
Valmira mengeluarkan tali sihir dan dengan mudah membawa Violet dalam penguasaannya. Violet kini menjadi sanderanya. Violet menghadap ke depan dengan tangannya terikat di belakang, Valmira dengan mudah mengunci pergerakan Violet.
" apa yang kau lakukan !" teriak Violet keras.
" letakkan bayiku atau nyonya mu aku bunuh?" Valmira mengeluarkan bilah sihir dan menempelkannya di leher Violet.
Situasi mendadak berubah, Violet terlihat ketakutan karena ujung bilah itu sudah menggores kulit tipisnya setetes darah mengalir di leher Violet.
" siall.." desis boneka itu yang sudah merasa kecolongan.
" kau..!" Violet memberontak, tubuhnya tidak bisa lepas. Ikatan ini sangat erat.
" letakkan bayiku di meja!" teriak Valmira. tangannya dengan keras menusuk leher Violet.
" turuti dia.." ucap Violet tak punya pilihan.
boneka itu maju dan meletakkan bayi G di meja.
" mundur!" perintah Valmira lagi.
boneka itu mundur, dan perlahan Valmira maju mendekati meja tersebut. Saat sampai di depan bayinya wanita itu dengan keras mendorong Violet dan mengambil bayinya. Boneka itu menahan tubuh Violet agar tidak jatuh dengan salah satu tangan lainnya langsung memberikan serangan.
wussshhhh
Crusshh
Valmira hampir saja terkena serangan, dia menggendong putranya dengan sangat erat.
wuussshhh
Boneka itu tidak berhenti menyerang Valmira setelah memberikan tabir pelindung pada nyonyanya, boneka itu dengan membabi buta mengirimkan serangan pada Valmira.
crusshh
wuusshh
tidak ada kesempatan bagi Valmira untuk berhenti sejenak, boneka itu terus mengejarnya dengan serangan. Valmira terus menghindar secepat mungkin. Jangan sampai sihir hitam mengenai putranya.
wwuusshh
crusshh
" akk" Valmira terkena serangan, dia sedikit kesusahan dengan salah satu tangannya yang menggendong anaknya.
Valmira terduduk, boneka itu dengan cepat terbang dan berdiri di hadapan wanita itu.
wwussshh
mengangkat tangannya dan memberikan tali sihir di leher Valmira.
" aaaakkkk" Valmira tidak bisa melawan, dia memeluk erat sang anak bersamaan dengan tubuhnya yang ikut naik.
" kau tidak mau menurut, maka inilah hukumannya" ucap boneka itu menaikkan tangannya menjujung tinggi tubuh Valmira. Wanita itu tidak bisa berbicara, tenggorokannya terasa sakit, tali sihir itu melilit dengan sangat erat. kakinya bergerak tak karuan saat tak menapak di tanah, seiring dengan pasokan udara yang mulai menipis.
" bagaimana, kau akan bertemu kembali dengan suamimu" ucap boneka itu dengan seringai senang.
Violet melihat dengan penuh kepuasan, dia berjalan mendekati Valmira.
" lebih baik aku yang mengasuh anak ini" ucap Violet sambil mengambil paksa bayi G dalam gendongan Valmira.
oooeekk
bagi G menangis sangat kencang, Valmira semakin merasa bersalah. Lelehan hangat mengalir dari mata Valmira saat tangannya sudah tak bisa menyentuh bayi kecil itu.
" sebelum kau mati, bagaimana jika melihat anak dulu" Violet menggendong asal tubuh G demi menunjukkan jika bayi ini melihat sang ibu yang sebentar lagi menuju kematian.
" hahahahaha" Violet tertawa keras sekali, pandangan Valmira mulai buram, dia sudah tidak bisa bertahan lagi.
cccrusshh
__ADS_1
crussshhh
serangan mendadak membuat Boneka sihir terpental bersama dengan Violet. untungnya dengan cepat Kangta meraih bayi G yang terlempar dari tangan Violet.
" putri!" panggil Deon dan membantu Valmira berdiri.
" kau selalu saja menganggu" desis Violet yang bangkit.
" bagaimana kalian bisa sampai disini?" tanya Kangta tajam. Dia sudah merasa yakin memberikan perlindungan yang ketat di area istana.
" kenapa? kau tidak akan menyangka jika aku bisa melakukan hal ini bukan?" Violet sombong.
" serang Meraka" lanjutnya menatap boneka.
wuusshh
serangan langsung mengarah pada mereka. Kangta menangkis cepat.
" bawa G ke tempat aman!" Kangta memberikan bayi itu pada Deon. Lelaki itu mengangguk dan berjalan meninggalkan ruangan
wwusshh
boneka sihir jelas tak ingin kehilangan barang berharga itu langsung menghadang Deon.
cccruuhh
Kangta menyerang boneka sihir memberikan kesempatan untuk Deon melanjutkan langkahnya untuk pergi.
" sialan!" amuk boneka itu. Dengan cepat mengumpulkan energi sihir hitam untuk memberikan balasan.
wwuuussshhh
asap hitam mulai terlihat dan memenuhi ruangan, Kangta serta Valmira melihat dengan perasaan was-was.
tangan boneka itu membuka dan asap yang awalnya tak berbentuk kini berubah menjadi wujud naga besar dan menyeramkan.
" rasakan ini" tangan boneka mengayunkan pelan tapi naga itu dengan cepat menuju ke arah Kangta.
Valmira memberikan perlindungan dan mereka langsung berpindah tempat di sebuah halaman belakang istana.
" dia semakin sulit di kalahkan" ucap Valmira yang memilih untuk melarikan diri. Tubuhnya masih sedikit lemah belum pulih dari cidera terkahir kali.
" bagaimana kondisi anda putri?" tanya Kangta dengan sedikit cemas.
" aku hanya merasa jika jelmaan itu memiliki kekuatan yang cukup besar, kekuatanku belum tentu bisa memusnahkannya" jujur Valmira.
" kita harus mencoba yang terbaik" Kangta memberikan semangat, meskipun dia sendiri juga belum tentu mampu melawan boneka sihir. tenaga dalamnya sangat terbatas.
braakkkk
suara keras terdengar, boneka itu menebus atap bangunan dan mencari keberadaan Valmira dan Kangta dengan penuh kemarahan.
kedua orang itu mendongak, naga asap hitam terlihat terbang di langit.
" jangan harap kalian bisa lolos" ucap boneka saat menemukan keberadaan Valmira dan Kangta. Dia segera mengarahkan naganya untuk menyerang kedua musuhnya.
" jangan sampai terkena serangan" ucap Valmira, kedua orang itu terbang berlawanan arah. membuat nada itu tidak fokus.
Gghhuuaaakkk
suara naga menggelenggar membuat malam itu menjadi begitu mencengkam. Kini Boneka sihir menambahkan api merah sebagai serangan sang naga.
gghhuaakkk
naga menyembur kearah Kangta, lelaki itu terbang menghindar. Valmira mencari celah untuk membuat serangan dan menganggu konsentrasi boneka sihir.
crrussshhh
serangan mengenai tubuh boneka. membuat boneka itu lepas pandangan dari naganya.
__ADS_1
" lawan aku" tantang Valmira. tentu hal ini langsung di terima oleh Boneka sihir.
pertarungan kembali berlangsung, kangta dengan naga hitam dan Valmira melawan boneka sihir. pasukan istana melihat dengan rasa takut. energi sihir hitam benar-benar terasa mencengkam. Mereka tidak bisa pergi membantu, kemampuan mereka tidak ada apa-apanya jika sampai terkena sihir hitam.
pertarungan terus berlangsung baik Valmira atau boneka sihir sama-sama terkena serangan, tapi hanya Valmira saja yang semakin lemah.
" putri!" ucap Kangta saat wanita itu terduduk dengan mulut yang berdarah.
" kita harus segara memulai mengunci, jika tidak. kesempatan untuk memusnahkannya akan hilang"
" Boneka itu tidak bisa di kalahkan dengan mudah, putri mau tidak mau anda harus menggunakan energi dari tabir milik Ratu Marilla" jelas Kangta secara singkat.
" apa maksudmu?"
" tabir pelindung merupakan kumpulan energi yang berlimpah, jika tidak ada jalan lain. Saya rasa menggunakannya untuk melindungi penduduk juga tidak ada salahnya" Kangta memberikan penjelasan.
Valmira memang tau jika tabir memiliki kumpulan energi yang besar, tapi bagaimanapun itu adalah peninggalan ibunya.
wwussshhh
ggghhhuuuaaakkk
serangan dan semburan naga langsung mengenai Kangta. lelaki itu terkapar tidak berdaya karena menjadikan tameng bagi Valmira.
wanita itu tidak memiliki pilihan, benar kata Kangta. Hal ini juga untuk melindungi rakyat Mystick.
" hahaaha" boneka sihir tertawa senang. akhirnya satu dari musuhnya sudah terkapar.
Valmira segera bangkit, dia terbang sangat tinggi. Dengan darah milik Marilla yang mengalir deras padanya, tidak sulit baginya membuat energi tabir masuk dalam tubuhnya.
Semua yang melihat kini sedikit lega, putri mereka sedang mengumpulkan energi untuk mengalahkan boneka sihir.
Cahaya biru perlahan terlihat semakin berpijar di kedua tangan Valmira. energi tabir perlahan masuk dan tubuh Valmira merasakan sebuah kekuatan yang dahsyat sangat berenergi. Valmira tidak mengambil energi tabir secara keseluruhan, masih ada tabir terluar yang masih aman melindungi.
Boneka sihir melihat dengan bingung, dia tidak tau apa yang Valmira lakukan di atas sana. Dia mengirimkan naganya untuk menyerang Valmira.
qqqqhhuuuaaakkk
naga itu terbang dan menyemburkan api merah tepat di depan Valmira.
ccrruuuhhh
Valmira dengan mudah menangkis.
ccruuussshh
cccruussshh
Valmira langsung menyerang naga itu secara membabi buta. sampai tiba-tiba nada hitam itu menghilang seketika.
" uhuk uhuk.. tidak mungkin" boneka itu tiba-tiba merasakan sakit. energi hitam dari naga hitam begitu banyak, kenapa bisa di kalahkan semudah itu.
Valmira tak ingin membuang waktu, dia membuat formasi pengikat dan penghancur jiwa di tempat boneka itu berdiri.
" tidak.. tidak" boneka itu tidak bisa menghindar, tubuhnya sudah tersegel kekuatan Valmira.
Valmira terus merapalkan mantra, lubang pengikat jiwa mulai terlihat, boneka itu langsung terkurung.
" tidak. lepaskan aku" teriak boneka itu, dia mengeluarkan semua sisa energi hitamnya. Namun sama sekali tidak mempan menembus formasi milik Valmira.
" aaakkkk"
perlahan tubuhnya memanas, dan dengan cepat jiwanya hancur.
Valmira merasa sangat lega, dia turun ke tempat Kangta terkapar. Dia menyentuh tubuh lelaki tua itu dan merasakan nadi yang lemah.
cruusshhh
Valmira dengan cepat mentransfer energinya pada tubuh Kangta sampai di rasa kondisinya sudah stabil.
__ADS_1
" semuanya sudah selesai" lirih Valmira menghembuskan nafas panjang.