
Setelah pergi dari aula istana Harem, putri Shana tentu saja langsung menuju ke kamar putri Farfalla. Senjata yang dia miliki tidak hanya seorang ibu Suri, melainkan juga putri Farfalla yang memang begitu berpengaruh dalam hidup Gyan.
" putri, aku merasa jika yang mulia terlalu pilih kasih, aku yang menikah lebih dulu kenapa Alora yang lebih dulu mendapatkan status" Shana menangis tersedu-sedu. Dia terlihat begitu lemah dan kasihan. memang sudah menjadi andalannya untuk menangis dan mengiba.
" aku tau putri Shana, sudah ya jangan menangis lagi. Nanti aku coba berbicara dengan kakak. Siapa tau kaka mendengarkan keluhanmu" ucap putri Farfalla membuat hati Shana senang.
" apa yang mulia tidak suka denganku? selalu saja Alora yang diminta menemaninya?" putri Shana tidak akan langsung berhenti begitu saja. masih banyak hal yang perlu dia keluhkan pada Farfalla. Dia akan membuat wanita muda ini terus mendesak yang mulia.
" putri jangan bilang seperti itu, aku yakin sebentar lagi kaka akan bosan dengan Selir Alora" rayu putri Farfalla.
" kau tau, Alora bahkan tadi begitu sombong di depan semua selir, aku.. aku..hiks hiks" Shana berusaha mengadudombakan putri Farfalla dengan Valmira. Wanita ini harus berada di sisinya. Jangan sampai seperti ibu Suri yang mulai mengkhianatinya.
" ssssuuuttt, kita harus menemui wanita itu. Aku juga merasa aneh dengan Alora, bagaimana bisa dia berubah begitu cantik" guman Farfalla dan tak sadar mengakui kecantikan wanita pilihan kakaknya. Sampai sekarang pun dia setengah tidak percaya dengan penampilan Valmira.
" itu ide bagus," jawab Shana dengan nada mantap.
Di istana Raja, Gyan melihat laporan mata-matanya. Dia belum juga menemukan keberadaan penyihir osmond yang dia cari. Firasat nya semakin kuat, jika mereka pasti sedang menghadapi masalah serius.
" Aden, segera tambah pasukan bayangan. kita perlu tau dengan cepat perkembangan mereka" ucap Gyan yakin.
" baik yang mulia" Aden segera pergi.
Biasanya Rajanya selalu turun tangan sendiri, tapi semenjak adanya selir Alora, Gyan merasa enggan meninggalkan istana apalagi jika menjelang malam seperti ini. Lelaki itu mempunyai hobi baru, yakni menjelajahi tubuh Valmira.
" Fleur, bagaimana ini? Raja memintaku lagi" ucap Valmira kesal. Karena sudah 3 hari berturut-turut dia selalu saja tidur di kamar Raja.
" aku juga tidak tau harus bagaimana, Alora" jawab Fleur kebingungan. Dia sama sekali tidak memiliki jalan keluar.
" begini saja, sampaikan jika aku sejak tadi merasa tidak enak badan"
" itu alasan yang terlalu umum, Alora" Fleur menatap datar.
__ADS_1
" begitu ya? tapi mungkin bisa di coba" lanjut Valmira .
" jika ketahuan berbohong kau berani berurusan dengan Raja?" tanya Fleur membuatnya takut.
" hem.. kau ini" Valmira masih belum memiliki nyali sebesar itu untuk menerima hukuman raja.
Kali ini kembali lagi Valmira berjalan dan bermalam di kamar Raja. malam ini rasa takutnya sedikit menghilang di gantikan dengan perasaan kesal.
" yang mulia" ucap Valmira sedikit datar.
Gyan tentu menangkap nada aneh itu dengan baik.
" kau kenapa?" tanya Gyan mengelus pipi Valmira.
" yang mulia apa tidak bosan dengan saya? " Valmira menatap wajah Gyan, dia tidak takut seperti sebelum-sebelumnya.
" bosan?" Gyan terkekeh. Wanitanya seperti sedang merajuk.
" aku tidak bisa melakukannya dengan mereka" bisik Gyan sambil mencuri kecupan di leher Valmira. rambut Valmira yang di sanggul rapi memudahkannya untuk mengekspose leher putih itu.
" kenapa tidak bisa?" Valmira mendorong dada Gyan perlahan agar menjauh dari tubuhnya.
" kenapa kau suka sekali bertanya?" Gyan gemas dengan pertanyaan Valmira yang tidak ada habisnya.
" yang mulia, jangan membuat saya terlihat seperti wanita perebut lelaki. jika yang mulia memanggil saya setiap malam. mereka semakin mudah membenci saya" jelas Valmira mencoba memberikan pengertian, bahwa dirinya tidak suka dengan hal ini.
" begitu?" tanya Gyan singkat, dia tidak perlu banyak menanggapi itu. Baginya tidak ada yang berhak mengontrolnya, meski itu wanita ini.
" yang...." Gyan langsung menutup mulut mungil itu.
" jangan banyak bicara" gemas Gyan dan langsung membawa Valmira ke atas ranjang. Gyan tak ingin mengulur waktu untuk bersenang-senang.
__ADS_1
Pagi harinya seperti biasa, saat menjelang siang Valmira baru sampai di kamarnya. wanita itu selalu bangun kesiangan setelah melayani sang Raja. Kini dia langsung menuju kamar dan melanjutkan tidurnya.
" selir anda memiliki tamu. Ada putri Shana dan putri Farfalla datang berkunjung" ucap Fleur dari ambang pintu kamar. Valmira menarik nafas panjang. Kenapa anggota kerajaan suka sekali menganggu hidupnya.
" bantu aku mempersiapkan diri" jawab Valmira malas. Fleur masuk ke kamar.
" mereka pasti ingin melabrakmu" ucap Fleur yang sudah melihat bagaimana wajah putri Shana saat memasuki tempat mereka.
" benarkah? ini bagus, aku akan memanas- manasi nya agar lebih cepat bertindak" ucap Valmira yang malah tidak takut sama sekali.
" kau ini!" jawab Fleur ketus. sahabatnya ini selalu saja memiliki pemikiran yang berbeda dengan manusia pada umumnya.
" putri Shana dan putri Farfalla, selamat datang" ucap Valmira menyambut mereka dengan hangat. wanita itu kemudian duduk di hadapan mereka.
" ada maksud apa kalian datang kemari?" tanya Valmira basa-basi. Wanita itu sengaja memakai baju yang tipis agar bekas kemerahan di tubuhnya terlihat oleh putri Shana. sebenarnya Fleur tadi sudah melarangnya, tapi Valmira kekeh. Dia merasa putri Shana terlalu lambat dalam bertindak. Raja Gyan masih dengan mudah memintanya menemani setiap malam.
" Begini Alora, bisa tidak kau jangan mendekati Raja terus menerus? apa kau tidak malu dengan putri Shana?" ucap Farfalla ketus. Sebagai wanita muda tentu saja emosinya mudah meluap dan tidak terkontrol.
" saya mendekati yang mulia? maaf putri. kalau memang putri Shana merasa terganggu, saya tidak bisa meminta yang mulia agar berhenti menyuruh saya menemaninya" jawab Valmira lemah lembut, sesuai ciri khasnya. Dia bukan berniat sombong, hanya saja dia ingin pergi darisini. semakin banyak yang membencinya, semakin banyak jalan pula untuknya pergi.
" kau kan bisa menolaknya!" tandas Shana dengan tatapan tajam.
" em, baiklah saya akan mencobanya" balas Valmira dengan wajah polos.
" Putri, tahan kemarahan mu" ucap Farfalla mengingatkan putri Shana.
" putri Shana dan putri Farfalla, jika kalian berdua hanya ingin memperingatkan saya. saya sangat mengerti, tapi bagaimana lagi, seharunya dalam melayani yang mulia tentu ada bagiannya. Saya rasa itu bisa di lakukan sekarang" jelas Valmira memberikan sedikit saran, dia sudah memikirkannya. Jika ada 35 selir dan memiliki giliran tiap malamnya, dirinya hanya perlu melayani Raja setidaknya sebulan sekali. itu akan sangat menguntungkannya.
" aku akan meminta ibunda untuk mengaturnya dari sekarang" balas Farfalla datar.
" kau jangan sombong Alora, setelah ini aku yakin, yang mulia pasti akan bosan denganmu" ucap Shana tegas. Dia sudah memiliki rencana agar jadwal Valmira menemani yang mulia akan gagal setiap bulannya.
__ADS_1
" itu sangat bagus putri Farfalla" jawab Valmira senang. Dia tidak perlu repot-repot mencari alasan, mereka dengan sendirinya memberikan bantuan tanpa mereka sadari.