
Kangta memegangi telapak tangannya yang merah kebakar. Dia tidak menyangka sesuatu yang tidak terlihat bisa menyakiti fisiknya begitu sakit.
" kenapa aku tidak bisa melewatinya?" tanya Kangta menatap Valmira dengan kening mengerut.
" aku juga tidak tau" Valmira mengamati dengan jelas. tabir ini menjulang tinggi untung saja bagian atasnya tidak tertutup.
" mungkin kalian bisa pergi lewat sana" Valmira menunjuk bagian atas.
" apa disana tidak ada dindingnya?"
" tidak, kalian harus mencari cara untuk terbang ke sana "
Kangta kembali berfikir dan merenung. Dia tidak menyadari Valmira yang menunduk seakan menatap permukaan laut yang bergelombang.
" jangan ulurkan tanganmu!" Kangta melihat Valmira yang sudah mencelupkan tangan ke dalam permukaan air.
" banyak duyung"
" apa yang mereka lakukan?"
" mereka terbiasa menghasut, kawanan mereka suka menculik" Kangta memberikan penjelasan.
Sayangnya Valmira mendadak mendengarkan sebuah nyanyian para duyung. Seketika Valmira terkesima dan semakin mendekati permukaan laut.
" Alora!" panggil Kangta, dia tidak bisa mendekat, perahu mereka tiba-tiba goyang. Sulit untuk menyeimbangkan diri.
' kemari lah, menarilah, bersama kami'
nyanyian duyung itu membuat Valmira merasa tenang. Ada hal menarik dari mata para duyung itu yang membuat Valmira ingin pergi bersama mereka.
" Alora!" Kangta mengirimkan sihir untuk membuat Valmira tersadar.
" tutup telingamu, kita kembali ke kapal" Kangta membuat perahu mereka bergerak lebih cepat dengan sihirnya.
Valmira berusaha mengacuhkan nyanyian duyung yang kini semakin kencang. Kangta terus mendayung agar Valmira tidak terganggu dan terhasut para duyung.
' kemari lah, menarilah, bersama kami'
Valmira menatap permukaan air lagi, dia melihat para duyung yang cantik-cantik. Sangat menarik dan membuat Valmira ingin ikut masuk ke dalam.
" apa yang kau katakan?"
Kangta melihat Valmira berbicara dengan bahasa asing, dia tidak bisa tau isi pembicaraan mereka.
Valmira tidak menyahut dia sudah masuk dalam rayuan para duyung.
byurrr
Kangta terkejut dengan mata membelalak. Valmira telah hilang dari hadapannya. masuk ke air dan tak tau dimana.
" Alora! Alora!" perahu berhenti Kangta menatap kesana kemari. Dia mengirimkan bola cahaya ke dalam air. Para duyung telah menghilang bersama dengan Valmira.
__ADS_1
" Alora! Alora!" Kangta memanggil terus menerus. Tapi tidak sautan.
Tak ingin para duyung itu kembali lagi, Kangta semakin cepat, dia ingin segera sampai di kapal.
Saat mendekati kapal tiba-tiba perahunya bergoyang keras, Kangta berusaha keras menyeimbangkan diri. Tapi perahunya bertambah tidak terkendali. Tak ingin jatuh ke air, Kangta menggunakan tenaga dalam untuk melayang terbang ke kapal.
Kangta terengah-engah, meski hanya sihir ringan. Tapi karena tenaga dalamnya masih belum pulih tentu saja hal ini sangat menguras energinya.
" tuan, dimana nona Alora?" tanya Deon yang baru terbangun saat menunggu di geladak.
" sepertinya para duyung membawanya" lirih Kangta dengan sendu.
" astaga, lalu bagaimana?"
" aku sudah berusaha, energi dalam ku ternyata belum cukup menyelamatkannya"
" aku akan mencoba mencarinya"
Deon ingin menaiki perahu lainnya, tapi segera di cegah oleh Kangta.
" sudah larut, aku tadi sempat mendengar Alora berbicara dengan para duyung, kemungkinan dia akan aman" Kangta kembali menatap perahu miliknya yang mulai tenggelam. Ternyata perahunya karam juga karena ulah para duyung jahat.
" semoga nona baik-baik saja" Deon ikut meratap menatap lautan.
......................
Malam ini gurun pasir mendadak diterpa badai dasyat. pasukan Prysona yang berjaga mulai menambah kayu bakar, bahkan ada yang menggigil dan berakhir meninggal.
" segera kirim surat ke Raja untuk meminta bantuan logistik serta penambahan perlengkapan"
" baik panglima"
Di dalam tenda panglima merenung, dia sebenarnya merasa ciut dengan pilihan memulai perang. Pasukan mereka hanya ratusan ribu dan tidak memiliki banyak pengalaman menjelajahi medan serta bertahan hidup.
Lelaki itu menatap perapian, jika di teruskan pasukannya akan kalah. Mereka hanya mengantar nyawa saja. Dia merasa bersalah karena demi mematuhi perintah Raja akhirnya mereka harus sedia pergi meski peluang menang sangat sedikit.
" panglima, pasukan yang sakit kini bertambah jumlahnya. perkemahan sudah tidak bisa menampung lagi. Kini butuh pengaturan panglima untuk mengatasinya" lapor salah satu prajurit lainnya.
" gunakan tenda milikku"
" panglima" prajurit itu terkejut.
" aku bisa tidur di mana saja. untuk sementara kalian gunakan tenda milikku"
panglima bersiap untuk pergi, dia memang akan berpatroli. Dia akan memastikan bagaimana keadaan pasukannya. Jika memungkinkan dia akan segera mengirim bendera putih agar pasukannya selamat.
Panglima berjalan mengelilingi tenda pasukan. Hampir di setiap tenda memiliki pemandangan yang sama. pasukannya kedinginan dengan pasokan makanan hangat yang menipis. Sangat memprihatinkan.
belum juga separuh perjalanan berpatroli, badai pasir kembali melanda perkemahan. Panglima sampai harus berlindung masuk ke salah satu tenda prajurit.
" panglima!"
__ADS_1
semua prajurit kaget dengan kehadiran orang nomor satu dalam pasukan.
" tetaplah berlindung, badai masih berlangsung" ucap panglima membuat yang lain mengangguk. Angin berhembus menggetarkan tenda-tenda, semua orang berdoa dalam hati agar badai ini segera berakhir. Mereka bisa kalah sebelum perang di mulai.
Sedangkan di kerajaan Garamantian, Gyan sedang bermain dengan elang milik Kangta. hanya itu yang bisa di lakukan nya untuk mengalihkan rasa sedihnya.
" yang mulia keadaan padang Mazu kini di terpa badai hebat. banyak dari pasukan musuh yang tumbang"
" mereka tidak memulai perjalanan lagi?"
" sampai saat ini belum yang mulia"
" suruh para penyihir untuk menambah badai yang terjadi"
Mendengar perkataan tuannya Aden tersentak sejenak.
" baik yang Mulia" jawab Aden mantap. lelaki itu segera pergi melaksanakan perintah.
Namun sepanjang perjalanan Aden masih memikirkan perubahan sikap dari Raja Gyan. Tuannya semakin tidak memiliki perasaan, dingin dan tegas. Tidak ada sedikitpun belas kasihan untuk para musuh. Padahal biasanya meski sedang berperang Raja Gyan masih memikirkan jumlah tawanan serta memberikan pengampunan jika mereka mau berjanji setia pada Garamantian.
Dan kini semuanya tidak terjadi. Raja Gyan menjadi sosok yang berbeda setelah kematian serli Agung. Aden bisa melihatnya dengan jelas, bagaimana senangnya dulu Raja bahkan bisa setiap hari lelaki itu tersenyum senang. Sekarang bahkan untuk membuat Raja Gyan bersemangat saja sangat sulit.
" kau yakin Raja Gyan yang memerintahkannya?" tanya ketua pasukan penyihir entah yang keberapa kalinya.
" iya, tuan" jawab Aden.
" sepertinya yang mulia sangat membenci Prysona, ini pertama kalinya kita membabat habis pihak musuh"
" iya tuan, Yang mulia sudah tidak membuka pintu maaf bagi Prysona"
" Raja Prysona pasti menyesal berani menyinggung serta menantang Raja Gyan" saut yang lainnya.
" mungkin nama itu akan segera hilang dari Azerbaza" penyihir lain menyayangkan keputusan Raja Prysona.
" kita tidak bisa melakukan apapun selain mematuhi yang mulia. Sedari awal Raja Gyan sudah memberikan kebaikannya dengan menutupi masalah sihir hitam itu. mungkin saat ini kesabaran yang mulia untuk Prysona sudah habis" Aden ikut menjelaskan.
" ya kau benar, Prysona memang sudah melewati batas"
" baiklah tidak perlu menunggu terlalu lama. Kalian bertiga yang bertugas membuat badai itu memburuk" ucap ketua pasukan menunjuk anak buahnya.
" baik tuan" jawab ketiganya.
Mereka pergi menuju padang Mazu, mengamati situasi yang sedang terjadi.
" keadaan mereka sudah sangat buruk" celetuk salah seorang.
" mereka hanya cari mari disini, benar-benar egois Raja mereka" imbuh yang lainnya.
" jangan memandang kasihan pada para musuh, laksanakan perintah Raja dengan baik" yang lain mengangguk mantap.
mereka Berada di dataran tinggi yang menghadap padang Mazu. Perlahan 2 orang penyihir membentangkan tangannya lalu menariknya kedepan. mereka mengirimkan rasa dingin yang berlipat untuk ikut dalam perputaran angin badai. Sedang satunya membuat pasir pasir halus bertaburan memuat beberapa tenda pasukan terkubur pasir. Semuanya dilakukan terus menerus, keadaan bertambah parah sesuai dengan keinginan Raja Gyan.
__ADS_1