
Semua orang langsung berdiri mengelilingi Valmira yang terlihat sekarat. Gyan tidak bisa melakukan banyak hal, dia membawa tubuh itu dalam dekapannya. Mulut Valmira terus saja mengeluarkan darah membuat seisi ruangan menjadi berbisik mengenai alasannya.
" bertahanlah Alora" ucap Gyan dia sedang memberikan energi miliknya. Kini dengan sadar Valmira bisa mengetahuinya.
" tidak yang mulia, sudah, uhuk uhuk. Semuanya.. tidak akan berguna. biar...kan saya pergi dalam damai" Dengan susah payah Valmira mengatakannya. nafasnya tersengal-sengal. Ini adalah rasa dari racun yang Kangta berikan. Dia fikir tidak akan sesakit ini, tapi Valmira sudah terlambat untuk menyadarinya.
kini pandangannya semakin menghitam, tubuhnya mulai mati rasa, Valmira tidak kuat lagi.
" uhuk..uhuk" dia batuk darah lagi dan kepalanya mulai berat begitupun dengan nafasnya. Valmira sudah tidak kuat lagi, saat itu juga kesadarannya menghilang bersama dengan nafas terakhirnya.
" tidak Alora, tidak. kau dan anak kita akan baik-baik saja" Gyan tidak terima, dia tidak mau kehilangan selir kesayangannya. Lelaki itu meletakkan tangannya di belakang lutut berniat menggendong wanita itu.
" Gyan" panggil seseorang yang baru saja datang.
Para selir menyingkir memberikan jalan pada Kangta yang sudah berdiri di pojok ruangan. lelaki itu menatap semuanya dan menyuruh para selir itu agar pergi dari ruangan, agar situasinya sedikit lenggang. Lelaki itu akan berniat menjelaskan permasalahan lain mengenai dunia sihir dan ini bersifat rahasia. Dan meski sedikit berat hati akhirnya para selir dan tamu undangan berjalan keluar dari ruangan.
__ADS_1
Di lain sisi, Gyan menatap dengan kesal ke arah lelaki tua itu, apalagi saat Kangta berjalan mendekatinya tanpa terlihat gusar.
" biarkan saja wanita itu, dia sudah cukup menderita dengan janin yang bertumbuh di perutnya" ungkap Kangta lemah.
" kau kemana saja selama ini? Tidak, Alora tidak boleh mati!" tekan Gyan meluapkan rasa marahnya.
" jangan lupa jika Alora itu penyihir yang tidak memiliki inti jiwa. Untuk bertahan beberapa bulan lagi akan sangat sulit. Tubuhnya tidak bisa menahan lebih lama lagi" jelas Kangta menatap Gyan dengan sorot mata tajam.
" aku tidak peduli, aku bisa menyelamatkannya!" Gyan bersikeras memberikan tenaga lagi, bahkan kali ini dalam jumlah yang lebih besar.
" jangan buang energi mu secara percuma! ada hal yang lebih membutuhkan hal itu, Garamantian lebih membutuhkannya" Kangta menarik tangan Gyan dan secara otomatis transfer energinya terputus.
" Gyan, Alora sudah tidak bisa bertahan. Meski kau menyalurkan semua energimu itu tidak akan bisa menghidupkannya lagi. Biarkan dia pergi dengan tenang "
" itulah kenapa aku mengirimi mu surat"
__ADS_1
Kangta terdiam, dia mengambil nafas panjang. kondisi Gyan begitu terguncang, melihat istri dan anaknya meninggal dalam dekapannya tentu membuatnya terkejut.
" kakak, sudah. benar kata tuan Kangta selir Alora memang sudah tidak bisa bertahan" Farfalla maju mencoba menenangkan kakaknya. Dia tidak bisa melihat kakaknya begitu sedih kehilangan Alora.
" tidak, aku akan mencoba" Gyan mendekati tubuh Valmira yang sudah tergelatak. Fleur menangis tanpa henti di samping tubuh Valmira. Dia tidak menyangka jika akan terjadi hal menyedihkan ini.
Kangta tidak tinggal diam, dengan sihirnya dia membuat Kangta tak sadarkan diri. Dengan cepat Aden menangkap tubuh yang mulia.
" bawa dia ke istananya, biar aku yang mengurus tubuh Alora" jawab Kangta.
kini ibu suri dan Farfalla mengikuti Aden dan para penjaga yang membawa tubuh Gyan. Sedangkan di sana ada Kangta dan Fleur saja.
Kangta berjongkok menatap wanita yang sudah melaksanakan janjinya. dia mengelus pelan rambut Valmira yang tiba-tiba menghitam. Fleur ikut terkejut dengan menutup mulutnya.
" jangan katakan apapun yang terjadi" lirih Kangta dan di angguki pelan oleh Fleur.
__ADS_1
Kanta mengeluarkan sebuah kain untuk menutupi tubuh Valmira. Dan beberapa saat kemudian kain itu mengempes perlahan. tubuh yang ada di dalamnya menghilang begitu saja. Fleur menatap dengan heran dan tidak sampai di situ, Kangta pun ikut menghilang. hanya sisa dirinya saja dalam ruangan itu.
" pergilah dari kerajaan" suara Kangta yang tertinggal.