Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Bertemu, tidak Bertemu


__ADS_3

Saat itu menjelang sore hari. Gyan baru selesai menulis surat balasan pada pemerintah jika kerajaan Garamantian akan memberikan izin dengan beberapa persyaratan.


saat lelaki itu memberikan suratnya pada Aden, dia merasakan energi kuat berada di sekitaran istana miliknya.


" ada apa yang mulia?" tanya Aden melihat Gyan yang menoleh ke sana kemari.


" aku merasakan adanya energi sihir yang kuat, di sekitar sini..."


" apa mungkin.."


" ku harap ini portal Valmira," gumam Gyan lalu menghilang dan pindah ke balkon istana.


Aden memiliki tugas khusus jadi tidak bisa berlama-lama di sana.


jarak yang jauh antara kedua kerajaan membuat portal lambat untuk terbuka. Untung saja keadaan Kangta sudah pulih, membuatnya bisa mengeluarkan sihir dengan mudah. Dan benar tak beberapa lama portal sihir mulai terlihat di halaman samping istananya. Gyan segera mendekat guna melihat dari dekat.


" Gyan, " suara Kangta terdengar terlebih dahulu sebelum akhirnya terbuka portal tersebut.


" Kangta, dimana Valmira?"


" dia berada puncak gunung menenangkan tabir. portal ini tidak bisa terlalu lama. Silahkan panggil para penyihir itu"


" ah ya, aku akan segera kembali " Gyan langsung berbalik badan.


Berjalan menuju istana barat, dia juga menyuruh Deon dan pengawal lainnya untuk membantu para penyihir untuk masuk ke portal.


" kalian segera bawa barang-barang, portal Mystick terbuka di halaman samping istana Raja" ucap Deon.


Di sana Gyan menyaksikannya sambil memantau agar jalannya perpindahan bisa berjalan lancar.


" portal telah terbuka, ayoo kita pergi..!!" suara kepala penyihir yang berkeliling mengumumkan berita baik ini.


Perlahan satu persatu penyihir masuk di pulau Mystick. Mereka semua terpana dengan pemandangan yang menyambut mereka. Hutan yang subur serta lautan yang luas terhampar di sana.


Saat itu Garamantian mendekati malam sedangkan di Mystick hari menjelang sore. semakin membuat pemandangan mempesona.


" indah sekali..." itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut mereka.


perpindahan itu terus berlanjut, Aden baru sampai setelah mengirimkan surat pada pasukan pembawa pesan.


" yang mulia" ucap Aden mendekati Gyan.


" bagaimana?"


" semuanya lancar, paling lama besok surat itu akan sampai di tangah pemerintah"


" bagus, penyihir bisa di pindahkan malam ini. Kini tinggal satu hal lagi"


" apa itu yang mulia?"


" kau tidak perlu tau" jawab Gyan membuat Aden mengerutkan keningnya. Tidak biasanya raja menutupi sesuatu dari nya.


" yang mulia, hampir semua penyihir sudah melewati portal. Kangta mengatakan jika sebentar lagi portal akan tertutup" lapor Deon.


" bagus, kalian masuklah ke Mystick. Bantu Kangta dan Ratu Valmira mengatur mereka"


" lalu yang mulia bagaimana?" Aden segera bertanya. Dia tidak pernah terpisah dengan Raja Garamantian ini.


" aku akan menyusul. pastikan semua berjalan baik dan jangan biarkan Ratu Valmira keluar dari Mystick"


" tapi yang mulia.."

__ADS_1


" banyak rakyat Garamantian yang masih membutuhkan perlindungan dariku, aku tak bisa pergi begitu saja"


Deon dan Aden mulai mengerti, Rajanya tidak akan bisa meninggalkan kerajaan begitu saja.


" kami pamit yang mulia"


" jaga Mystick dan para penyihir lain"


Aden dan Deon masuk ke dalam portal. Gyan menatap semua penyihir dengan seksama. Kangta tidak mengerti, portal semakin menciut namun Gyan tak kunjung masuk.


" ada apa?" tanya Kangta pada Deon dan Aden.


" yang mulia tak ingin masuk, ada sesuatu hal yang akan di lakukan nya terlebih dahulu "


" dia sendirian, kasihan sekali" lirih Kangta. Dia berfikir jika mungkin dia perlu membantu lelaki itu, namun keadaan Mystick masih membutuhkannya.


Akhirnya Kangta memiliki ide lain, sebelum portal itu menutup sepenuhnya, dia mengarahkan gelang itu keluar.


" Gyan gunakan ini untuk masuk ke Mystick" suara Kangta keras, bertepatan dengan portal yang menutup.


hap


Gyan menangkap gelang itu tepat waktu. Sambil tersenyum tipis menatap gelang yang dulu pernah dia berikan pada Valmira.


" kau akan baik-baik saja di sana" lirih Gyan. tanggung jawabnya mulai ringan. Tinggal sedikit lagi, dia dan keluarga kecilnya akan kembali bersama.


Istana Garamantian terasa sunyi, Hanya ada pengawal dan pelayan biasa.


" yang mulia" suara menteri mengagetkannya.


" kau ketinggalan?"


" tidak yang mulia, saya memang memilih di sini"


" tidak, saya akan menanggung semua kecurigaan pemerintah itu" jawab menteri kepercayaannya.


" maksudmu?"


" biarkan saya menjadi tameng sehingga mereka tidak lagi mengusik kerajaan. Dengan menemukan penyihir di sini setidaknya mereka akan puas dan akan menghilangkan ketidakpercayaan mereka"


" kau tidak perlu melakukannya, aku akan mengantar mu ke tempat yang lebih aman" Gyan menarik lengan menteri itu.


" tidak yang mulia, biarkan saya meninggal sebagai seorang penyihir. Akan sangat bangga jika kematian saya lebih berarti" Gyan menarik nafas, tertegun dengan pengorbanan lelaki ini.


" aku akan mencoba agar kau tidak ketahuan"


" kita bisa saling menjaga yang mulia"


Tidak di sangka masih ada penyihir seperti menteri ini. Loyalitasnya begitu tinggi, sayang sekali jika malah memilih berkorban demi kerajaan.


Pagi harinya giliran para penyihir yang memilih untuk menghilangkan kemampuannya yang meminta bertemu dengan Gyan.


" yang mulia, para penghuni istana timur meminta bertemu" ucap penjaga istana.


" suruh mereka kembali. sebentar lagi aku yang kakan ke sana"


" baik yang mulia"


setelah penjaga itu pergi, Gyan melipat sebuah surat dan memasangnya di kaki burung elang Kangta. burung ini sudah tau siapa penerima surat tersebut. Baru setelahnya lelaki itu keluar menuju istana timur.


" yang mulia, kami dengar pada penyihir lainnya sudah tidak ada di istana. Apa mereka sudah pindah?"

__ADS_1


" iya, mereka sudah pindah. Sekarang di istana tinggal kalian dan manusia biasa"


" kalau begitu kami ingin segera menghilangkan kemampuan kami ini. agar tidak menimbulkan kecurigaan"


" kalian bisa membagi berdasarkan klan masing-masing terlebih dahulu"


" baik yang mulia"


Gyan melihat dari depan, menteri kepercayaannya juga ikut hadir. Dia tau jika pengawal dan anak buah Raja sudah pergi. Jadi dia berinisiatif membantu Sang Raja.


" yang mulia apa tinta anda selanjutnya" tanya menteri itu ingin membantu.


" biarkan anggota klan tertua yang mengambil kemampuan anggota muda "


" akan saya sampaikan yang mulia"


menteri itu berkeliling, dan menyampaikan pesan Raja Gyan. Dan beberapa saat setelahnya mulai terdengar teriakan sakit dan rintihan. Gyan sangat tidak tega melihat keadaan ini. semuanya demi bertahan hidup dengan damai dan aman. Sangat di sayangkan, padahal Gyan lebih senang jika mereka semua memilih untuk ikut pindah. kemampuan mereka ini seharusnya bisa di nikmati oleh para generasi muda klan. Sayangnya mereka lebih memilih kehidupan sederhana.


" yang mulia kami sudah mengambil kemampuan yang lain" ucap salah satu orang. Kini ada 4 penyihir klan. Mereka terlihat lelah dan berkeringat.


" apa kalian sudah siap?" tanya Gyan memastikan.


" sudah yang mulia"


Kini tanpa menunggu lagi Gyan mengeluarkan energinya, dan mengambil satu persatu kemampuan dari mereka. Teriakan mereka begitu kencang. Dan ini menjadi teriakan terakhir karena setelahnya semua mantan penyihir ini harus beristirahat beberapa hari di Istana. keadaan mereka jelas lemas tak berdaya dalam beberapa hari ke depan.


......................


Di kerajaan Mystick, Valmira masih tidak mau menemui siapapun. Dia sangat kecewa dengan keputusan Gyan yang Memilih untuk tak masuk ke portal. Padahal satu-satunya orang yang dia pikiran sampai rela mengambil resiko adalah karena Gyan. kini usahanya terasa hambar, dia tidak bisa bersatu lagi dengan Gyan.


" yang mulia, makanan anda sudah siap"


" taruh saja di sana"


" yang mulia, anda harus makan. Sejak kemarin anda terus melewatkan makan. kasihan G, dia tidak mendapatkan asupan susu yang bagus" rayu Derya. Dia paham dengan kondisi Valmira saat ini.


" iya aku tau. Kau taruh saja nanti akan aku makan" balas Valmira yang masih belum tergugah.


Tak ingin berdebat, Derya mengikuti saja kemauan Ratu nya. Namun jika sampai mengkhawatirkan, dia akan mendesak Ratu nya itu.


Tap tap tap


Tak beberapa lama suara langkah kaki terdengar mendekatinya. Valmira menatap ke arah suara.


Tenyata di sana sudah ada Aden dan Deon.


" siapa yang mengizinkan kalian masuk?" tanya Valmira tegas.


" maafkan kami Ratu, kami hanya ingin menyampaikan kabar agar Ratu tidak lagi merasa gundah " jelas Aden berusaha merangkai kalimat yang pas agar tidak menyinggung.


" mengenai Gyan?"


" iya Ratu. yang mulia di sana bukannya tidak mau berkumpul lagi dengan Ratu. Namun keadaan di sana jauh lebih runyam, seperti yang anda tau sebelumya"


" sudah jangan jelaskan, aku tidak meminta kau menjelaskan hal ini padaku"


" ampun Ratu, saat ini Yang mulia sedang berencana memindahkan para penduduk biasa ke wilayah Uthaman. Yang mulia sudah bertemu dengan Emrick dan mendiskusikan semuanya"


" apa maksud mu? lalu bagaimana dengan Garamantian? apa kerajaan itu akan kosong ?" berita ini sangat mengagetkannya.


" yang mulia tidak menjelaskan lebih lanjut. Kami hanya tau sampai sini saja. Ah ya pesan dari tuan Kangta, saat ini yang mulia Gyan membawa gelang giok putih. jadi Ratu jangan khawatir. dalam waktu dekat yang mulia pasti akan tiba di Mystick" Aden menjelaskan panjang lebar.

__ADS_1


Dan benar saja, perlahan Valmira sedikit lega namun tetap masih kesal. Gyan memenuhi tanggungjawab nya dengan sangat baik untuk rakyat nya. Dia juga harus melakukan hal yang sama.


__ADS_2