
Matahari mulai meninggi saat mata Deon mulai terbuka. Lelaki itu menatap sekeliling dia, dan menyadari jika berada di sebuah pondok kayu. Perlahan dia beranjak duduk, sayup-sayup suara seseorang di luar menarik Deon ingin keluar. meski sedikit tertatih karena tubuhnya masih lemah, Deon tetap berjalan dengan berpegangan pada dinding ataupun apapun yang ada disana.
" kau makan yang banyak, tubuhmu sangat kurus sekali" ucap seorang nenek pada wanita asing.
Deon melihat perbincangan itu serta orang yang ada di sana. Dia juga melihat bagaimana nyamannya wanita asing yang dia selamatkan malam itu. seketika amarah Deon langsung memuncak. Dia mengingat dengan jelas bahwa wanita inilah yang menyebabkan rencana menyelamatkan Valmira menjadi kacau.
Deon segera menghampiri, Rasa nyeri di tubuhnya seketika menghilang.
Lelaki itu mengambil alih makanan yang ada di tangan wanita asing, lalu melemparkan piring yang berisi makanan dengan keras ke atas tanah.
prang..
baik nenek maupun wanita itu langsung menatap Deon dengan kaget.
" dasar wanita pembawa sial! gara-gara kamu kami semua nyaris tertangkap. karena kamu juga tuan Kangta harus terluka parah dan entah bagaimana keadaannya. menyesal kami menolong mu dasar wanita sialan! pergi dari sini kau hah. Pergi! biar kamu di tangkap dan membusuk..."
" Deon, kendalikan dirimu. jangan menyalahkannya" Valmira segera keluar dari kamar yang ada di depannya. Dia langsung mendekati Deon agar lelaki itu tenang.
" tidak, dia memang wanita pembawa sial. gara-gara dia kita ketahuan! pergi!"
" Deon sudah tubuhmu masih lemah. kau lebih baik beristirahat dulu" Valmira terus merayu dan mencoba meredam kemarahan Deon. Lelaki ini pasti masih syok dan merasa terpukul atas apa yang terjadi pada Kangta.
" kenapa kau membelanya, dia yang sudah membuat tuan Kangta terluka. hiks. tuan kangta, aku harus menyelamatkannya" Deon berniat pergi, tapi dengan cepat Valmira menarik tangannya.
" Deon, tubuhmu masih lemah! aku mohon kendalikan dirimu" Valmira begitu erat memegang tangan Deon.
nenek dan wanita asing itu tidak bisa berkata apa-apa mereka berdiri di sudut ruangan karena ketakutan. Deon sedang mengamuk tidak bisa di tenangkan.
ooeekkk ooeekk
suara tangisan bayi mendadak membuat amarah Deon langsung terhenti. Dia ingat jika Valmira sudah tidak mengandung lagi. tangisan bayi ini pasti bayi Valmira.
Deon mulai melemah, dia menatap bayi mungil yang ada di sebuah keranjang bayi di dalam kamar yang terbuka. Valmira mulai melepaskan cekalannya pada tangan Deon.
" dia bayimu?" tanya Deon. Valmira mengangguk sambil tersenyum tipis.
Deon berjalan mendekat menuju kamar di depannya, bayi itu adalah anak kakaknya, Raja Gyan.
Ooekk oeeekk
Deon perlahan mengelus pipi bayi mungil itu.
" kau pasti ketakutan" lirih Deon, suara kerasnya pasti sudah menganggu tidur bayi kecil ini.
perlahan bayi G mulai tenang dan menatap Deon sambil tersenyum senang.
" kau mengenaliku tidak?" tanya Deon padahal dia tau jika bayi G tidak akan bisa menjawab nya.
Valmira kini ikut mendekat, dia mengambil bayinya dan memberikannya pada Deon.
" dia adalah G, aku belum menemukan nama yang bagus untuknya" jelas Valmira sambil memberikan G pada tangan Deon. Berharap Deon bisa melupakan amarahnya serta rencana pergi ke kerajaan.
" dia sangat tampan, wajahnya mirip sekali dengan kakak"
" iya kau benar"
Dan benar saja, setelah berinteraksi dengan bayi G, kemarahan Deon seketika menghilang, semua itu karena adanya G yang mengalihkan dirinya.
" tunggu aku akan kembali" Deon menyerahkan G kepada Valmira, lalu tanpa sepatah kata dia pergi keluar dari pondok.
" Deon!" panggil Valmira. Dia khawatir jika Deon nekat pergi ke kerajaan untuk menolong Kangta. kondisinya masih lemah, jika benar Deon kembali ke kerajaan dia hanya akan mengantar nyawa.
Valmira menarik nafas panjang.
" semoga kekhawatiran ku tidak terjadi" guman Valmira sambil tetap menggendong G. yang menatapnya sambil tersenyum.
Hari berganti sore namun Deon tak kunjung kembali, Valmira menunggu di depan pondok dengan gelisah. Jika malam ini Deon tidak kembali, dia akan pergi ke kerajaan untuk memastikan. itu tekad Valmira.
__ADS_1
untungnya tak lama dari Valmira berdiri di depan, wanita itu bisa melihat seorang gadis kecil berjalan mendekat. Dan betapa senangnya saat Valmira melihat Deon berjalan dengan gadis yang di temui saat berada di sel tahanan.
Valmira langsung memeluk gadis itu erat.
" Bagaimana bisa kau menemukannya?" tanya Valmira kepada Deon yang berhenti di depannya.
" aku melupakannya saat pergi kemari malam itu. aku menyuruhnya menungguku di balik kayu di belakang kerajaan, Untung saja dia masih setia disana" jelas Deon sedikit menyesal.
" aku kira kau pergi ke kerajaan, hampir saja aku akan menyusul malam ini"
" tidak, katamu tubuhku masih lemah. Jadi aku menuruti perkataanmu saja" Deon mulai terlihat lebih stabil emosinya. mungkin kemarahannya tadi adalah efek karena dia baru saja sadar dan ingatan terakhirnya termasuk ingatan yang cukup menyedihkan.
" aku senang melihatmu yang seperti ini, ayo masuklah"
Valmira, Deon dan gadis kecil masuk ke dalam pondok. bangunan itu yang awalnya sepi kini ramai. Apalagi dengan adanya bayi G suasana menjadi bertambah hidup. Deon juga sudah bisa menerima kehadiran wanita asing yang telah dia hina sebelumnya. meskipun hubungannya tidak terlalu baik seperti yang lain. Setidaknya Deon tidak membentak ataupun mengusir wanita itu.
Hari ini luka di tubuh Deon terlihat mulai menghilang, hanya menyisakan cidera tulang dan luka dalam. saat ini Deon sedang duduk di luar pondok, dia sedang bertapa untuk memulihkan tenaga dalamnya yang terkuras akibat perkelahian dengan boneka sihir. Valmira yang melihatnya, berjalan mendekat.
" Deon ku dengar kau ingin menyelamatkan Kangta sendirian? apa aku boleh ikut?"
Deon membuka matanya menatap Valmira dengan serius.
" Alora, kau sekarang memiliki bayi. Aku tidak mau keponakanku menjadi piatu dalam waktu dekat" tolak Deon secara halus.
" jangan khawatir, aku pasti bisa membantu, apalagi dengan kekuatan yang aku miliki, aku yakin kita bisa menghadapi mereka. Bayi G akan di jaga oleh nenek dan yang lainnya"
" Alora, kau tidak tau. kemarin saja aku nyaris tewas melawan boneka sihir itu"
" boneka sihir?"
" iya, mereka menggunakan sihir hitam untuk bisa menjalankan aksinya. meski boneka itu sudah di hancurkan oleh tuan. Tapi ada seorang lelaki dengan kemampuan hebat yang menjaga kerajaan. Dia adalah pangeran Alvaro_" jelas Deon secara mendetail.
" pangeran Alvaro? apa dia yang mengalahkan Kangta?"
" saat itu kami terlalu fokus dengan boneka sihir, sampai tidak menyadari jika Alvaro datang dan langsung menjadikan Kangta sebagai target. akhirnya perkelahian jelas tidak imbang, Aku dan Kangta sudah lemas dan tidak memiliki tenaga"
" iya nona, tunggu tenaga dalam saya pulih, baru pergi menyelamatkan tuan"
Percakapan hari itu bukan percakapan biasa. Sejak saat itu mereka memiliki tekad untuk membawa Kangta dari kerajaan, Valmira dan Deon terus menaikkan kemampuan mereka dalam hal bertarung. Apalagi Valmira kini sudah bisa terbang dan melakukan beberapa serangan menggunakan energi sihir meskipun hanya terbatas beberapa sarangan saja.
" nona ini adalah peta kasar kerajaan, semua yang berwana coklat adalah pintu masuk ruangan yang tidak banyak orang yang tau. lalu jika ada gambar bulat maka itu tempat berkumpulnya pada penjaga istana. Kalau kuning maka jalan itu tidak bisa di lewati.." jelas Deon. persiapan mereka cukup banyak.
" aku akan coba mengingatnya dengan baik"
" nona, kita tidak tau apa yang kita hadapi, saat terjadi pertempuran segala hal bisa saja terjadi. Sebelum semuanya terlambat, tolong anda fikirkan kembali rencana anda ikut dalam misi pembebasan ini. kasihan bayi G jika sampai terjadi sesuatu pada anda" rayu Deon sekali lagi, agar Valmira tidak usah ikut menyelamatkan Kangta.
" tidak Deon, keputusanku sudah bulat aku akan ikut menyelamatkan Kangta. Dia sudah aku anggap seperti ayahku sendiri. Mau bagaimana apa yang akan terjadi nanti, biarkan terjadi, aku yakin semuanya akan baik-baik saja" balas Valmira seakan berpasrah setelah melakukan beberapa usaha.
" baiklah nona. malam ini kita berangkat" ucap Deon yakin, Valmira pun ikut tersenyum.
" baiklah malam ini kita pergi, aku akan menyerahkan G pada nenek"
Langit masih sore tak kala Deon dan Valmira keluar dari pondok. nenek dengan senang hati merawat bayi G saat tau jika Valmira dan Deon pergi ke istana untuk melawan Pangeran Alvaro dan Ratu Violet.
" nona jangan lupa untuk membunuh Violet, dia wanita yang kejam, gunakan kesempatan ini sebagai bentuk pembalasan serta untuk memulihkan kembali kerajaan" itulah yang nenek katakan saat Valmira berpamitan sore itu. Sayangnya Deon tidak tau menahu mengenai Alora yang merupakan Putri Valmira.
keduanya segera mendekat ke kerajaan dan langsung membagi tugas pengintaian. Kerajaan kini bertambah ketat. sejak percobaan mereka menerobos ruang tahanan, kini hampir semua jalur sudah ada prajurit yang menjaga.
byuurrr.
siraman air dingin langsung merasuk terasa seperti ribuan paku menekan kepalanya. Kangta langsung terbangun dari pingsannya.
lelaki itu berada di dalam area persembahan hewan suci. Lokasi yang paling dekat dengan menara dan tempat penyimpanan lampion yang mengurung inti jiwa Valmira.
" bangun!" teriak Alvaro.
kedua tangan Kangta di tali rantai pada masing-masing sisi. membuat tubuhnya tergantung dengan kaki menekuk tidak kuat menopang tubuh.
__ADS_1
" jangan bersandiwara lagi, katakan siapa yang mengirim kalian? haah" tanya Alvaro berkali-kali. Kangta sudah lelah di tanya pertanyaan yang sama sejak dia terbangun dari pingsannya waktu itu.
plak.
tamparan lagi mendarat pada pipinya. Kangta kini menatap Alvaro dengan sedikit sayu, tak lupa senyum mengejeknya.
" kau ingin tau, apa kau takut jika kami adalah suruhan dari putri Valmira? hahahaaa" Kangta hanya berniat mengecoh. Dia yang sudah tau mengenai kasus hilangnya Putri Valmira, hanya bisa memanfaatkan hal ini untuk membuat Alvaro dan wanita kejam itu panik.
crash
" aaakk" kangta mendapatkan serangan sihir lagi.
" dasar tidak berguna!" teriak Alvaro lalu pergi setelah membuat Kangta tidak sadarkan lagi karena serangannya.
Lelaki itu berjalan menghampiri Viloet yang baru saja selesai melakukan ritual penjagaan. Lampion milik penyihir Osmond semakin hari semakin kehilangan fungsinya. Inti jiwa Valmira beberapa kali sempat keluar dari wadah. membaut Violet khawatir di buatnya.
" Violet, gantian kau yang berbicara pada lelaki tua itu." kesal Alvaro lalu duduk di samping Violet.
" kenapa, apa yang lelaki itu lakukan sampai membuatmu kesal seperti ini?" tanya Violet dengan santai.
" dia selalu saja menyebutkan Jika Valmira yang mengirimnya. Bukankah iku mengesalkan?"
" hahahha, kau itu bodoh atau bagaimana. jika Valmira disini dia pasti akan datang menemui kita, bukan malah menyuruh seseorang masuk ke tahanan untuk menyelamatkan satu orang. Tidak mungkin. Palingan juga alasan dia melakukan hal ini adalah karena cinta. Wanita yang dia selamatkan mungkin saja kekasihnya" jelas Violet yang memandang rendah kejadian ini.
" mana mungkin sesederhana itu, lalu kenapa dia menyebutkan nama Valmira?"
" semua orang di Mystick begitu menginginkan Valmira kembali, mungkin dia hanya mengoceh. Kau terlalu serius dan khawatir. Sudah bunuh saja lelaki itu, tidak ada gunanya juga mempertahankannya"
" kau benar juga, besok aku akan membunuhnya kalau begitu. oh ya apa ritualnya berhasil? "
" kali ini sangat sedikit efeknya. lampion itu perlahan mulai kehilangan fungsinya, darahmu tidak lagi bisa menahan inti jiwa Valmira. kita harus mencari lebih banyak darah perawan"
" bukan kah jumlah para tahanan masih banyak?"
" entahlah, apa mungkin di luar sana Valmira masih hidup dan menemukan tambatan hatinya. setiap hari selalu saja ada serpihan energi jiwa nya yang keluar. Jika sampai dia jatuh cinta maka untuk seterunya lampion ini akan melemah"
" mana mungkin dia jatuh cinta, penyihir yang kehilangan inti jiwanya pasti akan segera mati. kecuali jika dia terus menerus mendapatkan asupan energi dari orang lain"
" semua ini gara-gara Amanis sialan itu, kita harus kehilangan tubuh Valmira dan kini tidak tau kepastiannya dia mati atau tidak"
" bagaimana jika kau percepat saja pemindahan inti jiwa itu, sebelum lampion itu rusak dan inti jiwanya kembali pada pemiliknya"
" sudah aku katakan, inangnya masih belum cukup kuat. dia masih memerlukan waktu untuk bisa tumbuh dan siap menggunakan inti jiwa ini"
" mau berapa lama lagi, satu kerajaan ini hampir musnah hanya untuk membuat boneka sihir iblis itu!"
" tunggu saja, sihir hitam yang kita lakukan pasti akan menguntungkan, tunggu sebentar lagi. saat kita sudah memiliki boneka ini maka bukan hal yang tidak mungkin Azerbaza ada di tangan kita. hahahah"
keduanya menatap aura hitam yang mereka hasilnya dari melakukan ritual terlarang terus menerus. Aura itu berkumpul dan mengalir menuju sebuah peti yang kini sudah terlihat wujudnya setengah. Mereka ingin menciptakan boneka sihir tapi bukan dari manusia melainkan dari iblis. Itulah mengapa Azerbaza pasti akan terancam jika sampai ritual ini berhasil.
tap tap tap
" suara apa itu?" tanya Alvaro yang mendengar suara mendekat.
" kau periksalah,!"
Alvaro keluar dari ruangan ritual menuju ke depan halaman menatap kanan dan kiri tapi tidak ada siapapun, lelaki itu berbalik badan untuk masuk.
" tunggu, kemana semua penjaga itu?" Alvaro seketika menyadari hilangnya pada penjaga yang seharusnya berdiri di ambang pintu.
Alvaro segera menjauh dari lokasi ritual untuk mencari keberadaan anak buahnya. belum juga keluar dari lorong, lelaki itu melihat tumpukan mayat prajurit khususnya tertumpuk di pojok halaman.
" sial!"
lelaki itu seakan menyadari kecerobohannya dan segera kembali. Dia menuju lokasi tempat Kangta dia siksa. Matanya langsung menyalang tak kala melihat rantai Kangta yang sudah copot dan sel yang sudah kosong.
" Sialan!" umpat Alvaro tidak marah, kesenangannya di ganggu.
__ADS_1