
Siang harinya Valmira tengah berbaring sambil memakan cemilan. Dia tidak ada kesibukan serta tidak ingin tidur siang. Valmira hanya membuka lembar per lembar buku yang dia bawa dari perpustakaan.
" Fleur. bisa kau tambahkan cemilan lagi" ucap Valmira malas.
" kau sudah 3 kali meminta tambah cemilan. Apa perlu aku siapkan makan siang lagi?" tanya Fleur dengan kesal.
" boleh juga, siapkan saja" jawab Valmira cuek. Dia tidak merasa ada yang janggal.
" baiklah selir Agung" sindir Fleur.
Valmira terus membaca. hingga lembar di buku menampilkan sebuah lampion aneh. Semacam lampu bergabung dengan sebuah kurungan. Valmira merasa jika pernah melihat pusaka ini.
" kenapa jantungku berdegup kencang?" gumam Valmira.
' segera masukkan kotak'
' hahaha., air jiwanya keluar'
' Al... Val..'
kilasan masa lalunya kembali, Valmira merasa pusing. Tubuhnya seakan merasakan sesak dan dingin yang menjalar.
' Valmira!' teriakan panggilan mendengung di telinganya.
__ADS_1
suara itu membuat kepalanya seketika pening. Valmira beranjak duduk, ingin menghindari kilasan aneh yang tidak dia mengerti.
' Valmira. pergi, pergilah cepat'
Valmira betul-betul merasa tubuhnya kembali melemah serta merasakan apa yang dia rasakan saat itu.
" kamu harus mulai mengurangi makan, Aku sudah mengingatkanmu berkali-kali. Tubuh.." omel Fleur yang baru saja masuk. kalimatnya terhenti saat melihat Valmira berdiri sambil memegang kepalanya.
" Alora. kau kenapa?" Fleur tampak cemas dan panik.
" kepalaku" ucap Valmira lemah.
Fleur memapah Valmira hingga duduk di ranjang.
" entahlah" jawab Valmira tidak enak.
" lebih baik kau tidur saja" Fleur membantu Valmira berbaring.
Wanita itu menurut saja. Fleur membereskan beberapa bagian ranjang yang masih penuh dengan buku dan cemilan.
Tak ada yang tau, jika energi yang gelang giok keluarkan membuat energi inti Valmira menjadi lebih kuat. Api jiwanya mulai goyah dan membuat Violet ketakutan.
" kita tidak bisa begini terus, kita musnahkan saja inti jiwa Valmira" saran Alvaro yang lelah dengan ritual aneh dan pembunuhan hewan suci.
__ADS_1
" kau mau kita semua mati? satu-satunya yang membuat tabir pelindung masih aktif adalah adanya inti jiwa penerus Ratu Marilla. kalau di dalam pulau sudah tak ada lagi inti jiwa penerus Marilla, tabir itu akan musnah dan seluruh samudra akan menenggelamkan kita semua" protes Violet panjang lebar. Dia tidak mau mati konyol. Dalam beberapa bulan ini memang dia sedikit kewalahan dengan perkembangan inti jiwa Valmira. Tapi tidak bisa di pungkiri posisinya yang menjadi Ratu Mystick sangatlah melenakan. Ini yang dia mau sejak awal. Kedudukan ratu yang di puja rakyat adalah mimpinya dari dulu. Violet sudah melakukan banyak hal untuk sampai di posisi ini, Jangan sampai lepas begitu saja.
" tapi mau berapa lama lagi? sudah sangat banyak hewan suci yang kita bunuh" Alvaro mulai jengah.
" sampai kita berhasil mengurung jiwa ini seluruhnya"
" aku bosan Violet!"
" jangan cerewet , tunggu sampai 2 bulan lagi. Aku yakin setelah itu inti jiwa Valmira akan terkurung selamanya" hibur Violet dengan yakin. Alvaro yang mendengarnya terpaksa diam. Dia sebenarnya tidak terlalu percaya. Dia ingin menguasai Kerajaan Mystick sendirian. Akibat perbuatannya yang membunuh hewan suci serta penggunaan sihir hitam, kini tubuhnya mulai di kuasai kegelapan. Alvaro mulai berubah menjadi monster kegelapan tanpa dia sadari.
Malam harinya entah karena perasaan tidak enak, Gyan mengunjungi kamar selirnya.
" yang mulia" sanjung Fleur tak kala melihat Rajanya datang berkunjung.
" di mana selir berada?" tanya Gyan berbasa-basi.
" Selir sejak siang tadi merasa tidak enak badan. Jadi hanya terbaring di ranjang" jawab Fleur mengabarkan hal yang membuatnya cemas.
" kenapa tidak ada yang datang melapor?" Gyan cemas dan terbawa emosi.
" selir melarang kami..."
" lain kali mau Alora melarang kalian tetap saja datang, mengerti!" tegas Gyan lalu berjalan cepat menuju kamar tidur. lelaki itu cemas sekali, dia sudah tau jika selirnya ini bisa melemah kapan saja. Hanya saja Gyan tidak mau hal itu datang secepat ini.
__ADS_1