Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Bertemu


__ADS_3

" Violet!" teriak Alvaro.


" ada apa?" wanita itu berjalan mendekat ke arah sumber suara.


" lelaki itu kabur, pasti ada seseorang yang menyelinap, kau segera cari di sekitar sini aku akan menutup akses keluar"


" baik, pergilah" ucap Violet enteng


Alvaro dengan sihirnya langsung terbang ke atap dan mengunci beberapa jalur dengan pembatas miliknya. Lelaki itu lalu membunyikan lonceng kerajaan sebagai tanda bahaya agar prajurit segera datang karena situasi darurat.


" kalian semua cari tahanan lelaki tua, dia baru saja kabur. Aku yakin mereka masih belum terlalu jauh!"


" baik yang mulia" jawab para prajurit itu dengan kompak.


situasi kerajaan mendadak menjadi sedikit ketat dan kacau. hampir semua pintu keluar di tutup dan dijaga ketat. Semua sudut kerajaan di geledah sampai tempat-tempat Penyimpanan barang dan makanan juga ikut di periksa.


" bagaimana bisa dia kabur secepat itu" gumam. Alvaro yang sama sekali tidak bisa menerima keadaan ini.


" yang mulia di istana bagian timur tidak ada, semua tempat sudah kami geledah tapi tidak menemukan tahanan tersebut." lapor salah satu prajuritnya.


" cari sekali lagi, jangan sampai dia lolos "


" baik yang mulia"


Alvaro menunggu di halaman di depan menara, satu persatu prajuritnya datang melapor, mereka semua tidak menemukan Kangta bahkan jejak tetesan darah saja tidak ada. Padahal jika di ingat tubuh Kangta penuh luka sayatan serta pukulan.


Tak ada yang menyadari jika tahanan yang mereka cari ternyata tidak pergi kemanapun. Kangta, Deon dan Valmira masih bersembunyi di salah satu bangunan tersembunyi yang ada disana. Valmira semacam memiliki ingatan akan tempat rahasia didalam menara tersebut.


Mereka hanya mengecoh agar yang lain sibuk mencari mereka di luar.


" strategi nona ternyata berhasil, mereka terlihat menjauh"


" tidak ada waktu, kita harus menyelamatkan Kangta"


Valmira mengeluarkan botol berisi air. Dia melakukan pengobatan dengan teknik yang sama saat dia mengobati kudanya dan Deon.


Valmira berkonsentrasi, dia sendiri tidak tau bagaimana dia bisa menguasai teknih ini. Tapi tubuhnya secara tidak sadar langsung bisa melakukannya. Terlihat luka-luka Kangta yang terbuka mulai menutup kembali.


" kau segera bersihkan luka-luka itu" perintah Valmira saat luka Kangta sudah menutup sempurna.


" baik nona" Deon melakukannya dengan penuh hati-hati.


tap tap tap


Valmira dan Deon saling berpandangan saat suara langkah kaki mendekat. untung saja hanya satu orang, itu mengartikan jika bukan pasukan kerajaan yang kemari.


Valmira lalu berjalan mendekat pintu dan memantau situasi.


" bagaimana?" tanya Violet.


" tidak ketemu, aku yakin sekali mereka tidak mungkin bisa pergi jauh. Aku baru saja masuk dan tiba-tiba lelaki itu sudah tidak ada" kesal Alvaro.


" sudahlah mungkin sebentar lagi juga tertangkap. mau kemana lagi dia pergi" balas Violet yang terlihat tidak terlalu peduli dengan Kangta.


" aku merasa ada yang aneh saja dengan lelaki itu, sejak melihatnya perasaanku menjadi tidak tenang"


" kau hanya berlebihan, mungkin karena sudah lama tidak melawan seseorang yang memiliki kemampuan sihir yang cukup tinggi,"


" bukan seperti itu"


" jangan di perpanjang lagi, di semua kerajaan ini sudah tidak ada lagi penyihir, hanya tersisa anggota kerajaan saja. Lebih baik kita fokus pada ritual ini. lampion Valmira semakin hari apinya semakin padam, kita harus meningkatkan jumlah pengorbanan"


" sudah berapa banyak perawan serta hewan suci yang sudah dibunuh. cepat atau lambat penyihir lain pasti akan mengetahui kejahatan kita"


" jangan memikirkan hal bodoh seperti itu, tinggal satu purnama lagi maka boneka iblis ini akan tumbuh sempurna"


" iya ya" Alvaro lalu pergi dia akan kembali mencari hilangnya Kangta. Sedangkan Violet terus memantau lampion yang sesekali meredup.


Semua perbincangan itu terdengar oleh Valmira, dia jadi merasa penasaran dengan lampion yang menjadi bahan perbincangan mereka.


Mendadak tepukan pada bahu Valmira membuat wanita itu terhenyak. Deon sudah berdiri di belakangnya sambil mengatakan jika Kangta sudah mulai siuman. Valmira lalu berjalan kembali mendekat.


" kau membawa kain panjang?" tanya Valmira. Deon menggeleng, akhirnya Valmira berkeliling dan untungnya dia melihat selimut tergeletak disana. wanita itu segera mengambil dan menutupi tubuh Kangta.


lelaki itu mulai menggerakkan tangannya dan tak lama setelahnya matanya terbuka.


" Alora... Doen... bagaimana kalian bisa disini?" suara Kangta sangat lemah dan lirih.


" maafkan kami yang baru bisa datang menyelamatkan tuan" lirih Deon. Mereka harus bisa menjaga suara agar tidak terdengar oleh penghuni lain.


" bagaimana kondisimu? bagian mana saja yang terasa sakit?" giliran Valmira yang bertanya.


" Alora, kau sudah melahirkan? " Kangta malah bertanya hal lainnya. Valmira hanya bisa mengangguk.


" laki-laki atau perempuan?"


" Kangta ini bukan waktu yang tepat untuk bercerita. kau katakan bagian mana saja yang terasa sakit?" tanya Valmira sekali lagi.


" tidak ada, tubuhku sudah pulih"


Valmira dan Deon mengambil nafas panjang atas jawaban Kangta yang sungguh tidak masuk akal.


" baiklah" Valmira berdiri dan mundur sedikit, dia akan mentransfer energinya ke tubuh Kangta.

__ADS_1


" tidak, jangan lakukan" cegah Kangta. Tapi Valmira tidak mengindahkan. Dulu Kangta pernah membantunya kini gantian dirinya yang memberikan bantuan.


Kangta tidak bisa menolak, dia merasakan tubuhnya lebih baik. tenaga dalamnya juga sedikit baik kan. Semua ini adalah karena gelang yang dimiliki Valmira. Dia selalu memutarkan energi dengan sangat baik bahkan juga menghasilkan energi baru meski tidak dalam jumlah yang banyak.


" sudah, ini lebih dari cukup" ucap Kangta. Lelaki kini beranjak duduk. Dia menatap Valmira dan Deon bersamaan.


" hari ini kita akan menghadapi penyihir hitam itu, tidak ada waktu untuk kembali. Kejahatan mereka sudah tidak bisa lagi di biarkan" tekad Kangta.


" Alora kau lebih baik kembali, kasihan dengan bayimu" lanjutnya.


" Kangta, semuanya tidak masalah. Aku memang juga berniat menghentikan kekejaman Ratu Violet kepada para rakyatnya"


" iya tuan, kita sudah bertekad untuk melawan para pelaku sihir hitam disini"


mendengar jawaban mereka Kangta menjadi bersemangat. Mereka akan bersatu dan melawan Alvaro dan juga Violet.


" kita harus membagi tugas"


Meski dalam waktu singkat dan terdesak, mereka bertiga akhirnya bisa mengatur sebuah rencana. Kangta dan Deon akan mengganggu konsentrasi Alvaro sedangkan Valmira akan berhadapan dengan Violet.


" ada hal yang ingin aku tanyakan"


" katakan saja"


" Mengenai lampion itu, aku ingin membuka lampion yang mengurung kekuatan Valmira, banyak orang yang berharap kehadirannya. siapa tau sesuatu yang ada di dalamnya bisa membantu kerajaan Mystick" usul Valmira.


" boleh juga, aku juga ikut kasihan dengan Valmira, putri Marilla yang malang" ucap Kangta dengan sangat sendu.


Malam semakin pekat, ketiga orang itu keluar dari persembunyiannya. Mereka turun ke lantai bawah dan berniat menuju ke ruangan tempat lampion itu berada.


tap tap tap


Suara langkah kaki mendekat, kali ini terdiri dari beberapa orang. Pasti prajurit yang berpatroli.


" kita berpencar, aku akan menarik perhatian Violet kalian yang masuk dan membawa lampion itu" jelas Kangta. kondisi lelaki itu sudah lebih baik, tubuhnya bisa pulih dengan cepat. dia sendiri juga tidak tau kenapa luka-luka di tubuhnya sudah menghilang begitu saja.


''baik" jawab Valmira dan Deon.


tap tap tap


Kangta menimbulkan suara agar Violet keluar.


" Al?" panggil Violet.


Tidak ada sautan, wanita itu akhirnya keluar. Dan kini bisa dengan jelas melihat Kangta yang sudah berdiri di ambang pintu.


" ternyata kau sejak tadi disini pak tua?" tanya Violet dengan nada mengejek.


" tidak di sangka, saat satu istana mencarimu. kau dengan bebas berkeliaran" lanjutnya sambil bersiap mengeluarkan sihir hitam.


" sialan kau!" Violet tidak terima.


wush..


satu serangan sihir hitam berhasil lolos, Kangta menghindar tepat waktu. Lelaki itu segera memancing Violet agar pergi dari bangunan itu dan memudahkan Valmira dan Deon masuk ruangan untuk mengambil lampion.


Kangta melompat dan terbang ke arah halaman depan. Sayangnya pemilihan waktu yang salah. Pergerakannya dengan mudah dapat di ketahui juga oleh Alvaro.


" kemana saja kau?" Alvaro dengan cepat langsung bergabung. Kini Kangta berhadapan dengan 2 orang sekaligus.


Di dalam sana, Valmira dan Deon sudah masuk dan berusaha mengambil lampion itu. Mereka tidak tau jika sedikit saja lampion itu berpindah maka dengan cepat Violet bisa merasakannya. wanita itu sudah memberikan sihir pendeteksi di sekitar lampion.


" gawat, ada yang menyentuh lampion itu" wanita itu segera menyerahkan urusan Kangta pada Alvaro.


crusshh


wussh


Kangta berniat mengganggu Violet yang akan masuk menggunakan serangan sihir, tapi dengan cepat Alvaro menghalangi dengan serangan juga.


" kau berurusan denganku, pak tua" ejek Alvaro. berjalan mencari formasi yang tepat.


" kau bukan tandingan ku" ucap Kangta menyulut emosi Alvaro. Dia selalu menggunakan taktik ini, membuat musuhnya emosi, karena dengan begitu mereka tidak bisa memikirkan serangan secara luas dan cenderung gegabah dalam mengambil keputusan.


" ya. ya ya. Bisa dilihat, kau pulih dengan cepat" ucap Alvaro dan mulai bersiap.


" hiyaa" lelaki itu langsung memulai pertarungan.


Kangta dengan tubuh yang baru saja pulih, kini harus bertarung kembali dengan musuh yang sama. meski tidak imbang, Kangta mencoba mengatur energinya sebaik mungkin agar tidak mudah habis.


Sedangkan di dalam sana, Deon baru saja mengambil lampion segera pergi menjauh. Valmira lah yang akan menghadapi wanita ular yang selama ini dengan tanpa hati mengorbankan semua wanita kerajaan.


" hey, lancang sekali" teriak Violet saat melihat Deon pergi dengan membawa lampion yang berada dalam dekapannya.


Valmira yang awalnya bersembunyi langsung menghadang wanita itu.


" apa kau Ratu Violet yang kejam itu?" tanya Valmira dengan berjalan pelan di hadapan Violet.


saat itu juga mata Violet melebar, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


" Val...Val mira.." lirih Violet terbata-bata karena begitu terkejutnya. tentu saja Valmira mendengarnya, dia tidak terlalu menghiraukan karena nenek juga mengenalnya sebagai Valmira.


" kau takut?" Valmira hanya berniat menggunakan ketakutan Violet untuk membuatnya lemah.

__ADS_1


" ka..kau.. bagaimana bisa kau masih hidup? "


" aku? kenapa juga aku harus mati?"


" tidak mungkin, kau siapa? tidak mungkin Valmira bisa berdiri di depanku..Seharusnya dia mati," ucap Violet menolak apa yang dia lihat.


" aku Valmira! dan aku kemari untuk membalas dendam!" ucap Valmira bersandiwara. Dia akan memanfaatkan hal ini.


crusshh


Valmira langsung memulai serangan. dia merasa begitu membenci wanita di depannya. entahlah apa karena dia terlalu bersandiwara jadi emosinya jadi terbawa. Valmira masih tidak ingat dirinya.


" kau! tidak akan aku biarkan kau merusak semua usahaku yang selama berbulan-bulan aku jaga melebihi hidupku sendiri"


wuusshh


Violet melemparkan sihir hitam, Valmira mengelak. Dia membalas lagi. Pertarungan kini terjadi, Valmira dan Violet sepertinya menjadi lawan yang sepadan. Meksi begitu energi yang Valmira miliki saat ini memang terbatas. Apalagi setelah memberikannya pada Kangta, pasti tidak akan berlangsung lama.


Deon sudah pergi dan menyembunyikan lampion yang berhasil dia curi. lelaki itu memilih tempat yang aman lalu melompat menuju atap. Dia masih mengkhawatirkan Kangta, jadi berniat membantu lelaki itu.


Dan benar saja posisi Kangta sudah sangat terpojok, Alvaro sudah mengeluarkan sihir hitam ke arah Kangta.


wusshh


crasshh


serangan itu bertubrukan dengan serangan Deon. Kangta masih terselamatkan. Deon berdiri di depan Kangta setelah membantu lelaki itu bangkit.


" kau lagi,! bukankah hari itu kau pergi seperti pengecut? lalu kenapa sekarang kembali lagi?" ejek Alvaro.


" kau!" sedikit saja Deon terpancing untung saja Kangta segera menarik tangan Deon agar lelaki itu mengatur emosinya.


" kalian senang sekali mengganggu ku. apa yang kemarin belum cukup?"


" kau bukan apa-apa tanpa boneka sialan itu. berani sekali bermulut besar" Deon mulai bisa bermain kata-kata.


" dasar kau!"


" hiyaa" Alvaro segera bertarung dengan Deon. Kangta masih belum pulih dari serangan terkahir kali.


Di dalam bangunan Valmira dan violet masih terus melancarkan serangan.


wussshh


crusshh


" akkk" teriak Violet saat tubuhnya terkena serangan dan menubruk kursi.


teriakan itu terdengar oleh Alvaro. Lelaki itu mulai kehilangan fokus.


kesempatan ini di gunakan Deon dengan baik. Dia mengirimkan serangan dan langsung mengenai dada Alvaro.


lelaki itu terjatuh sampai tubuhnya menubruk pintu masuk ruangan.


" uhuk uhuk" Alvaro batuk darah. jangan sampai dia kalah, lelaki itu Sudah habis kesabaran. Alvaro segera bangkit dan mengeluarkan serangan sihir hitam dengan kekuatan yang besar ke arah Kangta. Dia akan mencoba mengganti strategi.


Wusshh


Deon tidak menyangka jika Kangta yang akan menjadi sasaran. Lelaki itu tanpa persiapan segera membuat dirinya sebagai tameng.


" aakkk" dan benar saja Deon terkena sihir di punggungnya.


" Deon!" Kangta tidak percaya. lelaki itu segera memeluk Deon yang langsung tumbang.


Deon menatap Kangta dengan pandangan sendu.


" kalian merepotkan sekali, lebih baik kalian semua mati" Alvaro memulai mengumpulkan energinya lagi untuk mengeluarkan serangan.


" aakkk" teriakan Violet di dalam sana membuat konsentrasi Alvaro menghilang. lelaki itu memilih meninggalkan kangta dan Deon untuk masuk menuju Violet.


Disana Kangta memegang tubuh Deon, lelaki itu mencoba memberitahu lokasi dia menyimpan lampion milik Valmira.


" aku akan mengambilnya" ucap Kangta yang mengerti maksud Deon.


sebelum kesadarannya menghilang, Deon tersenyum sesaat lalu semuanya gelap.


" bagaimana?" Valmira bertanya, dia memberikan serangan menyiksa pada Violet.


Alvaro yang berlari dari luar, langsung terhenti saat melihat Valmira disana.


" ti..tidak mungkin" ucapnya secara tidak sadar. Dia melihat dengan jelas sosok Valmira tak jauh dari sana. istrinya dulu berdiri di depannya dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan mampu mengalahkan Violet.


Namun keterkejutannya segera menghilang saat Violet menatapnya meminta pertolongan.


Wusshh.


Alvaro mengeluarkan serangan pengalihan, Valmira terjebak dan membuat serangannya pada Violet terlepas darinya.


" uhuk uhuk" Violet langsung terbatuk. Hampir saja dia tewas di tangan orang yang inti jiwanya dia ambil.


" Violet? kau tak apa ?" Alvaro memapah wanita itu untuk berdiri.


" kau pasti Alvaro, apa kau kekasihnya?" Valmira seakan menjadi orang lain, dia merasakan hal aneh dalam tubuhnya. semacam emosi dan dendam yang besar kepada kedua orang ini.

__ADS_1


" Valmira, kau..bagaimana bisa ada disini?"


lagi, banyak sekali orang yang menyangka dia adalah Valmira. wanita itu tetap menyangkal karena memang sebelum inti jiwanya kembali dalam tubuhnya, ingatan miliknya tidak akan bisa kembali.


__ADS_2