Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Hari Yang ditunggu


__ADS_3

Sore hari di kerajaan Garamantian yang indah. Saat ini Gyan tengah berada di balkon luas di atas kerajaan. Lelaki itu menatap ke semua penjuru kerajaan. Dengan di temani sepoi angin, membuat selendang yang menggantung di lehernya terbang menari-nari.


Terlihat Aden yang berjalan mendekati Gyan.


" yang mulia, semua sudah siap. Besok pertemuan akan jadi dilaksanakan" lapor Aden, dia baru saja berpatroli dan menyiapkan semua kebutuhan pertemuan. Kali ini pertemuan akan di laksanakan di tanah Garamantian. Tepatnya dia belakang kerajaan, yang sudah disiapkan tempat khusus di tengah hutan. Pertemuan ini bersifat rahasia. Jangan sampai manusia biasa banyak yang tau akan hal ini. Bisa menimbulkan banyak kecurigaan.


" bagus, lalu apa sudah terlihat kemunculan Deon?" tanya Gyan


" sepertinya Deon sudah melewati perbatasan tinggal menunggu waktu sampai datang ke istana"


" baiklah, kau boleh pergi" ucap Gyan. Lelaki itu malah ingin berada di atas sana. situasi sore membuat jiwanya tenang. Gyan sudah lama tidak mengunjungi tempat ini. Semua itu juga karena kehadiran Valmira dalam hidupnya. Wanita itu ternyata sudah terlalu dalam mempengaruhi hidupnya.


Garamantian mulai di padati dengan datangnya keluarga penyihir. Meski tidak semua dan hanya perwakilan. Tapi itu sudah cukup membuat sebagian orang bertanya-tanya.


Dengan dalih perdagangan serta terjadinya perpindahan, semua alasan itu sedikit mengurangi rasa curiga dari masyarakat biasa.


Hari semakin malam, suara kuda berjalan kencang memecah keheningan lembah gurun pasir. Angin meniup kencang jubah hitam milik penunggang. terus melaju tanpa kenal lelah.


" aku harus segera sampai di istana" ucap lelaki itu pelan. Dia sudah menerima surat dari sang kakak untuk segera kembali saat pertemuan penyihir. Sayangnya ada beberapa kendala yang membuatnya harus tertunda beberapa hari.


cah cah cah.


teriak Deon tak ingin membuang waktu lagi, meski kuda nampak kelelahan sama sekali tidak mengurangi laju larinya.


Disisi lain, tepatnya di daerah permukiman tak jauh dari istana seorang tabib sedang membuka buku dengan cepat. Dia sedang mencari jawaban atas apa yang dia temui.


" apa yang sedang kau cari? sejak tadi terus membuka buku buku itu" tanya istri sang tabib.


" aku menemukan sebuah keanehan, dan tak ada satu buku pun yang mampu menerangkan keanehan itu"


" memangnya apa yang terjadi?" tanya istri yang mulia ikut penasaran.


" kau tau kan jika belakangan ini aku sering disuruh untuk memeriksa dan merawat selir Agung?"


" iya, ada masalah?"


" kau tau tidak jika selir Agung berasal daru budak dan seorang manusia biasa?" ucap tabib itu yang melemah pada kata terakhir.


" tau, memangnya kenapa?"


" saat aku memeriksa nadinya, selir itu memiliki nadi yang aneh"


" aneh bagaimana? katakan dengan jelas. Jangan bertele-tele" kesal sang istri.


" wanita itu memiliki 2 nadi, sepertinya dia sedang hamil" bisik tabib itu. Sang istri yang mendengarnya langsung menutup mulut, tidak percaya dengan berita itu.


" mana mungkin, Raja adalah penyihir bagaimana bisa penyihir dan manusia biasa..."


" itulah yang sedari tadi aku cari jawabannya"


" apa yang mulia tau?"


" aku belum mengatakan hal ini pada siapapun"


" apa mungkin selir itu berselingkuh?"


" entahlah, Tapi selir itu tidak pernah terlihat dekat dengan lelaki manapun, ini sedikit janggal"


"lebih baik kau jangan katakan apapun. Bagaimana jika raja tak percaya?" usul sang istri.

__ADS_1


" aku masih bingung, tapi jika benar selir berselingkuh. Itu sangat keterlaluan, kita harus melaporkannya" pikir sang tabib.


" iya kau ada benarnya" sepasang suami istri itu terus mendiskusikan bagaimana baiknya mereka mengatasi hal ini. Sampai menarik kesimpulan bahwa mereka akan menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan hal ini pada Raja.


Waktu menunjukkan tengah malam, seorang tamu telah sampai di istana Garamantian.


" kakak" panggil Deon saat lelaki itu berdiri di ambang pintu istana raja.


" Deon!" ucap Aden yang sedang berada di dalam, karena harus mendiskusikan sesuatu dengan Gyan.


" Aden!" kedua lelaki itu berpelukan.


" kakak" kini giliran Gyan yang di peluk.


" bagaimana perjalananmu?" tanya Gyan kemudian.


" sempat ada kendala tadi, tapi dengan mudah bisa aku atasi" jawab Deon bangga.


" kau sudah makan?" Aden menyahut. antara dia dan Deon sudah seperti kawan lama. Mereka hampir seumuran saat ikut dengan Gyan di kerajaan.


" tentu saja belum" jawab Deon cepat.


" kau persiapkan diri dulu. Baru temui aku nanti" Gyan tak ingin langsung mencerca Deon dengan berbagai pertanyaan. Biarkah Deon bernafas terlebih dahulu.


" baik kak" jawab Deon senang.


Aden dan Deon keluar dari istana Raja menuju kamar Aden. letaknya berada di bawah istana. Cukup luas dan bersih, karena jarang sekali di tinggali. tanggung jawab Aden sebagai pengawal pribadi Raja membuatnya tidak sempat berleha-leha di kamar.


Gyan kembali memeriksa laporannya di ruang kerja.


Lain hal itu, di kamar selir. Valmira dan Fleur sedang menata beberapa barang. termasuk perhiasan yang akan jad modal mereka hidup di luar kerajaan.


" Fleur, kita tidak sedang pindah rumah. Melainkan kabur. Jangan membawa banyak barang, cukup yang berharga saja" jelas Valmira sekali lagi. temannya ini antara rela dan tidak rela meninggalkan semua kemewahan ini.


" tapi sayang jika di biarkan di sini. belum tentu kita bisa memiliki barang seperti ini lagi" jawab Fleur memelas.


" iya aku tau, tapi jika kita semua barang itu. Malah kita di tuduh pencuri saat keluar nanti. Sudah ikuti perintahku saja. Kita keluar hanya membawa emas dan perhiasan. mengerti?" kesal Valmira. Sedari tadi menjelaskan tapi Fleur belum juga mengerti.


" emm.. baiklah" jawab Fleur lemas


Sedangkan di istana Ratu, Shana tengah melihat laporan serta pembagian tugas penjaga di area jalan yang akan selir Alora lalui.


" kalian tunggu disini dan buat para penjaga tidak berada di tempat saat tengah malam. mengerti?" jelas Shana kepada para pelayannya.


" kami mengerti yang mulia" jawab mereka patuh.


" jangan sampai mereka gagal. Pastikan hal ini berjalan dengan lancar" ucap Shana memastikan.


" iya yang mulia" jawab mereka serius. Tugas ini terasa sangat penting. Bahkan Ratu sudah menyiapkan beberapa hadiah untuk mereka jika berhasil mengeluarkan selir Agung dan pelayannya.


" baiklah, kita tunggu besok" Shana terlihat tidak sabar dengan kepergian Valmira dari kerajaan. Karena setelahnya tidak akan ada lagi batu halangan antara dia dan Raja Gyan.


Pagi menjelang, saat ini di istana Raja semua duduk melingkar Deon, Aden dan Gyan. Mereka akan mendiskusikan bahan yang akan mereka bawa saat pertemuan nanti.


" bagaimana penemuan mu?" tanya Gyan membuka pembahasan.


" saya juga mencurigai, jika ada kelompok khusus yang menangkap dan mengirim hewan-hewan suci. Pernah sekali aku pergi ke tepian kota, saat malam terdengar ada suara hewan keluar dari kapal yang meninggalkan dermaga" jelas Deon.


" seberapa sering hal ini kau temui?"

__ADS_1


" mungkin 3 kali dalam satu bulan. Ini sangat menghawatirkan, seseorang telah melakukan kejahatan besar" jelas Deon dengan wajah tak terima.


"kau benar, aku pernah menangkap tanda telah di Lakukannya sihir terlarang. entah di bagian mana, tapi itu benar, maka kemungkinan tempat hewan itu di kirim adalah lokasi kejahatan itu dilakukan "


" yang mulai benar"


" dan satu lagi, untuk masalah dunia sihir yang mulai mengancam dunia manusia juga perlu kita jelaskan. Dengan jumlah penyihir yang semakin menurun, membuat para manusia menekan posisi kita. para penyihir sering disalahkan jika terjadi musibah atau hali buruk lainnya" saut Aden. Lelaki itu memang sudah menilai dari awal. Sejak perpecahan perpecahan penyihir beberapa waktu silam. membuat hubungan mereka semakin renggang dan rawan akan hasutan.


" itu memang benar. Aku sempat menerima perlakuan buruk saat ada yang mengenali identitasku" timpal Deon. Karena dia sering berpergian dan tinggal di suatu daerah daerah lain. membuat pengetahuan sosial nya semakin terasah dengan baik.


" kita harus melakukan pencegahan sebelum semuanya terlambat" jawab Aden.


Ketiga lelaki itu masih terus berbincang sampai tak terasa sore hari mulai datang.


" yang mulai kita harus pergi ke lokasi" ucap Aden mengingatkan. Sebentar lagi malam, dan pertemuan akan di mulai di sana.


" ya , baiklah" jawab Gyan lesu.


Lelaki itu merasa begitu berat meninggalkan kerajaan. Firasat nya tidak enak sedari kemarin. Gyan tak mengerti kenapa bisa seperti ini. sary -satunya hal yang dia khawatirkan adalah selirnya.


Meski begitu lelaki itu berusaha positif, tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi di kerajaan saat dirinya tidak di tempat.


" bagaimana Alora?" tanya Fleur yang sejak mengetahui hal ini, selalu tak bisa tenang.


" sebentar lagi. Tunggu sampai matahari benar- benar tenggelam" jawab Valmira sambil melihat keadaan sekitar. Wanita itu bahkan sengaja meliburkan semua pelayannya agar istana selir kosong. Tidak ada yang melihat kondisi kamar yang sebenarnya. Fleur berniat akan mengambil pakain pelayan saat menjelang malam. Mereka akan mulai rencana dengan itu.


" baiklah" jawab Fleur pelan.


Semua persiapan sudah di lakukan oleh masing-masing orang. Gyan dalam acara pertemuan, Valmira dengan acara melarikan dirinya dan Ratu Shana dengan melonggarkan keamanan istana. Semua orang sibuk dengan kepentingannya. Sampai tak terasa waktu malam akan segera tiba, pelayan Ratu Shana sudah ada di tempat masing-masing. Sedangkan Valmira dan Fleur bersiap sampai malam mulai gelap. Saat ini Fleur sudah berhasil mengambil beberapa pakaian pelayan istana. Tinggal menunggu waktu sampai mereka keluar dan pergi dari kerajaan.


Di bangunan tengah hutan, beberapa keluarga penyihir sudah mulai berdatangan. Gyan sebagai tuan rumah langsung menyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka.


" Raja Gyan yang terhormat, bagaimana kabar anda" ucap Vernon dari penyihir Osmond, lelaki itu cukup sering membuat Gyan kesal karena ulah jahilnya.


" semua tampak beres dengan keahlianku" jawab Gyan sombong.


" masuklah" lanjut Gyan tak ingin berlama-lama berbincang dengan lelaki aneh itu.


malam semakin larut hampir semua penyihir sudah berada di tempat. Hanya ada 3 keluarga penyihir. Namun terbagi dalam beberapa klan lagi. Termasuk juga klan Ratu Shana yang di hadiri oleh keluarga bibinya. Karena sang ayah menjabat sebagai Raja Prysona, dan rahasianya. Raja Prysona tidak terlalu menguasai sihir Osmond sebaik adiknya.


" kita mulai saja pertemuan malam ini" ucap Aden yang memimpin jalannya pertemuan.


" ada satu lagi yang belum hadir" jawab seorang penyihir Reuben.


" siapa?" tanya Gyan, dia sedikit kenal dengan seseorang yang berkata itu. mereka dalam satu keluarga penyihir namun beda klan.


" Kangta" jawab nya membuat manik Gyan melebar. Nama itu adalah nama dari penyihir yang selama ini dia cari. Penyihir Osmond terhebat yang pernah dia temui.


Aden dan Gyan saling beradu pandangan. Seakan meragukan hal ini, bagaimana tidak, mereka mencarinya saja tidak ketemu, apa mungkin lelaki itu dengan mudahnya muncul dalam pertemuan remeh seperti ini.


" kau yakin dia datang?" tanya Gyan memastikan.


" tentu saja, burung elang miliknya sudah sampai di atap beberapa saat yang lalu" jawabnya.


Semua orang tampak saling pandang. Kangta memang sangat terkenal dalam dunia sihir. Banyak sekali pusaka yang berhasil dia buat. Beberapa bahkan menjadi saksi meredamnya perpecahan penyihir beberapa waktu silam.


" baiklah kita tunggu" jawab Gyan yang juga ikut menantikan kehadiran lelaki tua itu. Jika benar Kangta datang, dia tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.


Tap tap tap

__ADS_1


langkah kaki terdengar memecahkan suasana. Semua mata menatap ke arah pintu. Begitu pula dengan Gyan. Lelaki itu menatap tajam seseorang yang datang paling akhir dalam acara ini.


__ADS_2