
Gyan terus saja bermain dengan bayi G, lelaki itu seolah melupakan sakitnya. Rasa penat serta beban kerajaan sementara menyingkir dari pikirannya. Gyan sangat senang sekali sampai tidak bisa mengatakannya.
" tangkap.. ayoo tangkap" Gyan mengajak gurau bayi G, memberikan sejumlah mainan dan G berusaha menangkapnya dengan terbaring di ranjang.
" bagus, heemm" Gyan tidak kenal lelah, di bermain dan menyentuh perut bayi dengan wajahnya. Membuat bayi G tertawa terbahak-bahak.
Valmira baru saja sampai di ruang depan istana Raja, sudah waktunya G minum susu. Dengan hati bimbang Valmira masuk ke area dalam dekat dengan kamar Gyan, dia ingin mengamati situasinya dulu. Apakah Raja itu memperlakukan G dengan baik. Valmira menggerakkan kepalanya mengintip dari pintu.
" masuklah" ucap Gyan dari dalam. Valmira mendadak jadi salah tingkah. Bagaimana lelaki itu bisa tau kedatanganya.
" waktunya G untuk makan" ucap Valmira datar masuk ke kamar.
" makan? bukankah dia masih bayi?" tanya Gyan yang belum mengerti arti makan yang sebenarnya. Valmira menarik nafas panjang, dia merasa aneh jika mengatakan kalau G akan menyusu padanya di depan Gyan.
" emm maksudku, minum susu" Valmira berusaha tenang. Tapi nampaknya itu sulit karena kekhawatirannya terjadi, Gyan langsung mengarahkan pandangannya pada dada Valmira.
" kemana arah matamu?" sentak Valmira malu dan berjalan cepat mengambil G. Gyan jadi sedikit bingung kenapa Valmira tiba-tiba marah.
" mau kemana? menyusui G disini saja" cegah Gyan sambil menepis lengan Valmira halus.
" jangan suka menyentuh ku tiba-tiba" Valmira masih belum terbiasa dengan sentuhan Gyan.
" baiklah maafkan aku, kau disini saja. Biar aku yang keluar" Gyan mengerti jika Valmira masih belum bisa menerima dirinya jadi Gyan harus banyak bersabar dan mengalah.
Valmira belum sempat menolak tapi Gyan sudah lebih dulu keluar dari kamar. Wanita itu terdiam , dia tidak bermaksud mengusir Gyan yang sebenarnya masih sakit. Sayangnya dia juga tidak tega menolak permintaan lelaki itu. Alhasil Valmira menaiki ranjang, kali ini saja dia akan mengikuti kemauan lelaki itu.
" kau sudah lapar heumm.." Valmira mulai menyusui. Wanita itu dengan sabar dan telaten membuat G nyaman. Bayinya sepertinya kelaparan sekali, G menyedot susunya dengan sangat rakus. Valmira mengelus kepala sang putra pelan dan perlahan matanya mulai mengantuk. Sang anak masih menyusu tapi dia sudah mengantuk. perlahan kelopak matanya menutup.
Hari beranjak sore, Valmira membuka matanya dan menyadari jika G sudah tak ada di sebelahnya. Valmira tampak terkejut bukan karena bayinya yang hilang tapi dia belum menutup benar dadanya. kancing gaunnya masih terbuka.
__ADS_1
" apa lelaki masuk dan melihat semuanya?" gumam Valmira lalu segera merapikan gaunnya. Wanita itu berjalan keluar dari kamar. Suara G berceloteh menjadi arahan kemana dia harus pergi. Di ruang tengah Valmira melihat G tertawa senang di ayun oleh ayahnya. Ada juga Aden dan Deon yang juga ikut bermain, G tertawa sangat lepas. Valmira terdiam sejenak menatap Gyan, lelaki ini cukup tampan. Valmira jadi penasaran bagaimana kisah mereka dulu, apa Valmira juga kasmaran sama saat dia berdekatan dengan Alvaro dulu. Apa lebih parah atau bahkan Valmira dan Gyan mengalami cinta bertepuk sebelah tangan.
Sebenarnya Valmira penasaran kenapa statusnya disini hanya sebagai Selir dan wanita penyihir hitam adalah Ratunya. Valmira jadi berfikir jika Gyan adalah tipe lelaki yang suka gonta ganti pasangan, berlaku seenaknya selayaknya Raja-Raja yang dia tau.
" yang mulia" ucap Deon yang lebih dulu menyadari kehadirannya Valmira berdiri di samping tembok hampir tidak terlihat.
Gyan dan Aden ikut menengok, Valmira akhirnya keluar dan berjalan menuju G. Deon segera menarik Aden untuk menyingkir, meninggalkan pasangan yang baru saja bersatu kembali.
" kau tadi masuk ke kamar?" tanya Valmira memastikan, sebelum dia memarahi Gyan sebaiknya memang harus mengkonfirmasi terlebih dahulu.
" kamarku? " Gyan malah balik bertanya, seolah menegaskan apa yang salah jika dia masuk ke kamarnya.
" kau sengaja masuk ke kamar saat gaunku turun?"
" aku tadi mendengar G menangis, ku lihat kau tertidur jadi mengambil agar tidak mengganggumu"
" jadi kau mengakui jika kau memang melihatnya?"
" melihat ...." Valmira ingin mengatakan tapi kenapa dia malah malu sendiri.
" sudah lupakan" lanjut Valmira datar, Wanita itu berniat mengambil G dari gendongan Gyan karena ingin segera meninggalkan ruangan panas ini.
Gyan terdiam seakan memikirkan alasan Valmira kesal padanya terus menerus. sejak datang wanitanya memang sering sekali marah dan kesal padanya.
" apa maksudmu aku melihat buah dadamu?" tanya Gyan polos.
plak
satu tamparan mengenai pipi Gyan dengan sedikit keras. Posisinya waktu itu Valmira begitu dekat dengannya karena hendak mengambil G.
__ADS_1
kepala Gyan langsung menoleh dengan keras, dan Valmira dengan cepat mengambil alih G. wajahnya merah rebus mendengar Gyan mengucapkan kata itu dengan frontal.
" dasar mesum" ucap Valmira sebelum pergi. Gyan bertanya-tanya, apa salahnya. Dia dan Valmira sudah memiliki anak bersama dan mereka pasangan suami dan istri. Kenapa hal remeh seperti ini menjadi masalah besar.
Aden dan Deon menatap kepergian Valmira dengan wajah penasaran. Apa yang sudah terjadi hingga wanita itu keluar dengan wajah memerah.
Hari berlanjut, malam datang dengan cepat. Setelah tadi sore kabar putri Farfalla tersebar dan tentu saja Gyan langsung menemani adiknya itu. Lelaki itu sangat bersyukur Falla bisa sadar. Tubuhnya terlalu lemah menerima serangan sihir hitam milik Shana. Kini dengan kondisi yang lemah tentu saja sudah hal yang baik.
Sedangkan Valmira yang tidak merasa perlu kesana. hanya menghabiskan waktu dengan bayi G. setelah memandikan putranya dengan bantuan satu pelayan. Valmira mengajak G berkeliling tak jauh dari area istana Harem. Hingga langit mulai gelap Valmira bersiap menidurkan G. Tak seperti biasanya, G terlihat masih aktif dan tidak mengantuk. padahal Valmira sudah menggendong dan membuat G senyaman mungkin, tapi G malah rewel tidak mau tidur.
" tumben sekali, apa ada yang sakit?" lirih Valmira, yang kebingungan menghadapi sikap rewel G.
" apa saya perlu memanggil Yang mulia kemari, Ratu Valmira? " tanya pelayan.
" tidak usah, kau pergi siapkan air hangat saja. mungkin tubuh G terasa gatal jadi membuatnya rewel" tebak Valmira,
" Baik Ratu Valmira" pelayan itupun pergi. Di area dapur pelayan itu berpaspasan dengan yang lain. Neberapa pelayan saling menyala dan bertanya kepentingannya ke dapur istana. Pelayan Valmira menjawab sejujurnya bahwa bayi G rewel tidak mau tidur.
Pepatah mengatakan jika lebih panjang mulut daripada tali. Dari satu pelayan ke pelayan lain dan akhirnya kabar ini sampai di telinga Gyan. Lelaki itu dengan mengesampingkan sakitnya. segera pergi ke kamar Valmira. Dari depan saja dia sudah mendengar suara tangis G, naluri sebagai ayah langsung muncul. Gyan masuk dan segera mendekati asal suara.
" apa yang terjadi?" tanya Gyan pada Valmira.
" entahlah dia terus saja rewel, aku sudah membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Tapi tidak ada perubahan" jawab Valmira yang sudah kebingungan. Ini pertama kalinya G rewel dan Valmira tak tau bagaimana menanganinya.
" kemari. aku gendong dulu" Gyan mengambil alih G. lelaki itu mengayunkan pelan G dalam gendongannya.
" mungkin dia kelelahan akibat perjalanan jauh"
" mungkin saja, tapi sejak kemarin tidak apa-apa"
__ADS_1
" tubuhnya hangat. Kau suruh pelayan memanggil kan tabib" ucap Gyan cemas, Valmira tanpa pikir panjang langsung mengangguk dan berjalan menemui pelayan.