Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Pertanda 2


__ADS_3

Valmira menatap ketiga selir itu bergantian, mereka tampak seperti wanita berkelas yang sedang membully seseorang. Meski ucapan mereka terdengar meminta belas kasihan, tapi raut wajah mereka tak ubahnya seperti mengancam.


" apa yang bisa di lakukan selir sepertiku, kalian bisa memintanya kepada ibu suri" jawab Valmira tidak mau mengalah.


" anda sangat di manja oleh yang mulia, perkataan anda pasti dengan mudah akan di turuti, selir Agung" balas Lyla kembali. Mereka sebenarnya hanya ingin tau, seberapa besar pengaruh Valmira pada Raja mereka. Jika ternyata permintaan mereka tidak bisa di sanggupi, ini mengartikan jika Selir Agung sama sekali tidak memiliki kekuatan. Mereka bisa memperlakukannya dengan seenaknya setelah ini.


" em, baiklah. Aku akan mengusahakannya" jawab Valmira tidak mau berlarut-larut. Sampai keinginan mereka disetujui barulah mereka akan diam.


" anda baik sekali Selir Agung" jawab mereka serempak dengan senyum lebar.


" kalian terlalu Memuji" jawab Valmira dengan wajah datar. Dasar penjilat, batin Valmira.


" kalau begitu kami tidak mau menganggu waktu istirahat anda lebih lama lagi, kami pamit undur diri selir Agung" karena tak ada lagi yang bisa mereka minta, akhirnya ketiga selir itu pulang.


" terimakasih sudah bersedia berkunjung ke kamar kecil ku" saut Valmira yang secara tidak langsung merendahkan status selir, dimana kamar mereka jauh lebih kecil dari miliknya.


" em, tidak masalah Selir Agung" jawab mereka yang menyembunyikan rasa malu. Akhirnya ketiga selir itu tak terlihat lagi.


" kau cukup bersabar dengan mereka" ungkap Fleur yang baru saja keluar dari dalam.


" mereka sangat lihai memainkan kata" balas Valmira yang baru menemukan segerombolan wanita seperti itu. Antara perkataan dan wajah mereka jauh berbeda.


" kau juga terlihat bisa mengimbangi," jawab Fleur.


" semua aku pelajari dari buku kerajaan, untung saja aku membaca"


" kau selalu membaca akhir-akhir ini, apa yang kau cari?" tanya Fleur penasaran dengan rutinitas baru Valmira.


" hanya ingin tau saja, aku fikir sebagai selir Agung setidaknya aku tidak mudah di permalukan. Dunia selir sangat kejam Fleur, bukan begitu?" ungkap Valmira yang mengingatkan pesan Fleur padanya dulu.


" ya, kau sangat cepat belajar" jawab Fleur menyetujui.


Malam mulai datang, Raja Gyan selalu saja terlihat sibuk dengan berkas-berkasnya. Tak lama Aden masuk ke istananya.

__ADS_1


" yang mulia, mereka sudah kembali" lapor Aden dengan cepat.


" baiklah kita kesana" Gyan langsung bangkit dari mejanya.


" em selir Alora tidak kemari?" tanya Aden ragu- ragu. Belakangan ini Rajanya tidak lagi memanggil selir itu, Dia menjadi sedikit curiga. Apa mungkin trauma Rajanya kambuh lagi.


" tidak, aku memberimu cincin Gayde. Sampai menemukan siapa yang berani mengirimkan sihir padanya, aku tidak bisa berdekatan dengannya" jelas Gyan sembari berjalan keluar.


" ada yang mengirim sihir pada selir Alora? kapan itu yang mulia?" tanya Aden beruntun.


" beberapa hari yang lalu, kita bicarakan hal ini lain waktu" saut Gyan, dia ingin fokus pada perkembangan pasukan bayangan miliknya.


Tak perlu waktu lama, Raja Gyan dan Aden meninggalkan kerajaan menuju markas rahasia, di tengah gelapnya malam kedua lelaki itu berkuda dengan berpakaian merah dengan penutup wajah hitam.


" yang mulia" ucap pasukan bayangan.


" laporkan perkembangan" Raja Gyan bersiap duduk di atas batu besar di tengah Gua.


" kami sudah mengejar penyihir itu, namun kami hanya menemukan jalan buntu. Dia sudah menyebrangi laut Casspia. Selebihnya kami menyusuri desa terdekat dan menemukan tempat tinggal sementara penyihir itu" jelas anggota itu. Sebenarnya dia merasa tidak becus dengan dirinya karena belum bisa melakukan tugasnya dengan baik.


" ini, kami menemukan sebuah buku. Entah dia sengaja meninggalkannya atau memang tertinggal" seseorang memberikan barang tersebut kepada Aden dan berujung di tangan Gyan.


Suasana menjadi sepi sejenak, Gyan memeriksa dengan seksama buku yang di maksud. Lembar demi lembar dia amati dan baca dengan penuh konsentrasi.


" pulau apa ini?" Tanya Gyan melihat sebuah gambaran yang mirip dengan sebuah pulau.


" sepertinya itu pulau milik penyihir Arghi, kami mendapatkan informasi jika pulau tersebut memiliki semacam tabir pelindung yang di jaga secara turun temurun oleh keluarga penyihir" jawab anggota kelompok. Mereka juga tidak tau pasti pulau apa itu.


" penyihir Arghi? satu- satu tempat penyihir Arghi yang paling kuat ada di kerajaan Mystick. Tapi tidak ada yang pernah tau dimana tepatnya kerajaan Mystick berada" guman Gyan menemukan fakta unik.


" bukankah keluarga penyihir Arghi sudah lama menyembunyikan diri?" tanya Aden dengan raut serius.


" memang, kelompok mereka cukup ditakuti karena kehebatan sihirnya, maka dari itu mereka bersembunyi agar tidak menimbulkan perpecahan" jelas Gyan, setahunya. Lelaki itu tidak bisa banyak bicara, sumber mengenai penyihir Arghi sangatlah terbatas, bahkan sampai sekarang pun Gyan belum pernah menemui keluarga Arghi selain cerita Ratu Amanis.

__ADS_1


" lalu apa yang Osmond cari dari Arghi?"


" entahlah, mereka memulai pertarungan atau menghentikannya. Kita akan tau setelah bertemu dengannya" jawab Gyan sambil menerawang jauh melihat sumber cahaya gua yang memperlihatkan langit malam.


" kalian cari apapun mengenai kerajaan Mystick" perintah Gyan, sebelum meninggalkan markas.


" baik yang mulia" jawab mereka serempak.


Malam semakin larut, Valmira sudah terlelap beberapa lama. Namun wajahnya terlihat terganggu sesuatu, bulir keringat menbasahi wajahnya.


' Val.. cepat pergi,'


' Kalian akan mati bersama, hahahha tidak!! bibi!'


Valmira terbangun dengan terengah-engah, Semenjak membaca buku- buku mengenai sihir dia selalu memimpikan kejadian yang sama. Selalu saja dia melihat wanita di atas tebing sedang di kejar dan akan di bunuh.


" Alora, ada apa?" tanya Fleur yang mendengar suara Valmira berteriak tadi.


" entahlah, belakangan ini aku selalu bermimpi buruk" jawab Valmira pelan. Dia juga tidak tau mengapa mendadak sedih setelah bermimpi.


" mau aku temani?" tawar Fleur.


" boleh juga" Valmira mengizinkan. Meskipun menurut peraturan hal ini tentu saja melanggar tapi atas nama persahabatan semua bisa di lakukan.


Fleur berjalan mendekat dan menaiki ranjang, Valmira tersenyum senang. Mereka seperti melakukan kebiasaan dahulu. Selalu tidur satu ranjang dan terkadang saling bercerita.


" apa yang kau mimpikan?" tanya Fleur sambil menarik selimut.


" emm seorang wanita jatuh dari tebing" jawab Valmira mencoba mengingat. Anehnya meski mimpi itu sering datang, dalam waktu singkat Valmira akan melupakannya. Selalu begitu. Jadi dia tidak pernah bertanya atau bercerita mengenai hal ini.


" kasihan sekali, kau bahkan berteriak tadi" balas Fleur mulai menutup mata.


" oh ya, aku tidak sadar. Apa aku sering berteriak ketika tidur?" tanya Valmira, namun tak ada jawaban. Fleur sudah masuk dalam alam mimpi, wanita ini pasti sangat mengantuk saat masuk ke kamar. Jadilah baru beberapa detik sudah masuk ke alam mimpi.

__ADS_1


" selamat tidur Fleur" guman Valmira akhirnya.


__ADS_2