
Dalam beberapa hari saja, menyebarnya rumor mengenai Valmira yang merupakan penyihir hitam sudah sampai di kalangan penyihir di luar kerajaan. Meski mereka belum bisa memastikan kebenarannya, tapi hal ini tentu begitu menganggu. Masalah penyihir hitam akhir-akhir ini nampak begitu sensitif. Masalah kerajaan Mystick saja belum selesai, malah mendengar kabar penyihir hitam lainnya. mereka tidak mau terjadi hal lebih buruk lagi di bumi Azerbaza.
" maaf yang mulia, ada kunjungan dari Yohan" ucap Aden.
saat ini Gyan tengah sibuk di ruangan bacanya. Lelaki itu sedang mengurus beberapa laporan.
" Yohan?" Gyan mengingat-ingat. Lelaki itu ada urusan apa datang ke kerajaannya.
" iya yang mulia"
" hem" Gyan berdehem sejenak.
Gyan beranjak dengan perasaan tak rela kemudian berjalan menuju ruang depan. Disana Yohan duduk di kursi dengan wajah serius.
" Raja Gyan" Yohan memberikan salam penghormatan. Meski dengan wajah yang tidak bersahabat. Membuat sanjungan itu terasa seperti panggilan asal.
" ada urusan apa kau kemari?" tanya Gyan tanpa basa basi. Bahkan Gyan masih berdiri di depannya.
" tentu saja mengenai selir mu" jawab Yohan enteng tanpa sopan santun.
Gyan menghembuskan nafas kasar, ini hal yang sama sekali tidak ingin Gyan bahas. Karena baginya ini bukanlah hal umum.
" pergilah, itu bukan urusanmu" jawab Gyan ketus dan langsung berbalik badan.
" hey, kau perlu menjelaskan kenapa masih mempertahankan wanita di sisimu, bukankah jelas jika dia.."
" tutup mulutmu atau aku tidak akan menahan diri lagi" Desis Gyan terpancing emosi. Sayangnya Yohan bukan termasuk orang yang tau batasan. Dia cenderung seenaknya sendiri demi kepentingannya.
" masalah Arghi saja belum selesai, bagaimana bisa kau melindungi penyihir hitam itu?" balas Yohan tanpa takut.
" siapa yang kau maksud penyihir hitam, hah?" Gyan membalikkan badannya lagi dan menatap garang ke arah Yohan. Seketika tubuh Yohan merasakan panas yang menjalar.
"siapa lagi, bukankah selir mu itu?" Yohan sedikit merendah. Dia merasa takut jika sampai Gyan benar-benar murka. Dia harus menjaga keselamatannya.
" kau tak tau apa-apa" balas Gyan penuh penekanan.
__ADS_1
" asal kau tau saja, berita ini benar-benar sudah mengganggu yang lain. Lakukan apapun untuk menenangkan mereka" Yohan hanya bisa sampai memberikan saran saja. Dia bisa melihat jika Gyan amat sangat tersinggung dengan tuduhannya. Dan mungkin saja apa yang dia dengar adalah sebuah kebohongan.
" Aku lebih tau apa yang sebenarnya terjadi, pergilah"
kali ini Gyan benar-benar meninggalkan Yohan. Dia malas mendengar omong kosong dari orang lain. Lelaki itu kembali memasuki ruang baca dan duduk dengan kasar.
" Aden!"
" iya, yang mulia"
" segera suruh orang untuk mencari tau perkembangan rumor Alora di luar sana"
" baik yang mulia"
Gyan memijit keningnya yang mulai pening. Dia mengatur nafasnya, belum juga dia menemukan jalan keluarnya masalah ini sudah semakin besar.
Di tempat lainnya, terlihat lebih senggang dan sepi. Kamar Selir Agung mendadak sepi dari pelayan.
" Dimana cemilannya Fleur?" tanya Valmira saat melihat temannya datang tanpa membawakan pesanannya.
" di dapur tak ada makanan, hanya beberapa menu yang belum di olah. kemana mereka pergi?" lapor Fleur yang belum mengetahui kabar di luar kamar.
" aku akan meminta ke dapur istana Harem" ucap Fleur lalu pergi meninggalkan Valmira yang masih betah membaca buku.
Fleur keluar dari kamar, wanita itu tidak keluar kamar beberapa hari. Dia sibuk menemani Valmira di dalam, apalagi temannya itu sangat jarang pergi keluar.
" nyonya, saya ingin mengambil cemilan untuk selir Agung" ucap Fleur pada kepala dapur.
" semuanya sudah habis" jawabnya ketus.
Fleur semakin merasa ada sesuatu yang tidak beres. Bagaimana bisa sikap mereka berubah drastis padahal sebelumnya mereka begitu memperhatikan selir Agung daripada Ratu.
" apa tidak ada sedikit saja, selir Agung meminta cemilan" ucap Fleur sedikit memaksa.
" tidak ada kubilang" jawab kepala dapur dengan nada agak tinggi.
__ADS_1
Fleur akhirnya mengalah, dia hanya mengambil satu piring buah-buahan saja. Lalu pergi. Sepanjang perjalanan wanita itu merasa aneh dengan tatapan pelayan yang tak sengaja berpapasan dengannya.
" ada apa? kenapa menatapku seperti itu?" tanya Fleur tak kuat dengan rasa penasarannya.
" kau pelayan selir jahat itu kan? " tanya beberapa pelayan dengan ketus.
" jaga ucapanmu, mau di hukum kau" balas Fleur tidak terima temannya di hina jahat.
" semua orang sudah tau ya jika selir Agung adalah dukun jahat" saut pelayan lainnya yang sukses membuat Fleur naik pitam.
" apa kau bilang? lancang sekali!" baru saja Fleur ingin memukul mereka, para pelayan itu segera berlari. Dia tidak mau bersentuhan dengan Fleur yang dirasa sebagai pembawa sial.
" dasar kalian tidak berguna!" teriak Fleur mengolok mereka. meluapkan amarahnya sesaat.
Kini dengan nafas yang memburu Fleur berjalan menuju kamar Selir Agung.
" huft, berani sekali mereka" guman Fleur mengingat ucapan para pelayan itu.
" kenapa kau kembali dengan marah-marah?" tanya Valmira polos, sambil melihat-lihat buah yang di bawa oleh Fleur.
" para pelayan istana mengatakan jika kau dukun jahat" kesal Fleur.
" dukun? hahahaha" Valmira menanggapi dengan sangat santai.
" kau masih bisa tertawa? ini penghinaan kau tau!"
" sudahlah Fleur untuk apa mengurusi hal itu, percuma saja kau marah"
" ini pasti ulah Ratu. Aku yakin sekali. Dia adalah satu-satunya orang yang membencimu" jelas Fleur memulai analisisnya.
" jika memang dia, kau mau apa? protes? tidak akan di tanggapi" balas Valmira sambil mengunyah makanan. Valmira tidak terlalu ambil pusing. Setidaknya dia belum merasakan efek buruk dari rumor ini.
" kau harus mengatakan hal ini pada raja, ini tidak bisa di biarkan" ucap Fleur seakan merengek meminta hadiah.
Valmira tidak menjawab dia sedang menemukan bacaan yang seru.
__ADS_1
" Alora!" panggil Fleur karena di acuhkan.
" iya, tenang saja" wajab Valmira agar pembicaraan selesai.