
Sejak menjabat menjadi Ratu Mystick, tidak banyak terjadi perubahan dalam keseharian Valmira. Wanita itu selalu menghabiskan waktu dengan membaca laporan demi laporan yang masuk. Kebanyakan dari semuanya berisikan kabar baik mengenai pertumbuhan di wilayah masing-masing. Membuat Valmira bertambah tenang dan berharap keadaan ini akan bertambah baik.
" Yang mulia, tuan Kangta ingin bertemu" ucap salah satu pelayan kerajaan.
" persilahkan dia masuk"
tap tap tap
" yang mulia Ratu" ucap Kangta dengan suara lugas, hal ini menandakan jika tubuhnya memang berangsur membaik.
" bukankah kemarin kau baru saja sadar, apa ada hal mendesak yang ingin kau laporkan?" tanya Valmira sambil mengerutkan keningnya.
" saya rasa memang begitu, sebelumnya saya ingin mengucapkan permintaan maaf. Karena saya aura iblis yang seharusnya bisa di musnahkan malah menghilang entah kemana" jelas Kangta dengan perasaan menyesal.
" itu semua bukan salahmu, jangan terlalu banyak berpikir"
" yang mulia saya juga mengucapkan selamat telah menjadi Ratu kerajaan Mystick. Tidak ada yang bisa saya berikan selain kalimat ini"
" Kangta, sejak kau datang dan membantu menumpas sihir hitam kau juga menjadi bagian dari kerajaan Mystick. Tak perlu sungkan denganku. Lagi pula aku memiliki rencana untuk pergi sejenak dan mengejar aura iblis yang kabur waktu itu. Apa kau bersedia membantuku sekali lagi?" tanya Valmira bersungguh-sungguh, Kangta yang mendengarnya tentu saja merasa senang.
" dengan senang hati saya akan membantu yang mulia" ucap Kangta cepat.
" setelah keadaan lebih stabil aku akan memberi tahu keberangkatan kita. Jangan sampai aura itu terlalu lama lepas dari pandanganku" jelas Valmira
" baik yang mulia, saya akan menunggu kabar baik itu" ucap Kangta dengan perasaan lega. Dia merasa banyak sekali hutang pada Valmira, mendengar penjelasan ini tentu saja Kangta amat berterimakasih. Dengan ini dia bisa membalas kebaikan wanita itu.
Semuanya berjalan dengan lancar di kerajaan Mystick. Semua orang beriringan bahu membahu membantu kerajaan menjadi lebih baik lagi. Segala sektor diawasi menteri baru yang cekatan dan terampil. Semua elemen kerajaan menjadi pemegang tanggung jawab untuk menstabilkan keadaan kerajaan.
Lain halnya dengan kerajaan Prysona, sejak meninggalnya Raja Prysona serta kekalahan besar yang di alami kerajaan tersebut. Hari-hari di kerajaan Prysona seakan menjadi mimpi buruk bagi semua Rakyat Prysona.
__ADS_1
persembahan demi persembahan di lakukan demi memuaskan keinginan sang Ratu yang terus mengasah kemampuan sihir hitam.
" Ratu semua penyihir kerajaan sudah bertekuk lutut dengan kekuasaan Ratu. Bahkan Kerajaan Glorantha dan kerajaan Avantazia sudah mengibarkan bendera putih. Kita sudah cukup membuat kerajaan Garamantian memiliki banyak musuh" jelas Douglas dengan penuh maksud jahat.
" kau benar, sudah waktunya kita menemui lelaki bodoh itu. Aku sudah mempersiapkan ramuan kutukan terbaik untuknya"
" saya akan mengatur waktunya, agar semua kerajaan segera mengirimkan pasukan" ucap Douglas dengan penuh percaya diri.
" tahan dulu, jangan langsung menyerang. Aku ingin sedikit bermain-main dengan lelaki itu. Membuatnya takluk di bawah kakiku akan lebih mengasyikan. apalagi membuat rakyatnya melihat Rajanya tak berdaya, akan sangat menarik" usul Shana dengan senyum licik. Baginya memenangkan Gyan dengan satu lawan satu akan menjadi prestasi mutlak bahwa dia memang penyihir nomor satu.
" bukankah lebih cepat jika langsung menyerang Garamantian secara langsung?" tanya Douglas dengan sedikit memaksakan kehendaknya.
" memang tapi itu terlalu biasa, aku akan membuat rencana yang berbeda. Lagi pula berkat 2 ramuan sebelumnya aku lebih mudah menyiksa lelaki itu" balas Shana tetap pada rencananya.
" baiklah jika begitu, saya akan menyuruh penyihir lain untuk mencari celah agar bisa memasuki istana kerajaan"
" bagus, para penyihir itu harus kita manfaatkan"
Di satu sisi Gyan setiap hari harus melakukan pemulihan diri, mulai dari tenaga dalam sampai mengonsumsi ramuan obat. Energinya yang dihasilkan inti jiwa tidak mencukupi untuk melawan energi hitam yang berkembang dalam tubuhnya.
" yang mulia, ramuan anda sudah siap" ucap Aden meletakkan mangkuk di atas meja. Gyan masih bertapa di atas tempat khusus.
Tak lama Gyan membuka matanya dan menyudahi pemulihan dirinya hari ini.
" bagaimana kondisi kerajaan, apa terjadi masalah serius?" tanya Gyan dan mengambil mangkuk ramuan.
" tidak ada yang mulia, hanya saja putri Farfalla menaruh curiga karena sudah lama tidak bisa melihat yang mulia. Begitupun dengan ibu suri yang berulang kali meminta untuk bertemu" jelas Aden, dia sendiri juga begitu khawatir dengan kondisi Rajanya yang tidak berangsur membaik.
" tak apa, kemungkinan mereka pasti akan menyerah. Lalu untuk pada penyihir, kapan pertemuan akan di laksanakan?"
__ADS_1
" saya hanya mendapatkan kabar jika dalam waktu dekat mereka sendiri yang akan datang kemari untuk menemui yang mulia. Mereka memiliki persoalan serius sehingga tidak mau orang lain menyadarinya"
" baiklah, ini juga lebih baik aku tak perlu meninggalkan kerajaan" jawab Gyan singkat.
Beberapa lama setelahnya Aden tidak menyahut sama sekali, lelaki itu membisu dan melihat Gyan dengan tatapan sendu.
" ada apa?" tanya Gyan yang sedikit terganggu dengan keheningan diantara mereka.
" em, sampai kapan kondisi yang mulia akan seperti ini?" tanya Aden dengan penuh ke hati-hatian dan dengan suara yang sedikit lemah.
" kenapa kau bertanya mengenai hal ini. apa kau takut aku meninggal sewaktu-waktu?"
" yang mulia, jangan berkata seperti itu. Saya dan seluruh rakyat Garamantian masih membutuhkan anda" ucap Aden cepat.
" kau tenang saja, semuanya akan baik-baik saja" ucap Gyan yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Aden. Bahkan cenderung membuat lelaki itu bertambah khawatir.
" saya tidak bisa menyembunyikan hal ini terus menerus. Baik putri ataupun ibu suri berhak untuk tau kondisi yang mulia yang sebenarnya"
" biar mereka bisa melihatku sebelum aku mati?" kembali lagi Gyan melontarkan kalimat candaan yang bagi Aden tidak lucu sama sekali.
" yang mulia jangan berkata seperti itu lagi" kesal Aden. Dia seperti seorang wanita yang tengah merajuk.
" sudah, sudah. Kau pergilah. Periksa semua laporan dan jika terjadi masalah serius bilang padaku secepatnya" usir Gyan halus.
" iya yang mulia" Aden pergi dengan membawa mangkuk ramuan yang sudah kosong.
Selepas Aden pergi Gyan berjalan menuju ruangan pusaka kerajaan. Disana dia mengambil sebuah lukisan dengan menggambarkan 2 sosok penting dalam hidupnya dulu.
" ayah ibu, selamat malam. Aku tidak menyangka kita akan bertemu dalam waktu secepat ini. maafkan aku tidak bisa melindung kerajaan seperti yang sudah aku janjikan pada kalian" ucap Gyan dengan memegang dadanya, tak ada yang tau jika sepanjang hari ini, lelaki itu terus merasakan sakit dari dalam tubuhnya. Dia sengaja bersikap biasa di depan Aden dan ahli obat, agar keduanya tidak panik ataupun cemas. Karena jika dia mengatakan keadaan yang sesungguhnya semua pasti langsung menangis dan meratapi apa yang menimpa dirinya.
__ADS_1
" apa kalian sudah bertemu dengan istri dan anakku? aku juga tidak berhasil melindungi mereka. kuharap kalian akan menjaga mereka sampai aku sendiri datang menemui kalian. Tunggu aku.." kalimat Gyan selesai, dengan mengatakan jika hidup lelaki itu sudah tidak akan lama. Gyan seakan sudah tidak memiliki pilihan lain selain pergi ke alam lain.
Setelahnya Gyan berjalan menjauh, dia mengunjungi kamar selir Agung, lelaki itu akan bermalam disana malam ini. Kembali lagi jika mengingat Valmira tubuhnya akan tidak kuat menahan rasa rindu ingin segera berkumpul dengan wanita itu.