Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Hari Penentuan


__ADS_3

Pagi ini Valmira baru sampai di kerajaan. wanita itu segera mengatur wkatu untuk bertemu dengan Kangta. Lelaki itu tentu saja sedang memantau wilayah yang akan di jadikan tempat tinggal penyihir pendatang.


" yang mulia, berita kepulangan anda serta perintah untuk pertemuan kerajaan sudah tersebar dan mereka memberikan kepastian kehadirannya"lapor salah satu pengawal.


" baiklah, kau segera persiapan hal-hal yang sudah aku sampaikan tadi. Malam ini pertemuan akan langsung di laksanakan"


" baik yang mulia"


Wanita itu hanya istirahat sebentar saja. G sudah di titipkan pada Derya sedangkan dirinya masuk ke dalam ruang pusaka kerajaan.


Dia perlu mencari tau bagaimana caranya mengendalikan tabir agar bisa membuka portal. Dia berharap ibunya meninggalkan jejaknya di sini. Masalah yang dia hadapi saat ini taruhannya adalah nyawa. sedikit saja terlambat bisa menghancurkan satu kerajaan bahkan lebih. Namun sudah beberapa lama dia mencari. tidak ada satu buku pun yang bisa menjelaskan bagaimana mengendalikan tabir perlindungan Ratu Marilla.


" sepertinya aku harus menemui Kangta, dulu dia yang mengetahui masalah tabir. ku harap dia mengetahui sesuatu.." lirih Valmira mengingat saat dirinya mengambil kekuatan tabir karena petunjuk dari Kangta.


menjelang malam Valmira sudah berada di kamarnya. wanita itu menemani sang putra sambil menunggu kedatangan para menteri di aula.


" yang mulia, sejak datang anda terlihat begitu gelisah. Ada apa?" tanya Derya sambil menaruh makanan.


" ada masalah besar di dunia luar. aku bingung bagaimana membatu mereka" lirih Valmira sedih. Dia selalu memikirkan Gyan. Berharap lelaki itu tidak melakukan hal yang konyol seperti mengorbankan dirinya. Karena menurut Valmira, Gyan akan melakukan apa saja demi menjalankan tanggung jawabnya.


" yang mulia pasti bisa membantu mereka"


" Derya, selama kau melayani Ratu Amanis apa kau tidak pernah mendengar bibi mengatakan sesuatu terkait dengan tabir?"


" tabir? sepertinya tidak ada. Hanya pembicaraan ringan mengenai keistimewaan tabir"


" coba kau jelaskan padaku apa saja yang kau tau mengenai tabir dari ucapan bibi"


" em apa ya, Saya sedikit lupa detailnya. Yang saya tau jika tabir Ratu Marilla itu bersifat merusak di bagian luar dan merawat di bagian dalam. tabir tidak bisa di hilangkan hanya bisa di gunakan oleh keturunan asli Sang Ratu. oh ya.. sama saya pernah mendengar jika beberapa bagian tabir memiliki celah, Ratu Marilla sengaja melakukannya untuk memasukkan beberapa orang luar tanpa perlu menggunakan sihirnya"


" tunggu, celah? dimana?"


" saya juga tidak tau, Ratu Amanis pernah mengatakan hal ini saat melihat orang luar datang dan di sambut Ratu Marilla masuk ke Mystick"


" ibu pernah membawa orang luar? "


" pernah yang mulia, sayangnya saat itu saya tidak melihat orangnya"

__ADS_1


Valmira mencoba memikirkan lagi, satu-satunya orang yang dia tau bisa masuk ke Mystick adalah dengan menggunakan kekuatannya. Jika tanpa itu sangat mustahil ada yang bisa lolos dari tabir perlindungan.


Namun sepertinya Valmira pernah mengingat mengenai gelang pemberian Kangta. lelaki itu pasti mengetahui sesuatu.


" begitu rupanya, kalau begitu kau jaga G, aku akan ke ruangan pertemuan"


" baik yang mulia"


perbincangan itu sedikit membuatnya lega karena ternyata tabir juga memiliki celah. Jika dia bisa mengetahuinya letak celahnya kemungkinan portal sihir bisa di lakukan dari Mystick.


Ruangan mulai padat. Hampir semua menteri sudah berkumpul di ruangan pertemuan. Meraka terlihat sama dari terkahir kali dia tinggalkan.


" bagaimana perkembangan lokasi untuk para pendatang?"


" sejauh ini semua berjalan dengan lancar. semuanya sesuai dengan rencana dan pengaturan dari yang mulia"


" apakah memungkinkan jika dalam 2 hari lagi lokasi itu di gunakan?"


" ini sangat sulit yang mulia, namun kami akan melakukan sebaik mungkin. apa mungkin para pendatang itu akan segera pindah?"


" situasi di dunia luar begitu mencemaskan, jika mereka tidak segera pindah, kemungkinan akan terjadi pembunuhan massal para penyihir dan hanya kita yang tersisa di Azerbaza ini"


" yang mulia, jika memang lokasi siap di gunakan. Bagaimana dengan keperluan lainnya. hal ini sedikit sulit di rencanakan"


" tidak masalah, yang penting lokasi untuk tempat mereka di kumpulkan sudah siap. tujuan utamanya adalah mereka masuk ke dalam tabir, untuk masalah lainnya bisa di bicarakan nanti saja" jelas Valmira. semuanya mengangguk menyetujui perkataan sang Ratu.


Setelah membahas lebih lanjut, pertemuan malam ini selesai. Kini guliran Valmira menyuruh Kangta untuk menemui dirinya secara pribadi. ada hal serius yang harus mereka perbincangkan.


" yang mulia"


" Kangta, aku tidak akan berbasa- basi lagi. apa saja yang kau tau mengenai tabir Ibuku? "


" kenapa yang mulia tiba-tiba bertanya hal ini?"


" aku ingin membuka portal sihir dari Mystick menuju Garamantian"


" saya rasa itu tidak mungkin yang mulia, tabir ini menahan kekuatan sihir. bahkan bisa membuat kerusakan pada sekitaran Tabir"

__ADS_1


" ku dengar jika tabir ini memiliki celah, sehingga orang luar bisa masuk tanpa memerlukan sihir Marilla. Apa kau tau tentang hal ini?"


Kangta terdiam, dia memikirkan jawaban yang pas. terjadi pergolakan hati dalam dirinya.


" Kangta, seingat ku bukankah kau memiliki sebuah gelang. Apa aku salah?" lanjut Valmira. Jika tidak salah ingat, saat berada di kapal bersama dengan Kangta, Valmira melihat sebuah gelang putih. Bahkan sepertinya dia juga pernah memakainya. Tapi entah bagaimana gelang tersebut sudah tak ada lagi.


" yang mulia, ini akan menjadi cerita yang panjang. Dan saya tidak bisa mengatakannya sekarang"


" Kangta di luar sana, Gyan menunggu ku. Sangat beresiko jika terus mengulur waktu. Aku mohon padamu, katakan apa yang kau tau mengenai celah yang aku maksud?" desak Valmira. Dia benar-benar tak bisa menunggu lebih lama lagi. waktu terus berjalan dan kesempatan untuk pergi akan semakin kecil.


" saya mengerti yang mulia, namun tetap saja hal ini tidak bisa langsung saya katakan"


" jawab pertanyaan ku, apa kau tau mengenai celah tabir yang aku maksud?!" tegas Valmira dengan wajah serius.


" yang mulia..."


" jawab!"


" iya, saya mengetahuinya"


" sekarang katakan padaku, bagaimana menemukan celah tersebut?"


" tapi jika di gunakan untuk membuka portal, akan sangat beresiko yang mulia"


" ini untuk menyelamatkan Gyan dan penyihir lain"


" kita bisa menemukan cara lain untuk memindahkan mereka"


" tidak ada waktu, satu- satunya cara adalah dengan sihir dimensi"


" yang mulia.."


" Kangta.. "


keduanya saling menatap dalam diam dan nafas yang memburu. Kangta seakan tidak peduli dengan status mereka lagi sedangkan Valmira yang sudah cemas langsung emosi.


" yang mulia silahkan tenangkan diri terlebih dahulu, saya akan kembali nanti"

__ADS_1


tanpa menunggu balasan, Kangta langsung pamit dan meninggalkan ruangan. Valmira tidak menjawab, dia sedang emosi dan harus menenangkan diri terlebih dahulu. Atau semuanya akan gagal dan Kangta bersikeras menutup mulutnya.


__ADS_2