
Semua penyihir mengelilingi Ratu Prysona yang terlihat sekarang terkena sihir hitam milik Shana.
" ini adalah sihir hitam!" saut ketua penyihir yang menyadari dari luka yang ada di tubuh Ratu. semuanya kini berpaling menatap Shana tidak percaya. Ternyata rumor itu benar adanya. Putri kerajaan Prysona lah yang salah dan membuat perang ini terjadi.
" apa? kalian ingin melawanku?" tantang Shana dengan tanpa merasa bersalah sama sekali bahkan melihat ibundanya yang sedang sekarat, tidak membuat wanita itu sedih.
" putri ini adalah bentuk kejahatan. hal ini tidak bisa di teruskan." nasehat ketua penyihir.
" siapa yang berani melarangku" Shana tidak mau mendengarkan. Baginya para penyihir ini adalah para pecundang.
" putri mohon segera bawa yang mulia Ratu, beliau sangat kesakitan" lanjut penyihir lain yang sangat khawatir.
" itu adalah akibat karena tidak mau menurut padaku. kalian ingin aku melakukan hal yang sama kepada kalian?"
para penyihir itu mulai sedikit ketakutan.
" jika kalian tutup mulut dan mengatakan jika yang melakukan semua ini adalah Raja Gyan maka aku akan menjamin keselamatan kalian" tawar Shana. Beberapa penyihir sedikit goyah.
" aku tidak akan membiarkannya. Raja dan seluruh Prysona harus mengetahui hal ini" tantang ketua penyihir.
" begitu?"
crusshh
Dengan tanpa berlama-lama Shana langsung mengirimkan sihir hitam yang sama pada ketua penyihir. Seketika lelaki itu meregang nyawa sama seperti ibunya, Ratu Prysona.
tinggal 2 orang yang terlihat ketakutan. mereka tidak bisa memutuskan, rasa takut membuat mereka tidak bisa menilai dengan baik.
" bagaimana? menerima tawaranku atau kalian ingin memiliki nasib yang sama seperti mereka?" tanya Shana dengan enteng. Wanita itu tidak peduli dengan apapun.
kedua penyihir saling lempar pandangan.
" ba baik putri, kami akan melakukan apa yang putri perintahkan" penyihir itu tidak memiliki nyali. keduanya begitu takut dengan kematian.
" bagus, ingat katakan jika semua ini adalah ulah Raja Gyan, kalian hanya perlu mengikuti perkataanku. maka aku jamin kalian pasti akan mendapatkan keuntungan"
" baik Ratu"
" hahahahhh" Shana tertawa puas.
......................
Setelah mendapatkan kunjungan mendadak dari Ratu Prysona, Raja Gyan segera kembali ke istana. Hari ini perasaannya tidak menentu. seperti ada yang menghawatirkan tapi juga sedikit Rasa senang. Gyan sudah mencoba mengalihkan dengan membaca laporan serta buku-buku bacaan, namun tetap saja tidak bisa hilang. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang terjadi di luar dan itu berhubung dengan dirinya.
Hal itu tentu saja karena putranya sudah lahir. Valmira masih belum menemukan nama yang bagus. Dia memanggil bayinya dengan nama G. inisial ayahnya. Valmira sangat merindukan lelaki itu. Kini di ruang tengah Valmira sedang duduk menyusui anaknya. Dia hanya mengurus anaknya sedangkan yang membuat makanan hanya nenek seorang. Valmira sudah meminta berkali-kali agar dia juga ikut memasak, namun dengan keras nenek itu menolaknya. Selain karena Valmira adalah putri kerajaan, dia juga baru saja melahirkan.
" saya sudah membersihkan kamar putri dan membakar semua kain yang terkena darah. Kondisi kebun juga semakin baik. saya pamit pergi sejenak untuk berbelanja kain serta perlengkapan bayi"
" nenek jangan! kita menggunakan yang ada saja. Saya tidak bisa mengurus bayi ini sendirian" cegah Valmira dengan sedikit berbohong.
" putri persediaan baju untuk pangeran G sangat kurang. Tidak ada barang berharga yang menunjukkan jika dia adalah seorang pangeran" Tolak nenek.
" tidak masalah, situasi diluar sangat kacau. aku tidak mau kehilangan nenek. G juga tidak apa-apa hanya menggunakan baju seadanya" ucap Valmira dengan nada sedih merayu.
nenek tersebut awalnya keberatan. Meski tidak ingat identitasnya, Valmira tetaplah putri kerajaan tidak sepantasnya jika harus menerima barang-barang seadanya.
" aku mohon nenek. keselamatan adalah hal terpenting untuk sekarang ini" lanjut Valmira.
__ADS_1
" baiklah jika begitu" nenek itu akhirnya menurut. Dia tentu akan menuruti keinginan putri Valmira.
Disamping itu, Kangta dan Deon baru saja sampai di kota yang di maksud. Mereka mencari kesana kemari lokasi pendaftaran anggota prajurit kerajaan, namun tidak ketemu.
" tuan apa mungkin berada balai kerajaan?" tanya Deon yang lebih belajar dari pengalaman.
" mungkin iya, tidak ada salahnya kita mencobanya"
Mereka berjalan menuju sebuah bangunan bagus dan akhirnya menemukan papan pengumuman. Dengan begini informasi yang mereka dapatkan semakin akurat.
" tuan ada petanya!"
" kau bacalah"
"kita hanya perlu berjalan lurus dan berbelok ke depan untuk bisa sampai" ucap Deon dengan yakin.
" baiklah"
mereka tanpa ragu segera mengikuti perintah yang ada di papan pengumuman.
" kalian siapa?" tanya petugas begitu mereka mendekat.
" kami pekerja Zale, nelayan lepas yang mengirim kami agar ikut masuk ke prajurit kerajaan " jawab Kangta sesuai dengan arahan Zale.
" baris disana" teriak penjaga itu garang.
kangta dan Deon langsung mematuhi, mereka masuk ke salah satu ruangan yang terlihat masih kosong. tidak ada siapapun disini. Kangta dan Deon saling melemparkan tatapan penuh tanya.
" kalian kemari." teriak salah petugas yang bagian mengurusi prajurit baru.
" kau, berasal dari mana?"
" saya adalah pekerja Zale. Nelayan lepas di pantai sana"
petugas itu memeriksa fisik Deon, sebagai prajurit memang seseorang di tuntut harus sehat dan bugar.
" lolos, prajurit gerbang utama" petugas itu ternyata sedang memilah-milah lokasi penugasan.
" kau kemari!" ucapnya pada Kangta.
" kau sudah tua, tidak bisa menjadi prajurit pulang saja" tolak penjaga.
" saya masih kuat dan bisa melakukan apapun" ucap Kangta.
" tidak bisa kau pergi saja" ucap petugas kedua kalinya.
" saya bisa menggunakan kemampuan bersenjata" Kangta masih belum menyerah. Dia harus bisa membuat petugas ini menerimanya.
petugas itu mengambil nafas panjang, baru kali ini ada orang tua yang kekeh ingin masuk. Padahal menjadi prajurit kerajaan Mystick itu sama sekali tidak di bayar. banyak yang terpaksa ikut karena suruhan kerajaan, tapi ini malah keras kepala tidak mau pulang.
" baiklah, baiklah. kau jadi prajurit gerbang belakang"
Kangta cukup senang, akhirnya dia bisa masuk ke istana. entahlah mau bekerja sebagai apa, cukup dapat izin masuk istana semuanya akan bisa di lakukan.
" baiklah" Kangta ikut masuk ke dalam sebuah barisan.
setelahnya tidak ada lagi yang datang. petugas kerajaan lalu menutup pendaftaran. Memang semakin hari jumlah pendaftar prajurit akan semakin berkurang. Bahkan rakyat Mystick juga semakin sedikit akibat praktik sihir hitam Ratu nya. membuat rakyat menderita tidak karuan.
__ADS_1
Kangta dan Deon kini terpisah, mereka berlagak tidak saling kenal agar tidak membuat kecurigaan. keduanya lalu di suruh naik ke kuda dan mengikuti para petugas di depannya.
perjalanan mereka tidak begitu lancar, karena ternyata mereka harus melewati beberapa pos pos untuk bisa memastikan jika fisik mereka kuat. Kangta dan Deon berusaha bertahan, mau bagaimanapun ujiannya.
" waktunya makan!" teriak petugas kepada sekitar 10 orang dari berbagai wilayah. Dan semuanya terlihat terpaksa.
" akhirnya" lirih salah satu pemuda. Dia terlihat sangat kurus dan lemah. entah penderitaan apalagi yang akan Kangta dan Deon saksikan di kerajaan Mystick ini.
Hari berlalu dengan cepat, segala macam pos sudah berhasil mereka lalui sampai akhirnya mereka sampai di depan kerajaan Mystick.
Kangta jadi ingat diri nya saat dulu datang kemari menjadi tamu kehormatan dan sekarang menjadi prajurit paling rendah.
" cepat!" suara prajurit senior mendorong tubuh kangta. Sejak masuk ke lokasi pendaftaran Kangta dan Deon sudah jarang sekali bertemu. Lalu sekarang mereka mendapatkan posisi yang berbeda. Tentu tidak akan mudah bagi mereka untuk sekedar bertemu dan berdiskusi.
" malam ini, kau yang berjaga" perintah salah satu senior. Kangta sudah mendapatkan peta gerbang belakang, gerbang ini di peruntukan untuk para prajurit yang ingin melewati laut, Gerbang belakang di gunakan sebagai jalur alternatif untuk mengirim bahan makanan serta aktifitas kerajaan yang bersifat kotor dan rutin.
" baik, tuan" jawab Kangta.
Dia berjaga sendiri, hal ini biasa di berikan pada anak baru. para senior akan sesuka hari menyuruh agar mereka terbebas dari tugas.
Kangta menatap peta dengan teliti, ini adalah langkah utama untuk bisa masuk dan menyelidiki sihir hitam macam apa yang sudah pemimpin kerajaan lakukan hingga dampaknya bisa di rasakan oleh seluruh makhluk Azerbaza.
Saat situasi gerbang sedang sepi, dimana waktu juga menunjukkan tengah malam. Dengan hati-hati Kangta naik ke atap kerajaan. Lelaki itu bersembunyi sambil memantau apa saja kegiatan yang ada di dalam sana. Semua dia lakukan hampir setiap hari, Kangta selalu mengajukan diri untuk menjadi penjaga malam. Dan itu jelas langsung di kabulkan. Tak ada yang mau menjaga gerbang belakang saat malam hari.
Hingga suatu malam lelaki itu tidak bisa melakukan pengawasan karena kedatangan seorang tamu. Seorang lelaki dengan setelan baju kerajaan membawa serta beberapa prajurit khusus lalu pergi melewati gerbang belakang dengan terburu-buru. Jika menurut penilaiannya lelaki itu mungkin pangeran Alvaro. Dia adalah suami putri Valmira yang selama ini menjadi pelaksana perintah Ratu Violet.
" kau jaga gerbang dengan baik, jangan sampai ada orang lain yang melewati gerbang ini selama 5 jam kedepan" ucap Alvaro pada Kangta.
" baik yang mulia" jawab Kangta tanpa menimbulkan kecurigaan.
Rombongan itu segera pergi menggunakan kapal melintasi laut. Kangta bisa melihat semuanya. kerajaan ini begitu bobrok. Sering sekali pelayan meninggal di bawa dengan enteng keluar dari gerbang ini.
Waktu yang di sepakati akhirnya datang, Alvaro kembali dengan membawa sebuah kurungan besi yang tertutup kain hitam. Kangta tidak bisa melihat isinya. lelaki itu langsung menunduk sambil memberikan jalan.
" segera tutup gerbang," ucap prajurit khusus itu.
" baik tuan" Kangta langsung mematuhi perintah.
Tentu saja hal ini sangat Janggal. belum pernah sekalipun gerbang belakang di kunci saat malam hari. kenapa hari ini harus di kunci.
Kangta sudah bebas tugas, Karena waktu sudah menunjukkan dini hari. lelaki itu segera berganti pakaian serba hitam lalu mengintip di atas kerajaan. Dia ingin tau apa yang Alvaro bawa setelah 5 jam pergi mengarungi laut.
Kangta mencari kesana kemari tapi tidak menemukan kemana rombongan itu pergi. Hingga dia sampai di sebuah halaman kecil di samping menara. Kangta melihat sebuah kurungan yang sudah kosong. Pasti isinya sudah dia di bawa masuk.
Kangta turun dengan sihir, dia melihat dari cendela yang terbuka.
matanya terbuka lebar tak kala melihat hewan suci sudah terbunuh dengan darah yang mengucur deras. bukan hanya itu wadah berisi darah tersebut terus mengalir ke sebuah wadah yang lebih besar lagi. Disana ada seorang wanita yang menjaga lampion buatannya.
" astaga" lirih Kangta tidak sengaja.
" siapa itu!?" para penjaga langsung menyadari.
kangta tidak bisa lagi disana. lelaki itu dengan cepat segera meninggalkan tempat sebelum tertangkap. Dengan lincah dan lihai Kangta pergi ke lokasi semula. nafasnya masih memburu tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Inilah yang terjadi, hewan suci itu benar di kirim kemari dan di korbankan secara kejam.
Kangta harus segera bertindak, dia ingin tau siapa orang di balik semua ini. melihat dari lampion yang menyala itu, jelas sesuatu yang ada di dalamnya itu sangat kuat dan butuh banyak energi sihir untuk menahannya. lampion miliknya berfungsi menahan apapun menggunakan darah kekasih sebagai imbalannya. Di kerajaan ini hanya terisa Alvaro dan juga Ratu violet. Jika kabar hilangnya Putri Valmira dihubungkan dengan kasus ini. maka seharusnya yang menjadi imbalannya adalah darah Alvaro.
Tapi kenapa malah seorang wanita yang menggunakan darah hewan suci itu. Kangta terus berfikir. bagaimana caranya agar dia menghentikannya. Dia perlu tau apa yang terjadi lebih dalam lagi.
__ADS_1