
Malam ini Gyan dengan senyum senang menghampiri ranjang. Di sana sudah ada wanita yang sudah memberinya kepuasan beberapa hari kebelakang. Tanpa berlama-lama Gyan segera memeluk tubuh Valmira erat.
" sepertinya kau memiliki sihir yang kuat, karena dengan mudahnya menjerat hatiku" bisik Gyan, lelaki itu berani mengatakan hal ini karena dia yakin Valmira pasti tidak bisa mendengarnya.
Gyan menyembunyikan wajahnya pada leher jenjang Valmira. menghirup aroma tubuh yang begitu menenangkannya.
Malam berganti, hari mulai pagi. Valmira terlihat sudah siap dengan gaunnya. Semalam setelah Raja Gyan meminta haknya lagi, Valmira jadi tidak bisa tidur. Wanita itu sudah tertidur terlalu lama. Jadi memilih untuk membersihkan diri dan pergi dari istana Raja dengan cepat. Wanita itu seakan tersadar jika dia terlalu lama berada disini, bisa-bisa Raja Gyan akan terus menahannya di atas ranjang.
Valmira menyusuri kamar menuju pintu keluar, sayangnya wanita itu tidak begitu hafal tempat serta keadaan kamar yang remang, membuatnya malah masuk ke dalam ruang kerja Gyan.
" dimana ini,? ini bukan jalan keluar" gumam Valmira, niatnya ingin berbalik tapi matanya melihat tumpukan buku yang ada di meja kerja Gyan. Valmira merasa tertarik dan mendekati meja itu.
" Arghi, kerajaan Mystick?" eja Valmira, semua itu beberapa kata yang ada di sampul buku.
" sepertinya menarik" ucap Valmira lalu pergi membawa salah satu buku hasil pencarian kelompok bayangan milik Raja Gyan.
Kini tanpa membangunkan Gyan, Valmira langsung keluar dari istana dengan Fleur yang berjalan mengiringi.
" tunggu Selir" ucap Aden yang untung saja melihat kedua wanita itu keluar.
" saya mengembalikan cincin ini" Aden mengeluarkan kotak berisi cincin yang dia minta kemarin. Valmira memberikan kode pada Fleur untuk mengambilnya.
" terimakasih, sampaikan jika kau sudah kembali ke kamar kepada yang mulia" ucap Valmira lalu melanjutkan langkahnya.
Tak perlu waktu lama, kedua wanita itu sudah sampai di kamar.
" kenapa kau tidak membangunkan ku saat di sana?" amuk Valmira kepada Fleur saat sudah sampai di kamar.
" kau saja yang tidur seperti orang mati, bahkan aku berdiri sangat lama di depan kamar" Fleur juga tak terima. Dia juga ikut menderita disini.
"kau tau kemarin, aku harus melayani Raja siang dan malam" ucap Valmira sambil cemberut.
" kau masih enak tidur di ranjang, aku harus berdiri tegak sampai waktu makan malam selesai" Fleur tetap tidak mau disalahkan. Mereka tidak terlihat seperti pelayan dan majikan. Untung saja itu terjadi di dalam kamar tanpa ada pelayan lain yang tau. Pertengkaran itu terus berlanjut sampai pelayan sarapan datang. Meskipun bertengkar kedua wanita itu tidak memiliki rasa sakit hati satu sama lain. Semua akan kembali normal setelah beberapa saat.
" selir" ucap Fleur memberikan peralatan makan. Valmira langsung tergugah nafsu makannya begitu melihat hidangan yang tampak lezat. Bagaimana tidak sejak kemarin siang wanita itu tidak makan apapun, ditambah dengan tuntutan Gyan padanya di ranjang. perut wanita itu meronta ingin segera di isi.
__ADS_1
" kalian persiapkan menu tambahan yang sama persis seperti yang ada di meja" ucap Valmira, bahkan satu suapan pun belum masuk mulutnya.
" ba.baik selir" ucap pelayan yang kebingungan tapi segera menurut. Mereka kemudian pergi menyiapkan menu tambahan.
" kau seperti sapi kelaparan" ejek Fleur melihat nafsu makan Valmira yang melebihi normal.
" aku tidak makan dari kemarin tau" jawab Valmira dengan makanan yang mengisi mulutnya.
" ayo makanlah" ajak Valmira, dia dan Fleur memang sering makan satu meja. Dan ini jelas tidak ada yang tau selain mereka.
" sepertinya enak" jawab Fleur dan mulai makan bersama.
Di kamar Shana, wanita itu kini tengah menyusun rencana bagaimana menyingkirkan Valmira. Wanita itu bersama dengan pejabat kerajaan saling memberikan ide agar jalan rencana mereka menjadi aman.
" Ratu mungkin bisa mendekatinya, semacam menjadi musuh dalam selimut. berpura-pura baik dan menyembunyikan rencana jahat sampai akhirnya dia pergi" ucap penjabat itu dengan wajah antusias.
" aku tidak tahan jika berlama-lama di dekatnya" balas Shana tak suka.
" ini hanya sementara Ratu, tunggu sampai dia lengah baru kita singkirkan" rayu pejabat itu lagi.
" beri tau rencana lengkap mu" Shana sedikit tertarik dan ingin tau lebih jelas bagaimana gambaran rencana anak buahnya ini. pejabat itu mendekat dan membisikkan rencananya dengan di selingi senyum jahat.
" saya yakin dengan ini Ratu pasti akan memiliki keturunan" bisik pejabat senang. Shana ikut terhibur dengan ucapan lelaki ini.
Berbeda lagi dengan Valmira, wanita itu kini berbaring di atas sofa ruang tengah kamarnya. Wanita itu mengelus perutnya yang penuh.
" kenyang sekali rasanya perut seperti mau meledak" ungkap Valmira yang terus mengelus perut buncitnya.
" salah sendiri, kau makan sebanyak itu. Kau tau berapa banyak makanan itu? itu sama seperti jamuan pesta satu meja besar" jelas Fleur yang sejak tadi sudah mengingat Valmira agar berhenti makan.
" aku belum pernah merasa selapar ini. Jadi dengan lahab menghabiskan semua makanan itu" elak Valmira yang tidak bisa mengontrol dirinya tadi.
" ck ck ck. kau alasan saja" timpal Fleur lalu pergi mengerjakan pekerjaan lain.
Valmira menengok ke pintu saat Fleur pergi. Dia mengingat buku yang dia ambil dari meja Gyan tadi sebelum pergi. Dengan susah payah Valmira turun dari sofa dan mengambil buku itu di ruang depan. Setelahnya dia kembali berbaring sambil membaca di sofa ruang tengah.
__ADS_1
pukul satu siang, Fleur kembali ke kamar selir Agung. Wanita itu mendapati Valmira yang tertidur di sofa dengan wajah penuh keringat dan bergumam tak jelas. Kepala wanita itu juga bergerak ke kanan dan kiri. Pasti bermimpi buruk lagi, batin Fleur.
" Alora...Alora" panggil Fleur berusaha membangunkan selir.
Tapi nampaknya hal itu tidak berefek sama sekali. Tubuh Valmira malah mulai bergerak tidak jelas.
" astaga" Fleur mundur sambil menutup mulutnya. Dia melihat pancaran cahaya biru di telapak tangan Valmira, meskipun itu sangat singkat. Fleur mendadak bingung harus percaya atau tidak. Kejadian itu sangat cepat, membuatnya menjadi ragu itu benar atau hanya ilusinya semata.
" apa itu?" gumam Fleur bingung. Wanita itu di landa syok sebentar, lalu melihat Valmira lama. temannya itu masih terus mengigau, Fleur melupakan sejenak hal tidak masuk akal barusan. Lalu mendekati Valmira kembali.
" Alora, Alora" Fleur menggoyang tubuh Valmira sedikit keras agar wanita itu cepat bangun.
" Alora, Alora!" Fleur semakin keras berusaha agar Valmira sadar. Dia semakin khawatir tak kala keringat di wajah Valmira keluar semakin banyak. Wanita itu mengambil sebuah kain tak jauh dari sana.Lalu mengelap keringat dingin Valmira.
" Alora, bangun, Alora" Fleur terus menepuk pipi Valmira dengan sedikit keras dan berulang terus menerus.
" emm" akhirnya Valmira sedikit terganggu dan mulai membuka mata.
" Alora, kau kenapa?" tanya Fleur membantu Valmira menjadi duduk di sofa.
" aku kenapa memang?" tanya balik Valmira, yang tidak merasa ada sesuatu yang aneh.
" kau mengigau sambil bergerak tidak teratur" jelas Fleur dengan kesal. mendengar penuturan Fleur, Valmira mendadak diam sejanak dan mengingat lagi apa yang tadi dia impikan.
" ini, wajahmu penuh dengan keringat. Aku sampai harus mengambil sapu tangan untuk mengelapnya" Fleur menunjukkan kain yang setengah basah di tangannya.
" begitu?" Valmira bertanya lagi. Selalu saja, dia bermimpi aneh dan saat bangun seketika mimpinya terlupakan. Berkali-kali seperti itu, ingatan Valmira menjadi tidak berkembang.
" ah. sudahlah. hari sudah siang, kau mau makan siang atau melanjutkan tidur?" tanya Fleur tak ingin memperpanjang masalah mengigau itu.
" cemilan siang sepertinya enak" ucap Valmira.
" kau ini semakin hari kerjaannya cuma makan, tidur. makan, tidur terusss" ungkap Fleur yang memang selalu mengawasi kegiatan Valmira.
" ya mau bagaimana lagi, aku kan selir Agung" ejek Valmira.
__ADS_1
" dasar kau ini" Fleur melemparkan sapu tangan itu kearah Valmira, lalu berlari menjauh dengan cepat.
" hey, kau tidak sopan!" teriak Valmira.