
Hari mulai sore tak kala kapal Valmira melaju melewati ombak, sebentar lagi kapal itu akan memasuki pelabuhan. Valmira hanya datang bersama dengan 2 orang menteri yang juga akan membeli beberapa perlengkapan sekaligus melihat-lihat bagaiman dunia luar.
" yang mulia apa daratan itu tujuan kita?" tanya salah satu menteri.
" iya, di sana sudah ada orang dari Garamantian yang dikirim oleh Raja Gyan untuk menemani kalian"
" terimakasih yang mulia," keduanya tampak senang dan antusias.
" ya, begitu kita mendarat kita langsung berpisah,"
" baik yang mulia"
matahari mulai berjalan turun dan seperti biasa, elang Kangta sudah menunggu dengan setia. Kangta sengaja tidak membawanya ke Mystick. Dia akan memantau keadaan luar dari binatang ini.
Untung saja selama perjalanan G sama sekali tidak rewel dalam gendongan Valmira. Bayi itu begitu hangat dalam dekapan Valmira. Sama sekali tidak terganggu dengan apapun yang ada di luar.
Di sisi lain, rombongan Putri Farfalla masih setia menunggu nyonya nya yang masih belum kembali dari acara berbelanja. Mereka sangat cemas karena ini sudah mendekati malam dan perjanjian waktu mereka sudah lama terlewati.
" bagaimana ini? putri belum juga kembali"
" iya, apa kita laporkan saja, siapa tau putri berada dalam bahaya?"
" jangan bicara seperti itu, nanti kita semua akan di salahkan. kita tunggu saja sebentar lagi" imbuh yang lain.
Tanpa di ketahui mereka, wanita yang mereka khawatirkan sudah melaju jauh dan hampir mendekati gerbang kerajaan. Falla akan memulai perjalanannya. wanita itu duduk di atas sebuah kereta kuda. Dengan modal yang cukup banyak serta penampilan laki-laki, Farfalla menyewa sebuah kereta. Dia mengaku sebagai pedagang yang sedang ingin membangun cabang baru. Tentu saja alasan ini tidak akan di curigai dan lolos dari pemeriksaan.
" maafkan aku kakak, tapi aku harus mencari tau identitas ku. Aku tau ini akan membuat kakak sedih, maka dari itu aku hanya bisa meninggalkan surat saja" lirih Farfalla sambil menatap jauh istana di sana.
Farfalla sudah bertekad, dia akan melintasi terjal perjalanan yang menghadang untuk mengetahui dirinya.
tap tap tap
suara langkah anak kecil mendekati kumpulan para pelayan. Anak itu melaksanakan pesan Farfalla untuk mengantar surat saat menjelang malam.
" kakak, kakak. ini surat untuk kalian "
" surat dari siapa?" tanya salah satu pelayan dan yang lain mengambil surat tersebut.
" dari kakak cantik" jawab anak itu dan langsung pergi.
__ADS_1
" eh, kakak siapa ini?" lirih mereka karena belum mendapatkan jawaban.
" buka saja"
Kertas itu terbuka dan mereka membacanya bersamaan.
" astaga, bagaimana ini? Putri menyuruh kita kembali, apa ini?" tanya mereka kebingungan.
Di dalam surat itu Farfalla menyuruh mereka untuk kembali ke istana. Karena dia harus melakukan sesuatu terlebih dahulu. Dan di surat itu juga Farfalla mengatakan jika Raja Gyan mencarinya, dia bisa ke kamar nya dan masuk ke ruang tidur.
Ini sama sekali tidak bisa mereka mengerti. kumpulan pelayan itu sangat cemas dan takut menerima hukuman.
" kita tidak bisa pergi begitu saja, lebih baik kita kembali dan memberikan surat ini pada yang mulia Raja"
" tapi bagaimana jika kita tetap di hukum?"
" meskipun kita melarikan diri kita juga pasti tertangkap dan malah mendapatkan hukuman yang lebih berat"
" kau benar, lebih baik kita kembali. mungkin saja hukumannya akan lebih ringan"
" ya, aku juga setuju"
mereka semua akhirnya sepakat untuk kembali meski dengan rasa cemas dan khawatir.
Tak beberapa lama mereka semua sampai di istana dan langsung menuju istana Raja. Dengan suara yang sedikit bergetar mereka meminta Pengawal Aden untuk mengizinkan mereka bertemu dengan Raja.
" yang mulia ada beberapa pelayan yang ingin bertemu dengan anda" ucap Aden.
" ada perlu apa.?" tanya Gyan malas.
" mereka adalah pelayan dari bagian kerumahtanggaan kerajaan. ini berkaitan dengan putri" lapor Aden sesuai dengan pesan pelayan itu.
" em, suruh mereka masuk" jawab Gyan yang berfikir jika keperluan mereka pasti mengenai pesta pernikahan.
" yang Mulia" ucap mereka bersamaan.
" hem, ada perlu apa menemui ku saat malam begini" balas Gyan dengan nada sedikit terganggu.
" sebenarnya ini tentang putri, tadi kami pergi ke luar istana bersama dengan putri, lalu kami di berikan kertas..."
__ADS_1
" langsung intinya saja, waktuku terbatas" potong Gyan tak suka bertele-tele.
" em.. itu..putri.. putri"
" kenapa?.katakan dengan jelas" Gyan semakin meninggi melihat gelagat mereka yang mencurigakan.
" Putri memberikan ini" sambil mengeluarkan surat dan diberikan kepada Aden.
Gyan semakin tidak mengerti dengan maksud para pelayan. lelaki itu dengan cepat mengambil surat tersebut dengan keras dan langsung membukanya.
" apa maksudnya ini?!" kertas itu terlempar dan mendarat di atas permadani dengan keras.
" ampun yang mulia, kami juga tidak mengerti" semua pelayan langsung bersimpuh.
" bagaimana bisa kalian tidak mengerti! hah?"
" ampun yang Mulia, kami sudah menunggu seharian dan putri tetap tidak kembali, hanya ada anak kecil yang memberikan surat ini kepada kami" jelas salah satu pelayan, berharap Rajanya akan mengerti keadaan. mereka.
Sayangnya mereka berada dalam waktu dan situasi yang salah. Emosi Gyan belum stabil karena kepergian Valmira. Dan mereka membawakan masalah lain yang cukup besar.
" Aden suruh pelayan pergi ke kamar Falla, cari surat lainnya di sana"
" baik yang mulia" ucap Aden tegas dan langsung pergi.
Di istana Raja, Gyan masih mengatur nafasnya. Sedangkan para pelayan masih bersimpuh tak ingin membuat raja nya semakin marah.
Para pelayan istana Raja masuk ke dalam kamar Falla. termasuk juga Aden yang menuju ruang tidur. Mereka semua mencari hal-hal lain yang mencurigakan.
" tuan kami menemukan surat di sini" menemukan surat Falla yang sengaja wanita itu siapkan.
" bagus, kalian cari lagi barang-barang lain yang terlihat mencurigakan. apa itu surat lain atau apapun" balas Aden yang masih belum percaya dengan kenyataan jika Putri Falla pergi. takutnya dia terhasut seseorang atau mungkin dia di culik. Kepergian putri masih belum terpecahkan alasannya.
" baik tuan"
Gyan menunggu dengan gelisah di istananya. bagaimana bisa hal ini terjadi dengan mudah dan tidak terprediksi. Dia masih belum percaya adiknya memilih pergi saat hari pernikahannya tinggal menunggu hari.
Beberapa lama kemudian Aden kembali membawa surat serta beberapa buku.
" yang mulia kami menemukan surat serta buku-buku ini"
__ADS_1
Para pelayan membawa ini semua barang itu dan menaruh di atas meja. Gyan menatap dengan nanar semua itu.