
" ayo buka mulutmu" ucap Gyan setelah memastikan jika makanan itu sudah hangat.
" saya bisa sendiri, yang mulia" tolak Valmira, dia merasa aneh jika terlalu berdekatan dengan Gyan. semacam salah tingkah dan jantungnya sedikit berdebar lebih cepat.
" sudah, makan saja. Tubuhmu masih lemah" tolak Gyan dengan nada halus.
Valmira akhirnya membuka mulutnya. Meski dia tidak suka Gyan yang menatapnya terus menerus.
" apa kau tidak mengingat apapun tentang masa kecilmu?" tanya Gyan lagi. Dia tiba-tiba saja menjadi begitu tertarik dengan bagaimana kehidupan Valmira di masa lalu.
Jika Valmira seorang penyihir, seharusnya keluarga penyihir lain sedang mencarinya. Tapi kenapa saat ini belum juga ada yang melapor kehilangan anak atau keluarga.
" tidak, yang mulia" Valmira menggeleng pelan. Sambil meneruskan mengunyah.
" lalu saat kau kabur. kemana tujuanmu?"
" em.."
" sudah jangan takut, toh itu sudah terjadi" rayu Gyan saat melihat selirnya ragu-ragu juga ketakutan mengatakan sebenarnya.
Valmira masih terlihat bimbang, dia takut jika dia mengatakannya Gyan malah tau tujuannya. Padahal Valmira masih berharap bisa pergi dari kerajaan lagi.
" Alora, katakan sejujurnya. Jangan berfikir untuk kabur lagi" tekan Gyan, Valmira menelan ludahnya kasar. Raja seolah bisa menebak pikirannya.
__ADS_1
" em, itu.." Valmira mencoba mengulur waktu sambil memikirkan sebuah tempat.
" jika sampai kau berbohong, selamanya kau akan terkurung disini. mau?" Gyan terus menekan Valmira, jangan sampai wanita itu berani membohonginya.
" ke pantai, menemui seseorang yang sudah menyelamatkan saya"
" pantai mana?"
" pantai...Otan"
Valmira memilih jujur daripada Gyan tau jika dirinya berbohong. Dia pasti akan menemui kesulitan.
" kau ingin sekali ke sana?"
" iya, aku mendengar jika di sana terjadi sesuatu yang buruk. Jadi khawatir dan ingin melihat bagaimana keadaan mereka" jelas Valmira setengah berbohong.
" jika kau sudah sembuh, aku bisa membawamu kesana" ucap Gyan yang membuat Valmira seakan salah dengar.
" maksud yang mulia, kita pergi ke pantai Otan?" tanya Valmira memastikan pendengarannya.
" iya,.tunggu kau pulih dulu. Aku tidak ingin bayiku celaka" jawab Gyan sedikit ketus. Namun begitu Valmira sudah sangat bahagia mendengarnya.
" berjanji padaku, jika yang mulia tidak berbohong" Valmira tentu tidak mau menerima omong kosong, dia menuntut Gyan untuk berjanji.
__ADS_1
" iya, Alora. Kau harus menjaga kesehatan agar bisa pergi ke sana"
" baiklah, aaakkk" Valmira langsung membuka mulutnya. wanita itu ingin makan yang banyak agar tubuhnya kembali bertenaga. Gyan terkekeh pelan melihat tingkah Valmira seperti anak kecil.
bukan tanpa Alasan Gyan berani menjanjikan Alora pergi ke pantai Otan. Lelaki itu akan menelusuri jejak yang membuatnya tau masa lalu Valmira. Dia sudah mendengar jika wanita itu bukanlah berasal dari Garamantian. Ini jelas menandakan jika Valmira memiliki masa lalu yang tidak biasa.
Gyan mungkin akan lebih berfokus pada persoalan Valmira daripada kerajaan Mystick yang sedang mengalami masalah. Baginya Valmira dan bayinya jauh lebih penting dari semua hal.
Menjelang siang Gyan undur diri dari kamar selirnya. Lelaki itu kembali ke istananya setelah Valmira makan siang serta meminum ramuan khusus yang Gyan minta buatkan.
" kemarin kau sebenarnya kenapa?" tanya Fleur yang duduk di sofa kamar.
" aku juga tidak tau. tiba-tiba saja kepala ku pusing sekali" jawab Valmira yang sedang bersantai.
" yang mulia sangat panik saat mendengar kabar tentang dirimu yang jatuh sakit"
" iya, yang mulia semakin aneh padaku"
" bukan aneh, Yang mulia itu sangat menyayangimu. Bahkan sempat berpesan dengan sangat emosi untuk melaporkan semua hal yang terjadi padamu" jelas Fleur dengan menggebu-nggebu.
" begitu? "
" kau ini ! kau harusnya bersyukur bisa mendapatkan kasih sayang Raja. Hanya Kau Alora, wanita yang Raja khawatirkan " Fleur terus saja menyadarkan temanya agar mau membuka hatinya dan menetap di kerajaan.
__ADS_1
" kita tidak tau yang sebenarnya. Mungkin Raja belum bosan denganku"
" ah sudah lah, percuma berbicara denganmu"