Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Istana Garamantian


__ADS_3

Kerajaan Garamantian, kerajaan yang berada di daerah semi gurun. Semua pemandangan yang indah hanyalah pasir, daerahnya kering namun tidak kekurangan air. saat siang hari, matahari cukup terik sedangkan malamnya udaranya sangat dingin. Padang pasir selalu kental dengan mitos, dan itu sesuai dengan Rajanya. Raja Gyan seorang penyihir garis Reuben yang sangat hebat. Tidak semua orang tau, hanya anggota sesama penyihir saja yang mengikuti kehebatan Raja Gyan.


Hari ini gurun itu kedatangan tamu, istana kerajaan Garamantian terlihat riyuh ramai. Rombongan putri Shana terlihat memasuki istana. Semua pelayan dan bangsawan dengan sigap menjamu dan mempersilakan semua tamu. Tak terkecuali ibu suri dan putri Farfalla, kedua wanita itu sudah berada di ruang perjamuan, duduk berbincang dengan putri Shana.


" lihatlah kau tumbuh dengan baik dan cantik, putri Shana" sanjung ibu suri Raveena kepada putri Shana.


" anda juga masih terlihat cantik dan muda" jawab putri Shana menyanjung balik.


" kau cantik sekali kak" giliran putri Farfalla yang mencari muka.


" kau sudah besar sekarang putri Farfalla" Putri Shana tidak menyangka jika gadis kecil yang dulu menangis mencarinya kini tumbuh besar.


" tentu saja" ucap Putri Farfalla.


" tidak salah aku membawakan beberapa perhiasan dan baju untukkmu, kau pasti sudah bisa dandan bukan?" goda putri Shana.


" aku tidak sabar mencobanya" saut Putri Farfalla antusias.


" setelah semua siap aku akan segera mengirimkannya" balas putri Shana senang.


Berbeda dengan kaum bangsawan yang di sambut dengan senyuman dan sajian makanan. Para budak persembahkan segera di giring masuk ke kawasan khusus. tempat yang kotor dan tidak terurus. mereka bahkan hanya mendapatkan roti sisa sebagai bentuk penyambutan.


" kalian pelan- pelan makannya" ucap Valmira saat melihat betapa yang lain tergesa-gesa menghabiskan makanan.

__ADS_1


" kau siapa dan berasal dari mana? ku lihat kau sangat kotor dan bau, tapi perilaku mu begitu lembut" tanya salah satu budak.


" aku dari tepi pantai, namaku Alora" jawab Valmira dia sendiri tidak tau dimana tepatnya gubuk tempat dia tinggal.


" ah aku Fleur" jawab budak itu. mereka berkenalan


" sebenarnya kita ini akan di apakan ?" tanya Valmira di tengah perbincangan.


" aku hanya mendengar jika kita kita dijadikan budak persembahan pernikahan putri Shana, wanita itu akan menikah dengan Raja disini" jawab Fleur apa adanya.


" budak persembahan? aku bukan budak" saut Valmira tidak senang.


" siapa yang peduli, Asal kita miskin dan mereka berkuasa, mereka bisa memperlakukan kita semaunya. Mau menolak atau membantahpun tidak ada gunanya" jelas Fleur yang sudah terbiasa hidup sensara.


" lalu apa yang akan mereka lakukan pada kita?" tanya Valmira lagi.


Valmira merasa jika dunia seperti ini sangatlah kejam. Wanita itu mendadak merindukan kehidupannya dengan Vanessa. Meski serba kekurangan mereka bisa hidup dengan bebas.


" sudah jangan sedih, belajarlah jadi kuat. menangis pun tidak ada gunanya sekarang" ucap Fleur yang menangkap raut sedih Valmira. Wanita itu mengambil nafas kasar, Fleur benar, dia harus bisa kuat. Semua ini pasti akan berlalu.


Tang tang tang suara besi di pukul.


" kalian segera bersihkan diri dan ganti dengan ini" seorang lelaki itu memberikan lima karung kain berisi pakaian bekas.

__ADS_1


" kalian bisa menggunakan kolam di belakang sana" ucapnya lagi sambil menunjukkan sebuah genangan air yang jauh disana.


" kejam sekali" guman Valmira.


Para budak segera membuka karung dan memilah satu persatu. Valmira sengaja mencari yang paling buruk dan kotor. Dia tidak ingin terlalu mencolok, hanya warna gelap dan baju laki-laki yang Valmira ambil.


Rombongan budak itu tampak sedikit kelelahan mencapai kolam yang di maksud. Saat sampai di sana, bayangan air jernih langsung tergantikan dengan pemandangan sebaliknya. Kolam ini terlihat tidak terurus, bahkan ada beberapa kodok yang keluar dari sana. Sangat tidak manusiawi, Valmira menangis dalam hari.


Akhirnya dia tidak membersihkan tubuhnya. Dia memang hanya merencanakan untuk membersihkan bagian dalam saja, tapi setelah melihat kondisi kolam, keinginannya seketika sirna.


" kau tidak mandi atau cuci muka?" tanya Fleur melihat Valmira yang langsung mengganti baju.


" tidak, aku memiliki kelainan kulit. nanti malah kalian tertular" jawab Valmira berbohong.


" pantas saja, tubuhmu sangat bau" jawab Fleur terus terang. Valmira hanya tersenyum sebagai jawabannya.


Beberapa saat setelah menunggu yang lain. Para budak itu disuruh pergi ke bagian belakang istana, mereka akan di tinggal disana untuk sementara waktu sampai ada keputusan selanjutnya.


" akhirnya kita bisa istirahat sejenak setelah berhari-hari berjalan " ungkap Fleur membaringkan tubuhnya di atas dedaunan kelapa kering. Valmira ada disampingnya, semua orang menjauhinya karena aroma dan penampilan Valmira yang buruk. Hanya Fleur yang mau berdekatan dengannya. Meski mereka mengusir dan menyuruh Valmira tinggal di tumpukan daun kering, Fleur tetap mau menemani.


" kau pasti sangat lelah, aku yang baru bergabung saja merasa sangat lelah" saut Valmira.


" kau pasti budak yang mereka tangkap diam-diam" balas Fluer yang tau carita lengkapnya.

__ADS_1


" ya, mereka langsung membawa warga desa dengan paksa" jelas Valmira sedikit kesal.


" tunggu sampai kau menjadi orang terpandang, kau baru bisa melaporkan tindakan mereka yang melanggar hukum" balas Fleur santai. Wanita itu dalam sekejab langsung tertidur. Tubuhnya memang sangat lelah.


__ADS_2