Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Menyangkal


__ADS_3

" itu tidak mungkin, jika dia penyihir berasal dari keluarga mana dia berasal?" tantang Shana, dia sudah melupakan etika berbicara dengan raja. Wanita itu sudah terlanjur sakit hati dengan perlakuan Gyan padanya.


" Arghi," jawab Gyan datar. membuat yang lain merasa percaya dengan pernyataan Gyan. Lelaki itu sebenarnya hanya mengarang dan, dari semua keluarga penyihir. Hanya keluarga Arghi yang lebih tersembunyi. Dengan hal itu siapapun tidak akan mudah memastikan apakah itu benar atau salah.


" ini tidak perlu di bahas lagi. Raja sudah mengatakan begitu. Kita jangan sampai meragukan penilaian raja. Kau harus tau batasan Ratu Shana" potong ibu Suri. ini kesempatan yang bagus untuk menunjukkan kemampuan diri serta mengambil hati Raja.


Semua tampak setuju dengan pernyataan ibu suri. Bagaimana bisa Shana melupakan etika saat dia berstatus Ratu. dia semakin di pandang buruk oleh yang lainnya. Raja Gyan cukup terbantu dengan ucapan dari ibu suri.


Gyan berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Valmira. Semua menatap dengan penasaran. Sedangkan Valmira tidak mau menambah perselisihan jadi menurut saja. Meskipun sebenarnya dia tidak menyukai perhatian dari semua orang.


Valmira berdiri di samping Gyan, dan dengan pelan Gyan mengelus perut wanita itu.


" ini adalah penerus kerajaan Garamantian. Selir Alora akan menerima segala kehormatan atas apa yang dia berikan kepada kerajaan" ucap Gyan kepada semua orang. Valmira tersenyum canggung sedangkan Shana penuh dengan dendam. Wanita itu mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia salah selama ini, hanya menganggap Valmira sebagai lawan rendah. Nyatanya semua yang dia inginkan sudah habis di ambil oleh wanita itu.


Tanpa berlama-lama. Valmira dan Gyan lalu berjalan meninggalkan acara. Bagi lelaki itu sudah cukup baginya memberikan kabar itu. Kini tinggal bagaimana caranya agar bayi dan ibunya aman sampai waktu melahirkan tiba.


" yang mulia seharusnya tidak perlu mengumumkan kehamilan saya, ini membuat saya merasa tidak nyaman" gerutu Valmira saat perjalanan kembali ke kamarnya.


" apa salah jika aku ingin seluruh kerajaan merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan?" Gyan merasa tidak terima.


" bukan begitu, kan bisa lain kali. Kenapa secepat ini"


" mau sekarang atau nanti itu sama saja" balas Gyan cuek. Valmira menghembuskan nafas kasar lalu segera berbelok.


" ak" Gyan menahan perutnya.

__ADS_1


" mau kemana?" bisik Gyan.


" ke kamar, lepaskan yang mulia. banyak pelayan dan penjaga" Valmira menggeliat mencoba melepaskan pelukan Gyan pada perutnya.


" kita ke istana ku" lalu menarik tangan Valmira. Wanita itu memutar matanya, jengah. Gyan semakin lama kenapa semakin manja. Sejak Kangta pergi dari istananya. Lelaki ini selalu saja ingin berdua bersama dengan Valmira dan calon anaknya.


" selalu saja" kesal Valmira yang tidak memiliki pilihan lain. keduanya berjalan menggunakan jalan khusus menuju istana Raja.


" yang mulia jika benar saya penyihir, berarti saya juga memiliki kekuatan, apa bisa saya mengeluarkannya?" tanya Valmira. Saat ini mereka berdua sudah sampai di istana. Valmira bersantai di sofa ruang kerja. Gyan tentu saja sedang sibuk dengan berkasnya.


" bisa saja, semua penyihir pasti memiliki kekuatan. Hanya saja karena kau sedang mengandung lebih baik jangan kau gunakan kekuatan itu, lebih penting untuk bayimu nanti" jelas Gyan berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan jika Valmira tidak memiliki inti jiwa penyihir. Dan yang lebih penting alasan dia mengatakan hal itu adalah agar Valmira tidak mengeluarkan energi sihir dalam tubuhnya, karena dia tidak bisa menghasilkan energi baru.


" oh begitu. Padahal saya ingin belajar mengeluarkan kekuatan sihir" ungkap Valmira sedih.


Perbincangan itu membuat Gyan kembali mengingat tentang dirinya yang pernah melihat Valmira mengeluarkan sihir untuk menghalau sihir hitam Shana. Tak salah lagi, setelahnya wanita ini lemas kekurangan energi. Kini semuanya masuk akal bagi Gyan. Valmira memanglah penyihir asli.


" ada apa? " tanya Valmira kebingungan.


" rambutmu berantakan sekali, aku jadi ingin menatanya" jawab Gyan sambil berjalan menuju sofa dan duduk di sebelah Valmira.


" ini yang mulia" pelayan membawakan serba serbi peralatan rambut, mulai sisir, jepit dan berbagai ornamen rambut.


" tidak ada yang salah rambut saya" balas Valmira sambil menyentuh rambutnya.


" sudah jangan cerewet" Gyan segera membuat Valmira membelakanginya. Gyan duduk di sandaran sofa agar lebih mudah mengurus rambut Valmira.

__ADS_1


Lelaki itu mulai melepaskan hiasan rambut Valmira, dan mengambil sisir.


Gyan sedang beralasan. Dia hanya ingin melihat bagaimana perkembangan rambut Valmira yang memutih itu.


" hati-hati, jangan membuatnya semakin jelek. yang mulia" Valmira terima saja apa yang Gyan inginkan.


Lelaki itu mulai menyisir dengan pelan. Tak lupa membuka helaiannya agar tau bagian mana saja yang mulai memutih.


Gyan berfikir jika karena energi Valmira yang terbatas, mungkin bayi nya mengambil energi lainnya dalam tubuh Valmira dan membuat Valmira lebih cepat menua. Karena Gyan tidak mengenal adanya manusia yang berambut putih kecuali beberapa penyihir asli Arghi.


" sudah?" tanya Valmira yang merasakan elusan di rambutnya berhenti.


" em" Gyan menghentikan lamunan sedihnya.


" yang mulia hanya mengikat seperti ini? " tanya Valmira tidak terima.


" kenapa?"


" ini lebih buruk dari yang sebelumnya" kesal Valmira. Gyan menatap sekilas dan menurutnya apa yang Valmira katakan adalah benar. Rambut wanita itu malah terlihat lebih buruk.


" tidak, ini jauh lebih baik" elak Gyan dengan sombong.


" ih, yang mulia" Valmira memeriksa dan memang terlihat buruk.


" sudahlah, hanya masalah rambut saja. setelahnya ini juga tidur" Gyan beranjak turun dari sofa. Valmira tetap cemberut tidak terima.

__ADS_1


" tetap saja. yang mulia"


Gyan malah tersenyum lucu. Rambut itu terlihat lebih kacau dari sebelumnya. Valmira menatap Gyan dengan tatapan tak suka. Gyan pasti sengaja membuatnya lebih buruk. pikir Valmira.


__ADS_2