
Semenjak malam itu Kangta tidak pernah absen untuk memantau keadaan kerajaan dari atas. Meskipun hanya sekilas dan tidak bisa mendekat lebih dalam, setidaknya Kangta bisa tau sedikit mengenai kondisi istana. lelaki itu juga sempat melihat penjara para wanita muda yang letaknya tidak jauh dari lokasi pembunuhan hewan suci. Dia harus lebih lincah untuk bisa mengetahui hal lainnya. Kangta mulai mencari kesempatan untuk bisa bertemu dengan Deon. lelaki itu memiliki beberapa rencana bagus.
malam ini setelah menyelesaikan shif jaga, lelaki itu menuju kompleks tempat tinggal penjaga gerbang utama. Dia hanya memperlihatkan diri lalu berjalan menuju lorong sepi. Kangta menunggu beberapa lama.
tap tap tap
suara langkah kaki mendekat.
" tuan" lirih Deon memastikan.
" iya" satu kangta.
setelah yakin, Deon berjalan masuk kedalam lorong gelap dan sepi itu.
" bagaimana kabar anda?"
" aku baik-baik saja. aku disini akan memberitahu rencana kita. Aku sudah mengetahui lokasi-lokasi bangunan yang sedikit mencurigakan. kita bagi tugas, agar bisa lebih cepat mengetahui informasi selengkapnya" jelas Kangta tanpa basa basi lalu memberikan kertas yang sudah berisi peta serta rencana yang Kangta susun.
" baiklah tuan, saya akan melaksanakan dengan baik"
" aku pergi" balas Kangta.
setelah memastikan situasi aman, Kangta langsung keluar lorong dan pergi dengan cepat. Deon menunggu beberapa lama baru keluar. Tidak ada satupun yang menyadari.
Kerajaan sudah mengeluarkan peraturan agar tidak boleh ada perkumpulan atau pembicaraan antar prajurit selain mengenai tugas kerajaan. hal ini mengingat adanya beberapa pemberontakan yang pernah terjadi. Jadi sebisa mungkin Kangta dan Deon harus menutupi pertemuan mereka.
Disisi lain didalam hutan belakang kerajaan, Valmira masih tenang mengurusi bayinya. Putranya ini memiliki banyak sekali keistimewaan. selain tampan bayinya begitu mudah menuruti perkataannya. selalu tersenyum dan tidak rewel. pemulihan tubuh Valmira pasca melahirkan juga terbilang cepat. wanita itu bisa beraktifitas seperti biasanya lagi. seperti saat ini setelah bayi G tertidur Valmira membantu nenek di dapur.
" putri kenapa kemari?"
" aku sudah pulih nenek, jangan khawatir"
Akhirnya setelah Valmira memaksa ikut membantunya, nenek tidak bisa melarang.
" em putri, ada yang ingin saya sampaikan. sepertinya kita tidak bisa terlalu lama disini, kita harus mencari cara untuk bisa melengserkan dan membunuh Violet" jelas Nenek yang sudah lama ingin mengatakan hal ini. Valmira saja sedikit kaget dengan keinginan nenek yang begitu berambisi. Selalu saja ingin dia membunuh seseorang bernama Violet itu.
" nenek sudah aku katakan, aku hanyalah Alora bukan Valmira, mau bagaimanapun..."
" putri ingatan putri belum pulih, pantas putri tidak mengakui diri sebagai putri Valmira. maka dari itu kita harus pergi ke istana agar putri bisa mengingat jati diri anda"
" em..begini saja, aku akan mencari waktu untuk keluar dari hutan dan melihat situasi. nenek tetap disini dan menjaga G, bagaimana?"
" situasi di luar bukan kah sedikit berbahaya? jika ada pengawal Violet yang mengetahui keberadaan putri pasti keselamatan Putri terancam"
" tidak, aku memiliki kekuatan untuk melindungi diri. lagipula aku kemari juga tidak sendirian. Ada 2 orang laki-laki yang belum aku temukan"
" 2 laki-laki, siapa mereka? apa dia ayah dari bayi anda?"
" mereka yang sudah melindungiku dan membawa ku kemari. Tapi bukan ayah dari bayiku. Selama aku pergi nenek jangan sekali-kali keluar dari hutan. Aku pasrahkan G pada Nenek" putus Valmira. Daripada nenek menyuruhnya pergi ke kerajaan, dia lebih baik pergi mencari keberadaan Kangta dan Deon.
" baiklah jika itu sudah keputusan putri. putri tenang saja, selama di hutan ini, bayi G selalu aman dari kerajaan"
" baiklah kalau begitu, aku tidak perlu khawatir"
Dan benar setelah masa berdarah pasca melahirkan Valmira selesai, sesuai perbincangan waktu itu, Valmira keluar dari hutan sambil mengenakan baju sederhana jenis laki-laki serta mengolesi tubuhnya menggunakan lumpur sebagai penyamaran. Nenek baru saja mengatakan jika pihak kerajaan membuat peraturan agar semua perempuan harus di kirim ke kerajaan untuk menjadi pelayan. Tidak banyak yang tau jika ternyata mereka semua di jadikan tumbal ritual terlarang Ratu Violet. kasihan sekali.
......................
Berbeda dengan Valmira yang beberapa hari terakhir sibuk dengan mengasuh bayi kecilnya. Gyan justru di sibukkan dengan perang yang terjadi. Lelaki itu baru saja mendapatkan kabar dari pasukan bayangan jika Prysona kembali berencana memulai perang kembali. Dan kali ini sang raja langsung yang memimpin pasukan.
" kau sudah memastikan jika informasi ini benar?" tanya Gyan datar.
" sudah yang mulia. kami bisa pastikan jika informasi ini sangat akurat"
" Raja Prysona masih saja belum puas membuat rakyatnya menderita, ck ck ck" lirih Gyan sambil menggelengkan kepalanya pelan.
" kalian awasi terus keadaan Prysona, sampai pasukan mereka benar-benar memulai perjalanan kemari"
__ADS_1
" baik yang mulia"
" oh ya, bagaimana dengan keadaan Ratu Prysona?" Gyan masih ingat jika wanita itu terkena serangan sihir dari putrinya sendiri beberapa waktu yang lalu.
" sepertinya Ratu tidak selamat, Prysona sempat menurunkan bendera putih di istana kerajaan. Banyak rumor yang mengatakan jika kematiannya berhubungan dengan Garamantian, lebih khususnya... karena serangan dari anda"
" aku jadi heran, mereka begitu pintar dalam memutar balikkan fakta" gumam Gyan tak terkejut mendengar fitnahan seperti ini.
" kasihan sekali wanita itu, dia mati di tangan putrinya sendiri" lanjut Gyan yang tau semuanya yang terjadi malam itu.
" lalu berapa banyak pasukan yang sudah mereka persiapkan?"
" tidak kurang dari 500 ribu pasukan"
" mereka benar-benar memiliki niat menghancurkan kerajaan mereka sendiri, sudahlah jumlah sebanyak itu tidak akan mungkin mengalahkan Garamantian. kalian kembali saja dan laporkan semua berkembangannya"
" baik yang mulia" ketua kelompok bayangan pamit undur diri.
Gyan tidak gentar sama sekali, dia hanya menyayangkan keputusan yang di ambil oleh Prysona. Jelas-jelas mereka memelihara ular di kerajaan, tapi malah menyalahkan pihak lain.
Di kerajaan Prysona, setelah pemakaman Ratu. Raja lebih banyak merenung di kamarnya. Meskipun akhir-akhir ini antara dia dan Ratu sering bersitegang tapi untuk membayangkan kematian seperti ini tidak pernah sama sekali terlintas dalam pikirannya. Ratu nya adalah istri tercintanya. Terkadang dia sedikit menyesali keputusan saat tidak mengindahkan saran dari istrinya. Apa mungkin jika dia tidak menantang Gyan, istrinya saat ini masih hidup. Dia tidak akan menjadi target balas dendam Gyan.
Karena berdasarkan cerita dari para penyihir, istrinya saat itu tengah membuka portal ke Garamantian. Dia meminta damai dengan Garamantian. Tapi Gyan menolak dan terjadi aksi perkelahian. Hingga berakhir istrinya tewas. sangat memilukan.
tok tok tok
" yang mulia" panggil pengawal pribadinya. Lelaki itu mengumpulkan keberaniannya untuk mengetuk pintu kayu besar tersebut.
Raja Prysona tidak menjawab. Dia tidak mau bertemu dengan siapapun.
tok tok tok
" yang mulia, Putri Shana ingin bertemu" ucap pengawal itu sekali lagi.
mendengar nama Shana di sebut tentu saja Raja Prysona langsung tersadar dari lamunan.
ceklek
Raja Prysona mengelus rambut putrinya pelan, dia lupa dengan Shana. putrinya pasti sangat terpukul dengan kematian ibunya yang mendadak. Apalagi saat situasi kacau seperti ini.
" tenangkan dirimu Shana, ayo kita masuk "
Shana di tuntun masuk ke kamar ayahnya. Wanita itu terlihat sangat lemah dan sedih.
" duduklah"
" ayah, apakah benar ibunda meninggal karena di bunuh oleh Raja Gyan? hiks hiks hiks" Shana memulai sandiwaranya. Sangat natural bahkan Shana terlihat begitu berduka dengan mata bengkaknya.
" shuutt. jangan menangis lagi" Raja Prysona padahal sudah meminta para penyihir untuk merahasiakan alasan ibunya meninggal. Tapi kenapa Shana mengetahuinya dengan cepat. Mereka baru saja melakukan prosesi pemakaman kerajaan.
" ayah jawab pertanyaan Shana!" tuntut Shana sambil menarik baju ayahnya.
" Shana tenangkan dirimu. Mulai sekarang kita lupakan masa lalu. kita mulai kehidupan yang baru, ya?" jelas Raja Prysona yang akhirnya berfikir untuk mengurungkan keputusan berperang seperti yang istrinya inginkan dahulu.
" maksud ayah?"
" sekarang hanya tinggal dirimu, Orang paling ayah sayangi. Ayah tidak mau kehilanganmu Shana. Kita lupakan saja masalah dengan Garamantian. kita jadikan hal ini sebagai pelajaran hidup ke depannya. bagaimana?" tanya Raja Prysona yang sudah duduk di samping Shana.
" ayah tidak jadi berperang dengan Garamantian? lalu siapa yang membalas dendamku serta dendam kematian ibu, tidak. Shana ingin ayah tetap berperang dan menghancurkan Garamantian sampai tak bersisa " kukuh Shana dengan tegas. Karena bukan ini yang dia inginkan. Dia ingin kematian ibunya membuat ayahnya lebih bersemangat untuk berperang. bukan malah kendor dan menyerah begitu saja.
" Shana, sekarang tinggal ayah yang melindungimu. Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada ayah, kau tidak memiliki siapapun lagi, ayah tidak mau kau sendirian" jelas Raja, kenapa dia memilih berhenti.
" Shana yakin ayah pasti bisa mengalahkan Gyan. Ayah adalah lelaki terhebat bagi Shana. jika mau, Shana akan ikut dengan ayah. Kita sama-sama membalaskan dendam Prysona" ucap Shana penuh tipu daya.
Raja Prysona menatap wajah serius putrinya.
" mana mungkin ayah tega membawamu ke Medan peperangan, Shana."
__ADS_1
" lalu kenapa ayah malah menyerah? ayah harus bisa bangkit dan membalas dendam" hasut Shana.
Akhirnya Raja Prysona mengangguk pelan. Dia tidak mau mengecewakan putrinya yang sedang berkabung. Percuma juga menjelaskan, putrinya sangat yakin jika mereka akan menang. Meski sedikit bertentangan dengan nuraninya. Raja Prysona harus tetap dengan keputusan awalnya.
......................
Valmira berjalan menuju sebuah pemukiman penduduk tak jauh dari kerajaan. Valmira tidak banyak bertanya, dia hanya mengamati. Karena jika orang lain mendengar suaranya, maka bisa di pastikan identitasnya sebagai wanita akan terungkap.
sudah setengah hari berjalan, Valmira memilih untuk beristirahat sekaligus memakan bekalnya. Dia akan mulai perjalanan menuju pantai-pantai terdekat. Karena Valmira yakin jika kedua lelaki itu pasti terdampar di sepanjang pantai di kerajaan Garamantian.
" tuan, anda ingin kemana?" tanya seorang yang memiliki kereta kuda.
Valmira tidak menjawab bahkan berjalan melaluinya saja.
" tuan tunggu, kami bisa mengantarkan anda kemanapun" tukang kereta itu begitu kukuh mengajukan dagangannya, dia sudah tidak memiliki uang lagi. Kini melihat Valmira dengan pakaian yang sedikit bagus, membuatnya mati-matian merayu Valmira.
" tuan, sewalah kereta saya" rayu tukang kereta itu sekali lagi.
Valmira akhirnya berhenti lalu melihat kereta itu. masih cukup bagus, jika di pikir-pikir dia bisa lebih cepat sampai di pantai lain jika menggunakan kereta kuda ini.
Valmira memberikan instruksi meminta kertas dan alat tulis. tukang tadi dengan cepat mengangguk dan membawanya kertas serta kuas tinta.
' pergi ke beberapa pantai sekitaran kerajaan'
tulis Valmira disana. tukang tadi membaca sambil mengangguk pelan. tanda menerima, lalu Valmira memberikan sejumlah uang dan dengan cepat lelaki itu menerimannya. Jumlah yang di tawarkan Valmira memang begitu tinggi.
tukang tadi segera menjalankan kudanya menuju samping Valmira, agar memudahkan pelanggannya untuk naik.
" mari tuan" ucap Valmira lalu naik.
Tukang tadi dengan pelan memukul kudanya dan kini kereta mulai berjalan menuju pantai terdekat dulu.
Perjalanan tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu setengah jam. Valmira menatap sekeliling, menyuruh tukang tadi menunggu di tepi jalan. Dia akan berkeliling sejenak di permukiman yang ada.
permukiman terlihat begitu sepi, tidak ada orang yang berkeliaran. Valmira jadi ragu jika Kangta dan Deon berada disini. Valmira memilih kembali ke kereta dan melanjutkan perjalanan menuju pantai lainnya.
Hal yang sama dilakukan, dia menyuruh tukang menunggu di tepi jalan dan dia akan berkeliling sebentar. tapi ini sudah 3 pantai yang dia kunjungi tidak ada satupun menunjukkan jejak keberadaan Kangta dan Deon. Valmira menjadi putus asa, cara seperti ini agaknya kurang efektif. Dia harus mencari cara lain. Setelah hari sangat malam Valmira meminta di antar kan ke sebuah penginapan. tukang kereta dengan senang hati mengantar. Valmira akhirnya bisa istirahat. Kereta itu sudah kembali beberapa waktu yang lalu.
Pagi harinya Valmira kembali melanjutkan perjalanan. Uang yang dia bawa juga semakin menipis. Valmira kembali berkeliling di sebuah pantai tak jauh dari penginapan. dia bahkan beristirahat sejenak setelah lama berjalan.
tap tap tap
suara langkah kaki dengan cepat mendekatinya.
" serahkan uangmu!" tekan sekelompok perampok. Valmira sudah di kepung dengan para perampok lengkap dengan mengacungkan senjata.
Valmira langsung berdiri dan berjalan mundur. Keadaan kerajaan yang sulit membuat kejahatan semakin meningkat.
" jangan sakiti aku" ucap Valmira secara tidak sadar.
sekelompok yang berjumlah 4 orang dengan cepat bisa memastikan jika korban mereka adalah seorang wanita.
" dia wanita, boleh juga kita bawa" usul salah satu perampok.
" kau benar, sudah lama sekali kita tidak melihat wanita" saut yang lainnya.
" pergi atau kalian celaka" Valmira memberikan peringatan. Dia tidak mau menimbulkan keributan tapi para perampok ini tidak tau apa yang sedang mereka hadapi.
" hahaha. mana mungkin wanita sepeti mu bisa melawan kami" ejek salah satu perampok.
Valmira tidak memiliki pilihan lain, dia mengeluarkan energinya di telapak tangan. Dia berniat menakut-nakuti agar perampok itu pergi. sayangnya mereka tidak takut, malah mengira jika Valmira hanya mengertak saja.
" hal seperti itu tidak akan menakuti kami"
Valmira menarik sudut bibirnya, perampok di depannya benar-benar bodoh. akhirnya Valmira menunjukkan kekuatannya. Dengan sekali gerakan Valmira merampas semua senjata yang ada di tangan para perampok itu dengan mudah.
Tentu saja semuanya jadi berfikir ulang untuk meneruskan aksinya. Dia takut berurusan dengan penyihir.
__ADS_1
" pergi !" teriak Valmira, kali ini ancaman nya berhasil. Semua perampok itu berlari menjauh tak ingin terkena serangan Valmira lagi.
" dasar pengecut" lirih Valmira, lalu membuang semua senjata itu ke laut lepas.