
Karena kesal dan marah Gyan pergi ke ruang kerjanya. Lelaki itu duduk dengan masih mengatur nafasnya. Wajahnya datar dengan sorot mata tajam. lelaki itu mengalihkan pandangannya menuju kaca jendela. Hari mulai menuju tengah malam, bulan tampak indah dan penuh. Perasaan Gyan mulai membaik. Dia juga mendadak mengingat perkataan Valmira, mengenai dirinya yang tidak menyukai istana. Wanita itu tidak seperti wanita kebanyakan yang bahkan melakukan berbagai macam cara agar bisa masuk ke dalam istana. Lelaki itu belum bisa menangani selirnya dengan kalimat itu, dia juga belum menanyakan mengenai kehamilan wanita itu. Entah kenapa hanya pada Valmira, Gyan tidak bisa bersikap keras sebagaimana kepada yang lainnya. Seakan wanita itu begitu lemah dan membutuhkan perlindungan. Gyan menutup matanya, lelaki itu mencoba melatih dirinya dengan kesabaran mulai sekarang, jangan sampai Valmira memilih kabur lagi darinya.
Disisi lain, saat ini Valmira dan Kangta sudah pindah di meja makan. Wanita itu mendadak lapar dan menyuruh pelayan istana agar menyiapkan makanan.
" sudah berapa lama kau menjadi selir, raja?" tanya Kangta, lelaki itu entah kenapa terlihat begitu tertarik pada Valmira. sejak elang nya melihat wanita itu, saat itu juga Kangta ingin mencari tau jati diri Valmira.
" mungkin baru beberapa bulan, aku datang bersama dengan budak persembahan Ratu" jawab Valmira jujur. Dia sedang fokus makan jadi tidak memikirkan atau curiga sedikitpun, hanya menjawab sesuai dengan kenyataan.
" jadi kau bukan berasal dari Garamantian?"
" aku tidak tau, aku sudah tinggal di Garamantian saat rombongan Ratu membawaku menjadi budak"
" membawamu?" Kangta merasa aneh dengan jawaban ini.
" iya, dia menculik dari tepi pantai otan" bisik Valmira, dia sama sekali tidak tau sedang berhadapan dengan siapa. menganggap Kangta adalah temannya. padahal lelaki yang ada di hadapannya adalah penyihir hebat yang pernah berinteraksi dengan ibunya.
" ini pelanggaran, kau tau?" balas Kangta dengan berbisik.
__ADS_1
" iya, tapi aku tidak berani mengatakannya kepada siapapun" balas Valmira sambil mengangguk beberapa kali.
Siapa yang menyangka perbincangan itu juga di dengar oleh Gyan. Lelaki itu diam saja, dia ingin tau lebih dalam apa yang kedua orang itu perbincangkan.
" kau baik sekali. oh ya, bukankah kau sedang hamil?" tanya Kangta mengganti topik. Valmira berhenti sesaat dari makannya.
" kau juga tau? apa Raja juga tau?" tanya Valmira sedikit ketakutan. Dia berniat merahasiakannya dari raja.
Kangta mengangguk pelan. Valmira menghembuskan nafasnya kasar. rencananya gagal. Dia akan semakin terkurung di dalam istana ini.
" ini anak raja bukan?" Kangta bertanya asal.
" tentu saja, aku tidak pernah tidur dengan lelaki lain" Valmira mulai meninggi, tapi setelahnya dia melahab makanannya. setidaknya dia memberikan penegasan atas tuduhan sembarangan itu.
" jadi kau penyihir juga?" Kangta terus saja bertanya.
" aku juga bingung, entahlah aku juga masih tidak tau alasan kenapa aku bisa hamil anak Raja" jawab Valmira asal. sejak dia tau kehamilannya sampai sekarang dia juga seakan tidak percaya jika ada janin yang tumbuh di dalam perutnya. bahkan Valmira menganggap jika mungkin saja ada kesalahan dalam peneriksaan.
__ADS_1
" aku boleh memastikannya?" tanya Kangta hati-hati.
" kau seorang tabib ?" tanya Valmira merasa sedikit aneh dengan pertanyaan Kangta.
" bisa di bilang begitu" jawab Kangta santai. Lelaki itu lalu beranjak berdiri dari kursi dan berjalan mendekat ke tempat Valmira.
" mana tanganmu" ucap Kangta serius dengan keinginannya untuk memeriksa Valmira. Dia bahkan menampilkan gaya yang meyakinkan.
" em, ini" Valmira sedikit takut, tapi kemudian dia percaya jika Kangta tidak akan berbuat jahat padanya.
Valmira mengulurkan tangannya dan menghentikan sejenak aksi makannya. Kangta mengambil tempat duduk di sebelah Valmira, dan memegang tangan Valmira. tapi dia tidak sekedar melakukan pemeriksaan biasa. Kangta menggunakan tenaga sihir untuk memeriksa janin Valmira. Jika benar dia keturunan penyihir, pasti bisa di ketahui dengan mudah.
Kangta menutup matanya, sedang Valmira diam sambil melihat ekspresi Kangta yang fokus. Di sisi lain Gyan juga ikut menyaksikan dengan rasa penasaran. Dia juga masih bingung kenapa bisa ada janin anaknya di tubuh Valmira.
" bagaimana?" tanya Valmira tidak sabar. Sayangnya Kangta tidak menyahut, pemeriksaannya belum selesai. Valmira harus menunggu sejenak. Kangta benar-benar konsentrasi. selang beberapa lama akhirnya lelaki itu membuka mata sekaligus melepaskan tangan Valmira.
" bagaimana?" tanya Valmira lagi.
__ADS_1
" kau memang sedang mengandung" jawab Kangta singkat tanpa penjelasan detail. Lelaki itu bahkan meninggalkan ruang makan tanpa melihat wajah kebingungan Valmira.