
Saat matahari menyingsing, Gyan baru sampai di kerajaan. Dia memakai kuda untuk kembali, jika terus terusan menggunakan sihir menghilang energinya akan cepat habis. Dan Gyan tidak mau membuang tenaganya disaat seperti ini.
Lelaki itu tidak sadar jika sejak semalam seekor burung elang mengikutinya. Dia terlalu fokus pada kasus menghilangnya selirnya.
" yang mulia" ucap Aden saat Gyan masuk ke istananya. Gyan berjalan cepat tanpa menghiraukan sanjungan dari Aden.
Aden tetap diam dan berjaga di depan istananya. Tanpa perintah Gyan, dia tidak akan masuk ke dalam. Gyan segera mengeluarkan selendang yang dia temukan sambil mengambil peta Garamantian. Dia ingin tau segala lokasi baik yang tersembunyi ataupun terbuka di sekitaran gurun pasir itu.
" kemana tujuannya?" gumam Gyan sambil terus mencari dan menelusuri. meski sebenarnya peta ini sudah sangat dia hafal di luat kepala, kali ini Gyan seakan tidak mau hal kecil terlewat. Mau peluang sedikit saja akan Gyan lakukan.
" Aden!" panggil Gyan dengan keras.
" ya yang mulia" jawab Aden setengah berlari dan segera menuju ke ruang baca.
" kau lihat ini, ini adalah gurun di mana Alora menghilang. Mereka berjalan melalui jalan ini, dan kini kau buat kelompok sebanyak mungkin untuk menuju ke 5 lokasi di sekitarnya" jelas Gyan sambil menunjukkan lokasi mana saja yang di tuju. Dia tidak mau menunggu terlalu lama. Bisa bisa Alora semakin jauh dan tidak terlacak.
" baik yang mulia"
" pastikan kalian tidak melewatkan apapun, dan segera laporkan padaku semua nya" pesan Gyan dengan wajah serius.
" akan saya ingat semuanya yang mulia, saya pamit undur diri" Aden juga ikut bergegas. Dia sedari malam memang sudah menunggu hal ini.
" kau tidak akan bisa jauh dariku, Alora" Desis Gyan tidak terima dengan keputusan Valmira yang kabur darinya. Gyan akan menangkap wanita itu dan memberinya pelajaran karena telah berani membuatmu kelimpungan seperti ini.
Di suatu tempat di sekitaran gurun pasir, seorang wanita setengah tua tengah mempersiapkan makanan untuk kedua tamunya. Semalam salah satu petinggi desa membantu dua wanita yang sedang di buru oleh bandit.
" ibu, apa makanannya sudah selesai?" tanya seorang wanita muda.
" sebentar lagi, kenapa?"
__ADS_1
" tuan Tozka, sedang perjalanan kemari, dia ingin memeriksa lagi keadaan salah satu wanita itu" jawab anaknya dengan nada terburu-buru.
" begitu? kau bantu ibu untuk menata semua ini disana" ucap ibu itu sambil menunjukkan peralatan makanan yang berada tak jauh dari sana.
" baik ibu" kedua wanita itu mulai sibuk menata makanan. Tuan Tozka merupakan salah satu petinggi desa disana, bisa semacam dokter yang memeriksa jika ada warganya yang sakit. Semalam dia sudah memeriksa namun hasilnya sedikit aneh, lalu dia akan melakukan pemeriksaan lagi pagi ini untuk memastikan jika penilaiannya tidak salah.
Disebuah kamar yang terdapat di salah satu rumah disana, terlihat Fleur sedang duduk menunggu Valmira yang masih tertidur. Lengan tangannya terluka akibat senjata milik bandit. Untung saja tidak terlalu dalam, sehingga tidak terlalu membahayakan dirinya.
" Alora, bangunlah" ucap Fleur berbisik sambil menggoyang tubuh Valmira pelan. Lukanya sudah ditangani dengan baik, membuat Valmira tidak merasa kesulitan menggerakkan tubuhnya.
" em" Valmira mengucek matanya. Dia sadar jika berada di luar istananya.
" bangunlah, kita harus bersiap. Apa kau ingin tinggal disini?" tanya Fleur sambil beranjak dan mulai membereskan kamar.
" kau benar, aku akan mulai bersiap" Valmira memegangi lengannya dan turun dari ranjang kayu.
tok tok
Fleur yang posisinya lebih dekat segera membuka pintu.
" ah kau, ada apa?" tanya Fleur melihat wanita yang semalam membantunya.
" kalian makanlah dulu lalu pergi ke rumahku, ada tuan Tozka yang ingin mengatakan sesuatu pada kalian" jawab wanita setengah tua sambil membawakan makanan pagi untuk Fleur dan Valmira.
" baiklah, terimakasih" jawab Fleur menerima nampan dan membawanya masuk. Sedangkan wanita setengah tua itu pergi. Valmira menutup pintu dan mengikuti Fleur.
" makanan!, kelihatannya enak" ucap Valmira senang. dan segera duduk di tempat makan. Fleur menggeleng pelan, selalu saja Valmira tampak girang jika melihat makanan.
" pelan-pelan makannya" ucap Fleur, lalu bergabung di meja makan. mereka makan dengan lahab. makanan ini tampak sangat lezat saat perut mereka lapar sejak semalam.
__ADS_1
Beberapa saat setelahnya, Fleur dan Valmira berjalan menuju rumah yang semalam mereka singgahi. Disana sudah ada tuan Tozka, cucu laki-lakinya dan 2 wanita pemilik rumah.
" masuklah, dan silahkan duduk" ucap wanita setengah tua dengan ramah.
" terimakasih" jawab Valmira dan Fleur duduk di kursi kayu.
" aku akan memeriksa sekali lagi dan akan aku sampaikan keadaan temanmu ini" ucap Tozka. Dia lelaki yang sudah berumur. Dia di temani oleh cucunya. Pemuda yang sudah menolong Fleur dan Valmira kemarin.
" baik" jawab Valmira tanpa berlama-lama. Lagi pula dia merasa tidak ada hal serius yang dia derita.
Tozka dengan di bantu cucunya memberikan kain pada tangan Valmira, Tozka tidak mau bersentuhan langsung dengan kulit Valmira. lelaki itu semacam merasa ada hal istimewa dari tamunya ini.
Semua tampak fokus pada apa yang Tozka lakukan. Mereka menyimak dengan baik pemeriksaan Tozka. Mereka semakin tegang tak kala kening Tozka yang mengerut seakan menemukan keanehan dalam tubuh Valmira.
Fleur menjadi merasa khawatir dan melihat wajah Valmira dengan sedih.
" sudah" ucap Tozka mengakhiri pemeriksaan.
" bagaimana tuan?" tanya Fleur yang sudah penasaran sejak tadi. Hal yang sama yang juga penghuni rumah itu rasakan.
" apa kau memiliki pasangan sebelumnya?" Tozka malah bertanya dengan nada lembut dan menatap kearah Valmira.
Valmira dan Fleur saling melempar pandangan. Dia tidak mau identitasnya diketahui oleh semua yang ada disini.
" iya tuan" jawab Fleur mengambil alih tanpa persetujuan Valmira.
" dan sepertinya pasanganmu bukan manusia biasa" lirih Tozka, namun bisa di dengar dengan jelas oleh semuanya. Termasuk Brox, cucunya. Lelaki itu sedikit menampilkan raut kecewa mendengar jawaban Valmira. Dengan tampilan Valmira yang tidak memakai penutup wajah dan lumpur. membuat siapapun akan mudah jatuh hati padanya.
" ada masalah tuan?" tanya Valmira cemas. Dia takut jika Gyan sudah melakukan sesuatu padanya. Semacam pelacak tubuh dalam pemikiran Valmira.
__ADS_1
" tidak, hanya ada bayi yang tumbuh di perutmu, apa kau sudah tau?" tanya Tozka, terasa semacam bom yang mengagetkan Valmira dan Fleur. Lebih khusus pada Valmira, wanita itu syok dengan manik membola tidak percaya. sedangkan Fleur yang memang sudah mencurigainya sejak awal, sedikit bisa mengatur keterkejutannya.
" tidak mungkin" lirih Valmira sambil menggeleng pelan. ini semacam ketidakmungkinan yang terjadi. Sangat tidak masuk akal. Valmira terus mengucapkan kalimat ini berulang dengan tatapan kosong.