
" kau bercanda? kenapa kau masih saja ingin pergi Alora?" tanya Fleur dengan wajah keheranan.
" tidak, sudah ku bilang aku tidak mau selamanya hidup menjadi selir raja. aku ingin kehidupan yang normal, Fleur. Bukankah kita pernah membahas ini sebelumnya?" jelas Valmira yang niatnya sudah bulat.
" Alora, posisi mu ini susah di raih oleh sembarang orang. Kau memang menjadi selir, tapi dari semua wanita Raja, hanya kau yang di sayangi oleh Raja. Itu saja sudah cukup menjamin hidupmu" Fleur ingin menggagalkan rencana itu, baginya tidak ada yang terbaik baginya selain menetap di sini.
" Fleur, semakin lama Raja pasti bosan denganku. aku yakin posisiku ini suatu saat pasti akan tergantikan. masih banyak wanita yang bisa melakukan hal ini"
" lalu kenapa kau tidak, Alora. hidup di luar sana juga belum tentu menjamin kau aman dan tenang"
" jadi kau ingin tetap disini? yasudah aku bisa pergi sendirian"
" bukan seperti itu, aku.."
" keluar dari kamarku" ucap Valmira kecewa. Ini pertama kalinya mereka bertengkar hebat. Valmira tak ingin memperbesar jadi mengusir Fleur dari sana. Dia tak mau semakin menyakiti hati temannya itu. Biarlah dia yang memilih jalan hidupnya sendiri.
" Alora.." panggil Fleur. Tapi Valmira diam seribu bahasa membelakanginya. Tak ada sautan sama sekali.
Fleur akhirnya terpaksa keluar, dia akan menunggu beberapa saat lagi untuk berbicara dengan Valmira.
Sedangkan Valmira yang sensitif, merasa kecewa dengan reaksi yang Fleur berikan. Bukankah pergi dari sini adalah rencana mereka sejak awal. Tapi kenapa sekarang Fleur berubah pikiran. Dan malah kekeh tetap di kerajaan. Valmira tidak suka, dia tidak menyangka pertemanan mereka berubah menjadi seperti ini.
" aku harus tetap pergi dari sini" gumam Valmira bertekad.
Sore harinya, Fleur baru berani mengunjungi kamar Valmira. Dia harus minta maaf pada wanita itu.
" Alora.." panggil Fleur saat melihat wanita itu terbaring di atas ranjang. Valmira membaca buku tanpa merasa terganggu.
" aku minta maaf" lanjut Fleur dengan nada lemah.
" jika kau ingin pergi, aku akan ikut. Aku tidak mau kita berpisah. Kau sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri" jelas Fleur membuat hati Valmira tergugah.
" benar? kau tidak menyesal pergi denganku?" tanya Valmira memastikan.
" selama itu denganmu, aku rasa lebih baik daripada hidup sendiri di kerajaan"
" aku sangat kecewa dengan jawabanmu tadi, aku tidak menyangka kau berubah pikiran secepat ini"
" iya, maaf kan aku. Jadi bagaimana rencana melarikan dirinya?"
Valmira bangun dari posisi bersantainya, dia duduk menatap Fleur dengan seksama.
" kau yakin ingin pergi dari sini bersamaku?"
" iya Alora. aku yakin aku ingin terus bersamamu" jawab Fleur mantap. Valmira tersenyum senang, kedua wanita itu saling berpelukan dan hubungan mereka kembali membaik.
" jadi bagaimana rencananya?" tanya Fleur penasaran.
" Kemarin saat acara makan di istana Ratu, aku mendapatkan informasi jika beberapa hari lagi akan ada acara besar di kerajaan. Aku yakin raja pasti sangat sibuk sehingga tidak akan memperhatikanku. Saat itu kita menyelinap pergi dari kerajaan lewat jalan khusus saat kita menjadi petugas sampah dulu. Aku yakin kita tidak akan ketahuan" jelas Valmira
" bagaimana dengan penjaga?"
" em kita berpura-pura menyamar menjadi pelayan,"
" bagaimana jika ketahuan? kita harus mencari seseorang untuk membantu kita dari dalam istana"
" siapa tapi?" tanya Valmira.
" aku juga tidak tau, harus ada yang mengalihkan perhatian para penjaga dan menutupi kepergian kita"
__ADS_1
" em, sepertinya kita bisa berkerjasama dengan musuh bebuyutan kita" jawab Valmira dengan menyeringai aneh.
" musuh?"
" kita akan berkerjasama dengan Ratu, aku yakin ini adalah hal yang paling dia inginkan dariku" balas Valmira yang sedikit masuk akal.
Fleur terdiam lalu mengangguk pelan. Ini pertama kalinya mereka akan bekerjasama dengan wanita jahat itu.
Beberapa hari setelahnya, Valmira sengaja berjalan-jalan di taman. Dia berniat memancing Ratu agar mendekati dirinya. Valmira hanya di temani oleh Fleur seorang, jadi keduanya bisa berkomunikasi dengan normal.
" kau yakin ratu akan datang?" bisik Fleur.
" tentu, dia pasti datang kali ini. Ratu sedang mencoba membangun hubungan baik denganku" jelas Valmira percaya diri.
"kita sudah lama disini tapi kenapa belum muncul?"
" kita tunggu saja, begitu dia mendekat kita harus mulai bersandiwara, mengerti?" tanya Valmira, Fleur mengangguk yakin.
Fleur dan Valmira kini sedang berada di balik tembok pintu masuk taman yang berada di sebelah barat. Mereka sengaja memilih tempat ini karena dengan begitu mereka bisa mengetahui kedatangan seseorang dari bayangannya saja.
tap tap tap
" ada yang datang, ini... Ratu" ucap Valmira yang melihat dari perhiasan kepala seseorang yang datang.
" ayo mulai" bisik Valmira.
" kau yakin selir mau pergi dari kerajaan?" tanya Fleur dengan suara normal jadi siapapun yang ada di balik tembok pasti bisa mendengarnya dengan jelas.
" aku yakin, saat yang mulia sibuk besok dalam acara besar itu, aku akan pergi melewati jalan para pelayan?"
" tapi bagaimana dengan penjaga dan pelayan yang berlalu lalang. belum juga dengan gerbang yang terkunci?"
" aku belum memikirkannya, aku hanya bisa berharap malam itu disana tidak ada penjaga ataupun pelayan. Jadi aku bisa pergi dengan aman" jawab Valmira dengan nada kasihan.
" saya akan ikut selir pergi. Tidak ada gunanya tinggal di kerajaan tanpa selir" Fleur terus bersandiwara
" kau setia sekali Fleur. baiklah mari kita kembali ke kamar"
Fleur dan Valmira melihat jika seketika bayangan itu menghilang, mereka berjalan meninggalkan taman. Sekilas mereka bisa menangkap jika Ratu dan pelayannya sedang bersembunyi di balik pohon besar. kedua wanita itu tersenyum puas. Rencana mereka berhasil. Mereka tinggal menunggu campur tangan Ratu dalam kesuksesan rencana mereka.
" kau dengar tadi?" tanya Shana pada pelayannya.
" iya yang mulia"
" akhirnya wanita itu sadar diri juga. Bagaimana jika kita berikan mereka pertolongan, setidaknya sebagai hadiah perpisahan?" tanya Shana dengan senyum licik.
" maksud yang mulia?"
" kita buat rencana mereka berjalan lancar, dengan begitu wanita rendahan itu akan menghilang dalam hidup Gyan" jelas Shana senang.
" itu ide yang bagus yang mulia"
Sesuai dengan perkiraan Valmira dan Fleur, Shana akan menolong mereka secara tidak langsung. Dengan begini mereka bisa tetap melaksanakan rencana tanpa perlu melakukan apa-apa.
Malam hari tanpa Valmira duga, Raja Gyan datang ke kamarnya. Lelaki itu sangat merindukan selirnya belakangan ini. Dia semacam di terpa penyakit cinta. membuat Gyan mudah sekali memikirkan Valmira dan selalu ingin bertemu.
" yang mulia?" ucap Valmira kaget.
" ada urusan apa kemari?" lanjut Valmira.
__ADS_1
Gyan merasa aneh mendengar pertanyaan itu.
" memangnya harus ada urusan dulu baru aku boleh kemari? sebagai selir ku tentu tidak aneh jika aku sering datang kemari. apa kau tidak suka?" tanya Gyan bertubi-tubi. lelaki itu sedikit tersinggung dengan reaksi Valmira.
" ah. maafkan saya yang mulia. saya tidak menjaga sikap. tidak biasanya yang mulia sering datang kemari" jelas Valmira sambil menatap Gyan sendu.
" kalau begitu aku akan sering datang kemari agar kau terbiasa" jawab Gyan, Valmira tersenyum canggung, kenapa malah jadi begini.
" iya yang mulia" jawab Valmira pasrah.
" suruh pelayan siapkan makan malam. Aku ingin makan berdua denganmu" ucap Gyan lalu duduk di ruang tengah.
" baik yang mulia" Valmira memanggil pelayan dan mengatakan perintah Gyan. Meskipun sebenarnya Valmira sudah makan tadi, tapi menemani Raja Gyan makan lagi tentu dia tidak keberatan. lagipula ini sudah 2 jam setelah dia makan terakhir kali.
" kemari duduklah di sini" pinta Gyan sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya. Entah kenapa jika bersama dengan Valmira lelaki itu ingin sekali di manja.
Valmira duduk di kursi itu, dan setelahnya Gyan membaringkan tubuhnya disana. menjadikan pangkuan Valmira sebagai bantal kepalanya.
" yang mulia pasti lelah" ucap Valmira sambil mengelus pelan rambut Raja. Gyan memeluk perut Valmira pelan.
" he' em. aku ingin tidur sebentar disni" jawab Gyan yang sudah lebih dulu menutup mata. wajah Gyan di tempelkan pada perut buncit Valmira. Gyan sangat nyaman sekali berada dalam pangkuan Valmira.
Hingga beberapa saat setelahnya pelayan dapur datang, tapi mereka terdiam sesaat di depan ruang tengah. Dengan mata kepala mereka, melihat Gyan dan Valmira dalam posisi mesra membuat mereka tidak enak masuk dan mengganggu. Alhasil mereka akhirnya menunggu sejenak. Dan meminta pelayan peribadi selir untuk mengabarkan jika makanan sudah selesai.
" aku akan masuk dan bertanya dulu" jawab Fleur ada pelayan dapur.
Fleur masuk dengan langkah ringan. Dia berusaha tidak menimbulkan suara yang bisa menganggu situasi di dalam ruangan.
" ada apa?" tanya Valmira yang mengetahui kedatangan Fleur.
" makanan sudah siap, mau langsung di sajikan sekarang atau nanti?" tanya Fleur sopan.
Valmira menatap ke arah bawah, Raja Gyan tengah tertidur. Wanita itu tidak tega membangunkannya. Tapi lelaki ini belum makan katanya. Kasihan perutnya nanti bisa sakit.
" kalian siapkan saja, tapi jangan berisik" ucap Valmira pelan.
" baik selir" jawab Fleur lalu pergi menyampaikan pesan Valmira.
Tak lama pelayan dapur masuk, hanya 2 pelayan saja. Sesuai dengan pesan Valmira agar mereka tidak menimbulkan suara berisik.
Valmira menatap semua menu dengan mata berbinar. Selera makannya mulai melonjak begitu mencium aroma makanan. Setelah semua siap, para pelayan itu pergi.
Valmira masih bingung, membangunkan raja apa tidak. akhirnya dia mencicipi saja makanan yang ada di meja. Saking menikmatinya, Valmira tidak berhati-hati saat mengangkat makanan. Ada serpihan yang jatuh saat dia mengangkat sendok nya di depan mulut. alhasil serpihan itu mengenai wajah yang mulia.
" astaga!" ucap Valmira panik. wanita itu segera mengelapnya menggunakan tangan.
" emm" Gyan terganggu akibat elusan tangan Valmira.
" yang mulia, makanan sudah siap" ucap Valmira menutupi kecerobohannya.
" em? " Gyan beranjak duduk dan melihat di atas meja sudah tersusun rapi berbagai macam menu.
" mari yang mulia, saya siapkan" Valmira menata perlahan makan Gyan agar lelaki itu tidak perlu bersusah payah.
" kenapa mangkukmu sudah terisi?" tanya Gyan yang memang terbiasa melihat setiap detail sesuatu.
" em, saya tadi sudah mencicipi beberapa menu" jawab Valmira dengan senyum canggung.
" kenapa tidak membangunkanku lebih awal?" tanya Gyan merasa bersalah. Valmira pasti kesusahan makan dengan dia yang ada di pangkuannya.
__ADS_1
" saya tidak tega, jadi baru berani membangunkan yang mulia tadi" jawab Valmira setengah berbohong.
" baiklah, mari makan" jawab Gyan tak ambil pusing.