Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Jadwal


__ADS_3

Begitu pergi dari kamar selir Agung, Kedua putri itu dengan segera menemui Ibu suri Raveena.


" Falla, ibu sudah pernah membuatnya, tapi Raja dengan tegas menolaknya. lalu sekarang ibu harus membuatnya lagi? coba bagaimana respon Raja nanti?" tanya ibu suri yang baru saja mendengar ide tentang jadwal giliran melayani Raja. Itu sangat konyol bagi Raveena, mana mungkin Raja mau menurutinya.


" tapi ibu, kini setiap malam selalu saja Selir Alora yang datang menemani, kasihan putri Shana" putri Farfalla terus mencoba mendesak ibunya.


" mau bagaimana lagi, Memang itulah keinginan Raja" jawa Raveena logis. Bagaimana bisa kita memaksa keinginan Raja.


" ibu!" panggil Farfalla kesal.


" putri Shana, sebenarnya apa yang putri khawatirkan dengan kedudukan selir Alora? semua orang sudah mengira jika putrilah yang menjadi calon Ratu semua orang. untuk apalagi merasa terganggu dengan kehadiran selir Alora?" kini ibu Suri Raveena langsung bertanya pada Shana. Wanita ini semakin lama semakin banyak permintaan. Raveena mulai jengah, hubungannya dengan Gyan bisa rusak jika harus menuruti semua kemauannya.


" selir Alora bukanlah wanita yang cocok dengan yang mulia, dia berasal dari kalangan budak. saya yakin jika wanita itu pasti melakukan hal licik untuk sampai bisa membuat yang mulia begitu menyukainya" hasut putri Shana.


" putri jangan berkata seperti itu" pesan ibu Suri, dia tidak mau citra kerajaan menjadi buruk akibat ambisi sesaat nya. jika rumor ini beredar, kebijaksanaan Gyan pasti di pertanyaan.


" apa ibu punya saran?" tanya Farfalla menengahi.


" kalian desak saja Raja Gyan untuk segera memiliki keturunan. Kalian tau sendiri, hanya sesama penyihir baru bisa memiliki keturunan" jelas ibu Suri. Itulah alasab kenapa meski menjadi selir Raja terdahului, Raveena tetap tidak bisa memiliki keturunan. Dia hanyalah manusia biasa seperti putri Farfalla. Berbeda dengan Gyan dan Shana, mereka berdua memiliki darah penyihir. Bisa jadi keturunan mereka, yang nanti meneruskan kerajaan. tapi itu masih kemungkinan.


" ini alasan yang bagus untuk mendesak kakak" jawab Farfalla senang. Begitupun dengan Putri Shana, dia cukup puas mendengar usulan ibu suri. Dengan ini Alora tidak akan memiliki pengaruh apapun pada hidup Gyan. Padahal wanita yang mereka bicarakan sejak tadi tengah menikmati tidur siang yang nyaman.


Malam harinya seperti biasa, pelayan Harem mendatangi kamarnya. Dengan berat hati Valmira tetap menuruti kemauan Raja, tunggu sampai putri Shana bertindak. Dia akan sangat terbantu.


" tumben hari ini kau tidak banyak bertanya Alora?" tanya Gyan membetulkan anak rambut Valmira. Mereka sedang berbaring di ranjang dengan hanya berlapiskan selimut.


" yang mulia selalu tidak menjawab pertanyaan ku dengan benar. Jadi untuk apa aku bertanya" jawab Valmira dengan wajah polos.


" em begitu. baiklah aku akan menjawab satu pertanyaan mu dengan benar kali ini" balas Gyan dengan tatapan hangat. Berdekatan dengan Selir barunya selalu membuat rasa penat dalam kepalanya menghilang.


" benar ya" ucap Valmira memastikan. Wanita itu kemudian mulai memikirkan pertanyaan yang cocok.


" Apa yang mulia bahagia menjadi Raja? " tanya Valmira asal. Dia tidak menemukan pertanyaan lain selain hal ini. Terlalu banyak yang ingin di katakan tapi hanya kalimat ini yang keluar.


Raja Gyan tidak menyangka jika pertanyaan ini yang akan dia dengar. Lelaki itu menatap wajah Valmira lama. Pertanyaan ini membuatnya masuk dalam kenangan masa lalu.


" Sebagai Raja adakah alasan tidak bahagia?"


" tuh kan. Yang mulia selalu tidak menjawab dengan benar" Valmira langsung membalik badan, memunggungi Raja.


Gyan terkekeh lagi, dia sering tertawa jika bersama dengan Valmira. Semakin lama wanita ini terlalu masuk dalam hatinya.


" kenapa kau bertanya hal itu?" Gyan memeluk Valmira dari belakang. sayangnya Valmira diam tidak menjawab. ruangan menjadi hening sesaat, Gyan jadi terbawa suasana.


" tidak penting aku bahagia atau tidak. Garamantian lah yang harus aman dan damai itu lebih penting" jawab Gyan dengan nada sendu. Valmira yang mendengarnya menjadi ikut tersentuh. Gyan yang di kenal sebagai Raja dingin dan kejam, baginya tak ubahnya seperti seseorang tanpa harapan dan terus berkorban.


Gyan menyembunyikan wajahnya pada leher Valmira, menghirup aroma khas selir kesayangannya. Hanya Valmira yang mampu membuatnya tenang dan melupakan kenangan kelam masa lalunya.

__ADS_1


pagi menjelang, istana Raja kedatangan tamu tak diundang. putri Shana dengan di temani putri Farfalla duduk di ruang depan istana Raja. keduanya sengaja datang pagi-pagi agar tidak terlewat dengan kesibukan Raja.


" sebentar putri, Raja sedang bersiap di kamarnya" ucap Aden agar putri Farfalla dan putri Shana menunggu.


" baiklah aden" jawab Farfalla ramah. Dia sudah biasa bersikap seperti itu pada Aden.


Gyan baru selesai dari pemandian, kali ini Valmira terbangun dan melihat ke arah Gyan.


" kenapa?" tanya Gyan saat Valmira terdiam menatapnya. wanita itu menggeleng pelan kemudian tidur kembali. Dia berniat ikut bangun tapi niatnya dia urungkan. Ya, Valmira mendengar kabar kedatangan Putri Shana kemari. suara Aden terlalu keras membuatnya terbangun dan tak dengan mendengar.


" cepatlah bangun," pesan Gyan sebelum keluar kamar. Valmira hanya berdehem sesaat lalu kembali tidur.


" kaka"


" yang mulia"


kedua wanita itu langsung berdiri tak kala Gyan datang mendekat.


" ada urusan apa pagi-pagi datang ke tempat ku?" tanya Gyan dingin, jika hanya putri Farfalla yang datang, Gyan tidak mungkin bersikap seperti ini. Sayangnya ada putri Shana yang membuat moodnya jelek.


putri Farfalla dengan jelas bisa melihat perubahan sikap yang biasa Gyan tampilkan. Wanita itu kini berusaha menjaga sikap.


" maafkan kami yang mulia" jawab Putri Farfalla pelan.


" kami hanya ingin mendiskusikan mengenai masalah selir Agung" lanjut putri Farfalla pelan.


" ulangi" ucap Gyan datar.


" kami ingin mendiskusikan masalh selir Agung" jawab Putri Farfalla sekali lagi. Gyan menarik nafas panjang, dia mencoba menahan emosinya.


" sejak kapan putri kerajaan ikut mengatur masalah selir Raja?" tanya Gyan menatap tajam ke arah puri Shana, karena dia yakin wanita inilah yang memberikan pengaruh buruk pada adiknya. putri Farfalla menjadi tidak tau aturan seperti ini.


" maafkan saya yang mulia" ucap putri Farfalla cepat. Dia tidak berfikir panjang.


" pendidikan kerajaan sepertinya perlu di tambah. Sampai putri bisa mengetahui dengan jelas mana yang baik dan mana yang membawa pengaruh buruk" jelas Gyan perlahan. Lelaki itu jelas menyindir kehadiran putri Shana dalam kalimatnya.


" maafkan putri Farfalla, semua ini adalah ide saya" putri Shana langsung memotong sudah kepalang terlihat, dia harus bertanggung jawab.


" aku tau" balas Gyan dingin.


" saya akan menjaga sikap mulai sekarang" balas putri Shana dengan wajah menyesal.


" jadi kenapa dengan selir Agung?" tanya Gyan, dia tidak merespon sama sekali ucapan bersalah dari Shana.


" saya hanya merasa jika selir Alora diberikan status selir Agung terlalu cepat, saya yang sudah menikah kenapa tidak di berikan status, yang mulia" ucap Shana yang dengan berani, padahal sebelumnya dia mengatakan untuk menjaga sikap.


" itu sudah keputusanku, jangan di pertanyaan kan" balas Gyan dingin. Putri Farfalla tidak berani berkata sedikitpun, ultimatum kakanya barusan sudah cukup memperingatinya.

__ADS_1


" lalu bagaimana soal keturunan yang mulia, sebagai manusia biasa, selir Alora tidak akan bisa memberikannya" desak putri Shana tidak tau etika. Bagaimana bisa mengatakan hal ini secara gamblang.


" kau. tidak. perlu. memikirkannya" jelas Gyan penuh penekanan. Wanita ini terlalu berani dalan bertindak. dia pasti akan menimbulkan masalah cepat atau lambat.


" tapi yang mulia, kerajaan ..."


" sudah ku bilang, jangan memikirkan kerajaan seakan kau berhak!" teriak Gyan emosi. Putri Farfalla memegang tangan putri Shana agar tidak membalas lagi. kemarahan Raja Gyan akan sangat berdampak pada keadaan Garamantian.


" lebih baik kalian berdua pergi" lanjut Gyan yang mulai mengontrol emosinya. Dia memegang keningnya dan menutup mata.


" kami pamit undur diri, yang mulia" ucap putri Farfalla cepat, sebelum putri Shana menyahut lagi. Dia juga menarik lengan putri Shana untuk ikut keluar.


kedua putri itu pergi dengan langkah cepat, aden yang mendengar kemarahan Raja ikut was-was. Dia tidak mau menjadi pelampiasan kemarahan yang mulia.


Gyan masih duduk di sofa dan mengatur nafasnya, Valmira berjalan perlahan mendekati sang Raja. Dia tau kemarahan Raja tadi, jadi kini berniat menenangkan lelaki itu.


" yang mulia" panggil Valmira lembut, wanita itu membawakan secangkir air.


" minum lah agar kemarahan anda mereda" ucap Valmira sambil memberikan cangkir itu.


Gyan sesaat lupa dengan kehadiran Valmira, kini wanita itu menatapnya dengan hangat membuat jiwanya mulai tenang.


" terima kasih" ucap Gyan dan meminum air itu. Valmira mengambil cangkir itu, tapi tangannya malah di tarik dengan cepat. Valmira kini jatuh di pangkuan sang Raja. Gyan memeluk gemas Valmira.


" yang mulia, " Valmira mencoba melepaskan diri. Pintu depan masih terbuka, Aden bisa melihat hal memalukan ini.


" kenapa?" tanya Gyan, Hanya Valmira yang selalu berani menolaknya.


" jangan lampiaskan kemarahan yang mulia padaku,!" keluh Valmira atas tindakan Gyan yang sesuka hati.


" aku sudah tidak marah" jawab Gyan


" lalu kenapa menahan ku begini?" tanya Valmira dengan tatapan marah.


" kenapa jadi kau yang marah?"


" ini karena yang mulia, lepaskan. Aden bisa melihatnya"


" memang kenapa kalau dia melihat?" tantang Gyan.


" yang mulia!" Valmira terus mencoba melepaskan pelukan Gyan di tubuhnya. Posisi inu sangat tidak nyaman, Valmira tidak bisa melakukan perlawanan.


" diam dulu baru aku lepaskan" Valmira menarik nafas panjang, dan kini terpaksa diam.


" sudah" jawab Valmira datar.


Sayangnya Gyan tidak menepati ucapannya, lelaki itu menggendong Valmira menuju kamar.

__ADS_1


" yang mulia!" teriak Valmira kesal.


__ADS_2