
Tepat saat menjelang sore hari 3 ketua itu datang lagi menemui Raja. Setelah penolakan dan kesulitan bertemu dengan Raja Gyan sebelumnya, kali ini mereka lega. Karena Raja Gyan sedang berada di istana dan bersedia bertemu dengan mereka.
" yang mulia" ucap mereka bersamaan.
" ada apa?" tanya Gyan dengan nada datar tapi dingin.
" kami ingin meminta maaf atas kesalahan perilaku anak buah kami. Mereka sangat tidak hormat dan pantas di hukum" ucap salah satu dari mereka.
" kalian seharusnya bisa membuat mereka mengerti. Kerajaan bukanlah wilayah yang bisa dengan seenaknya mereka remehkan. Bukankah kita sudah ada kesepakatan sebelumnya? apa kalian memang tidak mengatakan hal ini pada mereka? "
" ampun yang mulia, mereka adalah orang-orang bodoh. saya tidak mengira akan jadi seperti ini kejadian nya. padahal kami sudah membahas kesepakatan dengan detail"
" kalian sangat mengecewakan ku"
" ampun yang mulia, mohon yang mulia memberikan pengampun pada mereka, dan bersedia membebaskan mereka kembali"
Gyan diam menatap mereka yang masih menunduk.
" kalian tau dengan munculnya masalah ini, rasa percayaku pada kalian sudah menghilang. kalian menunjukkan bahwa kalian tidak becus dalam melakukan kesepakatan. Jika aku membebaskan mereka apa jaminan nya mereka tidak akan mengulangi hal ini Lagi"
" yang mulia, kami akan menindak tegas kesalahan mereka. Kami bersedia menerima hukuman berat jika sampai mereka mengulangi hal ini lagi"
" tidak gampang itu mengembalikan kepercayaan ku"
ketiganya saling pandang, mereka harus memikirkan solusi terbaik agar bawahan mereka bisa keluar dari tahanan.
" kalau begitu kami tidak akan lagi menangkap para penyihir di Garamantian dan sebagai gantinya kami akan menyimpan identitas mereka untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang buruk" ucap ketua dengan berat hati. Mau bagaimana lagi kesalahan anak buahnya terbilang fatal. setara dengan pemberontak kerajaan, hukuman mereka seharusnya adalah hukuman mati.
" baiklah kalau begitu. Aku akan membebaskan mereka" ucap Gyan enteng. Dia cukup puas dengan hasil pancingannya. Untuk saat ini rakyatnya bisa aman.
" terimakasih yang mulia. Anda sangat bijaksana" ucap mereka akhirnya keinginan mereka bisa terwujud.
tanpa menunggu waktu mereka langsung pamit, menuju ke ruang tahanan untuk membebaskan bawahan mereka.
Di istananya Gyan berdiri di atas balkon. Dia menatap gelang yang saat ini terpasang di tangannya. Gelang pemberian Kangta sekaligus alat yang bisa mengantarkannya menuju Mystick, tempat anak dan istrinya berada.
__ADS_1
" bagaimana kabar kalian di sana" lirih Gyan kesepian.
" aku akan berusaha untuk bisa kembali secepatnya"
......................................
kerajaan Mystick selalu saja sibuk semenjak kedatangan para penyihir yang masuk. arus perdagangan semakin lancar serta perkembangan sarana juga semakin meningkat. ternyata penyihir pendatang sudah menyiapkan banyak sekali emas untuk membangun tempat tinggal mereka, mereka cukup memiliki harta. Ini menguntungkan di pihak Mystick.
Sejauh ini tidak ada masalah yang timbul. penyihir yang datang kebanyakan memiliki kemampuan sihir yang rendah, jadi mereka juga tidak berani banyak bertingkah dan memberikan tekanan pada penduduk lama. meskipun berasal dari keluarga terpandang, mereka tidak manja dan mau ikut dalam melakukan pekerjaan kasar. kini hanya menteri dari Garamantian yang terlihat cukup bisa di andalkan untuk membantu melakukan hal sihir.
" yang mulia, pembangunan permukiman sudah hampir selesai. Banyak dari penyihir pendatang yang sudah bisa menempati rumah mereka" lapor Deon pada Valmira.
" bagus, terus kerjakan. apa ada masalah yang muncul?"
" untuk saat ini semuanya masih lancar. penduduk lokal dan pendatang bisa bekerja sama dengan baik. dan juga dengan adanya tuan Kangta dan Aden mereka tidak berani membuat ulah"
" baiklah terus pantau dan segera laporkan jika terjadi masalah" ucap Valmira.
" saya pamit yang mulia"
" yang mulia ramuan anda..."
" letakkan di sana Derya, oh ya dimana G?"
Valmira belakang ini begitu menyukai aroma putranya yang sangat mirip dengan ayahnya. Valmira sangat merindukan lelaki itu dan ingin sekali bertemu dengannya.
" G sedang bermain di kamarnya"
" aku akan ke sana" Valmira mengambil ramuan dan meminumnya cepat. Baru setelahnya dia berjalan menuju kamar G.
mulai sekarang G tidur di kamarnya, usianya yang sudah satu tahun lebih membuatnya perlu berpisah dengan sang ibu. Apalagi kondisi ibunya yang seperti ini.
" G.. " panggil Valmira. anaknya itu menoleh dan merangkak lalu berjalan ke arah Valmira.
" da.. da. .." celotehnya. Valmira bergegas mendekat dan membawa putranya dalam gendongan.
__ADS_1
" apa dia sudah makan?"
" sudah yang mulia.."
" ayok main sama ibunda." Valmira membawa G pergi ke taman. Dia memang sengaja menyebut dirinya ibunda. Dia tidak mau sang putra ikut memanggilnya dengan sebutan yang mulia.
" yang mulia biar saya saja. Perut anda biar tidak sakit lagi" ucap Derya saat melihat Valmira keluar kamar sambil menggendong G.
" tidak usah biar aku saja. Aku sudah tak apa" ucap Valmira dan langsung pergi. Derya tetap mengikuti dari belakang. Takut jika Ratunya mengalami masalah.
saat sampai di taman kerajaan, Valmira dan G langsung main di rumput halus. Mereka bermain bola dan beberapa tanaman.
" yang mulia, mohon hati-hati perut anda masih lemah"
" tidak Derya kau tenang saja"
Valmira bermain dengan G sangat seru. beberapa hari ini Valmira hanya bisa tiduran di ranjang. sangat membosankan., hanya bisa bertemu dengan G saat waktu menyusui tiba.
" akk"
" yang mulia!". teriak Derya saat Valmira tidak seimbang dan terjatuh, tapi dari posisi duduk.
" yang mulia tidak apa.. perut anda... bagaimana?" Derya langsung panik.
" tak apa Derya, bayiku jauh lebih kuat"
" anda harus berhati-hati yang mulia. Jangan sampai kejadian saat mengunjungi pulau terulang lagi. jika bukan karena saya memaksa untuk melakukan pemeriksaan tabib, kita tidak akan tau jika ada bayi kecil dalam perut anda"
" iya Derya. terimakasih sudah memperhatikan ku" Valmira tersenyum senang. Dan kembali melanjutkan bermain dengan G.
Kena insiden jatuh waktu itu, Valmira baru mengetahui jika dirinya sudah hamil. usia kandungannya masih di bawah 4 minggu, jadi dia harus sangat hati-hati. beberapa hari ini Derya memaksa nya untuk istirahat dan mengurangi aktivitas. Sampai-sampai Valmira geleng-geleng dengan sikap Derya yang berani menyuruh Ratu kerajaan. wanita tau itu mudah sekali khawatir dan cemas jika menyangkut dirinya dan G.
" yang mulia selalu saja berkata seperti itu tapi tidak berhati-hati" kesal Derya.
" iya Derya.. " Valmira merasa jika Derya ini seperti ibu yang memarahi anaknya. Cerewet sekali tapi penuh kasih sayang.
__ADS_1
" ya sudah, ayo G kita kembali" Valmira tidak mau semakin membuat Derya cemas, dia dan G kembali ke dalam istana. Lagipula sudah waktunya G untuk minum susu.