi mereka sudah merencanakan pernikahan? itulah alasannya mereka bisa dengan cepat menikahkan aku dan Falla" lirih Emrick.


" sudah kau bisa pergi"


" baik yang mulia"


lelaki itu keluar, Emrick tidak bisa berfikir apapun, istrinya di jodohkan tapi pergi, bukankah itu artinya jika dia tidak setuju. Tapi kini lelaki itu dekat dengannya.


" Falla pasti goyah, dia pasti tertarik dengan Kantata setelah mengetahui bagaimana sikap dan kinerja lelaki itu..aku tak bisa membiarkannya begitu saja. Dia harus menjauh dari Falla" Emrick akan menjaga istrinya. Jangan sampai lelaki itu membuat Falla berpaling.


Sore harinya Emrick datang ke kamar Falla. Wanita itu pasti masih sedih dengan kepergian Raja. kesempatan ini harus bisa dia manfaatkan untuk menarik perhatian Falla.


" yang mulia ..." ucap pelayan


" Falla di mana?"


" nyonya seharian ini hanya di kamar. dan banyak melamun yang mulia" ungkap pelayan pribadinya.


Emrick mengerti, dia masuk ke kamar.


" ehem.." Falla yang awalnya menatap jendela kini langsung menoleh ke arah suara.


" Adipati.." Falla turun dari ranjang. Dan menyambut kedatangan Emrick.


" kenapa kau melamun? masih sedih. jangan lupa kau masih memiliki aku.." Emrick mendekati Falla ingin memeluk wanita itu. Tapi Falla mengambil langkah mundur.


" bagaimana jika aku bawa kau jalan-jalan di sekitar. Bukankah kau tak pernah berkeliling Uthaman?"


Falla mendongak melihat keseriusan Emrick.


" sepertinya itu akan mengganggu waktu anda"


" tidak.. ayo.." Emrick menggandeng tangan Falla dan menuju ke depan.


Mereka berkuda berdua, Emrick memaksa Falla berkuda berdua Karena kondisi Falla yang masih lemah. mereka melaju jauh, Falla tak bisa menebak kemana mereka pergi dan kenapa Emrick menjadi begitu perhatian. Jika seperti ini terus, hatinya akan kembali goyah.


" turunlah" Emrick membantu Falla turun. Wanita itu menatap sekeliling. Tidak ada apapun hanya pepohonan. Emrick membawanya ke hutan.


" kita akan segera sampai" ucap Emrick melihat wajah Falla yang bertanya-tanya.


mereka masuk ke dalam hutan. Falla mau tidak mau harus terus berpegangan pada Emrick. Dia sedikit takut. Apalagi langit sudah sore jika mereka tersesat bisa jadi akan bermalam di hutan.


" tutup matamu?"


" eh, apa yang.."


" sudah tutup saja" Emrick menutupi mata Falla menggunakan sapu tangannya. membimbing wanita itu ke sebuah tempat.


" sekarang buka"


Falla membuka dan di depannya terpampang sebuah pemandangan yang belum pernah dia lihat bahkan dia fikirkan sebelumnya. Sungai luas dan jauh di sana ada air terjun yang panjang.


" indah sekali" lirih Falla


" bagaimana? apa kau suka?"


" ini indah sekali Adipati, saya sangat menyukainya.." ucap Falla sambil masih memeluk lengan Emrick. Dia lupa akan hal ini. Falla menatap sungai dan air terjun secara bergantian.


" aku senang kau ikut senang melihat ini"


" terimakasih Adipati. Anda memang yang terbaik" pujian itu dengan mudahnya membuat hati Emrick melayang. Lelaki itu menatap Falla dengan mata berbinar. Semakin dekat dan ingin mencoba rasa bibir Falla lagi.


Falla menengok karena merasakan hal aneh, tak di sangkan wajahnya sangat dekat dengan Emrick. wanita itu bisa menilai jika Emrick ingin menciumnya. Dengan cepat dia menghindar, melepaskan tangannya dan berjalan mundur. Sayangnya karena tidak hati-hati kakinya tersandung dan tubuhnya jatuh ke tanah.


" Astaga! kau tidak apa-apa Falla?" Emrick membantu Falla berdiri. Tapi karena kaki wanita itu terkilir dia tidak bisa seimbang. Falla terjatuh lagi dan bukan di tanah melainkan ke sungai yang ada di belakangnya.

__ADS_1


byuurrr.


" Falla...!"


Emrick sangat terkejut dan langsung menceburkan diri. Falla sama sekali tidak bisa berenang jadi langsung tenggelam. Sedangkan Emrick terus menggapai tangan Falla. Meraka akhirnya bisa saling bergandengan tangan. Emrick menarik tangan dan tubuh Falla ke tepian.


" uhuk uhuk uhuk" Falla batuk dengan keras. Dada dan hidungnya terasa perih. air sungai dengan mudahnya masuk.


" kau tidak apa-apa? " mereka duduk di Pinggir sungai di tas batu besar. Falla menggeleng.


" maafkan aku.." ucap Emrick merasa bersalah.


" tak .. ap..apa ..Adi.pati.." tubuh Falla menggigil kedinginan. Langit mulai gelap.


" kita segera kembali" Emrick khawatir. bibir istrinya membiru dan tubuhnya menggigil. dia harus segera menghangatkan tubuh Falla.


Dengan menggendong Falla, Emrick berjalan ke tempat dia mengikat kuda. Lelaki itu seketika menyesal kenapa tidak membawa kereta saja tadi. Tapi sudahlah semuanya sudah terjadi. Dengan susah payah Falla menaiki kuda dengan di bantu Emrick. Lelaki itu mengendarai sambil satu tangannya memeluk tubuh Falla.


" masih jauh..." ucap Emrick kebingungan. jarak mereka untuk pulang ternyata masih jauh. Sedangkan Falla terus menggigil apalagi dengan angin yang menabrak tubuhnya. Tubuhnya semakin dingin.


Emrick akhirnya menuju ke kota terdekat dan pergi sebuah penginapan.


" siapkan pemandian air hangat" ucap itu membawa Falla masuk. Orang penginapan melihat kondisi tamu penting yang sangat kasihan.


" baik Adipati"


semuanya langsung sibuk. Dan tak butuh waktu lama, mereka sudah menyiapkan pemandian.


" silahkan adipati"


Emrick menggendong Falla dan langsung masuk ke bak mandi air hangat. mengurai rambut Falla dan sedikit mengguyur kepala wanita itu dengan air hangat.


lalu mengusap wajah Falla perlahan.


" Falla.." panggil Emrick agar wanita itu sadar.


Tapi mata itu tak kunjung membuka.


Emrick memeriksa jantung dan pernafasan Falla. Semuanya normal, Keadaan mulai membaik hanya saja wanita itu masih belum Sadar.


Emrick membuka satu persatu pakaian Falla dan hanya menyisakan pakaian dalam saja, lelaki itu tidak berniat melecehkan tapi agar tubuh Falla cepat menghangat.


Tak berselang lama, setelah memastikan jika suhu tubuh Falla naik, bibirnya kembali merah dan tubuhnya tidak menggigil Emrick membawanya keluar.


setelah nya Emrick mengganti baju yang sudah di pesan sebelumnya.


" ini makanannya Adipati" ucap pelayan penginapan.


" terimakasih" ucap Emrick mengangguk pelan.


" eghh" suara dari dalam kamar.


" Falla..bangunlah" ucap Emrick lalu membantu wanita itu duduk.


" kita di mana?" tanya Falla yang masih lemah.


" kita di penginapan, jarak kediaman masih jauh jadi aku ke kota yang lebih dekat"


" emm. " Falla masih mengumpulkan kesadarannya. saat Emrick membawa meja makan yang sudah penuh dengan makanan.


Falla menatap tubuhnya yang sudah berganti dengan pakaian lain.


" ini makan lah selagi hangat"


" Adipati, siapa yang mengganti pakaian saya?"


Emrick terdiam, sambil menatap Falla.


" emm aku sendiri"


mata Falla langsung melotot, menatap tubuhnya dan Emrick bergantian.


" dengan menutup mata, aku masih menghormati mu" jawab Emrick membuat Falla merasa bersalah. dia bereaksi berlebihan. Mereka adalah suami istri akan membuat pihak penginapan curiga jika mereka di mintai tolong mengganti batu Falla.


" maafkan aku" ucap Falla menghibur Emrick yang diam saja.


" sudah .. ayoo makan"


mereka makan dengan lahab, masakan ini begitu sederhana namun lezat terasa. entahlah apa mungkin karena perut mereka yang kelaparan jadi serakah.


Selesai makan, Falla lanjut beristirahat. Dia tidak masih sedikit lemas. dia melihat Emrick duduk bersandar tak jauh dari sana.


" kemarilah" ucap Falla sambil menepuk tempat di sebelahnya.


" sungguh? kau tak akan menyesal?"


" jangan berfikiran yang aneh-aneh, kita hanya tidur. Saya masih sakit Adipati"


" siapa yang berfikiran aneh, maksudku sungguh tempatnya akan jadi sempit"


" oh"


Falla terbaring dan memunggungi Emrick. lelaki itu tersenyum puas setelah menggoda istrinya. Malam itu mereka tidur dalam satu selimut. Karena lelah mereka langsung terlelap. Dan perlahan saling mendekat dan berpelukan saling memberikan kehangatan.


.....................................


Setelah melajukan kapal menggunakan sihirnya kini Gyan sampai di Samudra Chantara. tabir pertama Marilla, Karena tabir Sudah di perbaiki dan berdamai dengan gelang Kangta. Kini saat mendekat dengan mudahnya Tabir merasakan gelang tersebut. Mendadak angin berhembus kencang, lautan terlihat berombak besar. Gyan tak mengerti dengan situasi seperti ini. Dia sedikit panik karena gelombang besar menghantam kapal nya.

__ADS_1


" apa yang terjadi?" lirih Gyan semakin erat memegang tiang kapal.


Badai datang dengan cepat, Gyan tak sempat menurunkan layar jadi kapal bergerak cepat mengikuti angin yang berhembus.


" astaga..ada apa ini?" Gyan menatap sekeliling. langit berubah gelap. tak bisa melihat sekitar. Gyan pasrah mungkin inilah sihir tabir Marilla. Kapal itu terus melaju entah kemana arah tujuannya.


Lama lelaki itu terombang-ambing di lautan badai, mungkin ada setengah hari Gya berada di bawah langit gelap. kini perlahan memudar. Air laut mulai tenang, Gyan bangun dari duduk dan menatap sekeliling. Dia masih berada di tengah lautan. Gyan menatap sekeliling, di atas sana elang Kangta sudah lebih dahulu terbang.


" apa ada daratan ?" lirih Gyan.


Lelaki itu semakin serius memeriksa sekitar. Dan benar saja beberapa saat setelahnya terlihat daratan di ujung sana.


" aku sudah sampai" Gyan bernafas lega.


lelaki itu mengeluarkan sihir agar kapal nya melaju dengan cepat menuju daratan.


Lelaki itu turun dari kapal dengan cepat dan berlari menuju pantai. Di sana tak ada siapapun, Gyan melihat sekeliling dengan nafas tersengal-sengal. Dan perlahan duduk di tepi pantai, merasakan air laut menerpa kakinya.


Gyan menikmati pemandangan laut yang indah. saat itu hari mulai sore. Warna langit dan warna laut berpadu dengan sangat apik.


" apa itu??" Gyan melihat ada yang bergerak dia sekitar pantai. Dia mendekati.


Ternyata itu adalah kumpulan duyung. Gyan tertarik mendekat lebih dekat. Tapi mendadak durung itu menarik kakinya dan membuat Gyan terjatuh di dalam air. Kini dia bisa lebih jelas menatap duyung-duyung itu. mereka menarik tangannya seakan mengajak Gyan ke suatu tempat.


ccrrsuhh


sebuah sihir membuat para duyung itu pergi. Gyan mengerutkan keningnya dan berenang menepi.


" Kangta.." panggil Gyan saat melihat lelaki tua itu berdiri dengan elang yang bersandar di pundaknya. Burung itu ternyata lebih cepat darinya.


Kangta tak senyum sama sekali, dia menatap kearah lain seakan menyuruhnya menoleh. Gyan mengikuti arah itu dan tepat di belakangnya Valmira berdiri dengan wajah kesal. Gyan berjalan mendekat dengan tangan terbuka ingin memeluk istrinya.


" Valmira..., bagaimana kabar..."


plak..


" apa yang.."


plak


pipinya memerah karena tamparan bertubi-tubi itu.


" Valmira...ini aku.."


plak..


lagi satu tamparan mendarat di pipinya. Kangta memilih pergi dari pada ikut mendapatkan amukan Valmira.


" tunggu.." Gyan mundur sejenak dengan tangan membuat simbol stop.


" ada apa??" Gyan berada jauh dari radius tamparan.


" pikir saja..kau datang dan malah bermain dengan duyung-duyung itu. apa mereka lebih cantik dariku? Lalu kenapa kau tidak ikut masuk ke portal? dan kenapa kau baru datang sekarang, hah???!!" amuk Valmira. wanita hamil itu benar-benar terbakar emosi.


" Valmira tahan emosimu, aku akan menjelaskan semuanya secara perlahan .."


" sudah pergi sana" Valmira membalikkan badan dan pergi meninggalkan Gyan.


lelaki itu mengejar dan menahan tubuh Valmira dengan cara memeluk dari belakang.


" Valmira dengarkan aku..aku sudah melakukan yang terbaik agar bisa kembali secepat mungkin..aku...tunggu perutmu buncit?"


Gyan merasa ada yang aneh dengan perut Valmira.


" kau hamil? anakku ? "


Valmira menyentak tangan Gyan dari tubuhnya.


" iya aku hamil, dengan suami pertama ku. puas..."


Gyan terdiam, dia sangat percaya dengan ucapan itu. Valmira pernah bercerita jika dia sudah memiliki suami sebelumnya.


" Valmira, tidak..aku tidak akan menerima nya. Valmira..." Gyan langsung marah, tapi terlambat Valmira sudah lebih dulu menghilang.


" Valmira! " teriak Gyan.


Kangta kembali, dia ingin sekali memukul keras Kepala lelaki ini.


" lama tak bertemu, kau semakin bodoh saja "


" Kangta...kenapa kau bisa membiarkan Valmira dengan suaminya sampai hamil. bukannya aku sudah.."


bugh


Kangta memukul kepala Gyan keras


" kenapa kalian suka sekali memukul seseorang sekarang?"


" kau memang pantas di pukul" jawab Kangta.


" aku tanya kenapa Valmira bisa hamil dengan suami pertamanya.. aku sakit hati.. bagaimana.."


" kau ini sangat bodoh sekali, suami pertamanya sudah meninggal. ck ck ck.. payah"


" lalu.."


Kangta ikut menghilang begitu saja. meninggalkan Gyan sendirian tak tau harus kemana.

__ADS_1


__ADS_2