Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Menyesal


__ADS_3

Shana tersenyum puas. kini dialah yang memerintah Prysona. Rasa menjadi orang nomor satu membuatnya terlena dan melakukan segalanya dengan semaunya sendiri. wanita itu sudah termakan iblis dari sihir hitam yang dia kembangkan. dia sudah tidak memiliki hati nurani. Dia akan menghalalkan segala cara agar semua keinginannya tercapai.


" kalian jangan lupa lakukan yang terbaik untuk kerajaan. mengerti!?"


" kami mengerti yang mulia"


semua menjawab dengan tegas. Setelah selesai memberikan kalimat pembuka wanita itu tidak pergi meninggalkan kumpulan pelayan. Tak lupa Shana juga sudah memberikan daftar nama yang dia setujui. Semua adalah wanita perawan berjumlah 20 orang.


Disisi lain posisi pasukan kerajaan mulai memasuki padang pasir dekat dengan wilayah Garamantian. Beberapa dari mereka ada yang mengalami sakit. Kondisi ini di perparah dengan prajurit yang sedari awal sudah lelah sejak masa pelatihan kini harus terus-menerus berjalan kaki tanpa istirahat. Malam ini mereka tengah beristirahat, di perkiraan mereka akan sampai di perbatasan Garamantian sekitar beberapa hari lagi.


" yang mulia, kami mendapatkan kabar jika pasokan air bersih mulai menipis" laporan pengawal istana.


" kalian segera cari sumber mata air"


" kami sudah berkeliling, tapi semua mata air sedang kering"


" apa tidak ada sama sekali?" Raja Prysona mulai emosi lantaran dia juga tidak tau bagaimana memberikan persediaan air.


" hanya tersisa air kotor untuk minum para kuda dan membersihkan tubuh"


" gunakan yang ada dulu, sembari mencari sumber mata air yang lebih jauh"


" baik yang mulia"


Di dalam tendanya Raja Prysona benar-benar tidak bisa diam. sejak menjabat sebagai anggota kerajaan dia tidak pernah sama sekali menginjakkan kaki di medan perang. Hidupnya selalu tercukupi apalagi dengan menikah dengan Ratu Prysona, kedudukannya semakin tinggi. penderitaan hidup serasa tidak pernah menyapanya.


Lalu sekarang berada di medan perang dengan penuh keterbatasan sangat tidak nyaman. Sedikit tumbuh rasa penyesalan dalam dirinya, bahkan sebelum dia berhadapan dengan musuh nyalinya menciut.


......................


Elang Kangta semakin hari tubuhnya berubah menjadi semakin gendut. Setiap harinya selalu di berikan makan oleh Gyan secara terus menerus. Disaat lelaki itu suntuk dia memberi makan, saat merindukan Valmira dia menemui emangnya dan memberikan makan, saat sedang resah Gyan akan menemui elang itu lagi. bisa dalam sehari burung itu makan sampai 4 kali.


" kau Sudah tidak mau?" ini kali ke 3 nya burung elang itu tidak mau makan, dia sudah kekenyangan sejak pagi sampai sore ini Gyan menemuinya lebih dari 4 kali.


" baiklah, kemari" Gyan menjulurkan tangannya dan burung itu bertengger di tangannya.


" mulai besok kita akan latihan, agar lemak tubuhmu ini menipis. Aku tidak mau Kangta protes saat tau kau tidak bisa terbang lagi. ya?"


uakk uakk..


semenjak elang itu datang, Gyan lebih senang mengajaknya berbicara. padahal dia tau elang ini tidak mungkin bisa mengerti.


tap tap tap


" yang mulia ada kabar dari perbatasan"


" katakan"


" pasukan Prysona sudah berada sekitar 1000 mil dari gerbang perbatasan. Jumlah mereka terbilang 2 kali lipat dari pasukan sebelumnya. Saat ini membuka perkemahannya di padang bebas"


" em begitu"


" apa kita perlu melakukan penyerangan dengan para penyihir?"


" tidak perlu, saat ini padang pasir sedang mengalami panas yang menyengat, banyak sungai yang mengering. cepat atau lambat jumlah mereka pasti akan berkurang"


" lalu bagaimana strategi kita melawan mereka?"


" tidak perlu memakai strategi, berhadapan langsung saja mereka pasti akan kalah. kita gunakan saja cara sebelumnya"


" baik yang mulia"


Aden langsung kembali ke pangkalan. Dia satu-satunya tangan kanan Raja yang mengatur semua hal.


setelah kepergian Aden, istananya kembali kedatangan tamu. Putri Farfalla masuk setelah mendapatkan izin dari penjaga istana.


" kakak" sapa Farfalla dengan membawakan sebuah keranjang berisi makanan.


" apa waktu belajar mu sudah selesai?" pertanyaan Gyan dengan cepat membuat wanita itu cemberut kesal. Kakaknya selalu saja menekannya dengan berbagai macam pelajaran.


" kakak tenang saja, beberapa minggu ini kemampuan Falla meningkat banyak" jawab putri Farfalla sombong.


" kalau begitu mulai besok kakak akan mengundang satu guru lagi untuk mengajarimu pengetahuan yang lainnya"


" kakak! Falla kemari hanya ingin menemui kakak dan makan bersama. Kenapa malah memberikan tambahan pelajaran, ish" Farfalla langsung menaruh keranjang makanan dengan keras diatas meja tak jauh dari sana.


Gyan menarik sudut bibirnya, adiknya sangat mudah di goda.


" memangnya apa yang kau bawa?" Gyan mulai merendah dan kini duduk di kursi. Falla segera mengikuti dan membuka keranjang makanan.


" Falla memasak sendiri semua makanan ini. semuanya adalah makanan kesukaan kakak" jawabnya sambil menata makanan di meja.


" aku tidak yakin ini akan enak rasanya"


" kaka jangan mengejek, aku sudah mencicipinya. Aku jamin rasanya pasti enak" ucap Falla bangga.


Gyan mulai mengambil makanan, dia mengunyah dengan raut datar.


" biasa saja"


" yang penting bukan tidak enak" Falla senang hati.

__ADS_1


kedua adik dan kakak itu makan dengan lahab.


" kakak, Falla ingin bertanya, tapi janji kakak jangan marah ataupun sedih"


" katakan saja" jawab Gyan cuek.


" kakak kenapa memulangkan semua selir? kakak belum memiliki keturunan lalu siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan Garamantian? "


mendadak Gyan berhenti mengunyah dan menatap adiknya dalam.


" situasi kerajaan sedang berperang, mereka pasti khawatir" bohong Gyan.


" bukannya kakak yakin jika kita pasti menang,? Falla merasa kakak seakan sedang menyembunyikan sesuatu. Semenjak kematian Selir Agung, kakak sudah tidak pernah keluar dari kerajaan. Biasanya banyak sekali agenda kerajaan membuat kakak sibuk"


" kau tidak perlu cemas, kakak tidak apa-apa. Mengenai keturunan, yang akan meneruskan kerajaan ini nanti adalah kamu, Falla"


" kakak jangan bergurau, Falla tidak akan bisa mengelola kerajaan. Falla tidak tau sama sekali bagaimana mengambil keputusan. Harus ada kaka di Garamantian"


" kakak tidak bisa terus menerus berada di sini. akan ada masanya kau yang menggantikan kaka. Apalagi di sini banyak sekali kenangan dengan Valmira. kakak ingin mencari tempat lain agar bisa melupakannya."


" kakak masih sedih ya dengan kematian Selir Agung?" tanya Falla polos


" entahlah kakak sendiri tidak tau kenapa. Kehilangan istri dan calon anak sungguh sangat menyakitkan bagi kakak"


" kakak" Falla segera memeluk kakaknya hangat. semacam memberikan kekuatan agar kakaknya kuat dan tidak bersedih lagi.


Sedangkan orang yang mereka perbincangkan kini sedang mendekam di tahanan. Valmira terduduk di pojok ruangan, dengan terdiam mengamati para penjaga. Wanita itu sudah mulai hafal pukul berapa saja terjadi pergantian penjaga dan berapa jumlahnya. Itu akan menjadi modalnya untuk memilih waktu melarikan diri.


Didalam selnya ada sekitar 10 orang dan jika di hitung ada 10 sel dengan jumlah orang yang sama di dalamnya. Semuanya perempuan, dari yang kecil hingga dewasa. setiap hari di berikan roti kering atau roti berjamur. Wajah lesu serta tubuh yang kurus membuat mereka tampak berpenyakitan.


" kau berasal dari mana? kenapa bisa tertangkap?" tanya salah seorang anak perempuan.


" aku tinggal di desa tak jauh dari kerajaan. saat itu terjadi kesalahpahaman jadi mereka mengetahui identitasku" jawab Valmira singkat.


" berarti selama ini aku terus bersembunyi?"


" heum" Valmira berbohong.


" kau pintar sekali bersembunyi. Sel ini hampir berbulan-bulan tidak kedatangan tahanan baru. semua wanita di seluruh kerajaan sudah tidak ada lagi yang berkeliaran di luar"


" sejak kapan kau disini?"


" mungkin setengah tahun yang lalu" jawabnya sambil terlihat menghitung.


" ibumu juga ikut di tangkap?"


" iya, tapi dia sudah dipindahkan, kata mereka untuk menjadi pelayan istana harus melalui hal semacam ini"


" sudah berapa orang yang sudah di pindahkan?"


" sudah banyak sekali, kini tinggal menunggu giliran sampai kerajaan membutuhkan pelayan baru"


Valmira hanya bisa menarik nafas panjang, sungguh kasihan sekali nasib para wanita ini. Mereka seakan hewan peliharaan yang harus siap saat hari penyembelihan tiba. Harapan mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan istana, harus di gantikan dengan bertemu kematian secara tragis.


" kamu kenapa terlihat sedih?" tanya gadis kecil itu sambil memegang tangannya pelan.


" kamu pasti sedih karena mendapatkan giliran terakhir," lanjut gadis kecil polos, Valmira hanya mengangguk kecil, tersenyum singkat sambil mengusap air mata yang ingin keluar.


" jika mau saat tiba giliranku, aku bisa memberikannya padamu bagaimana, jangan sedih ya" ucap gadis itu enteng.


" kau baik sekali"


" ibuku selalu bilang agar selalu berbuat baik pada semua orang"


Valmira akhirnya memeluk gadis itu, dia tidak kuat lagi menahan air matanya. Gadis sepolos ini bagaimana bisa mereka begitu tega.


Disini lain, Kangta dan Deon sudah menyusun rencana. malam ini mereka akan pergi ke lokasi tahanan untuk mengeluarkan Valmira dari sana. Kedua lelaki itu sudah mengetahui lokasi tahanan serta kondisi penjagaan.


" kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Kangta pada Deon.


" sudah tuan" kawan Deon yakin.


" baiklah, kita berangkat"


Mereka dengan lincah menaiki atap, berpindah dari satu bangunan ke bangunan yang lainnya. tidak ada yang curiga sama sekali. Kondisi istana yang sepi memudahkan mereka menyelinap dari satu tempat ke tempat lainnya.


Akhirnya setelah melewati beberapa bangunan mereka sampai di atas bangunan tahanan. Dnegn menggunakan kode Deon masuk terlebih dahulu. Dia memantau keadaan. Mereka hanya memiliki waktu sekitar 15 menit untuk mengeluarkan Valmira dari sana.


Deon memberikan kode dan mereka berdua berjalan masuk.


" tidak, lepaskan aku. tolong. tolong! tidak!" Ditengah perjalanan ternyata mereka mendengar suara minta tolong.


Deon dan Kangta saling pandang. mereka tidak tega meninggalkan seseorang itu. keduanya mencari sumber suara, dan ternyata berasal dari pojok bangunan disana ada 2 prajurit yang mencoba melecehkan salah satu tahanan.


Kangta dengan kekuatannya segera membuat mereka terkapar tewas. kini rencana mulai berubah, mereka menggunakan seragam penjaga itu sebagai penyamaran.


" terimakasih sudah menyelamatkan saya" ucap wanita itu dengan masih berurai air mata.


" kau tunggu disini, kami masih memiliki urusan lian. kita akan pergi bersama-sama nanti" ucap Deon. wanita itu mengangguk dan mereka segera meneruskan misinya.


Kangta dan Deon sampai di bagian sel, mereka berpencar dan mencari Valmira di sel tahanan satu persatu.

__ADS_1


Semua wanita langsung berdiri menantikan siapa lagi yang dipilih menjadi pelayan. Raut wajah berharap membuat Kangta kasihan.


" tuan!" panggil Deon. lelaki itu melihat Valmira yang tidur sambil memeluk gadis kecil.


Kangta segera mendekat dan membuka pintu sel.


" Alora" panggil Kangta langsung membangunkan Valmira.


" Kangta? Deon. bagaimana bisa kalian disini?"


" ceritanya panjang, kita harus pergi dari sini" ucap kangta menarik Valmira untuk segera berdiri.


" tunggu! lalu bagaimana dengan yang lainnya?" Valmira tentu memiliki perasaan tidak tega meninggalkan yang lainnya saat dia tau benar apa yang akan terjadi pada mereka.


" kita akan urus nanti, yang terpenting kita keluar dulu dari sini" Deon tidak ingin misi mereka gagal. Dia terus meminta agar Valmira membiarkan yang lain untuk tingg terlebih dahulu.


" ayo Alora" tarik Kangta.


" kamu mau kemana?" tanya gadis kecil tadi kebingungan.


" kita bawa dia ya?" tanya Valmira penuh harap. kangta tidak ingin membuang banyak waktu, jadi mengangguk saja.


Alhasil mereka ber 4 keluar meninggalkan sel tahanan.


tap tap tap


suara langkah kaki, mereka langsung bersembunyi. Sepertinya waktu 15 menit mereka sudah habis. Kini mereka harus menyusun rencana lain.


Setelah mendiskusikan dengan yang lainnya maka rencana segera di mulai.


" tidak lepaskan aku!" teriak Valmira saat Kangta menyeret tubuhnya dengan keras.


" diam!"


" akk, sakit." gadis kecil itu juga ikut bersandiwara. Dia dengan mudah di gendong Deon do bahunya.


" lepaskan aku" Valmira terus meminta.


" hey, mau di bawa kemana mereka?" tanya penjaga yang lewat.


" kami disuruh tuan Alvaro untuk membawa gadis baru" jawab Kangta tanpa terlihat mencurigakan.


" oh, baiklah" penjaga itu meloloskan dengan mudah.


mereka meneruskan langkah kaki, dan hampir sampai di depan pintu masuk. sampai seorang wanita yang sudah mereka selamatkan tadi berlari sambil mengatakan.


" tunggu aku!"


sontak saja keberadaannya dengan segera membuat penjaga lain curiga. Karena hal ini mengartikan mereka sudah bersekongkol.


" tangkap mereka!" sekelompok penjaga itu dengan cepat langsung mengejar. kangta dan Deon berlari menuju pintu keluar.


Crushhh


kangta mengeluarkan sihirnya membuat penjaga itu kesusahan melihat karena asap yang Kangta berikan.


" cepat berlari" Kangta menarik Valmira terbang ke atap, Deoan sudah berlari lebih dulu. Dia hanya membawa anak kecil, sangat mudah baginya membawanya pergi.


" tolong aku" ucap wanita yang sudah berada di bawah atap. Meski sedikit kesal Kangta turun dan terbang lagi membawa wanita itu ikut pergi. mereka berlari di atap kerajaan.


" tembak mereka" para penjaga melemparkan anak panah ke arah mereka.


" gawat!" lirih Kangta. kini mereka keberadaan mereka dengan jelas diketahui penjaga kerajaan. situasi semakin mencekam tak kala prajurit yang memiliki kemampuan sihir ikut mengejar mereka.


" berhenti kalian" ucap prajurit itu memberikan peringatan. sebelum akhirnya dia mengeluarkan serangan.


crussh.


Kangta langsung membalas dan serangan itu terpental.


" kalian pergilah terlebih dahulu" ucap Kangta yang berniat menghadang prajurit itu.


Deon ikut membantu Valmira dan wanita asing berlari. gadis kecil sudah di taruh Deon di tempat yang aman. Jadi kini hanya tinggal Valmira dan wanita asing itu.


" siapa kau?" tanya prajurit itu, sudah sangat lama para penyihir di Mystick menghilang. Banyak dari pada mereka memilih mati daripada harus menjadi kacung kerajaan untuk membantu melakukan sihir hitam sang Ratu.


" kau tak perlu tau" jawab Kangta.


Crushh


Kangta memulai serangan, mereka terlibat perkelahian yang imbang. Kangta juga tidak percaya jika lawannya cukup tangguh. Segala serangan, pukulan dan tendangan mereka keluarkan. Namun belum ada yang mengenai masing-masing mereka.


" Deon, kau bantulah Kangta, aku bisa pergi dari sini. kita ketemu di sisi lain hutan kerajaan" ucap Valmira.


Wanita itu hanya perlu menghadapi pada prajurit yang hanya membawa senjata yang tidak ahli sihir.


" baiklah nona".


Deon segera kembali, dia akan ikut menghadapi prajurit itu bersama Kangta.


crusshh

__ADS_1


Deon langsung menyerang tak kala melihat posisi Kangta yang tersudut.


__ADS_2