
putri Shana semakin meradang, baik ibu suri ataupun putri Farfalla tidak ada yang bisa membantunya.
Bahkan tadi saat berada di istana Raja, Gyan dengan terang membela keberadaan Alora. membuat Putri Shana benar-benar merasa di rendahkan. Bagaimana bisa seorang budak dengan mudahnya mempengruhi yang mulia.
" mulai malam ini, tidak akan aku biarkan kalian bersama " desis Shana. Dia sudah menahan sekian lama. kekuatan sihirnya yang akan maju dan menyelesaikan kegundahan hatinya.
" kau siapkan sebuah wadah kayu untukku" perintah Shana pada pelayannya.
" baik putri" ucap pelayan itu, dia sudah paham wadah itu akan di pergunakan untuk apa.
Waktu sudah mendekati siang hari, Valmira baru bisa keluar dari istana Raja. Niat hati hanya ingin meredahkan emosi Raja, tapi malah dia yang menjadi emosi. Memang salahnya juga, begitu mendengar teriakan Raja, Valmira langsung bangun. Dia asal mengambil jubah tidur satin hitam milik yang mulia. Dan langsung keluar menemui Gyan. Tentu saja sebagai lelaki, Gyan tidak akan menyiakannya begitu saja. Berakhirlah dia di atas ranjang lagi.
Perjalanan pulangnya dari istana Raja, Valmira mampir ke perpustakaan kerajaan. Setelah perbincangannya dengan Raja semalam, membuat Valmira merasa tertarik untuk mengetahui bagaimana gambarannya mengenai kerajaan Garamantian. Dia juga ingin mengetahui keluarga penyihir yang pernah dia dengar sebelumnya.
" selir Agung, anda mencari buku tentang apa?" tanya pelayan perpustakaan. status Selir Agung nampaknya begitu membuatnya di hormati.
" kau tunjukkan saja, dimana letak bagian buku mengenai kerajaan" jawab Valmira, dia ingin mencarinya sendiri.
" baik selir Agung" pelayan itu berjalan dan Valmira mengikuti dari belakang.
" disini semua, berisi buku-buku mengenai kerajaan" ucap pelayan itu dengan memberikan arahan lewat tangannya. Valmira melihat ada sekitar 4 rak tinggi yang tunjuk oleh pelayan. Ternyata banyak sekali.
" baiklah, kau boleh pergi" balas Valmira. Wanita itu dengan di temani Fleur mulai melihat satu persatu buku yang ada di sana.
" tumben sekali kau ingin membaca buku? apa kau mulai tertarik dengan yang mulia, sampai ingin tau sejarah kerajaan?" Fleur memulai perbincangan. Dia sudah mendengar keinginan Valmira sebelumnya. Jadi sekarang dia ingin tau alasannya.
" bukan begitu, aku hanya tidak mau terlihat konyol saja. Aku yakin pengetahuan ini pasti akan bermanfaat nanti" jawab Valmira sekenanya. Lebih dari itu, perasaannya seolah menariknya agar mencari hal lain.
" betul juga, kau selalu berfikir panjang Alora" jawab Fleur menyetujui.
Valmira memilah satu persatu buku yang ada disana. Semuanya masih tentang program kerajaan dan pencapaiannya. Belum ada yang pas dengan hatinya.
" sejarah lampau Garamantian" eja Valmira pada judul salah satu buku.
" mungkin ini" gumannya dan segera mengambil buku tersebut.
bugh. Satu buku terjatuh akibat tersenggol.
__ADS_1
" Bumi Azerbaza?" judul buku yang terjatuh.
Valmira mengambilnya juga.
" Fleur aku sudah menemukannya" teriak Valmira.
" ah ya" Fleur segera mendekat dan membawakan kedua buku itu. Keduanya lalu pergi, Valmira akan membacanya di kamar agar lebih santai.
Berbeda dengan Valmira, putri Farfalla terlihat termenung menatap jendela kamarnya. Pagi tadi adalah pertama kalinya dia melihat kemarahan Raja Gyan. Wanita itu menjadi merasa bersalah karena tersadar jika dia sudah terlalu mencampuri urusan pribadi sang kakak.
" seharusnya aku bisa berfikir lebih panjang," rutuk Farfalla pada dirinya sendiri. Farfalla tidak bersemangat menjalani harinya sepulang dari istana Raja.
" putri anda tidak makan siang?" tanya Fio yang cemas dengan tingkah putri yang tidak biasa.
" tidak" jawab Farfalla lemas.
" anda bisa sakit perut putri" pesa pelayan Fio.
" tidak" jawab Farfalla lagi. Pelayan pribadinya menjadi bingung. Wanita itu akan mengingatkan hal ini Nanti lagi.
" baiklah, saya pamit putri" Fio meninggalkan Farfalla di kamarnya.
" Fleur, disini dikatakan penyihir Reuben mampu menguasai alam dan mengendalikannya, menurutmu Raja Gyan termasuk penyihir bukan? dia terlihat garang, saat marah serasa angin badai berhembus kencang" tanya Valmira yang tadi baru merasakan kemarahan Gyan.
" ada yang mengatakan jika Raja Gyan adalah penyihir hebat. tapi entahlah. Hanya keluarga penyihir yang bisa mengenali penyihir lainnya" jelas Fleur. Valmira mengangguk hal ini juga tertera dalam buku.
Banyak sekali keistimewaan yang dimiliki keluarga penyihir. Diantaranya hanya bisa di kenali oleh sesama, hanya bisa memiliki keturunan jika sesama dan yang penting setiap penyihir memiliki inti jiwa yang berbeda di tiap kelahiran. Itu sangat menarik bagi Valmira. Seakan dia masuk dalam cerita dongeng yang penuh hal ajaib.
Valmira jadi teringat dengan perkataan putri Shana sewaktu di istana raja, dia menyinggung soal dirinya yang manusia biasa, darisini Valmira menjadi yakin jika Raja Gyan adalah seorang penyihir.
" aku ingin menjadi penyihir" ucap Valmira singkat.
" sudah jangan bermimpi, tidak ada penyihir yang menjadi budak" jawab Fleur gamblang.
Valmira merengut, harapannya langsung sirna. tapi dia tetap meneruskan bacaannya. Dia benar-benar tertarik dengan dunia sihir yang tersembunyi itu.
Di kamar lainnya, tepatnya di kamar putri Shana sedang diadakan sebuah ritual aneh. Wanita itu ingin mengirim sesuatu yang buruk pada tubuh Valmira. Dia ingin wanita itu sakit kulit dan membuat Raja Gyan akan jijik padanya.
__ADS_1
" putri kami sudah membawanya" pelayanbya membawa sebuah wadah pesanannya lengkap dengan cairan merah di dalamnya.
" bagus, bawa kemari" perintah Shana dengan wajah senang. Shana tampak puas saat dia mengambil sehelai rambut milik Valmira. Dia menyuruh pelayan untuk mengambil rambut hasil sisiran Valmira kemarin malam. Awalnya dia hanya berniat untuk berjaga-jaga, ternyata kegunaannya datang terlalu cepat.
" putri yakin akan melakukan ini?" tanya pelayan nya. Menggunakan sihir bersifat merusak tentu memiliki konsekuensi tersendiri.
" tentu, dia sudah mengganggu ku" balas Shana dengan wajah kesal. Wanita itu tidak terlalu memikirkan konsekuensinya, karena di depannya sudah wadah kayu berisi darah perawan, yang akan sangat berguna untuk menangkal sihir pembalik.
Diluar sana matahari mulai terbenam, cahaya jingga menghiasai langit sore. waktu yang tepat bagi Shana untuk memulai ritualnya.
Wanita itu segera menyalakan lilin dan meletakkan secara melingkar di wadah tersebut. bibirnya bergerak pelan merapalkan mantra. Shana membuat pola abtrak menggunakan tangannya di atas wadah. Perlahan asap lilin berubah menjadi hitam dan berkumpul di atas wadah. Shana menatap senang, sedikit lagi akan berhasil.
Wanita itu meletakkan sehelai rambut di kumpulan asap itu. bibirnya semakin cepat merapalkan mantra, kini asap hitam itu bergerak melayang menembus jendela, mencari pemilik rambut yang sudah di pasang sebelumnya.
Asap gelap itu terbang mengelilingi istana dan kini berhenti tepat di luar kamar Valmira. Didalam sana Valmira masih seru dengan bukunya, dia tidak tau ada bahaya yang mengancam dirinya.
Asap itu dengan kencang melayang menuju tubuh Valmira, tapi tinggal sejengkal sebuah kibasan membuat asap hitam itu menjauh.
" astaga!" ucap Valmira yang melihat asap itu.
" ada apa?" tanya Fleur.
" apa itu?" tanya Valmira menggeser tubuhnya menjauhi asap.
" apa ? tak ada apapun" jawab Fleur yang tak melihat keanehan. Wanita itu mulai bingung dengan wajah panik Valmira.
" itu ada.. hitam" ucap Valmira panik. Dia tidak tau harus mengatakannya bagaimana.
Asap itu kini kembali lagi, melayang mendekat ke Valmira. reflek Valmira melindungi tubuhnya, wanita itu menyembunyikan wajahnya dengan salah satu tangannya menghalau asap itu. Dan secara tidak sadar kekuatan yang Ratu Amanis berikan langsung menghancurkan sihir itu.
" Alora? ada apa?" tanya Fleur, Valmira membuka matanya. Dia menatap sekeliling, asap itu sudah menghilang.
Bersamaan dengan wadah kayu pecah dan darah yang ada di dalamnya muncrat mematikan semua lilin. Tak hanya itu, wanita perawan pemilik darah juga meninggal seketika.
" tidak mungkin, ini tidak mungkin" Shana menatap tak percaya. Bagaimana bisa sihirnya gagal dengan mudah.
" tidak mungkin" Shana terus mengucapkannya secara tidak sadar. matanya melotot terkejut.
__ADS_1
" putri" panggil pelayannya cemas.